2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2008

FOKUS : 
APAKAH INDONESIA AKAN TERSERET KRISIS KEUANGAN AS?


Dalam sebulan terakhir krisis keuangan di AS meledak kembali dipicu oleh kebangkrutan lembaga keuangan dunia Lehman Brothers setelah tidak mampu membayar tagihan sebesar US$ 60 milyar  yang berasal dari subprime mortgages.

Otoritas keuangan di Amerika Serikat juga tidak bersedia mengulurkan tangan menyelamatkan bank investasi yang telah berumur lebih dari 150 tahun ini sehingga kematian Lehman Brother tak bisa dihindari.

Selain Lehman, masih ada Morgan Stanley dan AIG yang juga sedang mengiba-iba bantuan untuk menyelamatkan keuangannya. Untuk kedua perusahaan ini kelihatannya Pemerintah Amerika Serikat akan berusahaa menyelamatkan karena khawatir dampak yang lebih parah terhadap akan terjadi jika kedua perusahaan tersebut dibiarkan kolaps.

Mengingat skalanya yang besar kejatuhan lembaga keuangan Amerika Serikat, baik yang ditolong maupun yang dibiarkan mati, membawa dampak besar kepada sistim keuangan dunia. Tentu saja dampak pertama dialami oleh lembaga keuangan yang selama ini menjadi kreditor dari investment bank yang sedang kolaps tersebut, seperti beberapa bank besar di Inggris dan Jepang. Namun yang paling parah terkena tentu saja masyarakat Amerika Serikat.

Tingkat konsumsi AS melemah

Dana yang tersedot untuk menyelamatkan lembaga keuangan tersebut menyebabkan makin sulitnya masyarakat AS mendapatkan dana baik untuk kepentingan konsumsi maupun bagi dunia usaha. Suku bunga yang menjadi naik dan inflasi yang meningkat menyebabkan makin berat beban yang ditanggung rumah tangga Amerika Serikat sehingga terpaksa mereka menurunkan tingkat konsumsinya.

Demikian juga bagi dunia usaha, makin sulitnya mendapatkan dana untuk modal kerja maupun investasi, menyebabkan makin tingginya biaya yang harus dipikul sehingga makin memperlemah daya saing mereka terhadap produk impor sehingga kemudian banyak abrik yang mengurangi aktivitasnya, bahkan ikut terseret menjadi bangkrut.

Melemahnya tingkat konsumsi negara sebesar AS tentu saja berdampak kenegara lain. Konsumsi tekstil warga AS yang menyurut mengakibatkan turunnya impor produk tekstil. Bagi Indonesia ini akan berpengaruh besar karena sekitar 43% ekspor tekstil ditujukan ke Amerika Serikat.

Tentu saja bukan hanya Indonesia yang terkena dampak melemahnya ekonomi AS, secara umum perekonomian dunia memang sudah mulai menurun semnjak mulai merebaknya krisis subprime morgages ini pada tahun 2007 yang lalu. Krisis ini telah menyeret jatuhnya nilai  US dollar sehingga para investor lari ke pasar komoditi sehingga berbagai  harga komoditi primer meroket harganya. Kenaikan harga ini mempercepat terjadinya kelesuan ekonomi karena inflasi segera melambung yang menyebabkan terpotongnya daya beli masyarakt di Amerika Serikat dan negara maju.

Pada puncaknya harga komoditi kemudian tidak bisa meningkat lagi karena permintaan sudah menurun jauh. Semenjak puncaknya harga minyak bumi pada bulan Juli 2008 yang pernah mencapai harga US$ 147 per barel, maka harga minyak bumi kemudian melorot sampai level dibawah US$ 100 per barel, dan mencapai harga terendah dalam 17 bulan terakhir yaitu mencapai US$ 91.per barel.

Dampak krisis ekonomi  terhadap Indonesia

Kekisruhan di sektor keuangan dan flukstuasi harga komoditi akan banyak berpengaruh terhadap kinerja dan ketahanan ekonomi Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri dalam dua tahun terakhir harga komoditi primer yang tinggi Indonesia mendapat keuntungan dalam situasi ini. Ekspor Indonesia yang banyak bertumpu kepada komoditi primer mengalami booming, sehingga ekspor melejit padahal ekonomi dunia mulai melesu.

Walaupun Indonesia juga terimbas krisis akibat harga minyak bumi yang meroket, yaitu dengan naiknya harga BBM yang pada gilirannya menyebabkan inflasi yang tinggi, namun ternyata dampak dari tingginya harga komoditi berdampak seimbang terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan harga beras, minyak goreng dan bahan pangan menyebabkan daya beli masyarakat menurun, namun kenaikan berbagai barang komoditi ekspor utama Indonesia seperti CPO, karet, Batubara, pulp&paper, dan barang tambang lain telah menyebabkan kemakmuran beberapa kawasan yang menjadi produsen utama komoditas tersebut. Selanjutnya hal ini menggairahkan ekonomi secara regional dn mendorong  meningkatnya konsumsi mayarakat.

Ditengah sukubunga yang mulai merayap naik , kredit konsumsi masih terus meningkat, penjualan mobil, sepeda motor dan rumah juga  terus meningkat. Hal ini menunjukkan sebagian masyarakat yang diuntungkan oleh naiknya harga komoditi, kemudian membelanjakan uangnya untuk keprluan konsumsi. Pada gilirannya ekonomi bergerak dengan dorongan konsumsi masyarakat yang tetap tinggi. Hasilnya GDP Indonesia tahun 2008 diperkirakan lebih tinggi dari ramalan Bank dunia dan ADB yang hanya memprediksikan pertumbuhan ekonomi 6%, padahal sampai semester 1 2008, pertumbuhan ekonomi rata-rata sudah 6,3% atau sama dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2007, dan diatas pertumbuhan ekonomi tahun-tahun sebelumnya.

Investasi pun mulai bergerak kembali dimotori oleh agrobisnis, pertambangan, konstruksi dan menyebar kesektor industri manufaktur.

Namun bukan berarti Indonesia terbebas dari imbas krisis finansial global. Fluktuasi harga minyak menyebabkan nilai  tukar berbagai mata uang dunia juga terus berubah. Ketika haga komoditi meningkat, asing memindahkan portofolio investasinya dari bursa saham dinegara emerging market seperti Indonesia ke bursa komoditi, akibatnya terjadi capital flight dari dana asing sehingga US dollar kembali menguat. Sebaliknya ketika harga minyak melemah, USD kembali menguat, maka investor kembali berinvestasi dalam US dollar, sehingga memperlemah Rupiah. Akibat kenaikan harga komoditas dunia maka harga barang di Indonesia pun meningkat. Akibatnya inflasi juga meningkat.

Dengan  tingkat  inflasi yang tinggi, BI memperketat ekonomi dengan menaikkan suku bunga akibatnya Bank berlomba menaikkan suku bunga dan mulai membebani dunia usaha.

Melihat perkembangan perang suku bunga akhir-akhir ini BI berusaha meredamnya dengan meimnta bank tidak berlomba menawarkan suku bunga yang tinggi untuk mengumpulkan dana masyarakat, karena akan berakhir dengan keruguian dari perbankan sendiri. Misalnya pada tanggal 24 September 2008, Bank Indonesia telah mendesak bank nasional untuk sepakat membatasi suku bunga hanya sampai 13% dan mencegah perang suku bunga antar bank besar terus berlanjut.

Sejauh ini Pemerintah dan BI masih dapat berperan mencegah perang suku bunga lebih lanjut, karena saat ini fundamental ekonomi Indonesia yang ditunjang oleh ekspor dan konsumsi rumah tangga masih baik.

Namun kedua faktor tersebut terus tergerus  kemampuannya karena makin lemahnya daya beli masyarakat yang terus digerogoti inflasi. Sementara harga komoditi ekspor juga telah mencapai puncaknya sehingga kini cenderung menurun. Akibatnya tidak bisa lagi diharapkan pertumbuhan ekspor yang tinggi seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Harapan untuk lolos dari krisis

Walaupun demikian kita masih berharap Indonesia bisa lolos dari krisis keuangan kali ini, karena beberapa faktor pendukung  aktivitas ekonomi masiih cukup baik. Ditambah lagi keadaan saat ini  tidak seperti pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi bermula, pada saat bersamaan Indonesia juga sedang menghadapi krisis pangan karena kemarau yang panjang pada tahun 1997 mengakibatkan kegagalan panen padi yang menyebabkan impor beras yang tinggi ketika nilai rupiah anjlok terhadap USDollar.

Kini pasokkan pangan terutama beras relatif aman karena sepanjang tahun tidak banyak ganngguan terhadap panen padi, bahkan tahun 2008 Indonesia mampu swasembada. Dengan demikian efek psikologis dari ketersediaan beras ini mampu meredam minat spekulan mempermainkan harga beras dan bahan pokok lainnya.

Untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sehat Pemerintah harus mampu menggerakkan ekonomi dalam negeri dengan menyalurkan dana APBN ke sektor produktif dengan lebih lancar. Dengan demikian daya beli masyarakat akan bisa diperkuat kembali karena didukung oleh belanja Pemerintah yang mengalir kesektor riil.

Walaupun beberapa indikator makro ekonomi masih menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, namun kekhawatiran Indonesia terseret lebih jauh dalam krisis ekonomi global tidak berhenti. Perubahan ekonomi dunia yang cepat dan mengarah ke kondisi yang lebih buruk dalam hari-hari terakhir ini bisa saja menjungkir balikkan prediksi mengenai daya tahan ekonomi Indonesia yang lebih baik debanding masa krisis moneter dahulu.

Rencana bailout oleh Pemerintah Amerika Serikat senilai US$ 700 milyar untuk menalangi kredit macet yang dipikul oleh lembaga keuangan di Amerika Serikat, masih dipertanyakan efektivitasnya untuk memperbaiki kondisi keuangan dari lembaga keuangan di Amerika Serikat. Apalagi persetujuan yang berlarut-larut dari Kongress AS menyebabkan pasar  modal  dan pasar uang terus terimbang-ambing. Hal ini bisa menyeret juga pasar uang dan pasar modal di negara berkembang seperti Indonesia. Karena investor akan segera mencari mata uang yang kuat.

Konsumsi masyarakat dan ekspor harus ditingkatkan

Menyadari bahwa krisis keuangan global ini masih akan berlangsung lama bisa sampai 1 atau 2 tahun kedepan, maka tanpa upaya yang keras Indonesia tidak akan bisa lepas dari dampak negatif krisis tersebut. Untuk itu dua hal penting yang harus dijaga Pemerintah adalah mempertahankan tingkat konsumsi masyarakat dan meningkatkan terus ekspor.

Tingkat konsumsi masyarakat harus ditunjang oleh kredit  dengan suku bunga yang terjangkau. Dengan demikian BI harus berhati-hati dalam menyesuaikan suku nunga dengan tingkat inflasi, karena jika suku bunga terlalu tinggi dan kredit makin sulit diperoleh, tingkat konsumsi masyarakat akan turun, sehingga ekonomi akan tersendat. Pemerintah juga harus mengupayakan memperlancar pencairan dana APBN untuk proyek-proyek pembangunan guna memberi rangsangan kepada sektor ekonomilainnya.

Yang juga harus ditangani dengan serius adalah bagaimana meningkatkan ekspor, karena beberapa komoditi primer seperti CPO harga dan permintaan sudah mulai menurun. Indonesia masih bisa berharap dari ekspor komoditas primer seperti timah yang harganya naik ataupun beberapa barang yambang lainnya. Namun puncak harga komoditi primer telah dilalui, sehingga sulit berharap harga dalam waktu dekat akan meningkat lagi. Sudah saatnya ekspor komoditi industri manufaktur kembali ditingkatkan dengan mencari pasar ekspor yang baru seperti di Timur  Tengah ataupun beberapa negara Amerika Selatan yang ekonominya masih meningkat seperti Brazil.

Dengan pengalaman menangani krisis moneter yang lalu diharapkan Pemerintah dan dunia usaha sudah bisa bersikap hati-hati untuk tidak jatuh dilubang yang sama lagi.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
Related Topics
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.