INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Januari 2011
FOKUS
SAATNYA EKSPOR NON MIGAS MENJADI TUMPUAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Kinerja ekspor menunjukan peningkatan yang sangat membanggakan bagi Indonesia, karena Sepanjang 2010, ekspor tercatat sebesar US$157,7 miliar, jauh melampaui ekspor 2009 yang mencapai US$116,5 miliar. Ini berarti terdapat kenaikan lebih dari 35 persen, suatu peningkatan yang sangat tinggi. Kendati demikian lonjakan kenaikan pada tahun 2010 juga tidak terlepas dari ekspor yang relatif rendah pada 2009, karena pada tahun itu terjadi krisis keuangan global.
Tetapi kenaikan ekspor 2010 juga tidak semata karena turunnya kinerja ekspor pada tahun 2009, karena sebelumnya pada 2008, ekspor Indonesia juga meningkat tajam, yaitu mencapai USD137 miliar. Ini berarti kenaikan ekspor pada 2010 bukan hanya mengalami pemulihan dari penurunan pada 2009, melainkan mulai meneruskan tren yang dibangun kinerja ekspor sampai 2008.
Pada tahun 2010, ekspor naik 14 persen dari 2008. Dalam kinerja ekspor 2010, terlihat ekspor komoditas naik cukup tinggi. Sebagian di antaranya tentu karena kenaikan harga komoditas global seperti minyak bumi, minyak sawit, karet, dan batu bara.
Kontribusi 10 produk utama dalam ekspor nonmigas mencapai 47,5 persen, paling dominan adalah peningkatan komoditas sawit, produk laut, sementara peningkatan kakao lebih didorong oleh kenaikan harga. Sedangkan produk manufaktur seperti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), elektronik, alas kaki, otomotif karena peningkatan jumlah volume.
Ekspor non migas semakin menguat
Ekspor komoditas yang terlihat meningkat signifikan salah satunya adalah minyak sawit, pada Januari 2011 tercatat ekspornya mencapai US$ 1,624 milyar, meningkat pesat dari Januari tahun 2010 yang tercatat sebesar US$ 757 juta.
Hal yang menarik dari ekspor minyak sawit dan karet adalah nilai ekspor kedua komoditas tersebut pada tahun 2010 sebesar US$ 16,3 milyar dan US$ 9,4 milyar, telah mendekati ekspor minyak dan gas pada tahun yang sama yang mencapai US$ 28 milyar.
Akan tetapi jika memilih batu bara ditambah karet, ekspor kedua komoditas tersebut telah menyamai ekspor seluruh minyak dan gas pada 2010 tersebut. Bagaimanapun, hal tersebut merupakan suatu kinerja yang sangat bagus dari perkembangan komoditas nonmigas.
Diperkirakan ekspor minyak sawit ditambah karet Indonesia akan melampaui ekspor minyak dan gas dalam waktu tidak terlalu lama. Hal ini penting karena bagaimanapun minyak dan gas bumi adalah komoditas yang tidak dapat diperbaharui, sehingga ada waktunya komoditi ini akan habis, sehingga dibutuhkan komoditas andalan yang merupakan komoditas yang dapat diperbaharui dan lebih terjamin kelangsungannya dimasa depan.
Selain meningkatnya ekspor produk komoditas, Indonesia berhasil meningkatkan ekspor produk industrinya. Di masa lalu, produk industri yang banyak di ekspor adalah tekstil dan pakaian jadi, saat ini produk mesin dan peralatan listrik merupakan andalan dari sektor produk industri.
Ekspor produk tersebut pada 2010 telah mencapai US$ 10,5 miliar, meskipun ekspor produk tersebut tidak termasuk dalam daftar 10 barang ekspor utama Indonesia, tetapi ekspor barang industri semakin meningkat jenis produknya.
Produk mesin/peralatan listrik (HS 85), misalnya, mengalami kenaikan ekspor dari US$ 8 miliar menjadi US$ 10,3 miliar. Selain perusahaan domestik, banyak investor asing yang memproduksi berbagai produk di Indonesia. Sebagian dari produk tersebut diekspor.
Samsung dan Lucky Goldstar, dua raksasa elektronik Korea, selain melakukan ekspansi di pasar domestik, juga terus meningkatkan ekspor. Demikian juga berbagai perusahaan Jepang di Indonesia, Panasonic, misalnya, telah meningkatkan kapasitas produksi untuk pembuatan komponen elektronik yang diekspor ke seluruh dunia.
Perusahaan tersebut bahkan akan menambah kapasitas pabriknya lagi dengan melakukan relokasi lebih lanjut dari pabriknya di China dan Vietnam ke Indonesia.
Produk-produk inilah yang akhirnya ikut meningkatkan ekspor Indonesia di bidang elektronik. Produk industri lainnya yang meningkat adalah mesin-mesin dan pesawat mekanik (HS 84). Ekspor produk ini naik dari US$ 4,7 miliar pada 2009 menjadi hampir US$ 5 miliar pada 2010. Sementara itu ekspor kendaraan dan bagiannya (HS 87) juga naik tajam, yaitu dari US$ 1,957 miliar menjadi US$ 2,899 miliar, suatu kenaikan hampir separuhnya.
Indonesia memang banyak mengekspor komponen kendaraan bermotor atau kendaraan yang diekspor dalam bentuk terurai (completely knocked down atau CKD) dan mobil jadi atau completely built up (CBU). Nilai ekspor hampir US$ 3 miliar tersebut berarti sekira 300 ribu unit kendaraan roda empat. Kendaraan roda empat yang kita ekspor banyak ditemui di Timur Tengah maupun negara-negara ASEAN.
Diversifikasi membuat pasar ekspor mulai berubah
Konsentrasi lima besar pasar ekspor Indonesia sekarang ini telah mengalami perubahan menjadi Jepang, China, Amerika Serikat (AS), India dan Singapura. China menggeser posisi AS, sedangkan India menggeser posisi Singapura dan Malaysia.
Jepang meskipun masih yang tertinggi dalam tujuan ekspor non migas, tetapi semakin menipis perbedaannya dengan Cina dan Amerika, karena pada Februari 2011 hanya tercapai US$ 2,852 milyar, sedangkan Cina sebesar US$ 2,343 milyar dan Amerika sebesar US$ 2,513 milyar.
Cina dan India memperlihatkan perkembangan yang tinggi dalam permintaan produk non migasnya dari Indonesia, karena tingginya pertumbuhan industri dan ekonomi di negara tersebut, sehingga peningkatan ekspor ke Cina dan India berkembang dengan pesat.
Ekspor komoditas Indonesia ke Jepang terus menurun dalam lima tahun terakhir akibat diversifikasi ekspor yang mulai disosialisasikan pemerintah, tetapi dampak tsunami di Jepang juga turut memberikan kontribusi menurunnya beberapa komoditi ekspor dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut Direktur Kerja Sama Bilateral, Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Pradnyawati, dalam lima tahun terakhir pemerintah terus melakukan diversifikasi ekspor.
Diversifikasi ekspor ini dalam bentuk pengalihan negara tujuan ekspor seperti di kawasan Timur Tengah, Eropa, dan sejumlah negara di benua Asia. Meskipun terjadi penurunan nilai ekspor ke Jepang akibat diterapkannya diversifikasi ekspor, namun Jepang masih berada pada peringkat pertama sebagai tujuan ekspor Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang sepanjang 2010 sebesar Rp16,496 miliar dolar AS.
Tsunami Jepang Pengaruhi Ekspor Indonesia
Bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang beberapa waktu lalu telah mempengaruhi pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara itu dan sebaliknya. Seperti yang disampaikan oleh Staf Ahli Ketua Bappenas Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Umiyatun Hayati Triastuti, bahwa volume ekspor sebagian besar komoditas asal Indonesia ke Jepang telah menurun secara signifikan pasca-tsunami.
Tsunami yang melanda Jepang diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi negara tersebut hingga akhir tahun dan akan cukup berpengaruh pada ekspor Indonesia. Beberapa komoditas Indonesia yang diekspor ke Jepang antara lain Ikan, udang, komoditas perkebunan, dan beberapa lainnya.
Sejumlah infrastruktur penting penopang perekonomian negara tersebut, seperti Pelabuhan, jalan, jembatan, dan pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Onagawa, dan Tokai hancur berantakan. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan menyusut 1 persen hingga 2 persen dan diperkirakan perlambatannya akan berlanjut hingga akhir 2011, melambatnya proses recovery yang disebabkan oleh lebarnya defisit fiskal serta krisis reaktor nuklir dan kebocoran radiasi membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengembalikannya ke kondisi seperti semula.
Meskipun akan mengalami penurunan ekspor untuk sementara waktu ke Jepang akibat dampak tsunami, tetapi untuk beberapa komoditas, seperti Kayu lapis, batubara dan produk pertambangan lain, kemungkinan akan mengalami peningkatan dalam jangka pendek ini, karena kebutuhan yang mendesak dari Jepang untuk pembangunan kembali bangunan dan infrastruktur, serta peningkatan pasokan energi dari sumber energy lain selain nuklir.
Ekspor Barang Kayu Diprediksi Naik 30%
Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) memprediksi, ekspor barang berbahan dasar kayu akan meningkat hingga 30 persen, target itu akan tercapai apabila seluruh barang berbahan dasar kayu produksi dalam negeri bisa memiliki sertifikat legal dalam sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).
SVLK merupakan sistem pelacakan yang disusun secara multistakeholder untuk memastikan legalitas sumber kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia. Sistem verifikasi legalitas kayu dikembangkan untuk mendorong implementasi peraturan pemerintah yang berlaku terkait perdagangan dan peredaran hasil hutan yang legal di Indonesia.
SVLK harus diakui secara penuh di seluruh dunia. Selain itu, pemerintah juga harus mengatur dan mengawasi dengan ketat agar kayu produksi dalam negeri tidak diselundupkan ke negara lain.
Peningkatan ekspor barang berbahan dasar kayu memang selalu terjadi dari tahun ke tahun, namun sangat tipis, karena seringkali terhambat oleh legalitas bahan kayu tersebut yang dianggap tidak ada kejelasan legalitasnya. Ekspor tahun lalu sekitar US$ 2,9 miliar, padahal bahan bakunya adalah sumber daya alam (SDA), sementara tekstil dan produk tekstil (TPT) yang bahan bakunya kebanyakan impor bisa tembus US$ 11 miliar. Timbulah hambatan non tarif yakni legalitas kayu. Masalah legal dan ilegal menghambat arus barang kayu ke industri. Sehingga SVLK diharapkan akan melancarkan.
Seperti yang disampaikan Ketua Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Pertambangan GPEI Robianto Koestomo, Indonesia siap untuk memenuhi apabila pasar global menuntut legalitas barang berbahan dasar kayu, Kita perkenalkan SVLK di hadapan pasar jika pasar global menuntut legalitas. Kita siap menjual produk kayu yang berstatus legal dan diharapkan pemerintah akan gencar melakukan negosiasi di luar negeri, agar ada pengakuan bahwa produk kayu yang kita ekspor bersertifikat SVLK. Itu legal.
Ekspor 2011 diperkirakan mencapai US$ 170 milyar
Kinerja ekspor non migas tahun 2010 yang mencapai US$ 157,7 milyar sudah di atas pencapaian ekspor pada tahun 2008 yang hanya mencapai US$ 108 milyar. Pemerintah menjelaskan, target ekspor tahun ini adalah dengan mengacu pada realisasi investasi baru dan ekspansi yang banyak dilakukan pada tahun 2010, yang di antaranya adalah sektor automotif, tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan elektronik. Investasi dan ekspansi harus dilakukan dengan kapasitas besar. Sehingga peningkatan produksi juga akan mendukung peningkatan ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor nasional sepanjang November 2010 mencapai USD15,34 milyar. Angka ini meningkat 6,52 persen dibandingkan ekspor pada Oktober 2010 yang sebesar USD14,39 milyar.
Sementara itu, nilai impor pada November 2010 sebesar USD13,07 milyar atau naik 7,85 persen dibandingkan dengan Oktober 2010 yang sebesar USD12,12 milyar. Untuk impor nonmigas pada November 2010 sebesar USD10,12 milyar atau naik 3,99 persen dari Oktober yang sebesar USD9,7 milyar. Sedangkan untuk impor migas pada November 2010 sebesar USD2,95 milyar atau naik 23,60 persen dari Oktober 2010 yang sebesar USD2,38 milyar.
Beberapa faktor yang menentukan ekspor Indonesia pada 2011 adalah prediksi harga komoditas serta kapasitas yang memungkinkan pertumbuhan volume produksi. Dari sisi harga, fluktuasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, sulit untuk melakukan prediksi tersebut, namun dengan semakin kuatnya pemulihan ekonomi global, diperkirakan harga komoditas dunia akan meningkat. Selain itu hasil penanaman beberapa tahun yang lalu akan meningkatkan volume produksi minyak sawit dan karet dalam beberapa tahun kedepan.
Demikian juga produksi batu bara akan meningkat dengan ditemukannya cadangan-cadangan yang lebih tinggi dari pada yang sudah di perkirakan sebelumnya. Produksi yang akan meningkat pesat, akan segera melonjakan volume ekspornya.
Investasi yang terus berlanjut juga akan memungkinkan ekspor produksi barang industri naik. Dengan melihat tren pada tahun-tahun lalu serta kinerja ekspor Januari 2011 yang mencapai sekira USD14 milyar, bisa diperkirakan ekspor Indonesia pada 2011 akan mencapai US$ 170 milyar.