2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juni 2011

FOKUS
INDUSTRI MANUFAKTUR MULAI BERGAIRAH KEMBALI



Setelah lebih dari satu dekade yaitu semenjak krisis moneter yang menghantam perekonomian Indonesia tahun 1998, sektor manufakur merupakan salah satu sektor yang mengalami pukulan berat dan paling lama menderita kelesuan. Ketika sektor keuangan, perdagangan, properti dan sektor lain sudah sepenuhnya pulih tahun 2004, maka sektor industri manufaktur masih terseok-seok.

Industri tekstil sampai tahun 2007 masih kesulitan untuk bangkit kembali karena keterbatasan modal untuk bisa merestrukturisasi dan meremajakan mesin-mesinnya. Padahal semenjak krisis moneter, mesin tekstil yang beroperasi rata-rata sudah tua dan daya saingnya rendah. Pada awal tahun 2008 industri tekstil mulai bangkit dengan mulai masuknya pembiayaan dari perbankan dan pasar ekspor yang mulai meningkat, tapi  kemudian muncu krisis finasial global yang memukul pasar ekspor terutama di negara maju seperti amerika Serikat dan Eropa. Akibatnya sektor ini kembali melemah.

Demikian juga industri sepatu, industri elektronik dan industri manufaktur yang sebelumnya mengandalkan pasar ekspor, sangat terpukul dengan terjadinya krisis finansial global. Namun sejalan dengan membaiknya ekonomi nasional yang didukung oleh pasar domestik yang kuat, maka semenjak tahun 2010, sektor industri manufaktur mulai tumbuh kembali. Bukan hanya untuk industri manufaktur yang mengandalkan pasar dalam negeri seperti otomotif, industri makanan-minuman dll, maka industri yang mengandalkan pasar ekspor semenjak tahun 2010 kembali menggeliat yang ditandai dengan pesatnya pertumbuhan sektor industri non migas setelah ekonomi dunia mulai membaik.

Selama krisis finansial global mencapai puncaknya tahun 2009,  ekonomi Indonesia terbukti tahan terhadap krisis finansial global bahkan semenjak akhir 2009, pertumbuhan ekonomi telah kembali membaik. Selama tahun 2009 Indonesia ekonominya tumbuh sebesar 4,55 % dan kemudian terus membaik  tahun berikutnya sehingga tahun 2010 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1%.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomiyang tinggi , pada tiga tahun terakhir juga terjadi kenaikan pertumbuhan produksi pada industri manufaktur. Pada tahun 2011 pada kuartal III industri manufaktur tumbuh sebesar  5,6% dibanding perioda yang sama tahun 2010.  Pada tahun sebelumnya yaitu pada triwulan III 2010 pertumbuhan produksi industri manufaktur naik 3,67% dari triwulan III 2009, pertumbuhan triwulan III 2009 naik 0,09% dari triwulan III 2008. Pertumbuhan pada tahun 2011 diperkirakan akan bisa mndekati target pertumbuhan industri yang dicanangkan Pemerintah yaitu sebesar 6%.


Industri otomotif pendorong tumbuhnya industri manufaktur

Industri otomotif baik mobil maupun sepeda motor merupakan sektor industri manufaktur yang memberikan andil yang besar dalam pertumbuhan sektor industri. Pada tahun 2011 ini industri otomotif meningkat  29,76 %. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor yang telah mencapai rekor baru setelah pulih dari dampak krisis finansial tahun 2009.

Industri otomotif di Indonesia pertumbuhannya ditunjang oleh pasar domestik yang masih besar karena jumlah penduduk yang besar dan daya beli yang meningkat sehingga diperkirakan pada tahun 2011 penjualan mobil bisa mencapai 850 ribu unit.

Tabel - 1
Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pada triwulan III 2011 dari triwulan III 2010

Sektor industri Manufaktur        Pertumbuhan
QIII 2011
1. Kendaraan bermotor naik                                                        29,76%
2. Kimia dan barang-barang dari bahan kimia naik                                19,77%
3. Logam dasar naik                                                                14,9%
4. Pengolahan tembakau naik                                                        11,7%
5. Kulit dan barang dari kulit dan alas kaki naik                                11,26%
6. Barang galian dan bukan logam naik                                        10,56%
7. Tekstil naik                                                                        9,25%
8. Mesin listrik lainnya dan perlengkapannya naik                                8,98%
9. Radio televisi dan peralatan komunikasi lainnya naik                        7,81%
10. Makanan dan minuman naik                                                        7,73%
11. Furniture dan pengolahan lainnya naik                                        5,48%
12. Pakaian jadi naik                                                                5,34%
13. Barang-barang dari logam kecuali mesin dan peralatannya naik        3,5%


Tidak seluruh sektor industri mengalami pertumbuhan pada tahun 2011. Menurut data dari BPS  industri barang dari karet dan barang plastik menurun 12,06%, hal ini disebabkan penurunan harga karet dan plastik di dunia yang menyebabkan menurunnya output dari industri ini.

Adapun jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pada triwulan III 2011 dari triwulan III 2010 adalah sebagai berikut.

1. Karet dan Barang dari karet dan barang dari plastik turun 12,06%
2. Mesin dan perlengkapannya turun 10,82%
3. Kayu dan barang-barang dari kayu turun 5,65%
4. Penerbitan, percetakan dan reproduksi media rekaman turun 1,53%.

Ekspor industri manufatur juga meningkat pesat

Pertumbuhan industri manufaktur ini sejalan dengan pertumbuhan ekspornya yang menunjukkan peningkatan pesat dalam dua tahun terakhir pasca krisis finansial global tahun 2008-2009.

Pada tahun 2010 ekspor industri non migas mencapai US$ 98,0 milyar dari total ekspor Indonesia sebesar US$ 157,8 milyar atau 62,1%. Peranan ekspor industri manufaktur berada jauh diatas peranan ekspor migas yang mencapai 17,8% dan ekspor hasil tambang yang mencapai 16,9%. Peranan ekspor hasil tambang mengalami peningkatan disebabkan naiknaya harga komoditas tersebut dipasaran dunia dalam beberapa tahun terakhir ini.

Jumlah ekspor industri manufaktur pada tahun 2010 tersebut berarti naik sebesar 35,4% dibanding tahun 2009. Pada tahun 2011 sampai dengan bulan Mei, ekspor sektor industri manufaktur non migas telah mencapai US$ 49,6 milyar atau naik 36,3% dibanding perioda yang sama tahun 2010.


Ekspor industri manufaktur didominasi oleh 12 kelompok komoditi yang mencapai hampir 90% ekspor industri non migas atau 55,6% total ekspor nasional.  Ekspor yang terbesar adalah ekspor hasil olahan Kelapa Sawit yang mencapai US% 87,692. Indonesia sebagai penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia mendapatkan keuntungan yang besar ketika harga komoditi ini meningkat di dunia. Walaupun saat ini harga CPO masih berfluktuasi dan cenderung menurun, namun masih tetap tinggi dibanding rata-rata haraga  lima tahun yang lalu.

Menyusul Kelapa sawit, penyumbang ekspor Indonesia adalah  ekspor tekstil dan produk tekstil  juga mengalami peningkatan. Kenaikan ekspor tekstil dan produk tekstil ini memberikan indikasi industri tekstil Indonesia masih mampu bersaing dipasaran ekspor dan mampu bertahan hidup di pasar domestik walaupun persaingan dari produk impor China sangat ketat dan telah menggerogoti peranan produk tekstil nasional dipasar domestik.

Namun terbukti masih banyak industri tekstil yang mampu bertahan dan memiliki daya saing. Setelah perbankan mau memberikan kembali pendanaan kepada sektor tekstil terutama sejak tahun 2007, secara bertahap industri tekstil mulai melakukan restrukturisasi dan peremajaan mesin-mesinnya.

Salah satu yang menonjol dalam ekspor sektor industri adalah ekspor industri otomotof terutama mobil yang mampu meningkatkan perannya dalam ekspor industri manufaktur di Indonesia setelah banyak prinsipal industri mobil dari jepang menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi untuk kendaraan jenis Multi Purpose Vechicle (MPV) seperti Toyota Innova atau Avanza, Daihatsu, dan Suzuki.

Indonesia bisa menjadi tempat investasi yang menarik

Setelah mampu bertahan dalam menghadapi krisis finansial global dan mempertahankan kesatbilan ekonomi makro selama lebih dari lima tahun terakhir, kini Indonesia mulai dipandang sebagai lokasi investasi yang cukup potensial untuk sektor industri manufaktur.

Banyak industri yang sebelumnya telah meninggalkan Indonesia akibat krisis eknomi pada tahun 1998, kini mulai merelokasikan pabriknya ke Indoensia seperti yang terjadi pada industri sepatu dan barang kulit. Industri ini sempat terpuruk akrena berkurangnya kontrka pembelian dari prisipalnya dan banyaknya perusahaan yang merelokasikan ke negara ASEAN lainnya. Namun dalam dua tahun terakhir ini Indonesia semakin menarik karena memilikim pasar yang besar dan daya beli masyarakat yang meningkat.

Ketika pasar dunia mulai bergeser ke negara Asia dan Amerika Latin, maka pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia menjadi sangat menarik. Indonesia memiliki kelebihan dibanding negara Asean lainnya karena penduduknya yang besar, sumber daya alam yang besar dan beraneka ragam, dan ekonomi yang terus tumbuh secara kontinyu merupakan tujuan investasi yang menarik. Ketika negara lainnya mengalami kesulitan baik karena masalah bencana alam seperti di Thailand, maupun masalah keterbatasan tenaga kerja seperti di Malaysia, maka merupakan kesempatan yang baik bagi Indonesia untik menarik investao sebanyak mungkin.

Namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan investasi di sektor industri manufaktur. Keterbatasan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, lapangan udara, listrik dll menjadi ganjalan bagi masuknya investor baik asing maupun dalam negari. Belum lagi masalah penegakan dan kejelasan hukum, korupsi dan birokrasi yang masih semerawut menyebabkan investor asing tidak serta merta mau masuk ke Indonesia. Kalau semua itu bisa segera teratasi bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menyamai Indoa atau Cina.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.