2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juli 2011


PERKEBUNAN KELAPA:  POTENSI YANG BELUM OPTIMAL


Sebagai negara tropis yang sangat luas, Indonesia adalah surga bagi pohon kelapa. Pohon ini dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari pulau Sumatera hingga Papua. Namun, pengembangan kelapa dirasakan belum optimal hingga saat ini.

Luas perkebunan kelapa di Indonesia saat ini mencapai 3,8 juta hektar (Ha) yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 3,7 juta Ha; perkebunan milik pemerintah seluas 4.669 Ha; serta milik swasta seluas 66.189 Ha. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menjadi 3,8 juta hektar pada tahun 2011.

Perkebunan kelapa selama ini berkembang sebagai perkebunan rakyat karena sebagian besar dari lahan kelapa yang ada di tanah air yakni 98 persen adalah perkebunan rakyat. Perkebunan kelapa rakyat umumnya kondisinya sama yakni luas lahan yang sempit, dan pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali, tidak berada pada skala komersial dan dikelola secara tradisional.  

Sebagian besar produksi kelapa di Indonesia yakni sekitar 65 persen dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik, sisanya diekspor dalam bentuk kelapa butir dan olahan. Pengolahan hasil produksi kelapa juga masih berupa produk dasar seperti kopra; yang memiliki nilai tambah rendah.

Salah satu alasan mengapa industri pengolahan kelapa kurang berkembang adalah kalah bersaing dari kelapa sawit. Kelapa sawit jauh lebih produktif sehingga produknya lebih murah dan bisa menguasai kebutuhan minyak nabati di dunia.

Namun, sejumlah produk berbasis kelapa memiliki prospek karena sifatnya unik dan tidak tergantikan produk sawit. Produk-produk berbasis kelapa yang memiliki prospek diantaranya: coconut milk powder, coconut jam, liquid coconut milk, coco chips, desiccated coconut, coconut pith, coconut vinegar, frozen coconut meat, nata de coco, virgin oil, fresh coconut dan coconut water concentrate. Sementara produk- produk berbasis kelapa lainnya yaitu minyak goreng dan coco chemicals harus bersaing dengan produk yang sama berbasis kelapa sawit dan minyak kedele. 

Skema industri berbasis kelapa

Kelapa merupakan tanaman yang hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan secara komersial mulai dari batang pohon; buah; sabut; tempurung; hingga air kelapa.

Produk-produk yang dapat dihasilkan dari buah kelapa dan banyak diminati karena nilai ekonominya yang tinggi diantaranya adalah Virgin Coconut Oil (VCO), activated carbon (AC), coconut fiber (CF), coconut charcoal (CCL), serta oleokimia yang dapat menghasilkan asam lemak, metal ester, fatty alkohol, fatty amine, fatty nitrogen, glyserol, dan lain-lainnya. Sementara itu, batang kelapa juga merupakan bahan baku industri untuk menghasilkan perlengkapan rumah tangga (furniture) yang masih prospektif untuk dikembangkan.

Produk kelapa yang sudah berkembang di dalam negeri diantaranya adalah Coconut Crude Oil (CCO) dan turunannya, Dessicated Coconut (DC), Virgin Coconut Oil (VCO), activated carbon (AC), coconut fiber (CF), coconut charcoal (CCL). 

Sekitar 90 persen dari bahan baku daging kelapa digunakan untuk menghasilkan CCO dan sisanya terbagi untuk produk lainnya. Kecenderungan untuk menghasilkan CCO semakin menurun, sebaliknya untuk produk lainnya semakin meningkat. Sesuai dinamika pasar produk, kecenderungan untuk menghasilkan produk oleokimia (OC) turunan dari CCO tampak semakin tinggi.

Produk-produk turunan daging buah selain (OC) yang sangat prospektif untuk berkembang adalah VCO, DC, CM dan CC. Keempat produk ini memiliki konteks pengembangan yang sangat baik. VCO memiliki konteks produk yang dapat meningkatkan kesehatan (daya imunitas tubuh terhadap berbagai penyakit degeneratif) dan bahan baku kosmetik alami yang bernilai tinggi.

DC adalah produk campuran makanan yang higienis dan praktis. CM adalah minuman kesehatan yang dapat mensubstitusi susu dan CC adalah bahan yang praktis dan hiegenis untuk keperluan memasak pengganti santan parut manual.

Produk-produk turunan tempurung yang prospektif adalah AC, CCL, tepung tempurung (CP) dan kerajinan. Activated carbon antara ain dapat digunakan untuk industri minyak dan gas, pemurnian air, pengolahan pulp, pupuk dan tambang emas.

Produk-produk turunan sabut yang prospektif untuk bahan jok mobil mewah, springbed, dan geotextile (GT). Ada empat komponen dasar dari buah kelapa, yaitu sabut, tempurung, daging buah dan air yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk.

Perkebunan rakyat mendominasi 

Perkebunan kelapa selama ini berkembang sebagai perkebunan rakyat karena sebagian besar dari lahan kelapa yang ada di tanah air, sebagian besar yakni 98 persen adalah perkebunan rakyat. Perkebunan kelapa rakyat umumnya kondisinya sama yakni luas lahan yang sempit, dan pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali, serta tidak berada pada skala komersial.

Luas perkebunan kelapa di Indonesia saat ini mencapai 3,8 juta hektar (Ha) yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 3,7 juta Ha; perkebunan milik pemerintah seluas 4.669 Ha; serta milik swasta seluas 66.189 Ha. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menjadi 3,8 juta hektar pada tahun 2011.
Luas perkebunan terbesar terdapat di Provinsi Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Sulawesi Utara dengan luasan berkisar 300 ribu Ha hingga 200 ribu Ha.


Produksi tidak banyak berkembang

Meskipun memiliki perkebunan kelapa terbesar di dunia, namun dari sisi produksi kondisi tersebut belum terefleksikan. Produksi kelapa pada tahun 2010 mencapai 3,26 juta ton. Tingkat produksi ini tidak jauh berbeda dengan tingkat produksi pada tahun-tahun sebelumnya.

Produksi tahun 2003 mencapai 2,325 juta ton. Hingga tahun 2008, produksi sempat berfluktuasi dengan produksi terendah mencapai 3,05 juta ton pada tahun 2004 kemudian merangkak naik hingga 3,26 juta ton pada tahun 2010.

Produksi ini tergolong kecil dibandingkan dengan luasan perkebunan kelapa yang ada. Produktivitas pada tahun 2011 hanya mencapai sekitar 0,7 ton/ Ha dari kemampuan potensial tanaman ini yang mencapai 2,5 ton/ Ha.

Perkebunan rakyat umumnya masih dikelola secara tradisional dengan kepemilikan lahan yang terbatas dan penerapan teknologi pertanian yang belum utuh. Hal ini membuat produktivitas tanaman ini masih tergolong rendah. 

Tingkat produktivitas ini lebih rendah dari beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2001 rata-rata produktivitas mencapai 1,3 ton /Ha, sementara mulai tahun 2005 rata-rata proktivitasnya hanya 0,7 ton/Ha. Produktivitas lahan kelapa Indonesia ini masih rendah dibandingkan dengan India dan Srilangka.

Tanaman kelapa tidak sepenuhnya dalam kondisi produktif karena sekitar 12 persen dari luasan perkebunana kelapa yang ada yakni sebesar 450 ribu Ha merupakan tanaman yang sudah tua dan tidak produktif. Upaya peremajaan telah dilakukan oleh pemerintah, namun jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan luas total perkebunan kelapa.

Hingga tahun 2009, peremajaan perkebunan kelapa mencapai 25.391 hektar yang mencakup 27 provinsi di 64 kabupaten. Peremajaan dilakukan di  akan terus dikembangkan di wilayah perbatasan dan daerah terpencil yang notabene kurang strategis bagi perkembangan bisnis pengolahan.

Tidak ada industri pengolahan kelapa yang besar

Pengolahan kelapa di Indonesia saat ini dilakukan baik secara tradisional maupun modern. Pengolahan kelapa di Indonesia tidak didominasi industri dengan produk tertentu.

Produk yang dihasilkan oleh industri pengolahan dalam negeri bervariasi, mulai dari kopra, minyak goreng (RBD/ Refined Bleached Doedorized), Santan, Virgin Coconut Oil, Nata Decoco, Gula Merah, Arang batok, Geo textiles, dll. Lokasi perusahaan pengolahan banyak terkonsentrasi di daerah penghasil kelapa yang cukup besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sumatera Utara. Terdapat pengecualian yakni di DKI Jakarta yang tidak memiliki perkebunan tetapi industri pengolahannya cukup banyak.

Jika diklasifikasikan menurut Kementarian Perindustrian maka industri kelapa dibagi menjadi industri hulu dengan produknya berupa kelapa segar, serta kopra (kopra hitam dan putih). Industri antara merupakan industri kelapa yang memproses bahan baku menjadi produk-produk turunan, seperti tempurung kelapa, Copra Meal, Desiccated Coconut.

Sementara itu, industri kelapa hilir adalah industri kelapa yang mengolah bahan yang dihasilkan oleh industri kelapa antara menjadi berbagai produk akhir yang digunakan oleh industri . Contoh produk di level ini diantaranya , Minyak kelapa, Coconut cream/milk, activated carbon (AC) dan lain-lain.

Produk minyak dari kelapa kurang bersaing 

Produktivitas kelapa lebih rendah jika dibandingkan jenis penghasil minyak nabati lainnya seperti sawit. Hal ini membuat produk turunannya khususnya minyak belum banyak berkembang karena harganya menjadi lebih mahal.

Minyak dari kelapa sebenarnya memiliki keunggulan terutama bagi industri karena memiliki kandungan asam laurat yang tinggi, terutama untuk keperluan industri detergen dan kosmetik serta kecenderungan akan produk-produk ramah lingkungan.

Buah kelapa bahkan bisa mensubstitusi seluruh produk yang dihasilkan kelapa sawit (palm kernel). Sebaliknya, kelapa sawit tidak bisa diproses menjadi susu kelapa, desiccated coconut, oriental food, spry dried powder, dan minyak rambut. Kelapa juga dapat menghasilkan produk turunan kelapa sawit seperti oleokimia, biodiesel, dan fatty alcohol.

Dari 17 jenis minyak dan lemak yang diperdagangkan di pasar internasional pada tahun 2005, minyak kelapa baru menduduki posisi keenam. Kontribusinya sebesar 4,34%, jauh dibawah minyak kedele (30,45%), minyak sawit (30,34%), rapeseed oil (9,54%), minyak bunga matahari (8,16%) dan minyak/lemak hewani (4,40%). ...


Lihat Daftar isi>>
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -Juli 2011

FOKUS: KETAHANAN PERBANKAN DI INDONESIA MENGHADAPI KRISIS FINANSIAL

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA

PERTANIAN :
PERKEBUNAN KELAPA:  POTENSI YANG BELUM OPTIMAL
Web Page Maker, create your own web pages.