2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Agustus 2011

FOKUS

INVESTASI ASING LANGSUNG KE INDONESIA MAKIN PESAT


Memasuki tahun 2012 kondisi ekonomi global masih diliputi suasana suram penuh ketidakpastian karena masih besarnya ancaman resesi ekonomi yang berasal dari krisis ekonomi di zona Euro karean belum diperolehnya jalan keluar yang permanen dalam mengatasi masalah utang beberapa negara zona euro seperti Yunani dan Itali. Walaupun diakhir tahun 2011 ada upaya keras dari negara Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis untuk membawa Eropa keluar dari krisis ekonomi ancaman penurunan ekonomi dunia masih harus terus diwaspadai.

Namun agaknya kesuraman ekonomi dunia tidak mengurangi optimisme Indonesia untuk melangkah memasuki tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini akan tetap cerah karena kondisi pasar domestik yang kuat, fundamental ekonomi makro yang sehat dan kondisi politik yang stabil.

Kepercayaan ini dituinjukkan oleh pemberian status sebagai negara yang layak tujuan investasi (investment grade) oleh lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings.  Peringkat investasi Indonesia naik dari BB+ menjadi BBB- yang berarti termasuk kategori negara layak investasi. Kenaikan peringkat itu menjadikan Indonesia masuk dalam kategori investment grade. Indonesia kehilangan posisi investment grade sejak tahun 1997 setelah dihantam krisis moneter.

Tidak dapat dimungkiri kunci utama keberhasilan Indonesia meraih peringkat investment grade adalah kemampuan meraih pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dan menjaga rasio utang terhadap PDB di bawah 25 persen. Hal itu merupakan capaian luar biasa di tengah krisis kondisi ekonomi global yang menyebabkan posisi ekonomi sejumlah negara yang dianggap kuat justru ambruk dan mengalami kejatuhan peringkat utang.

Istilah investment grade merujuk pada sebuah peringkat yang menunjukkan utang pemerintah atau perusahaan memiliki risiko yang relatif rendah dari peluang default atau gagal bayar sehingga memiliki tingkat kepercayaan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.  Karena itu, invesment grade diberikan kepada suatu negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat, stabilitas politik dalam jangka panjang solid, dan memiliki manajemen anggaran pemerintah serta kebijakan moneter yang prudent. Hal ini ditandai dengan defisit anggaran yang rendah, rasio utang rendah, dan inflasi yang terkendali.

Pencapaian peringkat investment grade ini memiliki nilai sangat penting karena akan berpengaruh pada pandangan dunia terhadap perekonomian Indonesia dan memperbesar peluang untuk bisa meningkatkan kegiatan investasi di Indonesia.

Indonesia akan menjadi kian menarik sebagai tujuan investasi dan mampu menyerap modal asing. Namun, patut diingat bahwa modal itu perlu dikelola dengan cermat dan dialokasikan dalam investasi sektor riil berjangka panjang guna menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia, Indonesia makin menarik bagi investor asing tidak hanya untuk investasi portofolio tapi juga investasi langsung. Semenjak tahun 2008, seperti yang terlihat dalam neraca pembayaran indonesia. Investasi asing langsung setiap tahunnya terus meningkat. Dengan makin baiknya kepercayaan asing terhadap ekonomi Indonesia seperti yang terlihat dengan pemberian peringkat hutang negara pada investmenty grade oleh lembaga pemeringkat dunia, maka investasi langsung diperkirakan akan lebih pesat lagi.

Tahun 2009, total investasi langsung dalam neraca pembayaran Indonesia baru sebesar 4,88 miliar dollar AS, lebih kecil dibanding investasi portofolio sebesar 10,48 miliar dollar AS. Tahun 2010, investasi langsung meningkat pesat mencapai 13,37 miliar dollar AS. Walaupun investasi portofolio masih lebih tinggi, yakni 15,71 miliar dollar AS, namun selisihnya makin tipis. Diperkirakan pada tahun 2011 dan 2012 investasi langsung sudah akan melampau inestasi portofolio.

Pada tahun 2011 sampai kwartal II  investasi langsung  sudah mendekati investasi portofo;io. Investasi langsung pada kuartal I-2011 sebesar 4,79 miliar dollar AS kemudian  meningkat menjadi 5,25 miliar dollar AS pada kuartal II-201, sedankan investasi portofolio pada kuartal I-2011 mencapai 4,11 miliar dollar AS yang meningkat menjadi 6,28 miliar dollar AS pada kuartal II-2011.

Kondisi perekonomian Indonesia dan prospek bisnis yang terus membaik menjadi faktor penarik investasi langsung. Faktor domestik, seperti fundamental ekonomi yang kondusif, imbal hasil investasi yang relatif tinggi, dan ekspektasi apresiasi di kalangan investor, menjadi penarik arus modal asing.

Pada kuartal II-2011, arus masuk modal asing pada pasar saham dan Surat Utang Negara mencapai 6,3 miliar dollar AS. Jumlah itu terdiri dari sektor privat sebesar 3,3 miliar dollar AS dan sektor publik sebesar 3,0 miliar dollar AS. (idr) Pada kuartal II-2011, arus masuk modal asing pada pasar saham dan Surat Utang Negara mencapai 6,3 miliar dollar AS.

Kenaikan investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia juga terlihat dari realisasi proyek PMA sebagaimana dilaporkan oleh BKPM. Semenjak tahun 2007, realisasi proyek investasi asing langsung ke Indonesia mengalami lkenaikan. Pada tahun 2009 realisasi investasi asing mengalami penurunan akibat krisis finansial global tahun 2009. Namun memasuki tahun 2010  ketika negara lain masih dihantui dampak buruk krisis finansial global yang diawali dari kawasan Uni Eropah, investasi asing ke Indonesia kembali melonjak setelah Indonesia mampu keluar dari jeratan krisis finansial global dengan meningkatnya kembali pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,3 %.

Dengan kondisi ekonomi dan politik yang terus membaik, tidak heran Indonesia menjadi lahan investasi yang menarik bagi modal asing baik melalui inestasi portofolio maupun investasi langsung (Foreign Direct Investment)

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bawono Kumoro, Peneliti The Habibie Center, hal lain yang membuat Indonesia patut optimis dalam melangkah memasuki tahun 2012 adalah pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang melesat dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan kelas menengah ditengarai sebagai salah satu pemutar roda perekonomian. Paling tidak konsumsi mereka telah menyumbang 70 persen dari pertumbuhan ekonomi.

Laporan terbaru Bank Dunia bertajuk Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global Economy, menempatkan Indonesia, Brasil, China, India, Korsel, dan Rusia sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga 2025 mendatang. Bank Dunia menilai lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi dunia akan disumbangkan oleh enam negara kekuatan ekonomi baru ini.

Ekonomi enam negara ini tumbuh dengan pemicu berbeda-beda. Pertumbuhan China dan Korsel ditopang arus ekspor yang tinggi. Sementara itu, konsumsi dalam negeri yang tinggi menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Brazil dan Indonesia. Konsumsi dalam negeri yang tinggi tentu sangat terkait erat dengan perkembangan kelas menengah.

Menurut Kepala Ekonomi Bank Dunia, Mansoor Dailami, peningkatan jumlah kelas menengah di negara-negara berkembang telah membuat tren konsumsi dalam negeri meningkat. Hal ini secara bertahap akan menjadi sumber pertumbuhan global berkelanjutan.

Negara-negara dengan populasi kelas menengah muda produktif cenderung memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi ketimbang negara-negara dengan populasi berusia tua. Jika dibandingkan negara-negara berkembang lain, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia tergolong sangat cepat. Berdasarkan data Bank Dunia, tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya sebesar 37,7 persen, namun pada 2010 mencapai 134 juta jiwa atau 56,6 persen.

Walaupun berbagai faktor mendukung pertumbuhan ekonomi yang akan semakin baik di tahun 2012, namun bukan tidak ada kendala untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi diatas 6%. Kondisi ekonomi dunia yang belum pulih bahkan masih dihantui ancaman krisis baru akibat belum terselesaikannya masalah utang di negara eropa, bisa berdampak kepada melemahnya permintaan barang ekspor diberbagai kawasan dunia.

Yang patut diwaspadai juga adalah kemungkinan terjadinya overheating dari ekonomi Indonesia yang bisa menyulut kenaikan inflasi. Tingginya investasi asing yang masuk ke Indonesia akan menciptakan kenaikan permintaan baik untuk keperluaan industri maupun konsumsi. Keterbatasan kapasitas produksi saat ini dikhawatirkan akan memicu terjadinya ketimpangan antara supply dan demand di dalam negeri.

Namun berbagai pihak termasuk Bank Indonesia menampik kekhawatiran itu. Bank Indonesia (BI) menyatakan perekonomian Indonesia saat ini masih jauh dari situasi overheating karena pertumbuhan ekonomi  masih di bawah tujuh persen dan kapasitas pertumbuhan ekonomi masih longgar dan belum menekan laju inflasi.

Pertumbuhan kredit perbankan pada 2011 yang mencapai 25-26 persen menurut Bank Indonesia  belum bisa disebut ketinggian atau bubble karena dengan pertumbuhan ekonomi enam persen, normalnya kredit perbankan akan tumbuh pada kisaran angka di atas 20 persen. Sementara itu openurunan BI rate menjadi 6% belum serta merta menurunkan suku bunga kredit perbankan sehingga diperkirakan tidak akan terjadi lonjakan kenaikan kredit yang berarti.

Meskipun bukan hal yang mudah namun sikap optimis layak ditunjukkan bangsa Indonesia saat melangkah memasuki tahun 2012.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -Agustus 2011

FOKUS: INVESTASI ASING LANGSUNG KE INDONESIA MAKIN PESAT

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI COLD STORAGE

PERDAGANGAN : PASAR AYAM POTONG DI JAKARTA DAN SEKITARNYA
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.