INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Agustust 2008
FOKUS
DEFISIT NERACA PERDAGANGAN GOYAHKAN PASAR MODAL
Neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2008 dilaporkan defisit karena nilai impor lebih tinggi daripada nilai ekspor. Pada bulan Juli, nilai impor sebesar 12,82 miliar dollar AS, sedangkan ekspor senilai 12,55 miliar dollar AS. Ini terjadi karena realisasi ekspor produk unggulan Indonesia, terutama minyak sawit mentah (CPO) anjlok, sementara realisasi impor bahan baku industri meningkat. Dengan demikian selama bulan juli tercatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 270 juta
Neraca perdagangan juga pernah negatif pada April 2008 saat nilai ekspor hanya mencapai 10,97 miliar dollar AS, lebih rendah dibandingkan dengan impornya sebesar 11,5 miliar dollar AS.
Harga komoditi primer mulai menurun
Penyebab utama terjadinya defisit neraca perdagangan pada bulan Juli karena turunnya nilai ekspor CPO. Ekspor CPO pada Juni 2008 masih 2,06 miliar dollar AS. Akan tetapi, pada bulan Juli, ekspor CPO anjlok menjadi hanya 581 juta dollar AS. Pada bulan Juli 2008, Pemerintah mulai mengenakan pajak ekspor CPO sebesar 20 persen. Selain itu terjadi kesulitan dalam pengapalan CPO.
Menurut Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, ekspor CPO akan meningkat kembali pada bulan Agustus 2008 karena pajak ekspor CPO telah diturunkan menjadi 15%. Pada bulan Juli banyak eksportir yang menunda ekspor CPOnya guna mengantisipasi penurunan pajak ekspor yang mulai berlaku bulan Agustus 2008.
Walaupun neraca yang defisit memang hanya untuk neraca perdagangan bulan Juli dan April saja. Namun, jika kondisi ini terus berlangsung dalam jangka panjang dikhawatirkan neraca perdagangan tahunan bisa terkena dampaknya
Defisit neraca perdagangan oleh sebagian pengamat ekonomi dianggap sebagai peringatan akan menurunnya daya tahan ekonomi, karena selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berkembang selain karena pertumbuhan sektor konsumsi juga karena ditopang oleh pertumbuhan ekspor yang cukup pesat. Apalagi sebagian besar ekspor yang meningkat cukup tinggi tersebut adalah komoditi priimer yang kandungan impornya rendah atau bahkan tidak ada, sehingga selama ini neraca perdagangan selalu surplus.
Defisit neraca perdagangan yang terjadi dianggap tanda bahaya bahwa pertumbuhan ekspor sudah mulai mencapai batasnya. Sehingga bahaya terhadap ekonomi nasional bisa makin parah jika harga berbagai komoditi primer mulai menurun.
Semenjak dua bulan terakhir harga minyak bumi terus melemah. Setelah mencapai puncaknya sebesar US$ 147,27 per barel pada tanggal 11 Juli 2008 yang lalu harga minyak bumi terus melemah sehingga mendekati harga US$ 105 per barel di akhir bulan Agustus 2008. Penurunan harga minyak juga telah menarik harga komoditi primer lainnya untuk menurun. Semantara itu Dollar AS juga mulai menguat sehingga banyak spekulan yang kembali berinvestasi pada US Dolar dan mulai meninggalkan investasinya di perdagangan komoditi.
Turunnya harga minyak juga diperkirakan masih akan terus berlanjut melewati level psikologis US$ 100 per barel, karena para produsen minyak OPEC pun tidak ingin melihat harga minyak terlalu tinggi, sehingga tidak berusaha mengurangi tingkat produksi ketika saat ini terjadi penurunan harga minyak.
Penurunan harga minyak bumi dalam beberapa bulan terakhir ini telah menyeret harga CPO menurun. Harga komoditas CPO pada pertengahan Agustus 2008 di bursa berjangka Malaysia kembali turun drastis 8,7% di level 2.392 ringgit per metrik ton. Itu level terendah sejak Mei 2008.
Dengan turunnya harga minyak bumi, maka harga minyak nabati yang menjadi substitusi minyak kelapa sawit juga menurun. Akibatnya penggunaan CPO sebagai substitusi minyak kedelai juga merosot seiring turunnya harga minyak nabati. Konsumen minyak nabati kini banyak yang kembali lagi menggunakan minyak kedelai untuk minyak nabatinya yang sebelumnya mengganti dengan minyak kelapa sawit.
Turunya harga minyak sawit ini telah menyeret harga saham beberapa produsen CPO menurun pada bulan Agustus 2008. Misalnya, saham PT Astra Agro lestari Tbk (AALI), perusahaan produsen CPO terbesar, terpuruk 1.100 poin menjadi Rp 16.600. Saham PT London Sumatera Tbk (LSIP) ikut terjungkal 550 poin menjadi Rp 5.900.
Penurunan harga saham tidak hanya terjadi pada emiten di bidang kelapa sawit, namun juga dialami oleh emiten di bidang pertambangan dan komoditi primer lainnya. Menurut beberapa analis pasar modal penurunan ini erat kaitannya dengan kekhawatiran defisit neraca perdagangan terus berlanjut.
Selain harga Minyak Sawit, beberapa jenis harga bahan tambang dari Indonesia juga menurun seperti nikel. Harga nikel turun ke level terendah selama bulan Mei 2008 di London ketika perusahaan baja memangkas pembelian mereka Harga nikel turun $920 menjadi $27.600 per metric ton pada pertengahan Mei 2008,
Namun tidak seluruh barang tambang harganya turun. Harga timah melonjak tajam, karena Pemerintah Indonesia berencana membatasi ekspor Timah. Akibatnya harga timah naik $600 menjadi $24.600 per ton atau naik 2,5 persen mendekari rekor tertinggi yang terjadi pada 24 april di level $24,602 per ton.
Diperkirakan harga komoditas primer ini akan berfluktuasi dalam beberapa bulan mendatang sehingga akan memberi dampak kepada kinerja ekspor Indonesia.
Neraca perdagangan bisa surplus kembali
Namun kekhawatiran defisit neraca perdagangan yang terjadi pada bulan Juli 2008 akan terus beranjut dan menggoyahkan ketahanan ekonomi Indonesia, dianggap terlalu berlebihan oleh beberapa kalangan termasuk Menteri Perdagangan.
Jika diteliti lebih lanjut kenaikan impor dalam beberapa bulan terakhir terjadi karena peningkatan impor barang modal dan bahan baku. Terutama impor bahan baku selama tahun 2008 terus meningkat. Pada bulan Mei 2008 impor bahan baku mencapai US$ 9319,2 juta, maka pada bulan Juli impor bahan baku meningkat menjadi US$ ... juta.
Kenaikan impor bahan baku ini menunjukkan terjadi kenaikan aktivitas dari sektor industri yang masih membutuhkan bahan baku dari impor. Dengan demikian diperkirakan industri manufaktur akan bisa bangkit kembali. Karena banyak industri di Indonesia yang berorientasi ekspor, maka bertambahnya kegiatan industri pada gilirannya akan bisa meningkatkan kegiatan ekspor non migas dari sektor industri manufaktur.
Selain kenaikan impor bahan baku, sebenarnya indikasi mulai bergairahnya kembali sektor industri dapat dilihat oleh meningkatnya realisasi penanaman modal asing di sektor industri manufaktur sejak tahun 2007 yang lalu. Diperkirakan sebagian proyek investasi itu sudah mulai beroperasi pada tahun 2008 dan memberikan kontribusi terhadap ekspor non migas indonesia.
Sektor industri yang menonjol peningkatan investasinya adalah sektor industri kimia dan farmasi. Pada tahun 2007 tercatat realisasi investasi sektor tersebut mencapai US$ 1.611,7 juta, padahal pada tahun 2006 hanya mencapai US$ 264,6 juta.
Harapan bahwa neraca perdagangan akan surplus kembali tidaklah berlebihan karena peluang ekspor Indonesia masih terbuka. Apabila sektor Industri manufaktur bisa bergairah kembali maka peluang untuk meningkatkan ekspor semakin tinggi, karena masih banyak komodii ekspor industri dari Indonesia yang mempunyai daya saing yang tinggi, seperti produk dari karet, industri pulp, dan industri kendaraan bermotor.
Pihak perbankan juga mulai berani membiayai sektor industri manufaktur terlihat dengan makin tingginya penyaluran kredit untuk modal kerja bagi sektor industri manufaktur.