2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Maret 2008

FOKUS

KEPERCAYAAN KEPADA INDUSTRI KEUANGAN INDONESIA SEMAKIN BESAR

Krisis sub-prime mortgage di AS telah menerpa berbagai lembaga keuangan dunia terutama investment banking yang merugi bermilyar dollar. Dampak krisis ini bukan hanya menimpa kepada lembaga keuangan yang terpapar langsung kepada kredit perumahan tersebut tapi juga kepada sektor keuangan lain yang tidak langsung terlibat. Hal ini disebabkan skala kerugian dari krisis sub-prime mortgage tersebut  ternyata jauh lebih besar dari pada apa yang diperkirakan semula.

Rontoknya pasar saham bersamaan dengan melemahnya dollar telah menyebabkan beralihnya investor dari pasar saham dan pasar uang ke pasar komoditi yang menyebabkan melambungnya harga berbagai komoditi primer seperti barang tambang dan produk pertanian.

Akibat keadaan sektor keuangan dan pasar saham dunia yang tidak menentu juga berdampak kepada dunia usaha di Indonesia baik sektor riil maupun sektor jasa. Kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku lainnya sudah tentu menjadi memukul langsung sektor industri manufaktur yang menyebabkan semakin tingginya biaya produksi dan biaya operasional.

Disamping itu, krisis ini juga menyebabkan niat perusahaan untuk menggali dana dari pasar saham juga menjadi terkendala. Banyak periusahaan di Indonesia yang merencanakan IPO tahun 2008 ini terpaksa menunda sampai kondisi pasar yang lebih stabil demikian juga niat perusahaan untuk menerbitkan obligasi banyak yang terpaksa mengurungkan diri karena khawatir akan biaya yang semakin besar sementara minat investor menurun.

Ditengah tantangan yang berat dalam perekonomian domestik akibat gejolak ekonomi global, perbankan nasional tetap optimis bahwa target pertumbuhan kredit di tahun 2008 akan lebih tinggi dari target pertumbuhan kredit tahun sebelumnya.  Optimisme perbankan ini disampaikan perbankan dalam pertemuan antara Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan pimpinan 15 bank dengan nilai aset terbesar atau lebih dikenal dengan Systemically Important Banks (SIBs),  17 Maret 2008 di Bank Indonesia.

Berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2008 yang disampaikan ke Bank Indonesia, target penyaluran kredit perbankan tahun 2008 mencapai 24,6%, atau sekitar Rp 246,2 triliun. Target ini lebih tinggi dari target pertumbuhan kredit perbankan tahun 2008 yang diperkirakan Bank Indonesia dan target pertumbuhan kredit perbankan dalam RBB tahun 2007 yaitu masing-masing sebesar 22%.
Perbankan menyatakan bahwa peluang ekspor yang masih tinggi pada beberapa komoditas serta perkembangan yang positif di beberapa sektor industri termasuk sektor UMKM akan dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai target pertumbuhan kreditnya.  Namun demikian, kalangan perbankan menilai perlunya dicermati perkembangan pasar modal yang terjadi akhir-akhir ini baik secara nasional maupun regional. 

Dari evaluasi Bank Indonesia pada tahun 2007, perbankan nasional mencatat prestasi dengan menorehkan pertumbuhan kredit sekitar 25,5%, atau diatas target sebesar 22%, yang diikuti perbaikan beberapa indikator perbankan lainnya. 

Disamping itu yang menonjol adalah besarnya laba yang diperoleh perbankan nasional dalam dua tahun terakhir meningkat pesat dari hanya Rp.3,2 trilyun tahun 2005 menjadi Rp 49,8 trilyun tahun 2007.

Penjaualan BII kepada Maybank
Kinerja sektor perbankan nasional yang terus membaik telah meningkatkan kepercayaan investor asing untuk berkiprah di bisnis perbankan nasional.

Pada akhir Maret 2008, Malayan Banking Bhd,  bank terbesar di Malaysia,menang tender penjualan 56% saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk, menyingkirkan sejumlah lembaga keuangan ternama seperti Hongkong Shanghai Banking Corporation (HSBC), China Construction Bank, dan Bank of China.

Maybank menjadi pemilik baru  BII setelah bank itu berani membayar US$ 1,5 miliar kepada Sorak Financial Holdings. Bank ini juga menyediakan dana sebesar US$ 1,2 miliar untuk tender offer 44% saham sisanya.

Maybank mengatakan alasan strategis dan finansial dari transaksi itu karena akuisisi BII akan memperbesar prospek pertumbuhan Maybank di Indonesia. Hal itu menunjukkan kepercayaan dari perbankan asing yang melihat potensi pasar perbankan Indonesia yang masih besar.

Sorak Financial Holding sebelumnya dikuasai sahamnya sebanyak 75% oleh Fullerton Financial Holdings, anak perusahaan Temasek Group, sedangkan sisa sahamnya sebesar 25% dikuasai oleh Kook Min Bank dari Korea Selatan.

Temasek sebagai pemegang saham akhir BII terpaksa harus melepaskan sahamnya di BII karena perusahaan tersebut juga pemilik mayoritas saham di Bank  Danamon.  Sesuai   dengan   ketentuan   pemilikkan   tunggal   bank  yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka akhirnya Temasek memilih untuk mengembangkan Bank Danamon Indonesia Tbk dari pada menggabungkannya dengan BII.

Harga Jual Bank BII capai rekor
Penjualan 56 % saham BII telah memberikan keuntungan yang besar kepada Temasek Holding Singapura maupun Kookmin Bank Korea yang merupakan pemilik Sorak Financial Holdings. Pembelian Maybank seharga US$1,5 miliar atau setara 4,7 nilai buku BII merupakan rekor baru penjualan saham bank di Indonesia bahkan di Asia. Nilai ini  hampir dua kali rata-rata nilai buku perbankan.

Pada akhir tahun 2003, Sorak membeli saham BII senilai US$ 217 juta untuk mengambil alih saham BII sebesar 51% yang sebelumnya dimiliki oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).  Nilai itu sama dengan 1,32 nilai buku bank BII pada waktu itu.

Harga jual bank yang dimiliki Pemerintah pada awal proses divestasi tahun 2000'an relatif murah. BCA  yang paling dahulu dilepas sahamnya dijual kepada Farindo pada tahun 2000 dengan harga  hanya 1,20 nilai buku (Price to book value/PBV). Demikian juga harga jual Bank Niaga yang berkisar 1,48 nilai buku ketika dijual pada tahun 2002, tidak jauh berbeda dengan harga jual  Bank Danamon dan BII yang dijual satu tahun kemudian.

Bank Lippo yang dilepas sahamnya pada tahun 2004 bahkan lebih rendah lagi yaitu hanya 1,0 kali nilai bukunya, padahal saat itu kondisi ekonomi Indonesia mulai membaik. Maka tak heran ketika Swissasia kemudian pada tahun 2005 menjualnya kepada Santubong harga jualnya meroket menjadi sekitar 2,5 nilai buku

Harga jual divestasi saham Pemerintah ini reatif rendah dibanding harga jual dari saham milik bank swasta yaitu Bank NISP dan Bank Buana yang duakuisisi bank asing. Harga jual dua bank itu didasarkan pada 2,5 kali nilai buku perusahaan padahal kepemilikan yang dilepas tidak mayoritas.

Pada 22 Maret 2004 telah ditandatangani kesepakatan akuisisi 22,5% saham Bank NISP dengan nilai transaksi sebesar US$70,4 juta atau senilai 2,5 nilai bukunya. Hal yang sama juga terjadi ketika UOB membeli 23% saham Bank Buana dengan harga sebesar Sin$196 juta yang setara dengan 2,5 kali book value.

Divestasi saham Bank Permata adalah yang terakhir dilakukan  diantara Bank milik Pemerintah lainnya yaitu pada bulan November 2004. Dengan kondisi ekonomi yang makin membaik dan kondisi bank yang makin sehat sebelum dijual  maka  ketika  PPA menjual 51% saham Bank Permata kepada konsorsium

Standard Charter Bank dan Astra Internastional mencapai rekor tertinggi nilai penjualan saham bank  bukan hanya di Indonesia tapi di dunia pada waktu itu yaitu mencapai 2,72 kali nilai buku dengan total harga mencapai US$. 305 juta atau Rp. 2,777 trilyun.

Selanjutnya, pada 8 Desember 2004, PPA kembali menjual 20% saham Bank Permata pada harga Rp 750 per lembar atau setara dengan 2,91 kali nilai buku. PPA kemudian mengantungi pendapatan kotor Rp 1,16 triliun dan kelebihan permintaan 1,77 kali.
Dibandingkan harga jual saham beberapa bank di Asia lainnya memang penjualan saham Bank Permata ini cukup menonjol bedanya. Misalnya rekor tertinggi sebelumnya dicapai oleh penjualan saham sebuah bank Hongong oleh bank dari Singapura sebesar 2,7 kali nilai buku. Kini penjualan saham BII mampu menciptakan rekor baru yaitu mencapai 4,7 kali nilai buku

Kesimpulan

Peningkatan nilai jual dari bank nasional tidak lepas dari kepercayaan investor tentang prospek perbankan di Indonesia yang semakin baik. Menghadapi terpaan dari krisis keuangan global, perbankan Indonesia relatif aman tidak menghadapi terpaan langsung. Pengawasan dari BI yang ketat dalam ekspansi perbankan sebagai akibat dari krisis moneter hampir sepuluh tahun menyebabkan perbankan di Indonesia lebih berhati-hati.

Selain itu membaiknya kinerja perbankan karena mulai berkurangnya kredit macet juga membuat bank bisa lebih berkonsentrasi dalam menyalurkan kredit yang selama ini lebih banyak disimpan di SBI.

Perekonomian Indonesia walaupun juga terkena dampak krisis finansial global, namun dinilai oleh Bank Dunia masih cukup baik. Terbukti Bank Dunia hanya menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun 2008  dari prediksi sebelumnya sebesar 6,4% menjadi hanya 6%. Pertumbuhan ini relatif masih cukup besar dibandingkan proyeksi untuk negara lainnya yang lebih menderita akibat krisis finansial saat ini.

Walaupun demikian kondisi ini juga harus disikapi dengan hati-hati karena badai krisis keuangan global ini belumlah berakhir.

Related Topics
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.