INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Januari 2008
FOKUS
MELEPAS KETERGANTUNGAN ENERGI INDONESIA TERHADAP FOSIL FUEL
Harga minyak bumi masih rawan
Perkembangan harga minyak bumi hingga saat ini masih menunjukan kondisi yang menghawatirkan, karena dengan terus meningkatnya harga minyak bumi hingga mendekati US$ 100, membuat banyak negara mulai menyesuaikan kebijakan penggunaan sumber energinya.
Selama setahun terakhir ini harga minyak bumi menjadi perhatian seluruh masyarakat dunia, karena sejak melonjaknya harga dunia pada pertengahan tahun lalu akibat berbagai faktor antara lain adanya konflik di Irak Utara, terjadinya ketegangan Iran dan Barat karena pengembangan rektor nuklir di Iran serta berkurangnya produksi dari beberapa produsen minyak dunia akibat kerusuhan yang terjadi di Nigeria, rusaknya fasilitas kilang minyak di Mexico akibat badai dan lain-lain.
Harga minyak bumi yang pada Juli 2007 mendekati harga US$ 75, terus mengalami peningkatan, hingga pada akhir Desember 2007 harga rata-rata minyak dunia berkisar US$ 90, bahkan harga hariannya telah mendekati US$ 100.
Pada awal tahun 2008 kondisi harga minyak dunia masih menjadi perhatian karena harga minyak mentah dunia untuk pertama kali dalam sejarah menyentuh US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (3/1). Harga minyak diperkirakan akan berada pada level kritis pada beberapa pekan mendatang.
Pada perdagangan tanggal 3 Januari 2008 di bursa di New York, harga minyak ditutup naik US$ 3,64 menjadi US$ 99,62 per barel. Sedangkan harga minyak Laut Utara Brent di bursa London diperdagangkan sebesar US$ 97,84. Harga perdagangan tersebut lebih tinggi dibandingkan rekor harga minyak pada 2007 sebesar US$ 99,29 pada 21 November lalu.
Kondisi minyak dunia desak pengembangan energi alternatif
Perkembangan harga minyak bumi ini semakin memperkuat alasan pengembangan sumber energi yang dapat diperbaharui, karena semakin terbatasnya jumlah cadangan minyak bumi di dunia, semakin mudahnya kejadian-kejadian yang terkait dengan negara produsen maupun konsumen utama, baik gejala alam, kondisi ekonomi maupun situasi politik menjadi pemicu melonjaknya harga minyak bumi.
Pengembangan energi alternatif menjadi solusi utama dalam mempersiapkan pasokan sumber energi di masa depan, meskipun jumlah cadangan minyak dunia relatif masih besar, sekitar 1,2 milyar barel, tetapi kondisi pertumbuhan industri di dunia menunjukan potensi timbulnya persaingan kebutuhan terhadap minyak bumi.
Konsumsi minyak bumi dunia masih di dominasi Amerika Serikat, dengan sekitar 25% dari total kebutuhan dunia dan peningkatan kebutuhan di Amerika dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukan 1,7% per tahun. Selain itu beberapa negara maju seperti Jepang, Jerman, Perancis dan lain-lain masih menunjukan kebutuhan yang tinggi terhadap energi yang berasal dari bahan baku fosil ini.
Situasi yang cukup mengkhawatirkan adalah tingginya pertumbuhan kebutuhan minyak bumi oleh Cina dan India, yang telah mencapai 3,3% dan 4% per tahun akan menjadi pemicu melonjaknya harga minyak pada beberapa tahun kedepan.
Karena tidak seperti Jepang, Korea, maupun beberapa negara Eropa Barat yang telah melampaui masa puncak perkembangan industrinya, Cina dan India adalah calon raksasa dunia yang sedang menuju puncak perkembangan industrinya, dengan kebutuhan minyak yang dapat melebihi kebutuhan Amerika Serikat saat ini.
Potensi persaingan yang sangat ketat di masa depan untuk mendapatkan pasokan minyak bumi, menjadi dorongan utama pemerintah Indonesia untuk mengembangkan energi alternatif, karena saat ini selain produsen, Indonesia juga adalah importir minyak bumi yang cukup besar, sehingga situasi yang terjadi pada minyak dunia akan sangat berdampak pada harga minyak bumi di Indonesia.
Sumber energi utama masih didominasi oleh bahan bakar fosil
Indonesia masih sangat tergantung kepada bahan bakar fosil sebagai energi utama. Pada tahun 2006 konsumsi minyak bumi masih menempati urutan pertama dengan 48,7% dari total kebutuhan energi nasional.
Sementara itu batubara terus menjadi sumber energi utama kedua selain minyak bumi dengan 26,5%, setelah menggantikan posisi Natural gas yang tiga tahun sebelumnya selalu menjadi pendamping minyak bumi dalam penyediaan sumber energi.
Pasokan energi utama tetap didominasi Oil based fuel (OBF)
Hingga saat ini OBF masih menjadi pemasok energi utama di Indonesia dengan penggunaan mencapai 359.744 ribu boe pada tahun 2006. Sementara itu bahan baku energi lain seperti Natural gas, Batubara, Listrik dan LPG meskipun belum mendekati volume penggunaan OBF, tetapi relatif mengalami peningkatan.
Sektor industri dan transportasi pengguna energi terbesar
Sektor industri dan transportasi adalah pengguna utama energi di Indonesia, dengan penggunaan pada tahun 2006 mencapai hampir 78% dari total kebutuhan energi, sementara itu 22% nya merupakan penggunaan rumah tangga.
Pada tahun 2001 penggunaan energi didominasi oleh sektor industri, dengan meningkatnya kebutuhan dari berbagai industri berat seperti Petrochemical, Semen, Besi baja dan lain-lain.
Pada tahun 2003-2004 terjadi peningkatan yang signifikan pada penggunaan energi oleh sektor transportasi, dengan pesatnya pertumbuhan industri otomotif, baik mobil maupun sepeda motor.
Kebutuhan energi untuk sektor rumah tangga, transportasi dan industri
Kerosene dan listrik sumber energi utama sektor rumah tangga
Sektor rumah tangga merupakan salah satu pengguna utama Oil based fuel (OBF) dalam bentuk kerosen. Kerosen atau minyak tanah yang merupakan bahan bakar utama dalam kegiatan memasak oleh masyarakat menengah ke bawah di Indonesia, dikonsumsi sebesar 68.899.000 boe pada tahun 2006. Harga minyak tanah yang disubsidi mencapai Rp 2.000 per liter, sementara harga minyak tanah untuk industri mencapai Rp 5.320 per liter.
Penggunaan minyak tanah cenderung terus mengalami penurunan, dari 68,1% dari total penggunaan tahun 2001, secara bertahap menurun menjadi 56,4% pada tahun 2006. Pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke Liquified Petroleum Gas (LPG) pada Desember 2006, untuk memotong subsidi minyak tanah yang telah mencapai Rp 40 triliun per tahun. Berdasarkan perhitungan pemerintah, program konversi ini akan menghemat sekitar Rp 21 triliun per tahun. Karena subsidi terhadap LPG lebih kecil dibanding untuk minyak tanah.
Program konversi ini dilakukan dengan memberikan kompor dan tabung gas gratis kepada masyarakat menengah kebawah pengguna kompor minyak tanah. Program ini di targetkan akan selesai pada tahun 2007 untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat , untuk wilayah Jawa dan Bali ditargetkan akan selesai pada tahun 2009, sementara keseluruhan wilayah indonesia ditargetkan selesai pada tahun 2011.
Selain pengguna utama minyak tanah, sektor rumah tangga juga merupakan pengguna terbesar energi listrik di Indonesia. Faktor yang berpengaruh langsung terhadap peningkatan penggunaan energi listrik oleh rumah tangga adalah semakin bertambahnya peralatan rumah tangga yang menggunakan energi listrik akibat meningkatnya gaya hidup masyarakat akibat peningkatan penghasilan dan daya beli yang semakin tinggi.
Penggunaan energi listrik relatif meningkat terus, dimana pada tahun 2001 penggunaan energi listrik hanya mencapai 26,3% dari total penggunaan energi tahun tersebut, kemudian secara bertahap meningkat terus, meskipun relatif kecil hingga mencapai 34,1% pada tahun 2005.
Konsumsi energi sektor transportasi di dominasi Gasoline dan ADO
Konsumsi energi oleh sektor transportasi hingga saat ini masih didominasi oleh Oil Base Fuel(OBF). Sementara itu penggunaan LPG/CNG (compressed Natural Gas) yang sudah mulai di perkenalkan sejak beberapa tahun terakhir ini, belum menunjukan perkembangan yang pesat dalam penggunaannya. Demikian pula dengan fasilitas penyediaan gas/SPBG yang masih sangat terbatas jumlah dan penyebarannya.
Konsumsi OBF oleh sektor transportasi sebagian besar adalah berupa gasoline, terutama jenis premium, yang mencapai 60,41% dari total penggunaan OBF untuk sektor transportasi pada tahun 2006.
Konsumsi Gasoline terus menunjukan peningkatan dibanding dengan OBF lainnya. Pada tahun 2001 penggunaan Gasoline menunjukan 48% dari total penggunaan OBF untuk sektor transportasi. Kemudian meningkat menjadi 50,9% pada 2002 dan secara bertahap terus meningkat hingga pada tahun 2006 konsumsinya mencapai 18.350 boe atau 60,41% dari total penggunaan OBF.
Automotive Diesel Oil (ADO) yang penggunaannya hampir menyamai Gasoline, cenderung terus menunjukan penurunan meskipun relatif kecil, yaitu dari 42,6% pada tahun 2001 menjadi 38,32 % pada tahun 2006.
Potensi energi alternatif di Indonesia
Panas Bumi
Panas bumi merupakan salah satu sumber energi alternatif yang diproyeksikan dapat memenuhi 5% kebutuhan energi mix Indonesia pada tahun 2025.
Potensi panas bumi Indonesia sangat besar, yaitu mencapai 27,000 MW dan ini merupakan 40% potensi panas bumi dunia. Beberapa PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi) telah dibangun untuk memanfaatkan sumber energi ini, namun PLTP tersebut baru memanfaatkan 783,4 MW atau 4,2 % dari potensi yang ada.Beberapa wilayah di Indonesia yang berpotensi menghasilkan energi alternatif panas bumi adalah di Seulawah (NAD), Tampomas, Cisolok - Sukarame (Jawa Barat), Gunung Unggaran (Jawa Timur), Ngebel Wilis (Jawa Timur) dan Jailolo (Halmahera utara).
Nuklir
Pemanfaatan teknologi nuklir masih menjadi perdebatan di Indonesia, karena berbagai macam resiko yang mungkin ditimbulkan jika terjadi kebocoran pada reaktor nuklirnya. Sebenarnya Indonesia juga memiliki tambang bahan bakar rektor nuklir, yaitu uranium. Tambang uranium ini berada di Kalimantan dan memiliki kandungan uranium mencapai 24 ribu ton yang setara dengan kebutuhan listrik 9.000 megawatt.
Pemerintah menetapkan kebijakan pasokan energi nasional dari energi nuklir sebesar dua persen pada tahun 2025, yang merupakan bagian dari skenario optimalisasi energy mix yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Mix Nasional. Wujud nyata dua persen sumber ini adalah pembangunan empat unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria. PLTN perdana akan mulai konstruksinya pada 2010 dan direncanakan mulai beroperasi pada 2016.
Tenaga air
Tenaga air telah banyak dimanfaatkan di Indonesia. Seperti di Waduk Jatiluhur, Bendungan Asahan, Waduk Karangkates, Waduk Gajah Mungkur dan lain-lain. Energi ini dibutuhkan karena tersedianya air yang melimpah. Beberapa waduk mengalami pendangkalan karena banyaknya penebangan di hulu sungai. Keterbatasan jumlah sungai yang memenuhi syarat untuk pembangunan waduk dan pembangkit listrik, menjadi hambatan utama pengembangan energi listrik yang berasal dari aliran sungai ini.
Batubara yang dicairkan
Sumber energi batubara cukup melimpah yaitu 61,3 miliar ton dengan cadangan 6,7 miliar ton. Jumlah ini dapat mencukupi kebutuhan energi dari batubara selama sekitar 140 tahun. Beberapa teknologi sedang dicoba untuk memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar cair atau gas. Liquified coal dan gasified coal akan menjadi salah satu pilihan energi di masa depan.
Biofuel
Sumber energi dari biofuel merupakan salah satu alternatif energi yang saat ini menjadi perhatian serius diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Potensi yang dimiliki oleh biofuel ini memungkinkan sumber energi ini menjadi bahan bakar pengganti dari minyak bumi terutama bagi sektor transportasi.
Selama ini sebagai salah satu pengguna terbesar minyak bumi, sektor transportasi belum memiliki alternatif sumber energi yang hampir setara kemampuannya dengan minyak bumi. Beberapa energi alternatif yang mempunyai cadangan atau potensi yang besar, sebagian besar merupakan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan sektor industri ataupun untuk pembangkit listrik, seperti panas bumi, nuklir dan lain-lain.
Biofuel menjadi begitu penting, karena bahanbakar ini terbukti dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik di Brasil serta menjadi salah satu bahan bakar utama untuk sektor transportasinya. Demikian pula di berbagai negara maju di dunia, seperti Amerika, German, Prancis, Italy dan lain-lain penggunaan biofuel telah berhasil menurunkan penggunaan minyak bumi secara signifikan. Kualitas yang baik serta relatif ramah lingkungan, karena tingkat emisinya yang rendah, menjadikan biofuel menjadi potensi sumber energi di masa depan.
Energi Mix nasional 2025
Pemerintah Indonesia telah menetapkan rencana penggunaan energi mix nasional pada tahun 2025, sesuai dengan kebijakan pemerintah, seperti yang tercantum dalam Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional. Kebijakan ini pada intinya mengupayakan pengurangan sumber energi berbasis fosil, selain karena terbatasnya cadangan yang ada, juga dalam rangka mengurangi emisi gas buang.
Kebijakan ini menetapkan komposisi energi mix nasional pada tahun 2025, diharapkan akan menjadi :
- Minyak bumi 20%
- Gas bumi 30%
- Batubara 33%
- Biofuel 5%
- Panas bumi 5%
- Energi baru dan terbarukan lain (Biomasa, Nuklir, Tenaga air, Surya dan tenaga angin) 5%
- Batubara yang dicairkan 2%
Untuk mendukung pencapaian penggunaan energi sesuai rencana tersebut, pemerintah telah melakukan beberapa langkah percepatan antara lain penghapusan dan pengurangan subsidi beberapa produk minyak bumi dari Pertamina, Konversi bahan bakar minyak tanah/kerosen dengan LPG serta menetapkan kebijakan tentang pengembangan bahan bakar nabati dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No.1/2006 tentang Penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar alternatif.
Kesimpulan
Kecenderungan semakin meningkatnya harga minyak dunia adalah bagian dari proses semakin besarnya peningkatan kebutuhan terhadap minyak bumi, serta semakin terbatasnya cadangan yang tersedia.
Harga minyak dunia semakin mudah melonjak, karena hingga saat ini minyak bumi adalah pemasok sumber energi terbesar di dunia, yang belum dapat tergantikan fungsinya secara keseluruhan, sehingga seringkali gejolak yang terjadi didunia ini selalu berdampak pada kenaikan harga minyak bumi.
Pengembangan energi alternatif adalah cara yang paling memungkinkan untuk melepas ketergantungan kepada bahan bakar fosil ini, Keberhasilan memanfaatkan energi alternatif ini telah dibuktikan oleh Brazil, yang saat ini merupakan produsen terbesar ethanol di dunia dan penggunaan bioethanolnya telah mencapai 33% dari total penggunaan bahanbakar di negara tersebut.
Keseimbangan terhadap pemberdayaan alam adalah kunci bagi pemanfaatan alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia serta kelestarian lingkungan.