LAPORAN MARKET INTELLIGENCE
INDUSTRI HULU MINYAK BUMI DI INDONESIA
Juli 2009
Profil produsen
Chevron Pacific Indonesia
Chevron memulai kegiatan bisnis minyak bumi di Indonesia sekitar 80 tahun yang lalu yakni pada tahun 1924 dengan nama Standard Oil Co of California (SOCAL) yang melakukan ekspedisi geologis di Sumatera.
Pada tahun 1936 Standard Oil bergabung dengan N.V. Nederlandsche Pacific Petroleum yang kemudian menjadi Chevron Pacific Indonesia sebuah joint venture antara The Texas Co. (Texaco) dan Socal.
Tahun 1941, perusahaan ini melakukan pengeboran di lokasi yang kemudian menjadi Lapangan Duri. Teknologi steamflood diaplikasikan pertama kali pada sumur ini pada tahun 1985.
Tahun 1944 Chevron menemukan lapangan di Desa Minas yang mulai berproduksi pada tahun 1952. Sumur ini menjadi lapangan minyak paling besar di Asia Tenggara.
Pada tahun 1990, Chevron memperluas operasinya termasuk dengan membangun pembangkit tenaga panas bumi dan sumber energy terbarukan lainnya. Proyek pembangkit listrik Darajat III pada tahun 2007 dinobatkan sebagai proyek terbesar di dunia yang berada di bawah mekanisme clean development PBB.
Saham Chevron Pacific Indonesia seluruhnya dimiliki oleh ChevronTexaco Corporation.
PT Medco Energi Internasional Tbk (Medco)
Medco memulai bisnisnya sebagai perusahaan penyedia jasa anjungan pemboran dan merupakan kontraktor pemboran dengan nama PT. Meta Epsi. Kegiatan bisnis hulu migas MedcoEnergi dimulai dengan pengambilalihan kontrak E&P Migas milik Tesoro di Kalimantan Timur (Blok Sanga-Sanga/Samboja/Tarakan TAC dan Blok Tarakan PSC) pada tahun 1992.
Medco melakukan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 1994. Pada akhir tahun 1995 Medco mengakuisisi PT Stanvac Indonesia yang memiliki kontrak E&P Migas (PSC) di Sumatra Selatan, dari Exxon dan Mobil Oil .
MedcoEnergi memasuki industri hilir dengan memasuki Perjanjian Kerjasama Operasi dengan PT Pertamina (Persero) (Pertamina) selama 20 tahun untuk mengoperasikan kilang metanol milik Pertamina di Pulau Bunyu, Kalimantan Timur pada tahun 1997. Kilang tersebut menggunakan pasokan gas dari Blok Tarakan berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas dengan Pertamina selama 10 tahun mulai tahun 1997.
Ekspansi yang dilakukan antar lain adalah mengakuisisi 25% wilayah kerja yang telah berproduksi di blok Tuban 2002. Medco mulai membangun sebuah Kilang Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada pertengahan tahun 2003 dan memulai operasinya pada tahun 2004.
Pada akhir tahun 2004 bekerja sama dengan PT PLN (PLN), MedcoEnergi membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga gas, Panaran 1, di pulau Batam. Pada tahun yang sama, Medco mengambilalih 100% saham Novus Petroleum Ltd, perusahaan public migas Australia.
MedcoEnergi memasuki industri bahan bakar nabati dengan membangun pabrik bio-etanol pertamanya pada akhir tahun 2006 dan mulai beroperasi pada akhir tahun 2008.
Dalam rangka memperkuat bisnis hilirnya, perusahaan ini mengakuisisi fasilitas penyimpanan bahan bakar di Jakarta Utara dan memulai usaha penyimpanan dan distribusi bahan bakar High Speed Diesel (HSD) pada tahun 2007.
Medco melakukan restrukturisasi bisnis salah satunya dengan divestasi bidang usaha penyedia jasa anjungan pemboran yang selesai pada awal bulan September 2008. Bisnis Medco saat ini meliputi bidang usaha utama, E&P Migas (di Indonesia dan Internasional), ketenagalistrikan dan industry hilir yang menggunakan bahan bakar migas serta energi yang diperbarui.
Cadangan Minyak Terbukti Medco pada tahun 2008 mencapai 74,9 (MMBO) lebih sedikit dari tahun 2007 yang mencapai 99,1. Cadangan tertinggi dimiliki pada tahun 2005 yakni 117 juta barrel (MMBO).
Asset Medco cenderung meningkat pada tahun 2004 hingga 2008. Pada tahun 2004 asetnya mencapai 500,1 juta US$. Aset yang dimiliki Medco antara lain di Amerika Serikat (7 blok eksplorasi dan 8 blok produksi) Libia (1 blok eskplorasi), Yaman (2 blok eksplorasi), Oman (jasa penmgelolaan produksi), Tunisia (1 blok pengembangan), dan Kamboja (2 blok eksplorasi).
Di Indonesia Medco memiliki 6 blok eksplorasi, 1 blok pengembangan, 9 blok produksi, selain fasilitas produksi energy non minyak bumi lainnya yakni; 1 buah kilang LPG, 1 fasilitas penyimpanan dan distribusi BBM, 1 kilang methanol, 1 kilang etanol, 1 pembangkit listrik tenaga gas, 1 pembangkit cadangan, dan 1 pembangkit tenaga uap.
Belanja modal Medco untuk eksplorasi dan produksi pada tahun 2008 mencapai US$284,3 juta, industri hilir sebesar US$4,1 juta, ketenagalistrikan US$2,1 juta, lainnya US$4.9 juta dengan total US$295,4 juta. Realisasi belanja modal ini lebih kecil dari anggarannya yang total mencapai US$532,1 juta.
Per Desember 2008, saham Medco dimiliki sebagian besar oleh Encore Energy Pte.Ltd. yakni mencapai 50,70 persen. PT Medco Energi Internasional Tbk memiliki 11,72 persen saham. Masyarakat memiliki saham sebesar 32,62 persen.
Petrochina
Didirikan pada tahun 1999 sebagai bagian dari program restrukturisasi China National Petroleum Corporation. Bisnis Petrochina terbagi menjadi empat yakni eksplorasi, pengilangan-transportasi-penyimpanan dan pemasaran minyak mentah, produksi dan penjualan produk dasar petrokimia, serta transmisi gas alam dan minyak mentah.
Masuknya Petrochina ke Indonesia diawali oleh perusahaan Amerika yakni Trend International Limited (kemudian menjadi Santa Fe Energy Resources) melakukan joint venture dengan beberapa perusahaan multinasional dan mendapat production-sharing contract yang pertama dengan Pertamina.
Pada tahun 2000, Santa Fe Energy Resources diakuisisi oleh Devon Energy dan pada Juni 2002, Petrochina mengakuisisi Devon Energy. Eksplorasi Petrochina yang pertama adalah lapangan minyak di Jabung, Provinsi Jambi; Irian Jaya; dan Jawa Timur. Ketiga sumur minyak tersebut menghasilkan 63.000 barrel per hari. Petrochina mendapat kontrak selama 20 tahun untuk menyuplai gas dari Indonesia ke Singapura pada tahun 2001.
Amerada Hess
Hess merupakan perusahaan minyak bumi dan gas asal Amerika Serikat yang beroperasi di Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Denmark, Russia, Equatorial Guinea, Algeria, Libya, Gabon, Mesir, Ghana, serta beebrapa wilayah pengembangan bersama di Malaysia-Thailand, Indonesia, Thailand, Azerbaijan, Australia, Brazil dan St. Lucia.
Di Indonesia Hess beroperasi di Lapangan Ujung Pangkah yang memproduksi gas. Daerah operasi Hess adalah di Pangkah (Hess 75%), Jambi Merang (Hess 25%), dan Natuna A (Hess 23%).
Produksi non gas dari Hess pada tahun 2007 yang seluruhnya kondensat mencapai 314.920 barrel atau rata-rata harian sebesar 863 barrel. Pada tahun 2008 produksi kondensat mencapai 827.778 barrel atau rata-rata harian 2.262 barrel.
Saham Hess dimiliki oleh beberapa perusahaan minyak dan gas di dunia dan di Indonesia yakni Kufpec, Pertamina, Pacific Oil & Gas, Premier Oil, dan Petronas.
Produksi Hess secara global pada tahun 2008 sebesar 266.000 barrel per hari, sementara pada tahun 2007 sebesar 275.000 barrel per hari. Aset Hess pada tahun 2008 mencapai US$ 28,589 juta lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 yang mencapai US$26,131 juta.
Santos
Santos adalah kependekan dari South Australia Northern Territory Oil Search yang didirikan pada tahun 1954.
Perusahaan ini mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1990-an setelah melakukan akuisisi pada perusahaan minyak bumi dan gas yang memiliki lapangan di Indonesia.
Produksi minyak mentah dan kondensat Santos pada tahun 2008 meningkat tinggi menjadi 2.311.735 barrel atau rata-rata harian sebesar 6316 barrel dari tahun sebelumnya yang sebesar 719.357 barrel atau setara 1971 barrel per hari.
Hingga kuartal I, tahun 2009 produksi minyak mentah dan kondensat Santos mencapai 391.203 barrel.
Saham Santos dimiliki oleh sejumlah perusahaan minyak bumi dan gas global seperti Chevron, ConocoPhillips, BP, Lapindo, Medco, Talisman, Total, Star Energy, Cue, SPC, Petronas Carigali. Beberapa perusahaan tersebut juga beroperasi di Indonesia.
Premier Oil