INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
April 2010
FOKUS
EKSPOR BANGKIT KEMBALI
Setelah terpuruk akibat krisis finansial global tahun 2009, ekspor Indonesia pada kwartal I 2010 meningkat kembali. Pada tahun 2009 ekspor Indonesia mengalami pukulan yang cukup berat, total ekspor menurun sebesar hampir 15% diantaranya ekspor sektor migas turun sebesar 34,7% dan ekspor non migas turun 9,6%. Turunnya harga minyak dunia pada tahun 2009 setelah mencapai puncaknya pada bulan Juli 2008 memberikan dampak menurunnya hasil nilai ekspor migas tahun 2009.
Diantara komoditi non migas maka ekspor komoditi hasil industri menurun paling drastis yaitu sebesar 16,9 %, sedangkan ekspor sektor pertambangan masih positif bahkan meningkat cukup tinggi yaitu 31,9 % dan ekspor komoditi pertanian hanya turun 4,8%. Hal ini terjadi berkat tingginya harga berbagai komoditi primer termasuk komoditi hasil pertambangan seperti batubara, nikel, dan timah demikian juga harga komoditi pertanian seperti CPO, kakao, dan karet. Sedangkan ekspor sektor industri terpuruk karena lemahnya pasar ekspor di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang yang terkena dampak paling parah dari krisis finansial gobal.
Dengan mulai membaiknya ekonomi dunia pada kwartal IV tahun 2009, dampaknya segera terasa pada ekspor non migas terutama ekpor komoditi industri. Memasuki kwartal pertama tahun 2010 pemulihan eknomi dunia terus berlanjut sehingga pasar ekspor dunia mulai pulih kembali.
Selama kwartal I 2010 ekspor Indonesia meningkat lebih dari 50% dibandingkan ekspor perioda yang sama tahun 2009, yaitu dari US$ 23,03 milyar menjadi US$ 35,39 milyar. Dengan harga minyak bumi yang kembali meningkat pada tahun 2010 yang berada dikisaran US$ 75-80 per barel, nilai ekspor meningkat karena sebelumnya pada awal tahun 2009 harga minyak hanya sekitar US$ 60 per barel.
Demikian juga komoditi industri berhasil meningkat ekspornya sebesar 37,5% menjadi US$ 21,1 milyar selama kwartal I 2010 dari US$ 15,37 milyar selama perioda yang sama tahun 2009. Peningkatan ekspor tahun 2010 juga didukung oleh ekspor hasil pertambangan yang meningkat sangat pesat yaitu mencapai US$ 6,69 milyar dari semula hanya US$ 3,41 milyar atau meningkat hampir dua kali lipat.
Jika melihat komoditinya maka ekspor hasil pertambangan sangat menyolok peningkatan ekspornya selama triwulan I 2010 dibanding perioda yang sama tahun 2009. Misalnya, ekspor bahan bakar mineral yaitu batubara mengalami peningkatan yang besar lebih dari dua kali lipat yaitu dari US$ 2,23 milyar menjadi US$ 4,75 milyar. Bijih besi dan abu logam meningkat 47,9%, tembaga meningkat 121% dan aluminium 25,6%.
Namun perkembangan yang cukup menonjol adalah mulai meningkatnya ekspor produk industri yang sebelumnya sangat terpuruk. Mesin/peralatan listrik cukup tinggi peningkatan ekspornya yaitu 47,9%, kemudian disusul oleh ekspor kertas, mesin/peralatan mekanik, dan pakaian jadi bukan rajutan.
Untuk produk pertanian yang menonjol ekspornya adalah minyak nabati yaitu CPO (crude palm oil) yang meningkat 26,9% dan ekspor karet yang meningkat 110%.
Sebagai dampak dari krisis finansial global, maka peranan beberapa negara tujuan utama ekspor Indonesia mulai bergeser. Peranan Amerika Serikat sebagai negara tujuan utama ekspor Indonesia no dua terbesar mulai tergeser oleh Cina. Pada tahun 2008 peranan Amerika Serikat masih sebesar 11,6% dan menurun menjadi 10,4% pada tahun 2010.
Sementara Cina semula peranannya sebagai negara tujuan ekspor Indonesia baru 7,2%, kemudian semenjak krisis finansial Cina menggeser Amerika Serikat, sehingga pada tahun 2010 peranannya mencapai 10,7%. Jepang masih tetap sebagai tujuan utama ekspor Indonesia yang terbesar dengan peranannya sebesar 11,6%, hal ini bertahan semenjak tahun 2008.
Negara Uni Eropa juga mulai berkurang perannya dalam tujuan ekspor Indonesia semenjak terjadi krisis finansial. Pada tahun 2008 peranan negara Uni Eropa masih sebesar 14,3%, kemudian menurun dan selama triwulan I 2010 perannya tinggal 13,8%.
Perkembangan Impor
Pertumbuhan ekspor selama triwulan I 2010 sejalan dengan peningkatan impor selama perioda tersebut. Pada tahun 2009 impor mengalami penurunan sebesar 21% dibanding tahun 2008. Dengan membaiknya perekonomian global maka permintaan di pasar ekspor meningkat sehingga industri dalam negeri yang banyak menghasilkan komoditi ekspor mulai bangkit. Pada gilirannya volume dan impor berbagai komoditi juga meningkat. Selama triwulan I 2010 impor telah mencapai US$ 23,8 milyar dari sebelumnya hanya US$ 15,9 milyar.
Impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan bahan baku penolong sehingga kenaikan impor Indonesia mengindikasikan meningkatnya kegiatan sektor industri manufaktur. Pada triwulan I 2010 impor bahan baku/penolong hanya sebesar US$ 13,5 milyar, kemudian meningkat cukup tajam sebesar 62,3% menjadi US$ 21,9 milyar selama triwulan I 2010.
Sementara itu impor barang modal juga mulai meningkat yaitu dari US$ 4,2 milyar triwulan I 2009, menjadi US$ 5,9 milyar selama triwulan I 2010. Hal ini mengindikasikan mulainya sektor industri melakukan investasi walaupun belum menonjol sekali.
Dilihat dari golongan barnag yang diimpor terlihat mesin/peralatan mekanik dan mesin/peralatan listrik masih merupakan golongan barang yang terbesar impornya. Kedua golongan barang ini banyak dibutuhkan oleh industri maupun untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur.
Indikasi mulai bergeliatnya industri manufkatur terlihat dari meningkatnya impor besi baja, bahan kimia dan plastik yang merupakan bahan baku dan penolong untuk industri manufaktur.
Cina berhasil meningkatkan peranannya sebagai negara asal barang impor ke Indonesia. Pada tahun 2008 Cina peranannya mencapai 15,2 % kemudian peranannya meningkat menjadi 17,4% tahun 2010. Jepang masih tetap pada posisinya sebagai negara asal barang impor Indonesia nomor dua terbesar dan perannya juga relatif stabil sebesar 15%.
Amerika Serikat selama krisis finansial berhasil memanfaatkan pasar Indonesia dengan meningkatkan ekpornya. Selama tahun 2010 peranan barang impor dari Amerika Serikat meningkat menjadi 9,4% dibanding peranannya pada tahun2008 yang masih sebesar 7,8%. Yang menurun perananya adalah negara Uni Eropa yang impornya ke Indonesia menurun dari 10,7% menjadi 8,6%.
Kesimpulan
Perkembangan ekspor dan impor Indonesia selama triwulan I 2010 menunjukkan industri manufaktur mampu bangkit memanfaatkan momentum perbaikan ekonomi dunia dengan meningkatkan ekspornya. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ekspor Indonesia sebenarnya masih mempunyai daya saing yang kuat di pasar dunia, tidak seperti yang ditakutkan berbagai kalangan selama ini ketika ekspor sektor Indonesia Indonesia mengalami penurunan.
Namun peningkatan ekspor ini masih dilakukan dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang ada. Sementara itu investasi baru untuk meningkatkan kapasitas masih belum meningkat secara berarti. Seperti yang ditunjukkan masih belum besarnya peningkatan impor barang modal. Jika tidak ada peningkatan investasi yang cukup besar untuk sektor industri maka dikhawatirkan daya saing industri manufaktur Indonesia akan berkurang dan momentum peningkatan pasar ekspor dunia tidak dapat dimanfaatkan.
Dengan makro ekonomi yang kuat dan pasar domestik yang terus tumbuh, sektor industri manufaktur sebenarnya mempunya fondasi yang kuat untuk berkembang. Minat investor asingpun sebenarnya cukup besar seperti terlihat dari mengalirnya dana asing ke pasar modal Indonesia. Namun semua ini tidak berarti jika infrastruktur bagi penunjang investasi di Indonesia tidak dikembangkan memenuhi kebutuhan sektor industri. Seperti kelancaran transportasi, ketersediaan tenaga listrik dan peraturan investasi yang mendukung.
Bila hambatan ini diatasi maka Indonesia akan bisa terus meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan dukungan sektor industri manufaktur yang kuat , tidak hanya dengan mengandalkan komoditi primer seperti barang tambang dan pertanian yang akan terbatas sumbernya.