2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
ASTRA OTOPARTS GANDEMG PIRELLI INVESTASI US$ 90 JUTA. Perusahaan pembuat suku cadang otomotif PT Astra Otoparts Tbk akan bekerja sama dengan produsen ban dari Italia, Pirelli guna membuat pabrik ban baru dengan nilai investasi US$ 90 juta. Menurut Direktur Astra Otoparts Robby Sani mengatakan perseroan telah menandatangani nota kesepahaman untuk membuat perusahaan patungan baru dengan Pirelli. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Pirelli akan memiliki 60% saham di perusahaan patungan itu dan selebihnya dimiliki oleh Astra Otoparts. Selain itu, pendirian pabrik baru tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ban sepeda motor untuk pasar Asean dan pasar ekspor. Pabrik pabrik itu dimulai pada 2012 dan diperkirakan rampung dalam 3 tahun, sehingga produksi diharapkan bisa dilaksanakan pada 2013 dan mencapai kapasitas penuh pada 2016 denganproduksi tahunan 7 juta ban sepeda motor. 

DANA AKUISISI INALUM DISIAPKAN. Pemerintah dan DPR sepakat menyiapkan dana akuisisi PT Indonesia Asahan Aluminium senilai RP 2 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012. Dana yang berasal dari alokasi anggaran untuk penyertaan modal negara itu akan disalurkan memalui PT Pusat Investasi Pemerintah (PIP), badan layanan umum yang berada di bawah Kementrian Keuangan. Sementara total dana yang dibutuhkan untuk mengakuisisi Inalum dari konsorsium Jepang diperkirakan US$ 700 juta atau sekitar Rp 6,3 triliun. Berdasarkan kontrak kerja sama Inalum yang ditandatangani pada 7 Juli 1975, konsorsium Jepang di bawah bendera Nippon Asahan Aluminium menguasai 58,88% saham, sementara saham pemerintah Indonesia 41,12%. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah menunjuk PIP untuk mengambil alih pabrik peleburan aluminium di Sumatera Utara itu yang diperkirakan mempunyai aset sebesar US$ 1,2 miliar. Selain itu, DPR juga telah menyetujui usulan investasi PIP di Inalum sebesar Rp 3,2 triliun pada 2012, yang terdiri dari pembiayaan infrastruktur dasar Rp 1,2 triliun dan dana persiapan akuisisi Rp 2 triliun. Sementara itu, untuk memnuhi kekurangan dana akuisisi Inalaum pada 2013, PIP berencana meminta lagi penyertaan modal negara sebesar Rp 3 triliun dari pemerintah.

SIAM CEMENT AKUISISI 30% SAHAM CHANDRA ASRI. Siam Cement Public Company Ltd melalui anak usahanya SCC Chemical Company Ltd mengakuisisi 30% saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk senilai Rp3,76 triliun. Perusahaan asal Thailand itu telah menandatangani komitmen pembelian 919,86 juta saham Chandra Asri Pertrochemical dengan anak usaha Temasek Holdings, yaitu Apleton Investments Ltd dan pemegang mayoritas saham Chandra Asri, yaitu PT Barito Pacific Tbk. Perinciannya, yaitu Apleton melepas seluruh kepemilikan sahamnya, yaitu sebesar 22,87% atau 701,33 juta saham di Chandra Asri, adapun Barito melepas 7,13% atau 218,52 juta saham pada perusahaan hasil penggabungan antara PT Tri Polyta Indonesia Tbk dan PT Chandra Asri itu. Menurut Direktur Utama Barito Pacific Loeki S. Putra mengatakan investasi Siam Cement di Chandra Asri akan membuka peluang yang bagus bagi pengembangan program bisnis Chandra Asri ke depan. Dari penjualan saham tersebut, kelompok bisnis yang dikendalikan oleh pengusaha Prajogo Pangestu itu akan mengantongi dana segar Rp 893,31 miliar. Salah satu unit usaha yang bakal mendapatkan suntikan dana dari hasil transaksi itu adalah unit usaha di sektor perkebunan kelapa sawit, yaitu PT Royal Indo Mandiri. Presiden Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra berharap penggabungan SCG di perseroan bisa mempercepat rencana ekspansi pembangunan kilang perseroan yang ditargetkan menjadi 1 juta ton pada akhir 2014 dari kapasitas 600 ribu ton per tahun pada saat ini. Cholanat mengakui SCC sedang mengajukan proposal penawaran untuk membeli 100% saham produsen kimia lainnya, yaitu PT Sulfindo Adiusaha. PT Suliindo merupakan produsen bahan kimia Indonesia yang dikendalikan keluarga Tanojo asal Indonesia.

TSINGSHAN STEEL BANGUN PROYEK NIKEL US$4 MILIAR. Tsingshan Steel, anak perusahaan Dingxin Investment Group, yang bekerja sama dengan Bintang Delapan Group akan membangun proyek nikel terintegrasi senilai US$4 miliar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengungkapkan Tsingshan ingin membangun fasilitas peleburan atau smelter nikel dari hulu ke hilir dengan produk akhir baja nirkarat, yang saat ini masih bergantung pada impor,  langkah Tsingshan itu merupakan bagian dari penyikapan investor terhadap rencana pemerintah melarang ekspor bahan mentah mulai 2014. Kebijakan itu tertuang dalam Undang-Undang No. 4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Apabila seluruh syarat dipenuhi, katanya, pemerintah berjanji segera memberikan penyikapan fiskal, seperti tav holiday ataupun tax allowance berdasarkan revisi PP No. 62/ 2010. Selain Tsingshan, kata Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto, perusahaan dari Timur Tengah juga berencana membangun pabrik pengolahan bauksit di Ka¬limantan dengan investasi US$2 miliar, pabrik ini akan mengolah 700.000 ton bauksit menjadi alumina setiap tahun. Perusahaan sudah melakukan studi kelayakan dan tinggal menunggu perizinan.

MITSUI SIAP INVESTASI US$1 MILIAR. Mitsui Co Ltd berencana membangun pabrik amonia di sekitar proyek gas alam cair Tanqquh, Papua Barat, dengan investasi lebih dari US$1 miliar. Untuk merealisasikan rencana investasinya itu, Mitsui meminta pemerintah mengalokasikan gas alam untuk bahan baku pabrik tersebut, perusahaan Jepang itu mengincar gas sebanyak 95-100 juta kaki kubik per hari (MMscfd) dari proyek Tangguh. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat sebelumnya mengatakan untuk pengembangan industri petrokimia di Tangguh, pemerintah bekerja sama dengan asosiasi dan pihak terkait untuk menyusun rencana bisnis petrokimia terpadu. Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto mengatakan pengembangan petrokimia terpadu di Tangguh akan difokuskan pada beberapa produk, yaitu metanol dan amonia atau pupuk untuk kebutuh-an sektor pangan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan pengembangan bisnis baru berupa produk turunan lain, seperti amonium nitrat untuk kebutuhan bahan peledak. Guna memenuhi kebutuhan bahan baku, dibutuhkan pasokan gas dari Tangguh dengan kapasitas hingga 300 MMscfd. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (INAplas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan berdasarkan informasi ketersediaan gas Tangguh, terdapat sekitar 400 MMscfd gas berstatus un-committed sehingga bisa digunakan untuk proyek petrokimia terpadu. Selain itu. gas pengalihan Sempra yang mencapai 350 MMscfd, di antaranya bisa disalurkan untuk proyek petrokimia terpadu di Tangguh, selain dijadikan LNG untuk disalurkan ke fasilitas terminal penerima LNG di Arun, Belawan, dan Jawa. Di luar Mitsui, sudah ada empat perusahaan lainyang berminat memproduksi tiga jenis produk dengan total investasi sekitar US$7 miliar,  Ferrostaal AC yang akan memproduksi metanol, lalu Pusri dan mitranya untuk produksi pupuk, dan satu perusahaan Australia yang berminat membangun pabrik ammonia. Investor juga harus memahami kebijakan harga gas nasional, termasuk dari gas Tangguh.

GENTING OIL SIAPKAN US$ 872 JUTA. Genting Oil Natuna Pte Ltd, perusahaan migas asal Malaysia, akhirnya mendapatkan persetujuan rencana pengembangan Lapangan Ande-Ande Lumut, Northwest Natuna dengan total investasi senilai US$ 871,9 juta. Selain Genting Oil, perusahaan migas lokal PT Odira Energy Karang Agung-anak usaha PT Odira Energy Persada juga mendapatkan per setujuan plan of deielopmem (PoD) bagi Lapangan Ridho, Sumatra Selatan. Perusahaan itu menyiapkan dana USS28.6 juta untuk pengembangan lapangan itu. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jera Wacik mengharapkan kedua operator migas itu diharapkan segera melaksanakan operasinya setelah adanya persetujuan PoD kedua lapangan minyak tersebut. Khusus Lapangan Ande-Ande Lumut. Genting Oil sebenarnya telah menandatangani kontrak bagi hasil (PSC) sejak 2004, diharapkan mulai produksi sebesar 5.000 bph pada akhir 2014 atau awal 2015. Dengan pengembangan 43 sumur pengembangan dengan 1 wellhead platform. lapangan tersebut diharapkan bisa berproduksi selama masa kontrak 20-30 tahun. Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas Gde Pradnyana menjelaskan Lapangan Ridho diharapkan sudah berproduksi penuh sekitar 1.800 barel per hari pada November 2012. Pada Juni 2012, Odira Energy diharapkan berproduksi sebesar 1.000 barel per hari pada Juni 2012, tetapi puncaknya pada November Menurut situs resmi Genting Oil, selain memiliki 100% hak partisipasi di Northwest Natuna PSC, Genting Group juga memiliki 100% hak partisipasi di Anambas PSC yang dioperatori Sanyen Oil Gas Pte Ltd. Perusahaan itu juga memiliki hak partisipasi 100% di Kasuri PSC yang dioperatori Genting Oil Kasuri Pte Ltd dan 49,99% hak partisipasi di Lapangan West Salawati PSC yang dioperatori oleh Genting Oil Salawati Pte Ltd.

BANK HANA TAMBAH MODAL RP SOO MILIAR. PT Bank Hana akan mendapatkan suntikan modal Rp500 miliar dari pemegang saham, Hana Financial Group Inc asal Korea Selatan, pada akhir tahun ini. Dana itu akan dipakai untuk ekspansi usaha pada 2012. Direkur utama Bank Hana Choi Chang Sik mengatakan perseroan akan memperluas kantor cabang dan memperkuat infrastruktur, sehingga membutuhkan suntikan dana, meskipun saal ini modal masih cukup memadai.  Menurutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) saal ini mencapai 30%, jika ditambah dengan sumikan dana dari pemegang saham bisa mendongkrak CAR hingga 2 kali lipat posisi sekarang, dana tersebut akan dipakai untuk menambah kantor cabang dan memperkuat jaringan informasi teknologi. Saat ini, sambungnya, perseroan memiliki 21 cabang, dan akan ditingkatkan menjadi 24 cabang sampai akhir tahun. Kredit yang disalurkan Bank Hana, ungkapnya, hingga September 2011 mencapai Rp2,2 triliun, tumbuh sekitar 24% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Bank Hana Bayu Wisnu Wardhana menyampaikan pertumbuhan perseroan cukup menggembirakan sejak mengakuisisi PT Bank Bintang Manunggal. Hal itu, bisa terlihat dari pertumbuhan aset yang mencapai 10 kali lipat. Manajemen Bank Hana dalam 5 tahun ke depan menargetkan Kmk Hana masuk dalam 40 besar nasional dengan aset sekitar RplO triliun-RplS triliun.  Pada pengujung 2007, Hana Bank mengakuisisi 60,97% Bank Bintang Manunggal. Waktu itu, sisa saham dikuasai oleh International Finance Corporation (19.03%). PT Trisetijo Manunggal Ulama (10%) dan Bambang Setijo (10%). Sejalan dengan suntikan modal dari Hana Bank, saham minoritas pun terdilusi. 


MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
September 2011
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan