INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MEI 2009
FOKUS
RESESI DUNIA MASIH BERLANGSUNG
Optimisme ditengah krisis
Ekonomi Indonesia selama triwulan I 2009 masih tumbuh positif yaitu mencapai 4,4% y-o-y dan termasuk tiga negara besar disamping Cina dan India yang pertumbuhannya masih positif. Hal ini menunjukkan ekonomi Indonesia cukup tahan menghadapi krisis finansial global yang telah menjebloskan negara-negara maju kejurang resesi ekonomi, termasuk juga negara tetangga seperti Singapura dan Thailand. Indonesia berhasil selamat melewati krisis ini karena pasar domestik yang kuat dan masih cukup tingginya harga beberapa komoditas ekspor diawal tahun 2009.
Selain pertumbuhan ekonomi, indikator ekonomi lainnya juga cukup postif. Tingkat inflasi cukup rendah yaitu sekitar 5%, sukubunga BI rate telah turun menjadi 7,25%, Rupiah telah mulai stabil dikisaran IDR 10.000 - 10.400 per US$. Dan yang cukup menonjol adalah pasar modal Indonesia. Sebelumnya IHSG melorot tajam diakhir tahun 2008 lalu, namun dalam dua bulan terakhir telah mulai bangkit kembali.
Ketika Rupiah melemah sampai melewatii IDR 12.000 bulan November 2008 maka IHSG juga mencapai nilai terendah selama dua tahun terakhir yaitu mencapai 124. Dana asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi pernah mencapai titik terndah pada bulan yang sama sehingga pemodal domestik juga mengikuti melepas dananya dari pasar modal.
Namun keadaan mulai berbalik ketika memasuki triwulan I dan berlanjut sampai bulan Mei 2009 yaitu ketika harga minyak bumi dan komoditi primer mulai meningkat kembali , BI terus menurunkan suku bunga, dibarengi dengan berbagai kebijakan insentif fiskal yang diberikan Pemerintah kepada dunia usaha, demikian juga konsumsi masyarakat masih cukup baik didorong oleh adanya Pemilu legislatif, kondisi ini pada gilirannya telah mampu memberikan indikator ekonomi yang positif. Maka tak heran jika investor asing kembali memasuki Indonesia yang dianggap sebagai negara yang masih memberikan return yang baik karena ekonominya yang masih terus tumbuh.
Masuknya kembali modal asing sangat besar pengaruhnya kepada pasar modal maupun kepada penguatan Rupiah, sepanjang bulan Maret sampai Mei, perdagangan dibursa saham terus aktif dan IHSG terus meningkat sampai menyentuh kembali nilai psikologis yaitu 2000 pada bulan Mei 2009 dan rupiah pun menguat sempat mencapai level psikologis IDR 10.340 per US$
Banyak muncul optimisme bahwa kondisi terjelek dari krisis finansial global telah terlewati. Beberapa lembaga keuangan di Amerika telah mulai mampu memperoleh keuntungan kembali setelah mengalami kerugian berturut-tuurt semenjak 2007. Beberapa kali lembaga keuangan dunia seperti IMF dan Bank Dunia melaporkan adanya tanda-tanda resesi akan segera berakhir. Sehingga Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Cina dan India yang lebih tinggi dari sebelumnya karena telah membaiknya sektor manufaktur yang kembali mendapatkan permintaan ekspor.
OECD (Organization for Economic Cooperatio and Development), gabungan negara paling maju di dunia, belum lama ini juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Pada tahun 2009 OECD memproyeksikan kontraksi ekonomi negara anggotanya akan mengecil dari angka semula sebesar 4,3% menjadi 4,1%, dan pada tahun 2010 mulai tumbuh kembali sebesar 0,7% padahal sebelumnya diproyeksikan hanya tumbuh 0,1 %.
Menurut OECD, ekonomi Amerika Serikat yang dianggap sebagai sumber krisis, pada tahun 2009 diproyeksikan masih mengalami kontraksi sebesar 2,8% lebih baik dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 4%. Ekonomi Amerika diperkirakan mulai tumbuh kembali tahun 2020 dengan tingkat pertumbuhan 0,9% jauh lebih baik dari proyeksi sebelumnya yang diperkirakan pertumbuhannya 0% pada tahun 2010.
Krisis belum sepenuhnya pulih
Didalam negeri, ketika kampanye untuk Pemilihan Presiden sedang berlangsung, ketiga pasangan calon presiden sama-sama menunjukkan optimisme tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, sepertinya krisis ekonomi dunia telah berlalu. Hampir semua capres menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ditahun selama masa Pemerintah periode 2009-2014 endatang dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan yang telah dicapai selama ini yaitu semenjak terjadinya krisis moneter.
Semenjak krisis moneter tahun 1998 pertumbuhan ekonomi tertinggi tercapai pada tahun 2007 dan 2008 yaitu mencapai 6,3- 6,5%, namun semenjak memasuki krisis finansial global pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi diproyeksikan hanya mencapai 4 - 4,5% tahun ini. Bila hanya mengacu kepada indikator ekonomi dua bulan terakhir sepertinya keadaan terburuk sebagai dampak krisis finansial global sudah meulai terlewati. Suku bunga pinjaman mulai turun, lalu kemerosotan ekspor mulai mereda karena selain permintaan mulai meningkat juga harga komoditas ekspor utama Indonesia sudah membaik kembali.
Namun jika diamati secara seksama, kita masih harus hati-hati karena perbaikan indikator ekonomi pada beberapa bulan terakhir baru berasal dari sektor ekonomi tertentu yang banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Penguatan Rupiah banyak dipengaruhi oleh melemahnya US$, sementara ekspor dapat bertahan karene beberapa komoditi primer seperti CPO, batu bara, minyak bumi harganya telah meningkat kembali.
Di dalam negeri penggerak ekonomi berasal dari konsumsi masyarakat. Selama tahun 2009 konsumsi masyarakat masih meningkat karena adanya Pemilihan Umum baik Legislatif maupun Presiden yang telah meningkatkan konsumsi masyarakat melalui pengeluaran untuk kegiatan kampanye.
Namun di pihak lain, kondisi sektor riil belum banyak berubah. Industri tekstil masih kesulitan memasarkan produksnya karena masih lemahnya permintaan dari negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa pabrik tekstil ada yang sudah mulai mengurangi tenaga kerja bahkan ada yang sampai menghentikan kegiatannya.
Selama empat bulan pertama tahun 2009 ekspor masih terus mengalami penurunan dibanding tahun 2008. Ekspor nonmigas April 2009 mencapai US$7,21 miliar, turun 1,74 persen dibanding Maret 2009 sedangkan dibanding ekspor April 2008 menurun 14,63 persen.
Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-April 2009 mencapai US$31,49 miliar atau menurun 29,51 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$26,90 miliar atau menurun 22,68 persen. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-April 2009 turun sebesar 28,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 7,38 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 11,63 persen.
CPO sebgai salah satu andalan ekspor Indonesia kini menghadapi masalah dalam menembus pasar ekspor karena berkurangnya permintaan dari negara tujuan utama seperti India, Cina dan Pakistan. Bahkan di Pakistan pangsa pasar CPO Indonesia semakin dikecil karena digerogoti Malaysia yang berhasil melakukan perjanjian dagang dengan Pakistan yang menyebabkan nbea masuk CPO dari Malaysia lebih rendah dibanding CPO Indonesia. Dengan pasar dunia yang sedang lesu tentu saja lepasnya pasar dari salah satu negara tujuan utama akan sangat berpengaruh kepada kinerja ekspor.
Sektor industri yang tidak berorientasi ekspor seperti semen juga menurun produksinya karena berkurangnya permintaan dari sektor konstruksi dan properti. Lambatnya Perbankan menurunkan suku bunga pinjaman menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan menurunnya permintaan sektor properti. Padahal BI terus menurunkan BI rate sampai 7.25% pada bulan Mei 2009. Sebelumnya pada bulan Desember 2008 BI rate masih 9,25%. Sementara itu suku bunga pinjaman masih relatif tetap selama lima bulan terakhir ini yaitu sekitar 15%. Baru pada bulan Mei 2009 beberapa bank mulai menurunkan suku bunga pinjaman KPR (Kredit Pemilian Rumah) walaupun belum begitu berarti.
Masih tingginya suku bunga pinjaman juga berpengaruh ke sektor riil lainya seperti industri manufaktur. Selain harus bersaing di pasar ekspor, maka produk manufaktur juga harus bersaing di pasar lokal dengan produk impor. Mulai dari tekstil hingga besi baja, kini produk impor terus menyerbu memanfaatkan pasar Indonesia yang masih punya potensi.
Walaupun selama ini Indonesia masih mampu menghindari dampak yang lebih buruk dari krisis finansial global seperti yang dialami negara tetangga di ASEAN, namun ancaman krisis tersebut bukannya tidak ada. Tumpuan pertumbuhan ekonomi kepada konsumsi masyarakat tentunya tidak akan bertahan lama jika sektor produksi tidak mampu bersaing untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau untuk ekspor. Karena ambruknya sektor riil akan menyebabkan terpuruknya daya beli masyarakat.
Dengan suku bunga yang masih tinggi, pasar dunia yang masih lesu, harga komoditi yang berfluktuasi, dan masih besarnya ancaman munculnya gelombang baru krisis finansial di Amerika Serikat yang masih belum berakhir, maka dampak krisis finansial global belum berakhir.
Menghadapi Kekhawatiran krisis finansial yang belum berakhir
Bank Dunia berbeda dengan OECD, menyusun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih rendah. Bank Dunia telah merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari -1,7% menjadi - 2,9% untuk tahun 2009. Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 hanya 3,5% dibawah proyeksi Pemerintah yang sekitar 4 -4,5%. Hal ini disebabkan masih adanya ancaman dari sektor finansial yang belum sepenuhnya pulih di negara maju terutama Amerika Serikat. Hal ini akan berdampak kepada pemulihan ekonomi dunia yang akan berlangsung lebih lama.
Menghadapi hal itu kedepan Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi domestik tanpa ada upaya untuk memperbaiki kinerja sektor riil sebagai sumber lapangan kerja maupun sebagai sumber penghasil devisa. Bila ekspor terus dibiarkan menurun maka akan segera dampak negatifnya dirasakan oleh masyarakat.
Untuk itu ketersedian modal bagi dunia usaha sangat penting. Upaya mennyediakan sumber pembiayaan bagi dunia usaha selain dengan meningkatkan kucuran kredit perbankan yang bunganya rendah maka saatnya dunia usaha memanfaatkan pasar modal yang sedang membaik kondisinya dengan melakukan IPO atau memanfaatkan instrumen pasar modal lainnya. Apabila momentum yang baik seperti saat ini terlewatkan mungkin akan makin sulit mendapatkan sumber pembiayaan bagi sektor riil diwaktu yang lain.