2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER - Edisi Indonesia
Desember 2008

OUTLOOK AGRIBISNIS - 2009


Current Issue

Sektor agribisnis mengalami hambatan di sekitar akhir 2008. Perdagangan sejumlah komoditi unggulan  seperti CPO, kakao, karet dan kopi terganggu karena harga komoditi tersebut anjlok di pasar dunia. Kondisi ini semakin parah bersamaan dengan terpuruknya perekonomian dunia akibat krisis ekonomi global, yang berakibat pada merosotnya permintaan dunia terhadap CPO Indonesia dari 800 ribu ton per bulan menjadi tinggal 400 ribu ton per bulan.

Selama ini sekitar 70% produksi CPO Indonesia dipasok ke pasar internasional sehingga harga CPO sangat tergantung pada permintaan pasar dunia. Kejayaan industri CPO nasional mulai meredup, seiring dengan anjloknya harga di pasar dunia. Itu sebabnya saat harga minyak mentah dunia naik mencapai di atas US$ 100  per barel, permintaan CPO dunia juga naik sehingga mendorong harga CPO mencapai titik tertinggi US$ 1.250 per ton pada Maret 2008. Namun, ketika harga minyak mentah dunia turun, harga CPO juga melandai menjadi US$ 850  per barel pada Agustus 2008. Bahkan saat harga minyak anjlok menjadi sekitar US$ 50 per barel, harga CPO ikut anjlok menjadi US$ 500 per ton.
Produksi CPO nasional mencapai 18,7 juta ton pada 2008. Meski harga CPO di pasar dunia turun, ekspor CPO tetap mendominasi total ekspor non migas Indonesia. Penurunan harga CPO diimbangi dengan peningkatan volume ekspor, sehingga meski harga turun  tetapi volume ekspornya tetap tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor CPO mencapai 12,5 juta ton.pada 2008 atau turun 10,4% dibanding tahun lalu 13,4 juta ton. Penurunan ini disebabkan kebutuhan negara Eropa berkurang. Selain itu, ekspor CPO ke Pakistan juga anjlok sebab pasar mulai direbut negara kompetitor, Malaysia. Ekspor CPO ke Pakistan menyusut sekitar 437.000 ton.

Industri CPO yang tersebar di Sumatera, Riau dan Kalimantan Barat terpukul akibat harga anjlok, meskipun produksi melimpah. Hal ini mengakibatkan industri CPO kesulitan melakukan replanting, bahkan sebagian industri CPO terpaksa harus merumahkan karyawan.  Sementara itu petani kelapa sawit juga merugi sebab harga tandan buah segar (TBS) yang pada April-Juni 2008 masih Rp 1.600 per kg, namun akhir tahun anjlok menjadi Rp 800 per kg.
Kondisi ini mengakibatkan mereka kesulitan melunasi pinjaman bank, akibat penghasilan menurun.

Indonesia lebih berkonsentrasi pada ekspor CPO  daripada produk turunannya. Padahal industri CPO sangat potensial karena memiliki industri hilir   yang memiliki potensi besar, beberapa produk turunan CPO yang tergolong komoditas pangan, antara lain minyak goreng, mentega, dan shortening. Sedangkan produk hilir CPO dalam industri nonpangan berbentuk biodiesel, fatty acid, fatty alcohol dan gliserin.

Di sisi lain, momentum turunnya harga CPO,  bisa dimanfaatkan oleh  pelaku industri hilir CPO untuk meningkatkan produksi dengan menyerap kelebihan CPO dalam negeri. 

Untuk menekan ketergantungan pada pasar ekspor, pemerintah terus menciptakan peningkatan permintaan CPO domestik baik melalui kebijakan biodiesel maupun pengembangan industri hilir CPO lainnya yang memiliki nilai tambah tinggi. Pemerintah membuat regulasi dan kesepakatan dengan industri CPO nasional untuk menjamin pasokan CPO bagi industri biodiesel.

Demikian halnya dengan komoditi lain seperti karet dan kopi yang juga menjadi andalan ekspor mengalami kondisi yang hampir sama, harga komoditi tersebut di pasar dunia yang cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun sebaliknya harga kakao cenderung naik.  

Sektor agribisnis tumbuh 3,5% pada 2008

Secara umum sektor agribisnis selama 2008 mengalami pertumbuhan. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhannya yang mencapai 10,6% pada kuartal III/2008, dibanding 2007 sebesar 10,23%. Sementara pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh sebesar 6,3% dalam periode yang sama.

Kondisi tahun 2007 lebih baik dibanding tahun sebelumnya, sebab didukung oleh peran beberapa komoditas yang menjadi primadona ekspor seperti kelapa sawit, karet, dan kakao yang harganya relatif tinggi selama tahun 2007. ................



INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.