2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
PERKEMBANGAN INDUSTRI SEPEDA MOTOR DI INDONESIA
January 2009


<<Sebelumnya

Persaingan semakin keras

Kondisi ekonomi global yang mengalami resesi diperkirakan akan membuat tingkat persaingan pada industry sepeda motor nasional semakin tinggi. Pasar yang tertekan akan memaksa para pemain untuk menggunakan berbagai macam strategi dalam memenangkan persaingan.

Beberapa startegi yang ditempuh antara lain adalah dengan meluncurkan model atau baru, penyesuaian harga, pembiayaan, iklan dan promosi hingga membangun jaringan komunitas.

Honda agresif keluarkan produk baru
Salah satu strategi persaingan yang dipakai dalam industri ini adalah rentang produk atau model. Keberhasilan Yamaha terus meningkatkan penjualannya bahkan dalam bulan tertentu menyalip Honda yang selama ini menjadi pemimpin pasar adalah karena Yamaha cukup agresif mengeluarkan model baru sejak sekitar tahun 2006 di tiga jenis sepeda motor.

Honda merespon dengan berbagai strategi termasuk dengan banyak mengeluarkan model baru. Pada tahun 2008 saja Honda mengeluarkan empat model baru yakni CS-1, Beat, New Tiger, dan Blade.

Sementara itu pada Januari 2009 Honda kembali mengeluarkan seri baru untuk menggantikan Revo yakni Absolute Revo 110. Tiga dari lima model ini yakni CS-1, Beat, dan Blade merupakan model baru sama sekali dan bukan modifikasi model yang sudah ada.
CS-1 merupakan jenis baru yang tidak masuk dalam klasifikasi bebek, sport, maupun, skuter automatik. Bentuk sepeda motor ini merupakan gabungan antara sepeda motor bebek dan sport.

Pemain lain yang juga aktif mengeluarkan model baru adalah Kawasaki. Pada tahun 2008 Kawasaki mengeluarkan 3 model sepeda motor yakni motor sport Ninja 250 R, trail KLX 250 S, dan bebek Athlete 125. Yamaha sendiri pada tahun 2008 hanya mengeluarkan produk bebek Vega ZR yang hanya merupakan seri baru dari Vega sebelumnya.

Honda tinggalkan mesin 100 cc

Kapasitas mesin adalah salah satu standar industri yang menjadi strategi bagi produsen untuk masuk ke pasar. Kapasitas mesin sangat berkaitan dengan bagaimana produsen memosisikan produknya apakah menjadi produk serbaguna atau serbaguna semi gaya hidup karena kapasitas mesin menentukan konsumsi bahan bakar yang dihasilkan.

Kapasitas mesin yang lebih kecil pada kelasnya oleh produsen dilabeli dengan citra yang irit. Sementara itu kapasitas mesin yang lebih besar di kelasnya dilabeli dengan citra kekuatan yang lebih meskipun secara praktis perbedaan tersebut tidak bisa sepenuhnya direalisasikan karena alasan lalu lintas.

Standar kapasitas mesin terus berkembang sesuai dengan jenis sepeda motor. Untuk sepeda motor bebek kapasitas dibagi menjadi empat kelas yakni kapasitas 100 cc, kapasitas 110 cc, kapasitas mesin 125 cc hingga 135 cc, dan 150 cc.

Hingga bulan Desember 2008, hanya Honda yang masih memroduksi sepeda motor dengan kapasitas mesin 100 cc yakni Honda Supra Fit. Produk ini memang diposisikan sebagai kendaraan hilir mudik yang irit (econo compact commuter). Dengan produk ini, citra irit Honda dipertahankan.

Sementara itu kompetitor seperti Yamaha tidak terlalu mengejar citra sebagai sepeda motor irit, melainkan sepeda motor yang lebih bertenaga, responsif dan kencang sehingga memilih membuat sepeda motor bebek 110 cc sebagai sepeda motor. Hal yang sama juga dilakukan oleh Suzuki dan Kawasaki.

Memasuki tahun 2009, Honda menghentikan produksi sepeda motor dengan kapasitas mesin 100 cc dan menggantikannya dengan mesin 110 cc. Strategi ini memperlihatkan Honda mungkin masih akan mengusung image sebagai sepeda motor irit tetapi tidak lagi dengan pendekatan kapasitas mesin.

Untuk sepeda motor jenis sport kapasitas mesin utamanya dibagi menjadi tiga kelas yaitu 150 cc, 200 cc, dan 250 cc. umumnya sepeda motor yang diproduksi menggunakan standar kapasitas 150 cc, 200 cc, dan 250 cc. Dalam jenis sport produsen tidak membuat pembedaan kapasitas mesin dalam satu kelas sebagai sebuah karena faktor model lebih menonjol.

Meskipun begitu terdapat produsen menciptakan kelas tersendiri sebagai startegi yakni Bajaj Auto yang memroduksi sepeda motor dengan kapasitas mesin 180 cc yakni Bajaj dengan produknya yakni Pulsar DTSI yang kemudian digantikan dengan Pulsar DTSI 200 cc.

Sementara itu sepeda motor jenis skuter otomatik standar kapasitasnya adalah 110 cc dan 125 cc. Meskipun secara umum standar kapasitas mesin sama, namun terdapat sedikit perbedaan seperti yang dilakukan oleh Yamaha yang membuat skuter otomatik dengan kapasitas 113,7 cc atau mendekati 115 cc.

Sementara itu, Honda memroduksi skuter otomatik dengan kapasitas 110 cc, sedangkan Suzuki dengan kapasitas 125 cc.

Honda menyesuaikan harga terendah pada model baru sepeda motor bebek

Harga menjadi salah satu strategi bersaing dalam industri sepeda motor di Indonesia. Pada jenis sepeda motor yang pangsa pasarnya terbesar yakni jenis bebek, perbedaan harga hingga tahun 2008 terletak pada harga terendah dan tertinggi.

Harga terendah Honda adalah Rp.10.600.000,- sementara pesaingnya yakni Yamaha dan Kawasaki masing-masing adalah Rp.11.500.000,- atau sebesar 8,5 persen.

Sementara itu, untuk harga tertinggi Honda mencapai Rp.16.100.000,- sedangkan Yamaha dan Kawasaki masing-masing sebesar Rp.15.050.000,- dan Rp.14.800.000,- atau sebesar 7 persen dan 8,8 persen.

Honda terlihat ingin memperkuat segmen konsumen bawah dengan harga yang paling rendah. Hal ini sesuai dengan strategi Honda sebagai produsen sepeda motor yang ekonomis.

Dengan rentang harga yang paling lebar dan jumlah produk terbanyak di kelas ini yakni mencapai 6 model, Honda juga terlihat ingin mengambil pasar yang lebih luas.

Sementara Yamaha dan Kawasaki tidak menggunakan harga yang lebih rendah sebaga strategi untuk bersaing. Rentang harga produk Yamaha dan Kawasaki juga tidak terlalu lebar sehingga terlihat mereka lebih fokus pada konsumen yang sedikit di atas segmen konsumen lapis paling bawah. Jumlah model yang lebih sedikit yakni masing-masing Yamaha 5 model dan Kawasaki 4 model juga mencerminkan strategi harga yang diterapkan.

Pada tahun 2009, Honda akan menaikkan harga terendahnya pada level yang sama yakni menjadi Rp. 11.600.000,- yang ditempuh dengan menghentikan produk termurahnya yakni Supra Fit X dan Revo yang bermesin 100 cc dengan dengan Absolute Revo yang bermesin 110 cc.

Untuk jenis motor sport rentang harga antara Honda dan Yamaha tidak berbeda jauh, sementara Kawasaki rentang harganya cukup besar. Rentang harga Honda adalah antara Rp. 17.600.000,- hingga Rp. 20.900.000,-  sementara Yamaha antara Rp. 16.700.000,- hingga Rp. 19.485.000,-.

Kedua pemain ini memang merupakan pemimpin pasar sepeda motor sport yang membidik segmen utama. Dilihat dari jumlah produk, keduanya juga tidak berbeda jauh. Hingga tahun 2008 Yamaha masih memproduksi tiga model yakni RX King, Scorpio Z, dan V-Ixion, sementara Honda dengan dua model yakni Mega Pro dan Tiger. Namun, mulai tahun 2009 Yamaha akan menghentikan produksi RX King yang masih memakai teknologi mesin 2 langkah.

Sementara itu, Kawasaki sejak awal merupakan pemain yang membidik segmen khusus dengan menerapkan harga yang lebih mahal. Rentang harga sepeda motor sport Kawasaki adalah Rp. 20.800.000,- hingga Rp. 54.900.000,-. Kawasaki memiliki citra sebagai produsen sepeda motor yang stylish yang mewakili gaya hidup sehingga harganya jauh lebih tinggi.


Yamaha lebih kuat membangun citra

Salah satu strategi yang digunakan dalam persaingan adalah pencitraan. Honda mencitrakan dirinya sebagai sepeda motor yang efisien dalam konsumsi bahan bakar dan awet, sementara Yamaha sebagai sepeda motor yang responsif dan bertenaga.

Yamaha berhasil mengambil keuntungan dari perubahan yang terjadi dalam industri sepeda motor dimana semakin banyak anak muda yang memiliki sepeda motor.

Yamaha mencitrakan diri sebagai sepeda motor yang desainnya muda dan sporty serta cepat. Yamaha juga menggunakan endorser yang sangat kuat citranya dengan anak muda dan kecepatan yakni Valentino Rossi. Citra ini terus didorong dengan iklan komersial, sponsorship siaran langsung balapan motor, membangun komunitas pengendara, serta kegiatan terkait seperti mendatangkan endorser-nya ke Indonesia.

Honda juga melakukan hal kurang lebih sama namun tidak segencar Yamaha. Honda tidak melakukan sponsorship pada balapan motor yang cukup digemari seperti yang dilakukan Yamaha.

Pemain lain seperti Suzuki dan Kawasaki upayanya untuk meningkatkan awareness tidak seluas Yamaha maupun Honda.

Kesimpulan

Industri sepeda motor nasional merupakan industri yang masih terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat akan alat transportasi yang murah dan fleksibel.

Kebutuhan masyarakat ini masih akan terus ada mengingat belum adanya sistem transportasi massal yang terintegrasi apalagi rasio kepemilikan sepeda motor di Indonesia masih tergolong rendah di kawasan ASEAN sehingga potensi di masa datang masih sangat baik.

Potensi yang baik ini mendorong pertumbuhan kapasitas produksi. Pada tahun 2008 kapasitas produksi sepeda motor mencapai 8,46 juta unit per tahun. Produksi juga terus meningkat seiring permintaan yang juga terus tumbuh. Tingkat produksi pada tahun 2008 mencapai 6,27 juta unit.

Honda masih menjadi produsen terbesar pada tahun 2008 dengan volume produksi sebesar 2,83 juta unit disusul Yamaha dengan 2,52 juta unit. Kedua pemain ini secara bersama-sama menguasai pangsa produksi sebesar 95 persen.

Sementara itu, pada tahun 2008, penjualan sepeda motor mencapai lebih dari 6 juta unit yang merupakan rekor penjualan sepeda motor di tanah air. Pertumbuhan penjualan juga tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 33,2 persen.

Pertumbuhan industri ini terpengaruh oleh resesi global, sehingga pada tahun 2009 pertumbuhannya diperkirakan akan tertahan sebagai akibat dari tekanan pada permintaan. Penurunan permintaan ini diperkirakan lebih banyak terjadi di daerah penghasil komoditas pertanian.

Daya beli masyarakat di daerah penghasil komoditas pertanian seperti kelapa sawit dan kopi akibat harga komoditi yang turun cukup besar dibandingkan ketika mencapai puncaknya tahun 2008. Penurunan harga komoditi ini tidak bisa diimbangi dengan peningkatan volume ekspor karena permintaan dunia melemah.

Sementara itu, permintaan di perkotaan cenderung lebih tahan dari tren pelemahan meskipun tetap menurun karena pendapatan mereka tidak hanya berasal dari sektor manufaktur yang juga mengalami pelemahan.

Pendapatan masyarakat perkotaan di sektor jasa, beberapa sektor industri seperti makanan, sektor informal, serta sektor pemerintah tidak terlalu banyak terpengaruh karena selain kegiatannya masih berjalan, tingkat inflasi secara umum juga terkendali.

<<Sebelumnya
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE
Web Page Maker, create your own web pages.