2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
HYUNDAI RAKIT MPV H-1 DI INDONESIA. PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) merealisasikan perakitan model H-1 di tanah air pada Desember tahun ini karena posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan serba guna (multi purpose vehivle/MPV) semakin kuat. Setelah mundur empat bulan dari jadwal semula, PT HMI menyatakan proses perakitan MPV luxury  H-1 akan dimulai pad akhir tahun ini dengan investasi sebesar Rp 40 miliar dan dana investasi ini akan digunakan untuk melengkapi infrastruktur produksi di pabrik Hyundai di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat. Presdir. PT HMI Jongkie D Sugiarto mengatakan bahwa investasi Hyundai untuk merakit MPV H-1 sudah ada kepastian dari prinsipal dan pasokan bahan baku H-1 dalan kondisi terurai (completely knock down/CKD) dari prinsipal akan tiba di tanah air pada November 2009. Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaran Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo mengatakan pihaknya terus mendorong para ATPM untuk menambah model rakitan lokal sehingga memberi nilai tambah daripada mengimpor kendaraan. Selain itu, sesuai dengan arah perkembangan industri, Indonesia ditargetkan menjadi basis produksi model-model MPV, kendaraan truk ringan dan sedan kecil. Sejumlah model kendaraan rakitan lokal yang beredar di pasar saat ini yakni Kijang Innova, Xenia, Avanza, Freed, Jazz, APV Arena, Livina, Gran Max, Truk Hino, Bus Mercedes Benz dan beberapa tipe sedan Mercedes dan BMW.

BUMI SIAPKAN AKUISISI US$ 500 JUTA. PT Bumi Resources Tbk berencana mengakuisisi pertambangan di Indonesia senilai US$ 500 juta setelah meminjam dana US$ 1,9 miliar dari China Investment Corporation (CIC). Dalam aksi korporasi tersebut Bumi akan melibatk CIC sebagai mitra strategis. Vice President Investor Relationship Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan perseroan saat ini sedang mengincar 1 - 2 aset tambang dalam waktu dekat ini, termasuk akuisisi tujuh konsesi tambang batu bara Maruwai, Kalimantan Timur seluas 355.000 ha milik BHP Billiton. Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari pembelian tambang Herald Resources di Dairi senilai US$ 563 juta atau setara dengan US$ 508 juta pada Juli 2008. Selain itu, Bumi berencana akan memulai penambangan bijih besi dan seng di Dairi, Sumatera Utara dalam 2 tahun ke depan, sehingga diharapkan izin penambangan itu akan terbit pada akhir tahun 2009. Setelah perseroan meraih izin tersebut, Bumi akan mempersiapkan seluruh infrastrukturnya sehingga dalam 20 bulan - 24 bulan ke depan dapat mulai berproduksi. Sementara itu, terkait dengan pinjaman Bumi senilai US$ 1,9 miliar dari CIC, dana itu akan digunakan untuk membayar utang senilai US$ 1,68 miliar, belanja modal senilai US$ 202 juta dan biaya profesional senilai US$ 10 juta. Sedangkan terkait dengan perjanjian dana pinjaman dari CIC, Bumi membuka peluang bagi CIC untuk meraih peluang investasi bersama dengan Bumi ke depan.

DINGXING CHINA GARAP TAMBANG. Bintangdelapan Group, menggandeng Dingxing Group, China membentuk PT Sulawesi Mining Investment (SMI) untuk menggarap tambang mineral dan membangun pabrik pengolahan nikel di Sulawesi Tengah pada 2010 dengan nilai US$ 1 miliar. Presiden Direktur Bintangdelapan Group Halim Mina mengatakan pabrik pengolahan bijih nikel (ore) ditargetkan dapat memproduksi feronikel sebanyak 30.000 ton per tahun dari lahan tambang seluas 47.000 ha di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Menurutnya, rencana produksi komersial dari pabrik tersebut tidak lebih dari 5 tahun sesuai dengan Undang-Undang No.4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara. Sementara itu, berkaitan dengan rencana pengembangan tahap awal SMI sudah menanamkan modal sebesar US$ 20 juta yang akan ditingkatkan secara bertahap. Dalam tahap awal itu, pengolahan bijih nikel akan dilakukan oleh Dingxing Group dan Bintangdelapan Group hanya memproduksi bahan baku sedangkan seluruh hasil produksi nikel yang mencapai 2,4 juta ton akan dijual kepada perusahaan dari negeri Tirai Bambu tersebut.

SMELTING GRESIK PRODUKSI KATODA 300.000 TON. PT Smelting Gresik tetap menargetkan untuk meningkatkan volume produksi menjadi 300.000 ton katoda tembaga hingga akhir tahun, kendati perusahaan terpaksa menunda perluasan pembangunan pabrik akibat keterbatasan dana internal perusahaan tersebut. Sebelumnya, Eksekutif Mitsubishi Materials Corp Hideo Kobayashi memastikan perusahaan itu sebagai pemegang saham siap melakukan injeksi dana untuk penambahan kapasitas produksi pabrik peleburan bijih tembaga di Gresik sebesar 11% pada Agustus 2009. Menurut Senior Manager Technical Section Smelting Gresik Budi Priyo Handogo mengakui target peningkatan volume produksi katoda tembaga hanya dilakukan dengan penambahan kapasitas terpasang di pabrik yang ada. Semula perusahan hanya memproduksi 270.000 ton katoda tembaga per tahun dan Smelting Gresik hanya mempunyai satu pabrik dengan kapasitas awal hanya 200.000 ton katoda tembaga. Namun, manajemen perusahaan sudah tiga kali melakukan ekspansi pabrik sejak 2000 untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Setelah dua tahun satu produksi perusahaan meningkat menjadi 250.000 ton katoda per tahun. Bahkan ekspansi pabrik yang kedua pada tahun 2006 telah meningkatkan kapasitas produksi menjadi 271.000 ton katoda per tahun. Tahun ini produksi PT Smelting Gresik mencapai 285.000 ton dari semula 254.000 ton pada tahun lalu. Selama ini, Smelting Gresik menggunakan bahan baku seperti tembaga, emas, perak dan logam lainnya dari PT Freeport hingga 70% dari total kebutuhan, sedangkan sisanya sebesar 30% diambil dari PT Newmont Nusa Tenggara. Seluruh produksi Smelting Gresik digunakan untuk memasok kebutuhan 50% pasar domestik dan 50% untuk konsumen lainnya di kawasan Asia Tenggara terutama Malaysia, Singapura, Thailand, dan Taiwan.

13 PABRIK BAJA CHINA REALISASIKAN INVESTASI. Setelah sempat tertunda, sebanyak 13 perusahaan baja China di subsektor hulu-hilir akan merealisasikan investasi di Indonesia mulai awal semester II/2009. Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengatakan ke-13 perusahaan tersebut sedianya akan memulai pembangunan pabrik baru dan penambahan fasilitas produksi pada tahun lalu. Namun, akibat imbas krisis ekonomi dunia pada kuartal IV/2008 yang melemahkan nilai rupiah dan modal kerja (cash flow), rencana itu akhirnya ditunda. Padahal seluruh perusahaan tersebut telah mendapatkan persetujuan investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak 2008 dan awal 2009. Ke-13 perusahaan China itu akan berinvestasi di industri pengolahan bijih besi (iron making), billet (bahan baku long product/baja lonjoran), steel bar, besi beton, baja profil, serta mur dan baut dan total investasi PMA China tersebut mencapai US$404,07 juta. Nilai investasi terbesar akan dilakukan PT Mandan Steel (China Nickel Resources Holdings Co) senilai US$ 250 juta untuk membangun pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan. Menurut I Putu Suryawirawan, nilai investasi Mandan itu baru nilai investasi awal yang sudah dikucurkan untuk memproduksi sekitar 500.000 ton billet (baja kasar) selanjutnya Mandan berencana menambah investasi hingga US$ 2 miliar untuk mencapai skala produksi 2 juta ton. Selain membangun basis produksi billet, Mandan Steel juga akan mengembangkan industri baja khusus jenis special alloy steel sebesar 500.000 ton per tahun karena melihat permintaan baja khusus di dalam negeri saat ini mencapai 1,5 juta ton per tahun, sedangkan produk baja khusus ini (special alloy steel) masih di impor terutama dari negara Jepang. Kebutuhan special alloy steel biasa digunakan untuk industri alat utama sistem pertahanan (alutsista) seperti senjata dan kendaraan lapis baja, baja konstruksi, dan roda kereta api

CAPEX MATAHARI Rp 1 TRILIUN. PT Matahari Putra Prima Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1 triliun pada 2010, dengan 30% - 35% di antaranya dialokasikan untuk pengembangan departemen store dan sebagian besar belanja modal lainnya akan digunakan untuk mengembangkan Hypermart. Saat ini, ekspansi departemen store Matahari masih membidik kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Kota besar seperti Medan, Palembang, Pekanbaru dan Batam menjadi pasar kuat di wilayah Sumatera bagi perseroan. Terkait dengan pengembangan departemen store, Matahari berencana menyerahkan aset pusat belanja tersebut kepada PT Pacific Utama Tbk dan pengalihan aset ini merupakan kelanjutan dari transformasi bisnis Matahari sejak 2002. Pengalihan aset akan didahului dengan penyerapan saham baru yang diterbitkan Pacific Utama saat right issue, sehingga Matahari nantinya akan menguasai lebih dari 90% saham perusahaan jasa konsultasi dan manajemen tersebut. Pengalihan aset operasnional departemen store itu mencakup inventori, distribusi, merchandise, prepaid list, dan sumber daya manusia. Selanjutnya, unit bisnis departemen store Matahari akan menjadi entitas terpisah, meski pada akhirnya tetap dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan perseroan mengingat kepemilikan Matahari di Pacific Utama akan melampaui 51%.

ASTRA AGRO AKAN BANGUN 2 PABRIK CPO.  PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berencana membangun du pabrik pengolahan minyak sawit (crude palm oil/CPO) pada 2010 dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 200 miliar guna mendukung ekspansi bisnis perusahaan. Menurut Wakil Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tonny Hernawan K mengatakan fasilitas pabrik pengolahan CPO yang akan dibangun itu masing-masing memiliki kapasitas produksi 45 ton per jam dan investasinya bervariasi antara Rp 80 miliar - Rp 100 miliar per unit. Dua fasilitas produksi baru tersebut rencananya akan di bangun di provinsi Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Saat ini, Astra Agro Lestari memiliki 21 pabrik pengolahan CPO yang diantaranya satu masih dalam proses pembangunga dan berlokasi di Kalimantan Selatan. Ke-20 pabrik tersebut tersebar di Aceh (dua unit), Riau (enam unit), Jambi (dua unit), Kalimantan Timur (satu unit), Kalimantan Tengah (empat unit), Kalimantan Selatan (satu unit) dan Sulawesi Barat (empat unit). Sedangkan kapasitas total produksi CPO perusahaan saat ini sebesar 985 ton per jam. Adapun total kapasitas pengolahan kernel yang dimiliki mencapai 700 ton per hari dengan jumlah fasilitas sebanyak  7 unit, dimana satu unit di antaranya sedang dalam proses pembangunan.

DAIHATSU INVESTASI PABRIK Rp 250 MILIAR. PT Astra Daihatsu Motor (ADM), produsen dan pemasar mobil merek Daihatsu di Indonesia, pada tahun ini mengucurkan investasi sebesar Rp 250 miliar guna menjaga kualitas produk dan mendukung rencana kapasitas pabrik menjadi 250.000 unit pertahun pada 2010. Saat ini kapasitas produksi pabrik Daihatsu mencapai 211.000 unit per tahun dan realisasi investasi tersebut merupakan realisasi dari rencana ekspansi lini pabrik pada 2008 yang sempat tertunda akibat krisis global. Wakil Presiden Direktur PT ADM Sudirman Maman Rusdi mengatakan investasi Rp 250 miliar tersebut dikucurkan sejak awal tahun, diantaranya untuk mengganti sejumlah peralatan di pabrik, pembelian tanah dan lainnya. Sementara itu, Indonesia akan menjadi basis produksi Daihatsu untuk sejumlah model seperti Xenia, Terios, Gran Max, bahkan beberapa model Toyota yakni Avanza dan Rush. Selama 6 tahun terakhir, PT ADM telah mendongkrak kapasitas produksi dari 84.000 unit per tahun (2004) menajdi 211.000 unit per tahun (2009), naik 151,2%. Pada 2007 - 2008, pabrikan ini telah mengucurkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk menambah kapasitas pabrik dari 150.000 unit per tahun menjadi 211.000 unit per tahun. Disisi lain, PT Astra Daihatsu Motor mulai mengekspor kendaraan jenis Gran Max (D-Badge) untuk negara-negara tujuan baru, diluar Jepang yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Kuwait, Mesir, dan Afrika Selatan.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Oktober 2009
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan