2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Oktober 2008

FOKUS

SUKU BUNGA KREDIT MENINGKAT INDUSTRI BARANG KONSUMSI GOYAH

Sebagai upaya meredam dampak krisis finansial global,  bank sentral negera-negara di dunia cenderung menurunkan suku bunga kredit, agar likuidas perbankan meningkat. Namun di Indonesia Bank Indonesia malah menaikkan suku bunga. Hal ini dilakukan karena kecenderungan inflasi yang meningkat, sehingga BI memperketat likuiditas dengan meningkatkan suku bunga. Sebenarnya BI menyadari perlu dilakukan langkah-langkah untuk melonggarkan likuiditas, karena jika tidak, ekonomi akan berhenti bergulir ketika perusahaan kesulitan mencari modal kerja, atau juga untuk melakukan pembayaran.

Berbagai anomali memang kerap terjadi ketika krisis keuangan sedang terjadi, apalagi berskala global. Saat ini langkah penyelamatan keuangan oleh satu negara bisa berdampak negatif ke negara tetangganya, jika kepentingan dan kondisi ekonomi negara tersebut bertolak belakang. Seperti ketika Irlandia menjamin penuh semua tabungan warganya di Bank, maka dana dari negara tetangganya mengalir ke negeri tersebut baik untuk mendapatkan rasa aman maupun untuk tujuan spekulasi. Tentu saja hal itu tidak diinginkan negara tetangganya tersebut.

Indonesia, dalam krisis keuangan global saat ini, memang harus ekstra hati-hati terutama dalam mengelola likuiditas ekonomi. Upaya mempertahankan suku bunga yang tinggi untuk menghindari gejolak inflasi pada gilirannya, menghambat pengembangan pasar karena makin sulitnya mendapatkan fasilitas pinjaman dengan suku bunga rendah.

Salah satu sektor yang akan segera menerima dampak dari tingginya suku bunga adalah industri yang selama ini pemasaran produknya sangat bergantung kepada fasilitas kredit konsumsi yang diberikan kepada pembelinya seperti  industri otomotif, barang elektronik, rumah, dan penjualan barang konsumsi yang menggunakan kredit konsumsi.

Selama ini pertumbuhan sektor konsumsi merupakan sektor pendukung pertumbuhan ekonomi karena sektor ini berkembang cukup pesat bahkan ketika  krisis moneter yang terjadi hampir sepuluh tahun lalu sektor ini merupakan salah penyelamat ekonomi nasional.

Dengan masih terus bergejolak ekonomi global yang belum menentu dan diperkirakan masih akan berlangsung sampai tahun 2010, muncul kekhawatiran dikalangan berbagai industri barang konsumsi yang mengandalkan pasar domestik, bahwa pasar akan anjlok. Apalagi BI cenderung bertahan dengan suku bunga tinggi untuk menjaga inflasi.


Walaupun demikian melihat perkembangan ekonomi sampai triwulan III 2008, sebenarnya pasar domestik masih cukup kuat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang berkembang cukup pesat. Bahkan inflasi bulan oktober ternyata sudah mulai turun dan lebih rendah dari inflasi pada perioda yang sama tahun lalu.

Prakiraan Pertumbuhan ekonomi 2008

Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, sepanjang tahun 2008 sampai triwulan III, perkembangan ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang tinggi Di tengah ketidakpastian perkembangan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2008 diprakirakan masih tetap tinggi meskipun perkembangan beberapa indikator mengindikasikan akan terjadi perlambatan pertumbuhan, namun perlambatan tersebut diprakirakan tidak akan terlalu signifikan. Berdasarkan perkembangan tersebut, PDB pada triwulan III-2008 diprakirakan akan tumbuh sebesar 6,3% (yoy)


Masih tingginya pertumbuhan tersebut ditopang oleh masih kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diprakirakan masih relatif tinggi meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Menurut Bank Indonesia (BI), hal ini didukung oleh daya beli masyarakat yang relatif stabil dan keyakinan konsumen yang lebih optimis.


Sementara itu, pertumbuhan ekspor diprakirakan sedikit tertahan akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi berbagai negara maju. Sejalan dengan perlambatan ekspor, pertumbuhan investasi juga diprakirakan akan sedikit melambat. Namun demikian, perlambatan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu signifikan mengingat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih kuat serta optimisme pengusaha terhadap kondisi perekonomian ke depan yang relatif membaik. Di sisi lain, laju pertumbuhan impor diprakirakan akan sedikit tertahan akibat melambatnya pertumbuhan ekspor dan investasi.


Dari sisi permintaan, pertumbuhan PDB triwulan III-2008 yang diprakirakan tetap tinggi didukung oleh masih kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi. Relatif stabilnya daya beli masyarakat, membaiknya keyakinan konsumen serta faktor musiman berupa hari raya keagamaan menjadi pendorong bagi tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, peningkatan pertumbuhan ekspor pada triwulan sebelumnya diprakirakan akan sedikit tertahan pada triwulan III-2008 seiring dengan perlambatan perekonomian global serta turunnya harga minyak dan komoditas lainnya. Sejalan dengan hal tersebut, laju pertumbuhan investasi dan impor diperkirakan juga akan sedikit tertahan.

Inflasi  mulai mereda kembali

Kendati pemerintah dan Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menstabilkan harga barang dalam beberapa bulan terakhir, laju inflasi ternyata masih tetap tinggi. Inflasi bulanan pada September 2008 tercatat 0,97 persen, tertinggi sejak tahun 2001. Dengan demikian, laju inflasi Januari-September 2008 sudah mencapai 10,47 persen.

Sepanjang triwulan III-2008, kecenderungan meningkatnya inflasi  terutama disebabkan oleh menguatnya permintaan domestik serta faktor musiman hari raya keagamaan (Idul Fitri). Secara tahunan, laju inflasi IHK pada akhir triwulan III-2008 mencapai 12,14% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 11,03% (yoy). Pada September 2008, inflasi bulanan mencapai 0,97% (mtm). Berdasarkan kelompok pengeluarannya, perkembangan inflasi pada triwulan III-2008 terutama disumbang oleh kelompok bahan makanan; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.

Inflasi volatile food triwulan III-2008 mengalami peningkatan baik secara triwulanan maupun tahunan. Peningkatan inflasi volatile food tersebut terkait dengan masih tingginya harga pangan internasional dan meningkatnya permintaan seiring pola musiman puasa dan lebaran. Beberapa komoditas pada kelompok ini yang mencatat inflasi sepanjang triwulan III-2008 adalah telur ayam dan daging ayam ras. Khusus untuk harga daging ayam ras dan telur ayam ras, peningkatannya lebih disebabkan oleh faktor kenaikan harga jagung dan kedelai di pasar internasional sebagai bahan baku pakan ternak domestik.

Di sisi lain, perkembangan harga beberapa komoditas volatile food lainnya seperti minyak goreng, beras, dan bumbu-bumbuan dapat mengurangi lonjakan tekanan inflasi. Penurunan harga CPO internasional yang sejalan dengan drastisnya penurunan harga minyak mentah dunia hingga level di bawah USD100/barel, mendorong produsen menahan kenaikan harga minyak goreng domestik. Selain itu, meskipun panen raya telah berakhir, harga beras relatif stabil, terkait dengan terjaganya stok beras Bulog yang siap untuk melakukan operasi pasar apabila kenaikan harga diluar batas yang wajar. Perkembangan yang positif juga ditunjukka pada kelompok bumbu-bumbuan (bawang merah, cabe merah, dan tomat sayur) yang mengalami deflasi sehubungan dengan masih tercukupinya pasokan.

Namun memasuki triwulan IV 2008, inflasi telah mulai mereda. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulan Oktober hanya mencapai 0,45%, padahal pada bulan September 2008 inflasi mencapai 0,97%. Rendahnya inflasi pada bulan Oktober 2008 disebabkan meredanya kenaikan harga dari bahan makanan, sandang  dan berbagai jenis jasa seperti transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Hal ini merupakan dampak berakhirnya masa  hari raya lebaran yang merupakan puncak inflasi tahunan di Indonesia. Inflasi bulan oktober tahun 2008 ini juga lebih rendah dibanding inflasi bulan yang sama tahun 2007..

Dengan demikian laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2008 mencapai  sebesar 10,96 persen, sedangkan laju inflasi "year on year" (Oktober 2008 terhadap Oktober 2007) sebesar 11,77 persen.


Rupiah terus melemah

Sampai bulan September 2008, meski mendapat tekanan depresiasi di akhir periode laporan, rata-rata nilai tukar rupiah selama triwulan III-08 masih tercatat menguat menguat. Rata-rata nilai tukar pada triwulan-III 2008 terapresiasi 0,47% dari Rp9.259 pada triwulan II-2008 menjadi Rp9.216 perUSD (Grafik 3.5).

Tingginya tekanan depresiasi terhadap rupiah pada akhir triwulan laporan menyebabkan rupiah ditutup melemah 1,76% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dariRp9.220 per USD pada akhir triwulan II-2008 menjadi Rp9.385
per USD pada akhir triwulan III-2008. Sementara itu pergerakan nilai tukar selama triwulan III-2008 cenderung berfluktuasi sejalan dengan meningkatnya tekanan rupiah di akhir periode laporan. Volatilitas rupiah pada triwulan III-2008 tercatat lebih tinggi yaitu sebesar 1,11 %, dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,61%.

Meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, intensifikasi krisis sektor keuangan di AS serta persepsi terhadap prospek neraca pembayaran memengaruhi perkembangan rupiah selama triwulan III-2008 2008. Perlambatan ekonomi global dan penguatan dolar mendorong turunnya harga komoditas internasional, termasuk diantaranya komoditas andalan ekspor Indonesia. Hal tersebut menimbulkan persepsi memburuknya prospek neraca pembayaran Indonesia khususnya pada neraca transaksi berjalan. Sementara itu, semakin dalamnya krisis di sektor keuangan AS memicu terjadinya capital flight dari asset negara berkembang sejalan dengan tingginya risk aversion investor asing. Tingginya kekhawatiran tersebut berdampak pada pembalikan dana asing
dari asset negara regional sehingga menyebabkan mata uang regional mengalami tekanan depresiasi.

Sampai akhir Oktober Rupiah kian terpuruk melampaiui level Rp. 11.000 per US dolar. Meskipun tekanan depresiasi rupiah cukup besar, dalam skala regional, rupiah relatif lebih stabil dibandingkan nilai tukar negara kawasan regional. Faktor ekonomi domestik yang masih kondusif ditambah dengan stance kebijakan moneter ketat dan stabilisasi di pasar valas oleh Bank Indonesia mampu menahan tekanan depresiasi rupiah yang lebih besar.

Suku Bunga naik

Selama triwulan III 2008, kenaikan BI Rate sebesar 75 bps sehingga menjadi 9,25% pada akhir September 2008. Kenaikan BI Rate diikuti dengan peningkatan suku bunga deposito deposito. Sampai dengan dua bulan pertama triwulan III-2008, kenaikan BI Rate terutama ditransmisikan pada naiknya rata-rata tertimbang ( weighted average) suku bunga deposito 1 dan 3 bulan. Berbeda dengan historisnya, kenaikan suku bunga deposito tenor pendek tersebut lebih tinggi dari kenaikan BI Rate. Hal itu mengindikasikan kuatnya upaya perbankan mendongkrak pendanaan ( funding), sejalan dengan masih kuatnya akselerasi pertumbuhan kredit seperti tampak pada terus naiknya LDR perbankan.

Dengan perkembangan tersebut maka kenaikan BI Rate sejak Mei 2008 tampaknya semakin kuat direspon, terutama pada kelompok Bank Asing dan Campuran, sedangkan kelompok BPD baru mulai melakukan penyesuaian suku bunga pada bulan Juli.

Kenaikan BI Rate juga semakin ditransmisikan ke suku bunga kredit. Sampai dengan dua bulan pertama triwulan III-2008, kenaikan BI Rate telah ditransmisikan pada naiknya rata-rata tertimbang ( weighted average) seluruh suku bunga kredit.

Kenaikan terbesar terjadi pada suku bunga kredit modal kerja diikuti oleh suku bunga kredit investasi dan kredit konsumsi. Dengan perkembangan tersebut, transmisi kenaikan BI Rate sejak Mei 2008, terutama terlihat pada kelompok Bank Asing dan Campuran, sedangkan kelompok BPD kembali menjadi kelompok bank yang paling lambat merespon kenaikan BI Rate.

Dampak terhadap industri barang konsumsi

Perkembangan ekonomi dlaam beberapa bulan terakhir ini segera memberi dampak negatif kepada industri barnag konsumsi terutama durable goods karena banyak penjualan barang tersebut berdasarkan pinjaman konsumsi baik melalui kartu kredit maupun fasilitas kredit konsumsi lainnya.

Demikian juga inflasi yang tinggi selain menyebabkan suku bunga pinjaman yang semakin tinggi juga menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga menurunkan tingkat konsumsi untuk barang seperti itu.

Namun demikian dengan mulai meredanya inflasi pada bulan oktober 2008, dan rencana Pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak pada bulan Desemmber 2008, diperkirakan tekanan inflasi semakin menurun sehingga  suku bunga diharapan bisa menurun kembali.

Apabila fluktuasi nilai tukar juga sudah bisa mereda, maka kemungkinan pasar domestik untuk durable goods seperti barang-barang elektronik akan bangkit kembali. Masalahnya pasar domestik juga akan dibaniri produk impor karena pasar dunia yang melesu.


Related Topics
HOME            Head Line            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.