2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDOMOBIL SIAPKAN RP 120 MILIAR UNTUK EKSPANSI PEMASARAN NISSAN. PT Indomobil Internasional Tbk diperkirakan menanamkan modal sekitar Rp 120 miliar untuk membangun enam outlet baru Nissan pada tahun ini seiring dengan rencana ekspansi jaringan penjualan dan layanan purnajual menjadi lebih dari 80 unit pada 2013. Presiden Direktur Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata mengatakan perusahaan akan terus memacu ekspansi jaringan penjualan dan layanan purnajual Nissan di Indonesia dan pengembangan network. Saat ini, Indomobil mengantongi 25% saham di PT Nissan Motor Indonesia (NIM) selaku agen tunggal pemegang merek Nissan di Indonesia. Adapun porsi saham terbesar yakni 75% digenggam oleh prinsipal Nissan Motor Company Ltd.  Gunadi menegaskan rata-rata investasi yang dibutuhkan untuk satu outlet baru saat ini sekitar Rp 20 miliar. Dengan angka tersebut, total dana yang dikucurkan Indomobil Group untuk ekspansi jaringan Nissan pada 2010 sebesar Rp 120 miliar. Sedangkan dalam strategi jangka panjangnya, Indomobil Group akan memperluas jaringan outlet dari 46 unit saat ini menjadi lebih dari 80 unit dengan asumsi nilai investasi rata-rata Rp 20 miliar per outlet, maka total investasi yang ditanamkan untuk membangun 34 outlet baru selama 3 tahun ke depan mencapai Rp 680 miliar.

SATMARINDO BANGUN PABRIK PENGOLAHAN SAWIT. Satmarindo Group (SG), kelompok usaha yang menaungi bisnis konstruksi, infrastruktur, manufaktur, pertambangan dan energi, akan berinvestasi di sektor perkebunan sawit dan terminal elpiji dengan investasi mencapai US$ 530 juta. Melalui salah satu anak usahanya, yakni PT Satmarindo, SG berencana membangun pabrik pengolahan kelapa sawit yang terintegrasi dengan perkebunan sawit. Nilai investasi proyek ini ditaksir lebih dari US$ 180 juta dan perseroan berencana mengembangkan usaha ini di Poso, Sulawesi Tengah. Komisaris Utama Satmarindo Grup Suryo B. Sulisto mengatakan pihaknya telah menyiapkan lahan untuk industri pengolahan kelapa sawit seluas 60.000 hektare. Selain itu, anak usaha SG Grup lainnya PT Banten Energy Terminal (BET) menyiapkan dana sekitar US$ 350 juta untuk membangun terminal gas alam cair (liquefied petroleum gas) di Mangunreja, Bojonegara, Serang, Banten. Fasilitas penyimpanan elpiji itu akan dibangun secara terintegrasi dan dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dasar, seperti pelabuhan, listrik dan air bersih.

BERAU COAL AKUISISI MAPLE US$ 200 JUTA. Produsen batu bara PT Berau Coal Energy Tbk akan melepas 7 miliar lembar saham (setara 18,18%), atau setara dengan Rp 2,24 triliun berdasarkan laporan keuangan per 28 Februari 2010 yang nilai aset perseroan tercatat Rp 12,35 triliun, pada pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO). Berdasarkan prospektus yang dirilis, Berau Coal menunjuk PT  Danatama Makmur dan PT Recapital Securities sebagai penjamin pelaksana emisi pencatatan saham perdananya dengan nilai nominalnya dipatok Rp 100 per lembar. Adapun, dana  dari hasil IPO itu, setelah dikurangi dengan biaya emisi, sebanyak 8% akan digunakan untuk membiayai akuisisi seluruh saham Maple Holding Limited, sedangkan 92% akan digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan. Maple Holding adalah perusahaan yang bergerak di bidang usaha agen pemasaran batu bara dan sahamnya dimiliki Regulus International Pte Ltd melalui anak perusahaan, yakni Seacoast Offsehore Inc. Selain itu, Maple mempunyai perjanjian dengan Berau Coal pada 30 Desember 2009 yang memiliki jangka waktu 10 tahun. Dalam perjanjian tersebut Maple memiliki  hak ekslusif untuk memasarkan batu bara Berau Coal untuk wilayah di luar Jepang.

AHM NAIKKAN KAPASITAS PRODUKSI. PT Astra Honda Motor (AHM) produsen dam pemasar motor merek Honda, berencana menaikkan kembali kapasitas produksi menjadi 4 juta unit per tahun dengan rencana investasi sebesar Rp 760 miliar, seiring dengan pertumbuhan pasar motor nasional yang terus bergerak naik. Langkah ekspansi kapasitas di lini pabrik ini diyakini bakal memperkuat posisi Honda dalam persaingan di pasar kendaraan sepeda motor nasional yang saat ini kapasitas pabrik Motor Honda sebesar 3,5 juta unit per tahun. Peningkatan kapasitas Honda dilakukan untuk mendongkrak produksi skuter otomatik (skutik) di pabrik Cikarang, Jawa Barat. Kapasitas yang belum maksimal untuk type skutik setidaknya menjadi salah satu kendala Honda untuk menghadang laju Yamaha yang saat ini memimpin pasar skutik. Sementara itu, Yamaha telah mengumumkan penambahan kapasitas produksi secara bertahap dari 3 juta unit menjadi 3,5 juta unit mulai tahun depan. Saat ini tingkat produksi skutik AHM mencapai 150.000 unit per bulan. Sebelumnya PT Astra International Tbk (AI) selaku induk perusahaan AHM telah menyatakan Honda motor menaikkan kapasitas produksinya menjadi 3,5 juta dari posisi 3 juta unit per tahun, efektif mulai pertengahan tahun ini. Untuk merealisasikan ini, AHM menggelontorkan dana sebesar US$ 30 juta.

TIGA PABRIK BAJA INVESTASI US$ 485 JUTA. Tiga perusahaan mulai merealisasikan investasi di industri hulu baja berbasis pengolahan billet, besi spons, dan baja canai panas di Kalimantan Selatan serta Cilegon, Banten, dengan total investasi US$ 485 juta. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Mandan Steel, PT Meratus Jaya Iron and Steel (Meratus Jaya), dan PT Krakatau Steel (Persero). Khusus Krakatau Steel, BUMN ini akan meningkatkan produksi baja canai panas (hot rolled coils/HRC) melalui restrukturisasi internal. Mandan Steel yang merupakan anak usaha China Nickel Resources Holding Co berinvestasi di pabrik billet senilai US$ 220 juta, sedangkan Meratus Jaya berinvestasi di pabrik besi spons sebesar US$ 65 juta. Direktur Industri Logam Kemenperin I Putu Suryawirawan mengatakan untuk memproduksi billet Mandan Steel telah mendapatkan komitmen kepastian bahan baku berupa bijih besi dari perusahaan tambang lokal, yakni PT Yiwan Mining dan PT Sebuku Iron Lateritic Ore (Silo) sebanyak 1 juta - 2,5 juta ton per tahun. Selain Mandan, Meratus Jaya juga menyelesaikan pembangunan pabrik direct-reduced iron atau besi spons (sponge iron) berkapasitas 315.000 ton per tahun di Kalimantan Selatan. Selain itu, pada tahun ini KS akan berkonsentrasi menuntaskan proyek restrukturisasi internal guna mendongkrak kapasitas produksi di sektor antara (midstream). Proses restrukturisasi ini meliputi kegiatan modernisasi fasilitas produksi terutama yang berada di kawasan industri baja Cilegon, Banten. Modernisasi ini menelan investasi sebesar US$ 200 juta mencakup peningkatan fasilitas produksi hot strip mill (HSM) guna menambah kapasitas produksi HRC dari 2 juta ton menjadi 2,4 juta ton per tahun. HSM sendiri merupakan fasilitas produksi baja lembaran, khususnya untuk HRC.

INDONESIA JADI BASIS INDUSTRI OPTIK SANYO. Sanyo Electric Co. Ltd, raksasa elektronik asal Jepang, menjadikan Indonesia sebagai basis produksi optical pick up terbesar di dunia dengan merelokasikan pabrik dari China. Optical pick up merupakan komponen utama dari optical disc drive, seperti blue ray disc recorder, DVD players, dan komputer CD/DVD drive. Direktur Pelaksana PT Sanyo Jaya Component Indonesia Koshiro Kitagawa mengungkapkan kapasitas produksi optical pick up di Indonesia akan ditingkatkan menjadi 45% pada tahun depan. Menurut Koshiro, Sanyo menyiapkan investasi sebesar US$ 36 juta untuk meningkatkan produksi optical pick up tersebut. Pada 2011, perusahan itu juga akan menyiapkan investasi baru sekitar US$ 80 juta, menyusul investasi US$ 100 juta pada tahun ini. Investasi pada tahun depan dialokasikan untuk mengembangkan lini produksi oprical pick up, kapasitor, dan kamera digital. Dia mengatakan investasi pada 2011 yang dilakukan Sanyo untuk mengimbangi permintaan terhadap produk dari pabrik Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

PT GUNAWAN INVESTASI US$ 120 JUTA. Produsen pelat baja canai panas PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk berencana menambah kapasitas produksi terpasang sebesar 22,22% menjadi 550.000 ton per tahun dari sebelumnya 450.000 ton per tahun dengan manganggarkan dana sebesar US$ 120 juta. Direktur dan Corporate Secretary Gunawan Dianjaya Hadi Sutjipto mengatakan sumber pendanaan penambahan produksi terpasang yang ditargetkan selesai pada 2013 berasal dari operasional perseroan. Hadi menjelaskan penjualan plate baja Gunawan Dianjaya 70% untuk ekspor dan 30% untuk kebutuhan dalam negeri. Adapun, persentase penjualan ekspor yaitu 20% ke Malaysia, 40% ke Singapura dan sisanya ke Eropa. Sedangkan 80% permintaan domestik berasal dari Jakarta. Menurutnya komposisi 70% ekspor dan 30% domestik itu ditempuh karena 100% bahan baku slab (bijih besi yang dicampur scrab) diimpor dari Ukraina, Rusia dan Brazil.Saat ini dengan meningkatnya permintaan pasar mendorong perseroan untuk meningkatkan produksi pelat baja. Permintaan ekspor perseroan naik 23,4% pada semester pertama tahun ini menjadi Rp 538 miliar dari periode sama tahun lalu Rp 43 miliar. Sedangkan penjualan bersih yang dicatatkan semester I/2010 naik 7,6% dari sebelumnya Rp 830 miliar menjadi Rp 893 miliar. Namun, penjualan dalam negeri pada semester I/2010 turun 3,38% menjadi Rp 355 miliar dari semester pertama tahun sebelumny Rp 367 milliar.

BUKIT ASAM EKSPANSI US$ 2 MILIAR. BUMN tambang PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk mengalokasikan US$ 2 miliar atau setara dengan Rp 18 triliun yang akan dialokasikan secara bertahap guna mendanai sejumlah ekspansinya sampai 2011. Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Achamd Sudarto mengatakan dari total dana ekspansi tersebut, bagian yang terbesar adalah rencana penambahan saham dari 10% ke 30% ke PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR) senilai US$ 1,5 miliar. Saham BATR dimiliki Bukit Asam (10%), PT Transpacific Railway Infrastructure (80%), dan China Railway Engineering Corporation (10%). Opsi penambahan saham hingga 30% bagi Bukit Asam muncul April lalu, setelah Grup Rajawali mengakuisisi Transpacific Railway. Selain itu, ekspansi yang lain adalah proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 3x10 megawatt di lokasi tambang Tanjung Enim untuk memenuhi kebutuhan internal dengan investasi sebesar US$ 41,4 juta dan pembangkit ini ditargetkan beroperasi pada semester II/2010. Ekspansi lainnya adalah proyek pembangkit berkapasitas 2x100 megawatt yang ditaksir akan menghabiskan US$ 350 juta. Dari jumlah investasi tersebut, Bukit Asam yang memiliki saham 59% di pembangkit tersebut harus mengeluarkan dana sebesar US$ 60 juta




MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Juli 2010
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.