2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juni  2008

FOKUS
KINERJA PERBANKAN MENURUN NAMUN MASIH MEMILIKI KETAHAN


Dampak kenaikan harga minyak dunia mulai mengimbas sektor perbankan. Setelah beberapa tahun terakhir perbankan terus menunjukkan kinerja keuangan yang baik dengan laba yang terus meningkat. Pada  kuartal pertama tahun 2008 ini laba perbankan mulai menyurut.

Dalam tiga tahun terakhir laba perbankan mengalami pertumbuhan yang pesat yaitu dari Rp 33,9 trilyun tahun 2005 menjadi Rp 40,6 trilyun tahun 2006 dan pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi Rp 49,9 trilyun, atau rata-rata meningkat sebesar  21% per tahun.

Sampai bulan April 2008, laba tahun berjalan baru mencapai Rp 16,6 trilyun sementara pada periode yang sama tahun 2007 labanya telah mencapai 16,5 trilyun, berari peningkatannya hanya  sebesar 0,4%.  Dengan kecenderungan  pertumbuhan seperti itu diperkirakan selama tahun 2008 laba perbankan tidak akan berbeda jauh dengan laba tahun sebelumnya.


Meningkatnya inflasi memaksa BI menaikkan kembali suku bunga BI ratenya. Dalam dua bualan terakhir BI telah dua kali menurunkan suku bunganya masing-masing sebesar 25 basis poin, yaitu dari 8,0%  menjadi 8,25% pada tanggal 9 Mei 2008 kemudian bulan Juni menaikkan kembali sebesar 25 basis poin  sehingga kini mencapai 8,5%.

Sebelumnya BI mencoba bertahan, karena selisih suku bunga BI telah cukup tinggi dibandingkan suku bunga yang ditetapkan bank central Amerika Serikat. Namun desakan inflasi memaksa BI menaikkan suku bunganya untuk menahan laju aliran dana keluar negeri. Dengan tingginya suku bunga termasuk deposito maka beban biaya operasional juga meningkat.

Sampai bulan April 2008 beban operasional bank umum telah mencapai Rp. 70,0 trilyun, sementara pada periode April 2007 beban operasional baru mencapai Rp. 62,7 trilyun , atau meningkat  sekitar 11 %. 

Selain itu beban operasional semakin meningkat sebelum dan sesudah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Bahkan, dampaknya terus berlangsung hingga akhir tahun ini.

Dampak kenaikan harga BBM pada awal Juni 2008 BBM diperkirakan akan terus  mempengaruhi pertumbuhan laba perbankan yang akan makin  melambat pada tahun ini. Harga minyak dunia yang  tinggi di atas USD130 per barel dan ekpektasi inflasi masih tinggi akan menyebabkan bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit .

Selain karena peningkatan beban operasional, penurunan laba perbankan yang terjadi selama April 2008, disebabkan pencadangan atau provisi yang dinaikkan oleh bank akibat prediksi outlook ekonomi yang memburuk.

Saham bank menurun

Dampak kenaikan harga BBM dan minyak dunia, membuat pelaku pasar ragu akan prospek sektor perbankan. Apalagi kredit macet dan turunnya net interest margin (NIM) mengiringi wajah perbankan.

Pasca kenaikan BI rate 25 basis poin menjadi level 8,50%, sentimen pasar saham terhadap saham sektor keuangan, terutama perbankan menurun. Pelaku pasar saham umumnya menilai, kemungkinan BI rate untuk naik lagi pada bulan-bulan mendatang terbuka lebar.

Kondisi ini dikhawatirkan pelaku pasar saham bisa mengurangi kinerja intermediasi karena suku bunga bank turut meningkat. Kekhawatiran ini tercermin dari pergerakan indeks sektor keuangan yang terus menekan pergerakan IHSG.

Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada 2 -13 Juni 2008 turun Rp800 (13,45%) dari Rp 5,950 menjadi Rp 5,150 per unit. Penurunan harga BBRI tertinggi jika dibandingkan dengan enam emiten perbankan yang memiliki aset terbesar di Indonesia.

Pada periode yang sama harga saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) turun 8,18% dari Rp5.500 menjadi Rp5.050, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 7,14% dari Rp2.800 menjadi Rp2.600 per unit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,75% dari Rp2.850 menjadi Rp2.800, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 3,23% dari Rp1.240 menjadi Rp1.200 per unit, PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) turun 2,15% dari Rp465 menjadi Rp455 dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) tetap di level Rp900 per saham.

Penurunan harga saham BRI dan BCA merupakan reaksi pasar karena kedua bank tersebut menaruh investasi yang cukup besar dalam SUN (Surat Utang Negara) yang saat ini harganya sedang tertekan.

Hal ini menjadi sentimen negatif karena dikhawatirkan bank yang memiliki pos yang besar di SUN, pendapatannya akan tergerus. Banyak bank mengalihkan investasinya ke SBI (Sertifikat Bank Indonesia)

BI sendiri menganjurkan agar bank meningkatkan penyaluran kredit sehingga bisa menunjang pembangunan di sektor lain. Namun BI juga meminta perbankan berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya karena situasi eonomi belum kondusif, sehingga dikhawatirkan jika kredit yang disalurkan terlalu besar, akan terjadi kredit macet yang mendorong kenaikan kredit macet perbankan

Namun, pada periode 2-13 Juni 2008 ada tiga saham bank yang harganya naik karena adanya aksi korporasi. Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Niaga Tbk (BNGA) naik 1,04% dari Rp960 menjadi Rp970, PT Bank Lippo Tbk (LPBN) naik 3,74% dari 2.675 menjadi Rp2.775 per unit, dan saham PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) meningkat 50,77% dari Rp650 menjadi Rp980 per unit.

Beberapa pengamat pasar modal mengatakan, turunnya sektor perbankan di pasar saham sebenarnya lebih disebabkan adanya kekhawatiran investor. Harga minyak yang tinggi berlanjut pada naiknya inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat berlanjut pada melemahnya sektor riil. Alhasil, investor meragukan apakah target yang direncanakan perbankan akan tercapai.


BI masih menilai perbankan Indonesia tahan terhadap gejolak

Walaupun beberapa indikator kinerja perbankan menunjukkan penurunan, namun kondisi perbankan menurut BI secara umum masih baik. Berdasarakan hasil stress test atau semacam tes ketahan perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) terhadap perbankan nasional selama kwartal pertama  2008 yang lalu, menunjukkan hasil yang positif.

Menurut Deputi Senior Gubernur BI Miranda S Goeltom, usai memimpin rapat dewan gubernur di Gedung BI, Jakarta, Selasa (6/5/2008), hasil tes uji ketahan tersebut menunjukkan perbankan di Indonesia kondisinya masih cukup baik dan tahan gejolak.

Kondisi itu dapat dilihat dari laju kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) masih rendah. NPL gross turun 4,78 persen turun menjadi 4,33 persen. NPL nett dari 2,1 persen menjadi 1,78 persen.

Dana Pihak Ketiga (DPK) relatif stabil, tapi sedikit menurun menjadi Rp1.466,2 triliun. Akibatnya, loan to deposito ratio (LDR) menjadi meningkat 73,7 persen.

Fungsi intermediasi perbankan meningkat dilihat dari pertumbuhan kredit Maret 2008 Rp 34,2 triliun menjadi Rp1.080,1 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR), juga masih di atas ketetapan Basel II.

Walaupun kondisi ekonomi dunia masih bergejolak, namun nampaknya perbankan di kawasan Asia dan juga Indonesia masih bisa bertahan untuk menunjukkan kinerja yang baik. Walaupun penurunan pertumbuhan keuntungan menurun, namun kondisi perbankan di Indonesia saat ini dinilai masih baik karena hampir semua indikator kinerja perbankan masih positif sampai kwartal I 2008. Memang pertumbuhan keuntungan melambat dan diperkirakan laba perbankan selama tahun 2008 tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
Related Topics
HOME            Laporan Utama           Fokus           Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.