2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
November 2008

FOKUS

APAKAH SEKTOR RIIL INDONESIA BISA BERTAHAN DARI KRISIS FINANSIAL GLOBAL?

Menjelang akhir tahun 2008, sektor riil di Indonesia mendapat tekanan kuat baik dari segi finansial maupun pasar.  Krisis finansial global yang bermula di Amerika Serikat kini sudah memberikan dampak langsung kepada sektor riil di Indonesia. Namun masih sulit diramalkan sektor mana saja yang bisa bertahan dan mana yang akan bertahan atau berguguran.

Krisis finansial global yang mengimbas Indonesia saat ini berbeda dampaknya  dengan krisis moneter tahun 1997  yang lalu terhadap sektor riil.

Krisis moneter tahun 1977 diawali oleh krisis finansial perbankan di Indonesia akibat kredit macet dan penyaluran kredit yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak bank dan korporat yang terjerat hutang luar negeri terutama dalam denominasi US dollar yang nilainya terus meningkat dalam Rupiah. Akibatnya bank tidak mampu mengalirkan kredit kesektor riil dan sektor riil banyak yang jatuh karena tidak mampu menanggung utang dengan bunganya yang melambung.

Namun karena krisis terutama menjangkit hanya di negara Asia dan negara berkembang lainnya  seperti di Amerika Selatan, maka pada waktu itu negara maju tidak banyak terpengaruh dengan krisis moneter Asia tersebut. Bank dan kreditor dari Eropa dan Amerika Serikat  memang banyak yang dirugikan karena  kredit macet tersebut, namun dampaknya kepada perekonomian mereka tidak begitu berarti. Secara umum perkekonomian negara maju tetap berjalan normal.

Pada gilirannya pasar ekspor dunia pun tetap baik karena pasar di negara maju tetap bergairah. Sehingga eksportir dari negara yang terkena krisis seperti Indonesia tetap dapat melanjutkan usahanya mengisi pasar ekspor. Bahkan dengan jatuhnya nilai Rupiah terhadap berbagai mata uang kuat dunia menyebabkan daya saing barang ekspor Indonesia meningkat.

Kehancuran sektor riil seperti industri manufaktur pada saat itu terutama dari struktur permodalannya yang menjadi lemah sehingga banyak yang kembang-kempis dalam menjalankan usahanya baik karena sulitnya memperoleh dana untuk modal kerja maupun dana investasi untuk merestrukturisasi mesin-mesinnya. Karena keadaan ini berlarut-larut terjadi maka banyak industri manufaktur yang gulung tikar.

Sementara itu modal asing saat itu sulit masuk karena iklim investasi yang tidak kondusif terutama karena keamanan dan kepastian hukum yang belum terjamin, situasi politik yang kacau dan infrastruktur yang semakin memprihatinkan keadaanya.

Pada masa krisis moneter sampai tahun  2002, sektor yang bisa bertahan adalah sektor UKM (usaha kecil dan menegah) dan sektor primer yang berbasis pasar ekspor seperti CPO (Crude Palm Oil), batu bara, dll. Sedangkan sektor industri yang berbasis pasar dalam negeri yang bertahan adalah industri barang konsumsi  seperti industri makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.

Setelah Pemerintah SBY bisa menciptakan iklim investasi yang lebih  baik, seperti keamanan yang lebih  terjamin, situasi politik yang lebih stabil, sektor keuangan yang lebih sehat dan berbagai kemudahan investasi, maka sektor riil mulai bangkit kembali walaupun masih tersendat-sendat seperti ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik pada akhir tahun 2005.

Beberapa sektor industri seperti industri otomotif, industri barang elektronik, industri baja mulai meningkat kembali. Demikian juga sektor ekonomi berbasis agribisnis juga meningkat.

Semenjak tahun 2005, Indonesia mulai menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu sekitar 6% per tahun. Suku bunga cukup rendah dan inflasi cukup terjaga dibawah 10%. Kondisi ini mulai mampu menarik kembali minat investasi di sektor riil.

Semenjak tahun 2007 setelah dampak kenaikan harga BBM tahun 2005 mulai reda, sektor riil kembali bergairah. Industri otomotif baik kendaraan bermotor roda 4 mau pun roda dua mencapai rekor baru dalam angka produksi dan penjualan. Demikian juga industri, elektronik, industri bahan bangunan, seperti semen, besi beton dll yang bergairah kembali. Semua itu disokong oleh kredit konsumsi yang gencar digelontorkan oleh perbankan nasional dengan suku bunga yang relatif murah. Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit pemilikan kendaraan bermotor maupun kredit konsumsi (consumer credit) lainnya menjadi andalan perbankan karena jenis kredit ini dinilai cukup aman oleh perbankan.

Pada pertengahan tahun 2007, ekonomi global mulai terganggu dengan mulai munculnya tanda-tanda awal krisis finansial di Amerika Serikat ketika pinjaman properti terutama subprime mortgages mulai tidak terkontrol sehingga mulai muncul kredit macet. Sektor keuangan di Amerika sudah mulai dinaungi awan gelap akan terjadinya default besar-besaran dari kredit perumahan.

Pada saat yang bersamaan ekonomi Cina dan India yang tengah melaju pesat, masih sangat haus akan berbagai pasokan bahan baku dan energi dunia. Akibatnya berbagai jenis komoditi primer terus merangkak naik harganya di pasar internasional karena naiknya permintaan. Harga minyak, batubara, baja, nikel, CPO, dll merangkak naik.

Kenaikan harga puncaknya terjadi ketika sektor keuangan di Amerika mulai jatuh ditandai dengan terjadinya kebangkrutan beberapa institusi keuangan yang besar di Amerika Serikat yang menyeret lembaga keuangan di Eropa kedalam kerugian yang besar. Akibatnya bursa saham NYSE anjlok, dan investor banyak yang mengaloihkan investasinya ke dalam pasar komoditi terutama minyak bumi. Pada gilirannya harga komoditi primer semakin meningkat dan US $ kemudian semakin anjlok.

Pada bulan Juli 2008, harga minyak dunia mencapai puncaknya yaitu sebesar US$ 147 per barel. Semenjak itu terjadi pasang surut dalam harga komoditi. Setelah jelas bahwa resesi mulai menimpa ekonomi Amerika Serikat, dan krisis finansial mulai membawa korban di berbagai penjuru dunia, maka bayangan perlambatan ekonomi dunia mulai menjadi kenyataan. Kemerosotan daya beli di pasar Amerika Serikat telah menurunkan permintaan terhadap berbagai barang impor yang dipasok dari seluruh pelosok dunia.

Ekonomi negara lain seperti di Eropa juga mulai goyah, karana kesulitan keuangan yang dialami berbagai lembaga keuangan menyebabkan Pemerintah setempat harus turun tangan menyediakan dana talangan yang pada gilirannya memberatkan keuangan masyarakat. Kondisi ini menjadi titik balik terhadap harga komoditas dunia. Harga minyak bumi mulai merosot drastis karena bayangan permintaan yang menurun dan persediaan yang masih besar di negara pemakai. Demikian juga harga CPO, baja dll, yang merosot mengikuti kemerosotan harga minyak bumi. Pada bulan November 2008 harga minyak bumi telah mencapai kurang dari US$ 50 perbarel, atau sama dengan harga awal tahun 2005 ketika harga minyak bumi mulai meroket harganya.

Karena pasar dunia yang bergerak liar, maka investor kembali mengkoleksi US$ dollar yang dianggap investasi yang paling aman. Akibatnya US$ kembali menguat dan merontokkan berbagai mata uang Asia termasuk Indonesia.

Kondisi terakhir terutama semenjak pertengahan tahun 2008 memberikan suatu ketidak pastian terhadap ekonomi Indonesia. Pada awal krisis finansial tahun 2007, perbankan Indonesia yang tidak terpapar (expose) langsung krisis keuangan di Amerika Serikat, dapat bertahan dan secara umum Indonesia bahkan mendapatkan berbagai keuntungan.

Harga minyak bumi yang tinggi mendongkrat harga berbagai komoditas ekspor andalan Indonesia seperti CPO, batu bara, nikel, timah putih, karet, dan komoditas primer  lainnya. Selama tiga tahun berturut-turut kinerja ekspor  terus meningkat  karena dampak dari kenaikan harga komoditas ekspor tersebut, padahal berbagai komoditas ekspor tradisional lain, sepert sepatu, tekstil, produk kayu dll hampir mandek bahkan menurun. 

Didalam negeri pasar otomotif tetap besar ketika harga minyak tahun 2007 mulai naik. Pasar otomotif baru melesu ketika harga BBM dinaikkan pada pertengahan tahun 2008. Selain sektor otomotif, dampak krisis finansial global mulai dirasakan oleh sektor riil lainnya. Sektor ekonomi yang paling awal merasakannya adalah industri berorientasi ekspor seperti tekstil dan elektronik yang mulai kesulitan memasarkan hasil produksinya karena menurunnya permintaan dari Amerika Serikat yang menjadi pasar ekspor utama Indonesia.

Kinerja ekspor non-migas selama Oktober  2008 turun sebesar 8% atau sebesar US$ 793,5 juta dari sebesar US$ 9.796,4 juta bulan September 2008 menjadi US$ 9.002,9 juta . Penurunan ekspor ini terutama disebabkan penurunan harga dan volume ekspor, namun yang menyolok adalah akibat penurunan harga, karena volume ekspor pada bulan Oktober secara keseluruhan sebenarnya masih stabil. Namun demikian  kecenderungan ini menunjukkan gejala mulai terasanya dampak krisis finansial global terhadap sektor riil di Indonesia. Diperkirakan sampai pertengahan 2009 ekspor akan menunjukkan kecenderungan menurun baik dari segi harga  maupun volume.

Pasar dalam negeri pun terkena getahnya. Akibat pasar utama ekspor menurun, maka sebagian produk untuk ekspor ini dialihkan ke pasar lokala, sementara negara pesaing yang sebelumnya memasok negara maju, kini mulai mengincar pasar Indonesia lebih intensif lagi. Akibatnya industri nasional menghadapi tantangan di dua pasar baik pasar lokal maupun ekspor.

Industri yang sudah menghadapi ancaman tersebut diantaranya barang dari karet, industri pakaian jadi, barang dari kayu, barang plastik, peralatan listrik, besi baja, berbagai produk kimia, CPO, kopi  dll. 

Sementara itu dengan tingginya suku bunga BI rate, yang diterapkan untuk mengendalikan inflasi, mengakibatkan suku bunga pinjaman tinggi sementara likuiditas perbankan makin kering. Akibatnya kredit konsumsi mulai tersendat sehingga pasar berbagai produk yang mengandalkan pinjaman konsumsi seperti otomotif, elektronik, rumah dll juga menyurut. Kondisi ini menyebabkan banyak industri yang mulai kesulitan likuiditas dan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja dengan pegawainya.


Pertanyaanya separah apa krisis finansial ini akan memukul perekonomian nasional. Bahwa dampak buruk krisis finansial global kali ini sudah mulai dirasakan di Indonesia, tidak bisa dipungkiri. Namun apakah dampaknya akan separah krisis moneter tahun 1997-1998 yang lalu. 

Berbeda dengan krisis moneter tahun 1997 yang lalu, dimana sumber krisis berada didalam perekonomian dalam negeri, maka krisis saat ini terjadi sebagai dampak krisis yang dialami oleh negara maju. Sementara itu fundamental ekonomi Indonesia relatif masih cukup kuat dan sektor keuangan juga masih mampu berjalan normal ditengah krisis finansial yang melanda dunia.

Krisis yang dirasakan saat ini terutama dialami oleh perusahaan yang berorientasi ekspor terutama ke pasar Amerika Serikat. Sedangkan dibidang finasial maslah yang dihadapi adalah makin tingginya suku bunga di dalam negeri dan nilai tukar Rupiah yang melemah.

Namun kondisinya tidak separah tahun 1997. Banyak pihak yang masih optimis bahwa perekonomian Indonesia walaupun juga menderita akibat krisis ini namun diperkirakan ekonomi masih akan tumbuh. Pemerintah memperkirakan ekonomi masih tumbuh sekitar 5 - 6% tahun 2009, sementara  BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5%. Sementara itu,Banyak kalangan dunia usaha yang lebih pesimis dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 4% tahun 2009.

Walaupun masih banyak perbedaan dalam memprediksi  pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 mendatang, namun perkiraan dari kalangan yang pesimis pun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diramalkan bisa mencapai 4% atau lebih. Prediksi ini relatif masih lebih baik dari ramalan eonomi untuk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Malaysia yang hampir 100% dari GDPnya bergantung kepada ekspor akan sangat terpukul dan Pemerintahnya memproyeksikan pertumbuhan ekonominya hanya akan mencapi 3,4% dari semula diperkirakan 5,3%.

Masih relatif tingginya perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 menunjukkan masih banyak sektor yang akan mampu bertahan dalam menghadapi krisis ini. Hal ini disebabkan pasar dalam negeri yang cukup besar dan masih ada peluang mengalihkan tujuan ekspor kenegara yang relatif masih terhindar dari krisis finasial seperti negara kaya di Timur Tengah dan negara di kawasan Asia seperti Cina maupun negara tetangga Indonesia lainnya. Na,mun tentu perlu upaya khusus untuk bisa tetap bertahan dari gejolak krisis finasial tersebut.

Dengan menurunnya ekspor, berarti untuk mempertahankan tingkat  pertumbuhannya, maka ekonomi nasional harus bisa banyak ditunjang oleh perdagangan dan konsumsi dalam negeri. Peluang ini cukup besar karena pasar Indonesia yang relatif besar diperkirakan akan mampu menampung sebagian kegiatan industri yang semula berorientasi ekspor. Tentu saja akan ada penurunan dari berbagai industri karena pasar dalam negeri tidak akan mampu menyerap seluruh produksi yang semula ditujukan untuk ekspor.

Pasar otomotif akan mulai menurun, namun diperkirakan masih bisa bertahan apabila BI menurunkan kembali suku bunga sejalan dengan menurunnya tingkat inflasi. Kalaupun turun industri otomotif diperkirakan masih bisa diatas  kondisi tahun 2006 ketika sektor otomotif menurun akibat kenaikan harga BBM tahun sebelumnya.

Untuk beberapa industri seperti Industri tekstil dan alas kaki yang berorientasi ekspor akan sangat terpukul. Hal ini disebabkan industri ini selain menghadapi penurunan di pasar ekspor juga akan menghadapi persaingan yang ketat di pasar dalam negeri. Diperkirakan industri ini akan sulit bersaing karena pasar dalam negeri akan dibanjiri barang impor dari negara pesaing terutama Cina.

Sementara industri yang berorientasi pasar dalam negeri seperti industri makanan akan mampu bertahan walaupun  persaingan dengan produk impor juga akan semakin ketat.

Langkah Pemerintah diperlukan untuk mengamankan pasar dalam negeri tanpa menjadi proteksionis. Hal ini  bisa dilakukan untuk berbagai barang konsumsi, dengan menekan impor ilegal, karena sementara ini peranan barang impor ilegal untuk barang konsumsi seperti elektronik, tekstil/pakaian jadi, produk makanan , dan alas kaki cukup besar bisa mencapai 30% dari volume pasar. Dengan memberantas impor ilegal, maka Indonesia tidak akan di cap proteksionis, karena impor legal bisa berjalan seperti biasa.

Penurunan suku bunga lebih lanjut juga akan banyak membantu sektor industri barang konsumsi karena penjualan barang tersebut banyak didukung oleh kredit konsumsi. Dengan  inflasi yang  mulai mereda maka suku bunga BI bisa diturunkan kembali secara bertahap ke tingkat 8% seperti sebelum krisis finansial ini terjadi.

Penurunan harga bahan bakar sampai ke harga sebelum krisis yaitu untuk bahan bakar jenis premium  dan solar sebesar Rp 4.500 per liter akan membantu meringankan beban industri. Dan juga berdampak positif kepada daya beli masyarkat karena beban biaya yang lebih ringan.

Dengan meningkatnya daya beli masyarakat diharapkan pasar dalam negeri akan mampu meningkat kembali dan industri yang terkena dampak dari penurunan ekspor diharapkan bisa bertahan sampai tahun 2010, ketika pasar dunia diperkirakan telah membaik kembali.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
ICN - November 2008

DAFTAR ISI

FOKUS: APAKAH SEKTOR RIIL INDONESIA BISA BERTAHAN DARI KRISIS FINANSIAL GLOBAL

PROFIL INDUSTRI:

INDUSTRI INTERNET SERVICE PROVIDER (ISP)
  • Pendahuluan
  • Teknologi akses internet dial up mulai digeser oleh broadband internet
  • Layanan koneksi internet
  • Penyedia  jaringan dan jasa provider Internet
  • Pemerintah cabut izin ISP yang tidak aktif
  • Pemain utama ISP
  • ISP berlomba menambah kapasitas untuk meningkatkan pelanggan
  • Trafik internet
  • Tarif  sewa jaringan
  • Turunnya tarif sewa jaringan belum menarik perhatian ISP
  • Pendapatan
  • Persaingan semakin ketat
  • Perkembangan 3G untuk internet terancam 3,5G dan Wimax        
  • Prospek dan Kesimpulan

PERKEMBANGAN INDUSTRI TV BERBAYAR DITENGAH PERSAINGAN KETAT                
  • Latar belakang
  • Teknologi yang digunakan
  • Teknologi dan fasilitas operator TV berbayar di Indonesia
  • Perkembangan bisnis penyiaran televisi di Indonesia
  • Perkembangan operator TV berbayar
  • Investasi baru
  • Pertumbuhan pelanggan
  • Penetrasi  pasar TV berbayar
  • Profile Pemain utama
  • Indovision menguasai sekitar 51,2% pangsa pasar layanan TV berbayar
  • Tarif berlangganan cenderung turun
  • Persaingan dan strategi pemasaran
  • Persaingan Teknologi
  • Persaingan konten unggulan
  • Persaingan harga
  • Strategi pemasaran
  • Kebijakan pemerintah
  • Kesimpulan dan prospek
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.