2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

PERKEMBANGAN INDUSTRI GAS ALAM DI INDONESIA

Februari 2010


<<Halaman Sebelumnya



Total E&P Indonesie produsen KKKS / PSC terbesar

Total E&P Indonesie merupakan produsen gas alam terbesar di Indonesia. Produksinya dihasilkan dari lapangan offshore di Kalimantan Timur. Volume produksi Total E&P Indonesia pada tahun 2008 mencapai 1,009,972,142 MMSCF.

Pangsa produksi Total E&P Indonesie rata-rata adalah 40 persen dari produksi gas alam nasional. Beberapa produsen KKKS besar lainnya adalah Exxon Mobil, Conoco Phillips Grissik Ltd, Vico Indonesia, dan Petrochina Jabung Ltd.


Ekspor gas alam cenderung menurun

Sebagian produksi gas bumi Indonesia dilempar ke pasar ekspor dan sisanya untuk kebutuhan domestik. Ekspor gas Indonesia selama ini adalah ke Singapura, Jepang, China, Korea, Thailand dan Malaysia. Ekspor sebagian besar dilakukan dalam bentuk LNG melalui kapal, sementara sisanya melalui jaringan pipa transmisi.

Selama ini, porsi untuk ekspor lebih besar daripada volume untuk pasar domestik. Secara akumulatif dalam kontrak jual beli gas dari tahun 2003 hingga 2007, alokasi domestik mencapai 20.120.000 MMSCFD atau 48 persen dan ekspor 21.550.000 MMSCFD atau 52 persen.

Semenjak tahun 2009 prosentase ekspor gas bumi sudah mulai mengecil dibandingkan sebelumnya. Pada tahun 2009 ekspor kurang dari 50 persen yakni sebesar 46,08 persen dari total produksi dengan volume mencapai 3.667 MMSCFD.

Ekspor gas dalam bentuk LNG cenderung turun dari tahun ke tahun, sementara ekspor melalui pipa cenderung meningkat. Pada tahun 2007 ekspor LNG turun sebesar 8,5 persen menjadi 1.076.785 MMSCFD. Penurunan juga terjadi pada tahun 2008 namun lebih kecil yaitu sebesar 0,8 persen menjadi 1.067.796 MMSCFD.

Pada tahun 2009, hingga bulan Oktober tercatat ekspor LNG sebesar 841.911  MMSCFD. Jika dihitung rata-rata bulanan maka volume ekspor sebesar 84.191 MMSCFD ini lebih kecil dari tahun sebelumnya yang mencapai 88.983 MMSCFD.

Sementara itu, volume ekspor gas melalui pipa emmiliki tren meningkat. Ekspor gas dilakukan melalui pipa transmisi Grissik – Singapura.

Volume ekspor gas bumi melalui pipa fluktuatif dalam beberapa tahun namun menunjukkan tren meningkat. Pada tahun 2007 volume ekspor mencapai 297 ribu MMSCFD.

Pada tahun 2008 volume ekspor menurun 20 persen menjadi 235 ribu MMSCFD. Ekspor melonjak tajam pada tahun 2009, dimana hingga bulan Oktober telah mencapai 291 ribu MMSCFD atu 24.persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Pada tahun-tahun mendatang diperkirakan volume gas untuk ekspor akan lebih kecil lagi seiring dengan berkurangnya komitmen gas untuk luar negeri setelah tahun 2010. 

Beberapa kontrak penjualan ekspor

Penjualan gas ke luar negeri dilakukan secara jangka panjang dengan sistem kontrak. Saat ini sejumlah kontrak ekspor jangka panjang masih berlangsung dan beberapa kontrak baru juga akan mulai realisasi pengirimannya dalam tahun ini.

Kontrak ekspor gas ke Singapura antara Premier Oil Natuna BV dengan Sembgas di Singapura pada tahun 2008 selama 18 tahun dimana pengiriman akan dimulai pada tahun 2010. Ekspor gas dialirkan melalui pipa milik Conoco Philips.

Kontrak ekspor baru pada tahun 2009 antara lain adalah kontrak penjualan sisa kapasitas produksi sebesar 125 ribu ton dari Lapangan Tangguh di Papua. Volume sebesar 125.000 ton per tahun tersebut merupakan bagian dari 200.000 ton per tahun sisa kapasitas kilang LNG Tangguh yang belum terjual. Penjualan ini akan dilakukan oleh Pertamina dengan pembeli Tohoku Electric Power Co, Jepang. 

Gas bumi dari lapangan ini diekspor melalui kapal setelah diproses menjadi LNG pada kilang LNG Tangguh. Dari kapasitas total kilang yang mencapai 7,6 juta ton per tahun, 7,4 juta ton di antaranya sudah terjual ke sejumlah pembeli, di antaranya Sempra Energy Marketing Co sebesar 3,7 juta ton per tahun, Fujian 2,6 juta ton per tahun, serta Posco dan K-Power 1,1 juta ton per tahun.

Beberapa kontrak penjualan ekspor akan selesai pada tahun 2010 yakni kontrak ekspor LNG ke western buyer asal Jepang. Kontrak western buyer akan berakhir dalam tahun ini juga.

Menurut rencana pemerintah akan membatasi kontrak ekspor gas baru dan akan mengalihkan alokasi untuk kebutuhan domestik pada tahun 2011. 

Kebutuhan gas domestik meningkat

Gas bumi di pasar domestik dimanfaatkan untuk berbagai keperluan diantaranya sebagai bahan baku misalnya pada industri petrokimia dan pupuk; sebagai bahan bakar misalnya pada industri keramik, tekstil, dan rumah tangga; sebagai sumber pembangkit listrik pada PLTG, serta sebagai sumber energi pada pada produksi migas yakni untuk artificial lifting, komponen produksi lifting minyak bumi. Kebutuhan gas yang dimaksud adalah kebutuhan terkontrak ditambah kebutuhan yang mendapat komitmen.

Rata-rata kebutuhan domestik per tahun pada tahun 2009 hingga 2010 adalah 5.557,6 MMSCFD. Wilayah Sumatera Bagian Tengah, Selatan dan Jawa Bagian Barat (Region III) merupakan wilayah dengan kebutuhan terbesar dengan rata-rata kebutuhan per tahun dari tahun 2009 hingga 2014 sebesar 2.994,7 MMSCFD. 

Kebutuhan untuk bahan bakar antara lain diserap oleh PGN Batam, PGN Pekanbaru, dan PGN Jawa Barat, selain diserap Kilang LPG seperti milik PT Ogspiras Basya Pratama di Palembang dan PT. Titis Sampurna di Prabumulih. Industri yang menggunakan sebagai bahan bakar adalah PT. Asahimas di Jawa Barat.

Kebutuhan untuk pembangkit tenaga listrik antara lain diserap oleh PLTG Duri, PLTG Teluk Lembu, PLTGU Asrigita Prasarana, PLTG Talang Dukuh, PLTG Energi Musi Makmur, PLN Injiniring, PLN Kramasan, PLN Borang, PLN Muara Karang, PLN Tanjung Priok, PLN Muara Tawar, serta PLN Cilegon.

Produsen migas yakni PT. Chevron Pacific Indonesia menyerap sebagian besar kebutuhan gas sebagai energi di wilayah ini selain Joint Operation Body (JOB) Suryaraya Teladan.

Sementara itu, kebutuhan gas untuk bahan baku pada industri pupupk datang dari pabrik-pabrik Pupuk Sriwijaya I sampai IV di Palembang, Pupuk Kujang di Jawa Barat.

Wilayah Jawa Bagian Timur (Region V) menjadi yang kedua terbesar kebutuhannya dengan rata-rata sebesar 843,8 MMSCFD per tahun yang didominasi oleh pengggunaan untuk listrik PLN pada PLTGU Gresik. Selain listrik, kebutuhan juga datang dari pabrik milik Petrokimia Gresik sebagai bahan baku dan PGN sebagai bahan bakar.

Kebutuhan domestik ini belum seluruhnya terjamin pasokannya karena volume gas terkontrak masih di bawah volume kebutuhan. Sebagian dari kebutuhan ini baru mendapatkan komitmen pasokan dari produsen.

Listrik penyerap gas terbesar domestik

Secara sektoral, kelistrikan menjadi sektor dengan kebutuhan gas domestik terbesar. Kebutuhan rata-rata pada tahun 2009 hingga 2014 mencapai 2.130,7 MMSCFD. Kebutuhan untuk sektor listrik akan menurun pada tahun 2012 sampai 2014 karena penurunan kebutuhan terkontrak lebih besar dari kenaikan kebutuhan yang mendapat komitmen di wilayah Sumatera bagian tengah dan Jawa bagian timur.

Kebutuhan gas sebagai bahan bakar merupakan sektor terbesar kedua dengan rata-rata kebutuhan1385,5 MMSCFD. Kebutuhan terkontrak turun lebih besar dari kenaikan kebutuhan yang mendapat komitmen di wilayah Sumatera bagian tengah dan Jawa bagian tengah mulai 2011.

Industri pupuk dan petrokimia dengan kebutuhan rata-rata sebesar 1.145,6 MMSCFD adalah sektor dengan kebutuhan terbesar ketiga. Kebutuhan ini relatif tetap karena tidak ada ekspansi pada industri ini........



Halaman sebelumnya>>
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.