LAPORAN MARKET INTELLIGENCE
PERKEMBANGAN INDUSTRI SPINNING DI INDONESIA
Oktober 2009
Profil Pemain utama
Indorama
PT Indo-Rama Synthetics merupakan PMA didirikan pada 1975 oleh. S.P. Lohia. Perusahaan ini bergerak dalam industri yarn spinning. Perusahaan ini merupakan produsen polyester di Indonesia. Tahun 1990 Indorama go public dengan menjual 42% sahamnya ke public.
Produksi Indorama terdiri dari Textured Yarn of Polyester of Synthetic Filament - Man-Made Filaments, yarn of polyester of syhthetic filament – man made filament, high tenacity yarn of polyester of synthetic filament – man made filament, woven fabrics of synthetic staple fibres – man made staple fibres.
Pada awal operasinya, Indorama membangun pabriknya dikawasan seluas
67 ha berlokasi di Purwakarta. Indorama memiliki kapasitas produksi Spun Blended Yarn 270.000 ton per tahun dan 100% Polyester Filament Grey Fabrics 30 juta meter per tahun.
Kemudian Indorama membangun pabrik baru untuk perluasan di areal seluas 50 ha di Cempaka sekitar 15 km dari Purwakarta. Di pabrik baru ini dilengkapi 2 unit pabrik yarn spinning, satu khusus untuk memproduksi Sewing Thread Yarn (100% polyester) dan satunya lagi untuk memproduksi 100% Combed Cotton Spun Yarns dengan kapasitas produksi 9,000 ton. Sementara pabrik lainnya di Bandung memproduksi 22 juta meter dyed and printed a 100%- Polyester Filament Fabrics.
Fasilitas mesin di pabrik Indorama terdiri dari cutting-edge technology yang bekerjasama dengan principal dunia yaitu Du Point (USA), Zimmer, Trutzschler & Schlafhorst (Jerman), Toyobo, Teijin Seiki, Toyoda dan Murata (Jepang). Untuk kebutuhan energi, Indorama membangun pembangkit listrik sendiri berkapasitas 60 MW yang dioperasikan 2006.
Indorama menerima sertifikat ISO 9001:2000 untuk Quality Management System serta sertifikat OEKOTEX untuk produk yarn dan fibre. Sejauh ini produknya diekspor ke berbagai Negara seperti Australia, Uni Eropa dan USA.
Saat ini produk polyester memberikan kontribusi sebesar 73% dari total penjualan Indorama, sedangkan produk pemintalan memberikan kontribusi sekitar 21%. Indorama merupakan eksporter dunia terbesar untuk Filament Yarns, Staple Fibre & PET Resin ke sekitar 93 negara tujuan. Pada 2008, Indorama berhasi meraih penjualan ekspor senilai US$ 365,47juta, sedangkan penjualan local sebesar US$ 193,08 juta.
Apac Inti Corpora
PT Apac Inti Corpora merupakan produsen yarn dan tekstil yang bergerak dalam pemintalan benang dan pertenunan kain. Apac merupakan pabrik tekstil terbesar di dunia yang berada dalam satu lokasi seluas 247 ha di Semarang, Jawa Tengah. Apac mengoperasikan 14 unit pabriknya dengan jumlah karyawan sekitar 14.000 orang. Fasilitas yang tersedia merupakan infrastruktur terbesar, terintegrasi serta dilengkapi dengan mesin pertenunan dan pemintalan dengan teknologi modern.
Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi Yarn 480,000 bales (1Bale = 181,44 kg) per tahun. Selian itu, Apac juga memproduksi Kain Grey 80,000,000 meter, kain Finished 6,000,000 meter, kain Denim 60,000,000 yard per tahun.
Apac memasarkan produknya dengan merk “APACINTI”, hasil produksinya berupa Yarn, kain Greige, kain Finished dan Denim. Apac telah mengekspor produknya ke 70 negara yaitu skitar 70% ke pasar Amerika Utara & Selatan, Eropa, Asia, Afrika dan Australia dan sisanya 30% untuk pasar domestik. Nilai ekspor rata-rata USD 238 juta per tahun.
Pada awal 2008 Apac Inti Corpora bekerjasama dengan PT Dayaindo Resources International Tbk akan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Selama ini Apac Inti mengandalkan mesin diesel untuk menggerakkan mesin-mesin tekstilnya. Namun seiring dengan makin tingginya harga minyak, termasuk solar, maka penggunaan diesel dipastikan menjadi semakin tidak ekonomis. Oleh sebab itu pembangunan PLTU berbahan bakar batubara menjadi alternatif.
Pembangunan konstruksi PLTU ini dimulai pada 2009 dan diperkirakan akan selesai pada 2011. Pembangkit ini berkapasitas 45 MW yang terdiri dari 3x15 MW. PLTU tersebut menggunakan bahan bakar batubara yang menelan investasi sekitar US$ 45 juta atau senilai Rp 414 miliar.
Panasia Group
Melalui dua anak perusahaannya yaitu PT. Sinar Pantja Djaja (SPD) dan PT. Fiberindo Inti Prima (FIP) bergerak dalam industri spinning. SPD yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah memiliki kapasitas produksi 120.000 spindles, sedangkan FIP miliki kapasitas produksi 60.000 spindles dan berlokasi di Tangerang, Jawa Barat.
SPD merupakan salah satu eksportir benang terbesar di dalam negeri, dengan product range 100% RS viscose Ne 30’s, 100% RS polyester Ne 30’s, Polyester viscose Ne 30’s, Ne 30/2 dan Polyester cotton Ne 30’s. Sejauh ini kedua perusahaan yang berorientasi eskpor ini, mengekspor produk benangnya ke berbagai negara yaitu USA, Brazil, Jerman, Mexico, Mesir dan Korea Selatan.
Unitex
Unitex didirikan pada 1971 sebagai PMA (Penanaman Modal Asing), dimana saham Marubeni dari Jepang sebesar 25,23%. Perusahaan yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat .ini bergerak dalam industry textile yang terintegrasi yaitu industri spinning dan weaving. Awalnya Unitex mengoperasikan pabrik weaving, kemudian pada 1972 membangun fasilitas spinning dengan memasang mesin 36 set.
Pada 1982 Unitex menjadi perusahaan Go Public melalui Bursa Efek Jakarta setelah menawarkan saham sebesar 43,20% kepada masyarakat. Kemudian pada 1990 perusahaan mengadakan ekspansi pada unit spinning dan kini memiliki 17 unit mesin yarn dyeing.
Pada 2009 ini Unitex menargetkan untuk meningkatkan produksi seiring dengan adanya kenaikan pemintaan pasar. Berkaitan dengan ini, Unitex mendapatkan pinjaman tanpa bunga dari pemegang saham, Unitika Ltd dari Jepang.
Pada September 2008 lalu Unitex mencatat penjualan sebesar Rp 109,1 miliar. Sementara laba bersih mencapai Rp68,05 miliar. Laba tersebut lebih disebabkan oleh penghapusan pinjaman (write-off) pemegang saham sebesar Rp104,1 miliar.
Meski tahun 2009 ini tidak ada penghapusan pinjaman, namun Unitex mentargetkan tetap bisa mencatat laba bersih sekitar Rp 60 miliar.
Untuk mencapai target itu, Unitex akan membidik pasar beberapa negara, di antaranya Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Melalui langkah itu, Unitex mendapatkan order rutin dari konsumen di kawasan itu.
Ada dua BUMN yaitu PT. Industri Sandang Nusantara dan PT. Primissima yang beroperasi terintegrasi dalam industri pemintalan dan kain. Untuk mwningkatkan kinerja dua BUMN ini, pemerintah merencanakan privatisasi PT Industri Sandang Nusantara melalui strategic sales atau IPO apabila memungkinkan. Sedangkan akan melakukan divestasi saham milik Pemerintah pada PT Primissima kepada mitra pemegang saham atau melalui tender offer.
PT. Industri Sandang Nusantara merupakan pabrik tekstil yang didirikan pada 1965. Perusahaan ini memiliki fasilitas pabrik pamitalan dengan kapasitas 408.496 spindle.
PT. Primissima didirkan pada 1971 merupakan patungan antara pemerintah dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Penyertaan pemerintah berupa satu unit pemintalan dan pertenunan serta perlengkapannya yang berasal dari grant pemerintah Belanda. Grant tersebut berasal dari para pengusaha tekstil Belanda yang ditujukan kepada pemerintah untuk melestarikan produksi kain mori berkualitas tinggi. Sedangkan GKBI menyertakan tanah, bangunan pabrik, biaya pemasangan dan modal. Primissima memiliki kapasitas terpasang pemintalan 2.580 ton per tahun.
Pabrik perusahaan ini berlokasi di Yogyakarta memproduksi benang dan grey 100% cotton dengan kualitas baik. Perusahaan telah mendapatkan srtifikat ISO 9001 : 2000 untuk produk unggulan dan kualitas.
Produksi meningkat 7,1% per tahun
Dalam periode 2004-2008 produksi spinning di dalam negeri mengalmi pertumbuhan rata-rata 7,1% per tahun, yaitu dari 1.692 ribu ton pada 2004 meningkat menjadi 2.199 ribu ton pada 2009.
Kenaikan produksi paling tinggi terjadi pada 2006 yaitu naik sebesar 15,3% menjadi 1.872 ribu ton dari tahun sebelumnya 1.623 ribu ton. Selanjutnya produksi terus meningkat masing-masing menjadi 2.129 ribu ton pada 2007 dan 2.199 ribu ton pada 2008.
Meningkatnya produksi spinning nasional tersebut merupakan konstribusi dari sejumlah produsen besar yang memiliki pasar yang luas di dalam negeri. Selain itu para produsen ini juga membuka pasar ekspor baru di luar pasar Amerika Serikat yang anjlok akibat krisis keuangan di negaranya.