INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER - Edisi Indonesia
Desember 2008
OUTLOOK PROPERTI - 2009
Sektor properti sempat tumbuh pesat hingga kuartal ketiga 2008, terlihat dari maraknya pembangunan sejumlah proyek di Jakarta dan kota besar lainnya. Namun krisis ekonomi global sejak September 2008, mengakibatkan proyek properti menunjukkan perlambatan. Diperkirakan pertumbuhan sektor properti pada 2009 masih akan mengalami perlambatan. Sejumlah pengembang perumahan kini menghentikan sementara pembangunan proyek-proyek baru. Langkah itu ditempuh untuk mengamankan likuiditas dan mengurangi risiko pendanaan proyek di tengah semakin menipisnya daya serap pasar. Proyek yang mengalami penundaan meliputi properti kelas menengah ke bawah, menengah, hingga menengah atas. Umumnya penghentian sementara itu dilakukan terhadap proyek-proyek yang belum memasuki tahap konstruksi dan belum menyerap pasar yang signifikan, yakni di bawah 60% dari total unit yang ditawarkan.
Akibat krisis ekonomi global, Bank Indonesia (BI) menjalankan kebijakan likuiditas ketat. Meskipun BI telah menurunkan BI Rate dari 9,5% menjadi 9,25% pada awal Desember 2008, namun ini masih relatif tinggi. Tingginya suku bunga perbankan, pada akhirnya menghambat laju pembangunan proyek properti. Ketatnya likuiditas mempengaruhi seluruh sektor properti termasuk perkantoran, apartemen, pusat belanja, serta perumahan yang berpotensi tertunda, jika aliran dana dari perbankan tersendat.
Melambatnya sektor properti juga dipengaruhi oleh potensi melemahnya daya beli masyarakat. Sebab sekitar 80% pembeli produk properti mengandalkan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA). Masyarakat juga akan terkena dampak dari suku bunga KPR/KPA perbankan yang relatif tinggi.
Saat ini bunga kredit perumahan masih berkisar 16% per tahun. Ini memberatkan konsumen, Di sisi lain, developer terpaksa menanggung beban kredit modal karena barang sulit untuk laku.
Pada 2009 developer cenderung akan fokus menjual stok properti yang sudah selesai dibangun. Sambil melihat dampak kriris global ini, diperkirakan untuk sementara developer akan menunda sejumlah proyeknya, pembukaan kawasan properti baru juga cenderung dihentikan, developer lebih berkonsentrasi mengoptimalkan pembangunan properti di lahan-lahan yang sudah digarap.
Grup Pakuwon, misalnya akan menunda beberapa proyek yang masih dalam tahap perencanaan, namun di lain pihak tetap melanjutkan proyek-proyek yang sudah dalam proses pembangunan termasuk Pakuwon City.
Ruang Perkantoran
Belakangan ini perkembangan pembangunan perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) seperti Jl. Sudirman, Kuningan dll, bergeser ke kawasan baru seperti di kawasan Selatan Jakarta terutama menjadi pilihan bagi perusahaan di sektor Pertambangan dan konstruksi yang memerlukan lahan yang lebih luas namun masih mudah diakses.
Permintaan terhadap ruang perkantoran di wilayah Selatan cukup tinggi, maka maka permintaan terhadap apartemen juga meningkat hal ini sejalan dengan berkembangnya konsep mixed used yang memanfaatkan lokasi perkantoran dan apartemen karena memfasilitasi para profesional yang tidak ingin terganggu oleh kemacetan lalu lintas yang makin parah di Jakarta.
Hingga akhir 2008, beberapa developer telah menyelesaikan pembangunan gedung perkantoran baru yang cukup besar, diantaranya PT Bakrieland Development Tbk dari Grup Bakrie yang membangun Bakrie Tower. Perkantoran kelas premium ini yang berlokasi di Rasuna Epicentrum, Kuningan akan mulai dihuni pada awal 2009, sekitar 80% telah terjual dari seluruhnya 65 ribu m2.
Pada tahun 2009 pasokan baru di Central Business District (CBD) dan luar CBD diperkirakan sebesar 850.000 m2. Sementara itu permintaan baru pada 2009 diperkirakan akan mencapai 650.000 m2. Tingkat hunian pada 2009 cenderung akan sedikit menurun, yaitu akan menjadi 84,7% pada 2009. Hal ini terjadi karena karena pertumbuhan pasokan baru relatif masih lebih tinggi dibanding jumlah permintaan baru terhadap ruang perkantoran.
Meski pasokan ruang perkantora baru terus tumbuh, namun pada 2009 diperkirakan akan melambat. Menjelang pemilu April 2009, sektor properti perkantoran diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 30%-40% dibandingkan 2008. Dampak krisis ekonomi global dan sentimen politik, akan berpengaruh besar terjadinya penurunan daya serap permintaan pada sektor perkantoran.
Properti ruang ritel
Properti Apartemen