2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2011


INDUSTRI PASTA GIGI DI INDONESIA


Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil meraih tingkat pertumbuhan ekonomi yang  cukup tinggi pada 2009 hingga 2011, ketika sejumlah negara maju banyak mengalami kontraksi, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% pada 2009 hany a lebih rendah dibandingkan  tingkat pertumbuhan ekonomi di China dan India. Pada 2010, Indonesia mencatat pertumbuhan lebih tinggi yaitu mencapai 6,1% dan pertumbuhan ekonomi ini terus berlanjut pada 2011. 

Pasar domestik yang besar dan kebijakan kehati-hatian yang diterapkan oleh pemerintah dan industri perbankan menyelamatkan negara ini dari dampak krisis keuangan global.

Peningkatan pada permintaan domestic dan daya beli masyarakat pada 2010 mendorong kenaikan inflasi, namun tetap dalam pengendalian. Inflasi tercatat 6,9% pada 2010 dan menjadi lebih rendah pada 2011.

Kekuatan pertumbuah konsumsi domestic didukung oleh pertumbumbuhan kebutuhan barang-barang konsumer termasuk pasta gigi. 

Kapasitas produksi

Industri pasta gigi di Indonesia berkembang cukup pesat dalam tiga tahun terakhir  seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, daya beli masyarakat yang meningkat dan kesadaran akan perawatan gigi yang meningkat.

Menurut data dari Kementrian Perindustrian, kapasitas industri pasta gigi mengalami perkembangan cukup pesat dalam tiga tahun terakhir hingga tahun 2010. Kapasitas produksi pada tahun 2007 masih sebesar 50.000 ton per tahun. Kapasitas ini tumbuh hingga menjadi 92.000 ton per tahun pada tahun 2010.

Penambahan kapasitas produksi yang cukup tinggi terjadi  pada tahun 2008 yang mencapai 30.000 ton per tahun menjadi 80.000 ton per tahun. Pertumbuhan pada tahun-tahun berikutnya tercatat lebih rendah. Pada tahun 2009 tercatat penambahan kapasitas produksi mencapai 5000 ton per tahun menjadi 85.000 ton per tahun, sementara pada tahun 2010 pertumbuhan mencapai 8,2 persen menjadi 92.000 ton per tahun.

Perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat karena bertambahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gigi diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya permintaan  terhadap pasta gigi. Para produsen pun meningkatkan kapasitasnya untuk merespon pertumbuhan permintaan tersebut.

Pemain utama
Jumlah pemain besar dan sedang dalam industri ini mencapai sekitar 15 perusahaan. Di luar pemain tersebut masih terdapat pemain kecil yang hasil produksinya hanya dipasarkan di kota-kota di dekatnya.

Sementara itu, pemain utama memiliki kapasitas produksi yang besar dan produksinya didistribusikan secara nasional. Hanya terdapat sejumlah kecil pemain utama dalam industri ini.

Pemain utama dalam industri ini adalah PT Unilever, Tbk ; PT Ultra Prima Abadi; PT Lion Wings; PT Enzym Bioteknologi Internusa; PT Filma Utama Soap; dan PT Miswak Utama.

Kapasitas produksi pemain terbesar yakni Unilever mencapai 56.500 ton per tahun. Kapasitas produksi ini memperlihatkan dominasi Unilever pada industri ini.

Kapasitas ini jauh di atas beberapa kompetitornya seperti Ultra Prima Abadi dan Lion Wings. Kedua kompetitor ini masing-masing memiliki kapasitas sebesar 14.500 ton per tahun dan 12.500 ton per tahun. Sementara itu, pemain di luar para pemain utama memiliki kapasitas sebesar 2.000 ton per tahun.

Produksi

Sebagai komoditi yang digunakan masyarakat luas, produksi pasta gigi ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan penduduk. Produksi pasta gigi tercatat terus meningkat dalam kurun tahun 2005 hingga tahun 2010.

Perkembangan produksi memiliki pola pertumbuhan yang seirama dengan perkembangan kapasitas produksi. Pada tahun 2008 terjadi lonjakan produksi sekitar 50 persen dari tingkat produksi tahun sebelumnya.

Tingkat produksi pasta gigi pada tahun tersebut mencapai 74,895 ton jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencapai 50.150 ton. Dua tahun berikutnya pertumbuhan masih terjadi meskipun relatif lebih kecil. 

Pertumbuhan produksi pada tahun 2009 hanya mencapai 2 persen dengan volume sebesar 76,393 ton. Pertumbuhan lebih tinggi terjadi pada tahun 2010 dimana mencapai 9,2 persen sehingga lebel produksi nasional menjadi 83,430 ton.

Petumbuhan penduduk menjadi pendorong pertumbuhan permintaan secara organik yang akan terus terjadi bagi para pemain. Para pemain industri ini juga memperluas pasar dengan melakukan edukasi konsumen.

Ekspor

Produksi pasta gigi nasional tidak hanya dipasok ke pasar domestik. Pasar luar negeri juga menjadi target para pemain industri ini. 

Prospek ekspor pasta gigi pun cukup cerah, terlihat dari pertumbuhan volume ekspornya dalam 3 tahun terakhir. Pertumbuhan ekspor ini terjadi setelah pada tahun 2006 dan 2007 mengalami penurunan. Volume ekspor rata-rata pada kurun 2005 hingga 2010 adalah 6.703 ton per tahun.

Pasar ekspor pasta gigi utamanya adalah negara di Asean seperti Malaysia, Singapura, serta Phillipine. Disamping itu, negara-negara di Afrika seperti Uganda dan kenya juga merupakan tujuan utama ekspor pasta gigi.

Setelah sempat tumbuh negatif pada tahun 2006 dan 2007, ekspor kembali meningkat pada tahun 2008 hingga 2010. Tahun 2008 ekspor tumbuh 4,5 persen  dengan volume sebesar 5959 ton.

Dua tahun berikutnya pertumbuhan ekspor lebih tinggi. Tahun 2009 ekspor tumbuh 7,1 persen dengan volume sebesar 6382 ton. Pertumbuhan ekspor tahun 2010 lebih tinggi lagi yakni mencapai 19,1 persen dengan volume sebesar 7603 ton.


Impor terus tumbuh

Meningkatnya kapasitas dan produksi pasta gigi tidak membuat impor komoditi ini melemah. Impor terus terjadi bahkan tumbuh dengan pesat dengan tren positif. 

Pertumbuhan impor rata-rata pada periode 2005 – 2010 cukup tinggi yakni mencapai 29,8 persen per tahun. Impor hanya melemah pada tahun 2007 yakni turun 13,4 persen. Pada tahun-tahun berikutnya impor kembali meningkat.

Lonjakan pertumbuhan impor terjadi pada tahun 2010, dimana pertumbuhannya mencapai 71.4 persen dengan volume sebesar 1.331 ton dan nilai sebesar US$7,4 juta.

Pertumbuhan impor ini menandakan bahwa pasar dalam negeri semakin besar dari tahun ke tahun.

Impor per negara

Impor pasta gigi berasal dari sejumlah negara dari kawasan Asia dan Eropa. Diantara sejumlah negara tersebut yang menjadi negara asal impor utama adalah Thailand dan Malaysia.

Kedua negara ini sejak tahun 2005 hingga 2010 selalu berada dalam 3 besar negara asal impor. Pada tahun 2010 impor terbesar berasal dari Thailand sebesar 1190 ton senilai US$6.115 ribu. Thailand sejak tahun 2008 menjadi negara asal impor pasta gigi tebesar.

Malaysia menyusul di peringkat kedua dengan volume yang jauh di bawahnya yakni 63 ton senilai US$331 ribu. Malaysia terakhir menjadi negara asal impor tebesar pada tahun 2005. Tahun 2006 dan 2007 impor terbesar pasta gigi berasal dari China.

Negara Eropa yang menjadi sumber impor diantaranya adalah Belanda, Jerman, dan Swedia. Di luar negara-negara tersebut terdapat juga Amerika Serikat yang selalu ada sebagai salah satu sumber impor komoditi ini.

Market Size

Konsumsi pasta gigi di dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir terus tumbuh. Tingkat pertumbuhan rata-rata selama tahun 2005 sampai tahun 2010 cukup tinggi yakni mencapai 16,5 persen.

Pertumbuhan konsumsi ini cukup besar dan relatif tidak banyak terpengaruh oleh situasi perekonomian seperti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Tahun 2006, saat baru dinaikkan konsumsi tetap mengalami pertumbuhan yakni sebesar 8,7 persen.

Pertumbuhan paling besar terjadi pada tahun 2008 yakni sebesar 55,1 persen. Dua tahun berikutnya tingkat pertumbuhan jauh lebih rendah yakni sebesar 1,7 persen pada tahun 2009 dengan volume sebesar 70.787 ton.  Pertumbuhan kembali meningkat pada tahun 2010 menjadi 9 persen dengan volume konsumsi sebesar 77.158 ton.

Pertumbuhan konsumsi diperkirakan masih akan terus terjadi di tahun-tahun mendatang. Dua faktor utama pendorong konsumsi adalah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merawat kesehatan gigi....
 
Profil dari Pemain Utama

PT. Unilever Tbk 
Pada awalnya bernama Lever Zeepfabrieken N.V yang didirikan pada 1933 dimiliki oleh pemerintah Belanda. Namun pada 1967  kendali usaha berada dibawah Unilever berdasarkan undang-undang penanaman modal asing. 

Pada 1980 nama perusahaan berubah menjadi PT Unilever Indonesia. Kemudian pada 1981 perusahaan ini menjual 15% sahamnya melalui Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, dan menjadi perusahaan publik, namanya menjadi PT. Unilever Indonesia Tbk. 

Unilever memulai operasi komersial pada 1933 dengan memproduksi sabun dengan pabrik berlokasi di Angke, Jakarta Utara. Kemudian pada 1936 Unilever mulai memproduksi margarine dan minyak sayur. Perusahaan terus melakukan ekspansi, pada 1941 Unilever memproduksi pasta gigi dan  kosmetik, yang menggunakan fasilitas pabrik milik NV Colibri di Surabaya, Jawa Timur.¬

Unilever mendirikan anak perusahaan yaitu PT. Ellida Gibs dengan pabrik berlokasi di Rungkut, Surabaya pada 1982. Kemudian pada 1988, produksi sabun mandi dipindahkan dari pabrik NV Colibri ke pabrik PT. Ellida Gibs.   

Pada 1990 Unilever memperluas usahanya dengan masuk ke industri minuman yaitu memproduksi teh celup. Selanjutnya Unilever memproduksi ice cream pada 1992. Unilever membangun fasilitas pabrik baru di Cikarang, Bekasi pada 1995. Pabrik baru ini untuk memproduksi deterjen cair dan makanan. 

Pada 2000, Unilever bekerjasama dengan PT Anugrah Indah Pelangi mendirikan perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL) yang bergerak di bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap, saus cabe dan saus-saus lain dengan merk Bango, Parkiet dan Sakura dan merk-merk lain atas dasar lisensi perusahaan kepada PT AL.

Pada 2001 Unilever membangun pabrik teh di Cikarang, Bekasi. Selajutnya pada 2005, Unilever mengoperasikan pabrik baru yang memproduksi shampoo cair di Cikarang, Bekasi. 

Unilever bersama dengan Texchem Resources Berhad mendirikan perusahaan baru yakni PT Technopia Lever  (PT. TL) pada 2002  yang bergerak di bidang distribusi, ekspor dan impor barang-barang berupa pembersih dengan merk Domestos Nomos. Pada 2003, Texchem Resources Berhad menjual seluruh sahamnya di PT. TL kepada Technopia Singapore Pte. Ltd.

Pada 2003, Unilever mengakuisisi PT Knorr Indonesia (PT KI) dari Unilever Overseas Holdings Limited. PT. KI memproduksi makanan olahan dalam kemasan dan bumbu.

Pada 2008, Unilever bekerjasama dengan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultra) sehubungan dengan pengambilalihan industri minuman sari buah melalui pengalihan merek Buavita dan Gogo dari Ultra ke Unilever. 

Saat ini lini usaha PT. Unilever Tbk terdiri dari personal care, home care dan foods. Produksi personal care yaitu pasta gigi (Pepsodent, Close Up), sabun mandi dan sabun cair (Lux, Lifebouy, Dove), shampoo (Sunsilk, Clear), Deodorant (Rexona, Axe),  body lotion (Citra, Vaseline), bedak (Ponds). Produksi home care yaitu deterjen (Rinso, Viso), sabun cuci piring (Sunlight), pembersih (CIF,Vixal),  obat nyamuk (Domestos Nomos), penjernih air (Pure It), pengharum lantai (Wipol). Produksi divisi food yaitu margarine (Blue Band), kecap (Bango), bumbu penyedap (Royco), teh (SariWangi) minuman sari buah (Buavita), snack (Taro), ice cream (Wall’s). PT. Unilever membangun pusat distribusi yang berlokasi di Cikarang pada 2002. 

PT. Lion Wings
Awalnya bernama PT. Lionindo Jaya yang didirikan pada tahun 1891, merupakan joint venture antara Grup Wings dari Surabaya dengan Lion Corporation dari Jepang. 

Lion Corporation merupakan produsen consumer products yang terkebal di  Jepang, memproduksi pasta gigi, sikat gigi, kosmetik, sabun, shampoo, detergent, detergent pencuci piring, pembersih alat-alat kebutuhan rumah tangga, hingga makanan dan obat-obatan. Lion Corporation Jepang memiliki jaringan anak perusahaan di Asia Tenggara seperti Singa Selatan Sdn. Bhd di Malaysia, Lion Corporation Thailand dan   
 Lion Corporation Singapore Pte. Ltd). 

PT Lionindo Jaya memproduksi dan memasarkan bermacam produk-produk consumer. Pada 1981, produk pertama yang diproduksi adalah pasta gigi yang dipasarkan dengan merk Ciptadent. Saat ini PT. Lion Wings telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 55 negara di seluruh dunia. Pada 1995 nama perusahaan berubah nama menjadi PT. Cipta Segar Harum.>>>


Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan