2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
PERKEMBANGAN SISTIM BANK SYARIAH DI INDONESIA
Februari 2009


<<Halaman Sebelumnya                 Berikutnya>>

Bisnis bank syariah semakin marak

Bank BUMN lainnya yaitu Bank BNI masih mempersiapkan pendirian bank umum syariah baru  melalui spin off (melepaskan) unit usaha syariahnya.  Saat ini Bank BNI sedang melakukan proses legal draf. Nantinya setelah proses spin off selesai,  Islamic Corporation for The Private Sector (ICD) akan masuk ke bank syariah tersebut. BNI  dan ICD telah menandatangani nota kesepakatan dengan pembagian saham masing-masing ICD (60%) dan BNI (40%). Untuk tahap awal, rencananya total modal setelah masuknya ICD sebesar US$ 250 juta.  Setelah tiga tahun berjalan, modal akan ditambah US$ 250 juta, sehingga menjadi US$ 500 juta. Sementara itu, saat ini UUS BNI memiliki ekuitas sekitar Rp 400 miliar dan terdapat aset berjalan senilai Rp 300 miliar yang bisa diubah menjadi ekuitas.

Meskipun dampak krisis masih membayangi sector keuangan, tapi tahun 2009 ini diperkirakan akan ada beberapa pemain baru dalam bisnia bank syariah. Mereka akan mendirikan bank baru atau mengakuisisi salah satu bank nasional. Beberapa investor asing telah memberikan komitmen untuk mendirikan bank umum syariah di Indonesia, diantaranya adalah Albaraka Banking Group dan Qatar Islamic Bank.

Selain itu, ada salah satu investor dari Oman akan membuka bank syariah baru  tanpa melalui proses mengakuisisi bank lokal terlebih dahulu, dengan investasi kurang lebih Rp 1 triliun.

Pada 2009 ini sejumlah bank swasta local juga akan mendirikan bank  umum syariah baru.  BCA akan mengoperasikan bank umum syariah setelah mengakuisisi Bank UIB dengan nilai Rp 248,3 miliar pada Februari 2009. Konversi Bank UIB menjadi bank syariah akan diselesaikan sekitar setahun, sehingga paling cepat baru dapat beroperasi pada akhir tahun ini. Menurut rencana investor Malaysia dan Timur Tengah akan menjadi mitra strategis. Bank UIB memiliki 12 kantor yang terdiri dari 5 kantor cabang dan 7 kantor kas. Bank UIB memiliki total set sebesar Rp 665,8 miliar per Juni 2008.  

PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) akan membentuk unit usaha syariah pasca merger dengan PT Lippo Bank Tbk. Unit usaha tersebut ditargetkan dapat menjadi salah satu lini bisnis andalan di bidang syariah bagi bank tersebut.

PT Bank Eksekutif Tbk (BE) berencana membuka unit usaha syariah pada tahun 2008 ini. Daerah yang dibidik perseroan untuk tahap pertama di Nanggroe Aceh Darussalam. Rencana membuka unit usaha syariah itu merupakan bagian dari rencana ekspansi BE yang pada 2008 ini menambah 4 kantor cabang baru di Aceh, Yogyakarta, Pekanbaru dan Banjarmasin, ditambah 1 kantor cabang pembantu di Medan. Untuk membuka kantor cabang kira-kira membutuhkan Rp 4 miliar per kantor cabang.

Selain itu, masih akan ada lima BUS baru yaitu Bank Harfa yang sudah diakuisisi oleh Panin Bank akan dikonversi menjadi BUS.  Bank Panin mengakuisisi 100 persen saham Bank Harfa, yang berbasis di Surabaya dengan nilai Rp 50 miliar. Investasi ini bertujuan meningkatkan kinerja Panin Bank  dan mendukung perkembangan usaha, jaringan pelayanan, dan diversifikasi produk, termasuk produk syariah. Jumlah saham yang dibeli 10 ribu lembar yang ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp 5 juta per lembar, sehingga seluruhnya berjumlah Rp 50 miliar.

Menurut informasi, satu bank swasta lainnya yaitu Bank Victoria juga akan mendirikan BUS.

Bank ABN Amro Indonesia akan membuka unit usaha syariahnya (UUS) pada kuartal III 2008. Pihak ABN Amro menyatakan tidak ada perubahan maupun penghentian proses pembentukan UUS pada 2008 terkait dengan akuisisi Royal Bank Of Scotland (RBS) pada Oktober 2007 dan kemungkinan adanya pencitraan baru sehubungan dengan akuisisi tersebut pada tahun ini.

Selain itu bank asing yang akan mendirikan UUS yaitu HSBC. Bank yang berbasis di London tersebut mendirikan UUSnya yang dinamai HSBC Amanah. Selain itu, Standard Chartered Bank juga berencana akan mendirikan UUS pada tahun ini.

Profil Pemain utama

Bank Muamalat Indonesia (BMI)

BMI didirikan pada 1991 dan mulai beroperasi pada 1992. Bank Muamalat merupakan bank pertama murni syariah yang sebagian sahamnya dimiliki IDB (Bank Pembangunan Islam) yang senantiasa memperoleh rating AAA dari Moody's dan Standard&Poors. Selain dimiliki IDB sebagai major shareholder, Muamalat juga dimiliki oleh MUI dan lebih dari 800.000 pemegang saham lembaga dan perorangan muslim.

Sepanjang 2008, BMI telah membuka 37 kantor layanan baru di Indonesia dan Malaysia serta meluaskan layanan shar-e pada jaringan real time online Sistem Online Payment Point (SOPP) di 3600 kantor pos di seluruh Indonesia.  Dari 37 kantor layanan baru, diantaranya delapan buah yang telah beroperasi antara lain di Medan, Surabaya dan Kuala Lumpur, sedangkan sisanya tersebar di 29 lokasi yang berada di Mamuju, Sulawesi Barat (melengkapi 33 propinsi seluruh Indonesia), Cilegon dan wilayah Jakarta (27 Kantor).

Sedangkan tahun ini BMI akan menambah lagi 70 cabang lainnya. Dengan demikian BMI akan meningkatkan jumlah jaringan kantor dari 224 pada tahun 2008 menjadi 325 kantor yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia dan Malaysia.

Investasi peningkatan jaringan kantor pada tahun 2008 tidak mengurangi target profit 2008, bahkan terlampaui, yaitu sebesar Rp. 300 miliar dari target 277 miliar. Hal ini menjadikan Return on Equity (RoE) meningkat dari pencapaian 23% pada tahun 2007 menjadi 40% pada akhir Desember 2008.

Pertumbuhan RoE dan RoA tersebut juga diikuti pertumbuhan Aset sebesar 20% atau meningkat dari Rp. 10,57 trilliun pada tahun 2007 menjadi Rp. 12,67 Trilliun pada tahun 2008. Selain itu, Muamalat juga menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 16% dari Rp. 8,69 trilliun pada tahun 2007 menjadi Rp. 10,07 trilliun pada tahun 2008. Pertumbuhan tersebut juga dialami oleh pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 22% dari Rp. 8,62 trilliun di 2007 menjadi Rp. 10,48 trilliun di 2008. Yang menarik adalah pertumbuhan pembiayaan tersebut dibarengi dengan peningkatan dukungan kepada sektor riil dengan rasio FDR 104% namun dengan rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing-NPF) yang masih terjaga di level 3,8%.

Pada  2008 lalu, pertumbuhan customer base BMI sebagian besar berasal dari nasabah Shar-E. Per Akhir Desember 2008, nasabah Shar-E telah mencapai 1,8 juta atau naik 50% dibanding 1,2 juta pada akhir 2007.

Pertumbuhan nasabah  didukung oleh upaya perluasan jaringan kantor Bank Muamalat di seluruh Indonesia. Hingga pertengahan Desember 2008, Bank Muamalat telah mengoperasikan 223 cabang dari total 3.723 konter di seluruh Indonesia.

Pada 2007 konsorsium BMI bersama BNI Syariah dan International Leasing and Investment Company (ILIC) membentuk memberikan fasilitas kredit kepada PT Trigana Air Service (TGA) sebesar Rp150 miliar. Komposisi pembiayaan terdiri dari BMI sebesar Rp 15 miliar, BNI Syariah sekitar Rp 50 miliar dan ILIC sebesar Rp 85 miliar. Bertindak selaku arranger adalah BMI dan Al-Ijarah Agent BMI. Pemberian fasilitas kredit ini merupakan yang pertama kali bagi BMI  kepada perusahaan yang bergerak di bidang angkutan kapal udara.

Trigana adalah perusahan penerbangan swasta yang beroperasi di wilayah Timur Indonesia. Investasi tersebut untuk meningkatkan kapasitas operasionalnya di Papua dan Kupang (Nusa Tenggara Timur). Fasilitas kredit tersebut  digunakan untuk membeli dua pesawat terbang dengan kapasitas 72 orang dan masa pengembalian selama lima tahun dengan bunga sebesar 15% per tahun. Pemberian fasilitas kredit ini merupakan yang pertama kali bagi BMI  kepada perusahaan yang bergerak di bidang angkutan kapal udara.

Pada 2008 lalu, BMI mendirikan anak perusahaan bernama First Islamic Investment Bank Ltd (FIIB) yang bergerak di bidang investment bank.  Untuk modal awal, BMI mengucurkan dana senilai US$10 juta atau sekitar Rp92,5 miliar. Jumlah itu akan ditambah bertahap hingga US$100 juta atau sekitar US$925 miliar. Investasi awal akan dipakai untuk membangun infrastruktur perusahaan, yakni sewa gedung dan pembangunan sistem IT. Jumlahnya mencapai US$1 juta atau sekitar Rp9,25 miliar.

Sejauh ini, BMI telah memperoleh letter of content dari Bank Indonesia (BI) dan Labuan Offshore Financial Services Authority di Malaysia Timur. Menurut rencana, investment bank tersebut akan berkantor pusat di Kuala Lumpur. Labuan merupakan salah satu kota di Malaysia yang telah dikenal investor asing. Dipilihnya Malaysia sebab di negara tersebut pajaknya relatif rendah. Bank syariah baru tersebut berorientasi pada sektor equity financing  berjangka waktu menengah dan panjang atau 5-10 tahun. Selain equity financing, FIIB akan memberikan layanan pembiayaan melalui surat utang (debt financing), dan penasehat keuangan (financial advisory).

FIIB akan membiayai sektor infrastruktur di Indonesia. Mekanismenya dana yang diperoleh dari investor di Malaysia disalurkan untuk membiayai proyek infrastruktur itu.

Dengan total asset sebesar Rp 12,1 triliun per Sepetmeber 2008, BMI merupakan bank kedua terbesar setelah BSM. BMI menguasai 24,4% pangsa pasar bank syariah nasional.

Bank Syariah Mandiri

Pada 1999 PT. Bank Mandiri mengambil alih PT. Bank Susila Bakti yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT. Bank Dagang Negara dan PT. Mahkota Prestasi. Kemudian Bank Mandiri mengkonversi PT. Bank Susila Bakti menjadi bank syariah dengan nama PT. Bank Syariah Mandiri (BSM).

BSM menjadi agen penjual untuk sukuk Ritel Indonesia edisi perdana atau SR 001 dalam upaya mencari dana murah masyarakat luas. Dengan berpartisipasi BSM sebagai agen penjual sukuk, maka BSM ikut berperan dalam pembangunan ekonomi bangsa melalui instrumen investasi syariah. Dengan menjadi agen penjualan SR 001, maka produk itu bisa diakses nasabah di BSM. BSM juga terus mengembangkan produk tabungan kepada nasabah. Salah satunya adalah Tabungan BSM mobile banking berbasis GPRS dan pembayaran premi Asuransi Takaful. Layanan ini memberi kemudahan bagi nasabah dalam melakukan transaksi perbankan seperti cek saldo, cek transaksi terakhir hingga transfer antarbank real time. Selain itu dapat membayar premi asuransi Takaful melalui ponsel.

Produk lain yang ditawarkan BSM adalah BSM net banking berupa layanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi perbankan melalui internet, Transfer D.U.I.T yang memungkinkan pengiriman uang dari luar negeri ke Indonesia dan untuk layanan ini menjalin kerjasama dengan Merchentrade Asia (MTA) Malaysia. Selain itu pembiayaan pensiunan dan tabungan pensiunan.

Disamping itu, BSM juga menawarkan produk terbaru yaitu  tabungan emas. Nasabah atau calon nasabah yang akan menabung tidak perlu membawa emas ke kantor BSM. Cukup membuka rekening dan menyetor sejumlah uang. Setoran itu langsung dikonversikan dengan harga emas saat itu. Sehingga  yang tertera di buku tabungan bukan saldo rupiah, tapi, jumlah emas yang ditabung. Jika suatu saat nasabah butuh dana,  nasabah bisa mengajukan kredit dengan jaminan tabungan emas. Nilai permohonan kredit bisa mencapai 85% dari total tabungan emas yang dikonversikan dengan harga emas pada waktu kredit dikabulkan. Dalam satu hari dapat segera kredit cair.

Dengan total aset mencapai Rp 16,5 triliun, saat ini BSM merupakan banks syariah terbesar dengan pangsa 33,3.% dari total asset bank syariah nasional. Saat ini BSM memiliki 292 kantor yang tersebar di 24 provinsi, yang terdiri dari 57 kantor cabang, 58 kantor cabang pembantu, 67 kantor kas, dan 46 KLS, dan 35 payment point dan lain-lain. Seluruh layanan BSM di seluruh kantor terhubung secara online dengan jaringan ATM yang tersebar di mana-mana seperti ATM Bersama, ATM Mandiri, dan ATM Prima. Khusus transaksi di ATM Mandiri tidak dikenakan biaya administrasi.

Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI)

Para Group yang terdiri dari PT. Para Global Investindo dan PT. Para Rekan Investama milik pengusaha Chairul Tanjung mengakuisisi PT Bank Umum Tugu pada 2001 untuk dikembangkan menjadi bank syariah. Hasil konversi tersebut, pada 25 Agustus 2004 PT. Bank Umum Tugu resmi beroperasi sebagai bank syariah dengan nama PT. Bank Syariah Mega Indonesia.
PT Para Global Investindo telah menyetorkan modal tambahan sebesar Rp. 50 miliar pada tahun 2006.

BSMI mendongkrak  pendapatan dari fee based yang merupakan salah satu pendapatan yang menggiurkan dari pelayanan perbankan. Bank Mega Syariah targetkan pendapatan dari fee based sebesar Rp 20 miliar hingga akhir tahun 2008. Hingga akhir Mei pendapatan Bank Mega Syariah dari fee based mencapai Rp 9 miliar. Salah satu untuk mengejar target tersebut Bank Mega Syariah melakukan kerjasama dengan Telkom dalam jasa pembayaran telekomunikasi. Untuk fee based BSMI bekerjasama dengan Telkom, Indosat, Telkomsel dan PLN, akhir 2008 targetkan bisa mencapai Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar, sampai posisi bulai Mei itu sudah setengahnya yaitu Rp 9 miliar.

BSMI juga menargetkan penyaluran pembiayaan sektor telekomunikasi hingga akhir tahun mencapai Rp  400 miliar, bahkan hingga akhir Mei pencapaiannya sudah sebesar Rp 200 miliar. BSMI cukup fokus dalam pembiayaan sektor telekomunikasi, dimana hampir 20% pembiayaannya di salurkan kesektor ini. Selain itu juga ada sektor lain seperti pertambangan, industri kertas, infrastruktur dan lain-lain.

Tahun 2007 BSMI  melakukan pembiayaan sebesar Rp 150 miliar untuk bidang telekomunikasi, untuk wilayah Jawa Tengah sebesar Rp 75 miliar termasuk provider dari Telkom dan untuk wilayah Indonesia Timur sebesar Rp 75 miliar,
Bank Mega Syariah, misalnya. Fokus pada ekspansi kantor cabang hingga mencapai 200 unit pada akhir 2008. Tak hanya di Jawa, tapi menyebar ke  Sumatra dan Sulawesi.

BSMI berencana menerbitkan obligasi subordinasi syariah (sukuk) sebesar Rp300 miliar- Rp500 miliar pada semester II/2009 untuk menambah kecukupan modal dan meningkatkan kapasitas pembiayaan. BSMI tahun ini menargetkan pembiayaan baru hingga Rp2,4 triliun menyusul dibukanya beberapa kantor cabang baru, hingga kini menjadi 230 unit.

Posisi pembiayaan perseroan pada akhir 2008 lalu sebesar Rp2,1 triliun atau meningkat sekitar Rp300 miliar dibandingkan dengan 2007. Peningkatan ini didorong oleh pengucuran pembiayaan segmen UMKM. Hingga kini BSMI telah menyalurkan pembiayaan kepada 40.000 nasabah yang sebagian besar berasal dari UMKM.

Total asset sebesar Rp3,1 triliun pada 2008, naik 22% dibandingkan dengan akhir 2007. Posisi dana pihak ketiga juga meningkat dari Rp2,1 triliun menjadi Rp2,64 triliun pada 2008. Dengan total asset sebesar Rp 3,1 triliun pada 2008, BSMI meraih pangsa sebesar 6,2% dari total asset perbankan syaraih nasional. 

Pada 2009 ini BSMI menargetkan aset berkembang menjadi sekitar Rp6 triliun. Demikian pula dengan dana pihak ketiga yang diharapkan menembus Rp5,8 triliun tahun ini.

BSMI  terus memperluas jaringan dan menambah beberapa kantor cabang baik di Jakara, Bandung, Semarang, Surabaya, Kediri dan kota-kota lainnya. BSMI juga bekerjasama dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis sebagai penyelenggara ATM Bersama dan PT. Rintis Sejahtera sebagai penyelenggara ATM Prima dan Prima Debit sehingga memudahkan nasabah melakukan berbagai transaksi.

Pada 2009 ini BSMI merencanakan akan menambah lagi sebanyak 170 cabang di seluruh Indonesia.
.

Persaingan dan strategi pemasaran

<<Halaman Sebelumnya                 Berikutnya>>
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE REPORT

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.