2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
GRUP JARUM RENCANAKAN  INVESTASI BARU PABRIK PULP. Grup Djarum, Sumitomo Corp (Jepang) dan Grup Korindo (Korea Selatan) berencana membangun pabrik pulp dan kertas di Indonesia. Sekretaris Jenderal Kementrian Kehutanan Hadi Daryanto mengatakan PT Djarum dan Sumitomo baru mengajukan izin, sementara Korindo hutan tanaman industrinya sudah bisa panen tahun depan. Jadi dibolehkan untuk langsung membangun pabrik dengan investasi US$ 60 juta. Menurut Hadi, Korindo memiliki areal HTI seluas 150.000 ha yang bisa di panen di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Selain itu, Korindo bekerja sama dengan Ozzie pulp untuk membangun pabrik pulp dan kertas dengan luas lahan 355 ha dan kapasitas produksi pabrik pulp dan kertas itu diperkirakan minimal 20.000 ton per tahun. Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menjelaskan Kemenhut tidak akan memberikan izin kepada perusahaan pulp dan kertas jika tidak memiliki lahan untuk HTI guna memenuhi kebutuhan bahan baku. Kebijakan ini dilakukan agar perusahaan pulp dan kertas tidak lagi memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari hutan alam atau melakukan pembalakan liar.

GEELY BANGUN PABRIK PERAKITAN TAHUN DEPAN. PT Geely Mobil Indonesia (GMI) akan membangun pabrik perakitan di kawasan industri Delta Mas, Cikarang, Bekasi dengan nilai investasi diperkirakan US$ 30 juta mulai 2012. Konstruksi pabrik perakitan Geely akan dimulai setelah kawasan industri Delta Mas, rampung terbangun. Selain itu, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) China, China-Indonesia Economic and Trade Cooperation Zone (CIETCZ), yang akan membangun kawasan industri di Delta Mas, Cikarang. Sedangkan yang menjadi pengembang dari proyek itu adalah PT Kawasan Industri Terpadu Indonesia China dan konstruksinya dikerjakan oleh PT China Harbor Indonesia. Pembangunan fasilitas manufaktur ini sejalan dengan komitmen Geely Holding Group, induk GMI untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Dengan membangun pabrik, Geely berniat menjadikan negara ini sebagai basis produksi di kawasan Asia Tenggara, termasuk memasok produknya ke pasar Australia dan Selandia Baru.

ASET JAPFA PASCA MERGER RP 8,37 TRILIUN. Merger produsen pakan ternak PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dengan dua anak usahanya yakni PT Multiphala Agrinusa dan PT Bintang Terang Gemilang yang efektif 1 Januari 2011 menghasilkan total aset Rp 8,37 triliun. Menurut Corporate Secretary Japfa Christine R Wibisono setelah merger efektif, seluruh kegiatan usaha, tagihan-tagihan, karyawan, aktiva dan pasiva Multiphala dan Bintang Terang secara hukum beralih ke Japfa. Perseroan mendapatkan pernyataan efektif merger dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 19 November 2010. Adapun persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) diperoleh pada 31 Desember 2010. Hasil merger tersebut, Japfa menguasai aset senilai Rp 6,67 triliun, sedangkan Multiphala dan Bintang terang memiliki Rp 1,6 triliun. Sebelumnya, perseroan menilai penggabungan usaha itu tidak akan berdampak pada kinerja keuangan perseroan ataupun jumlah aset Japfa Comfeed. Selain itu, Japfa baru mendapatkan pinjaman Rp 1 triliun dalam denominasi dolar AS dari PT Bank Central Asia pada akhir November dan pinjaman tersebut terdiri atas fasilitas pinjaman kredit investasi dengan plafon Rp 750 miliar. Perseroan berencana menggunakan pinjaman yang Rp 750 miliar tersebut untuk melunasi utang kepada BNP Paribas. Adapun, pinjaman lain yang berbentuk fasilitas pinjaman modal kerja dengan nilai maksimum Rp 250 miliar.

LENZING EKSPANSI US$ 130 JUTA. PT South Pacific Viscose (SPV) anak perusahaan Lenzing Group Austria, membangun pabrik ke lima dengan menginvestasikan US$ 130 juta guna menambah kapasitas produksi serat rayon menjadi 325.000 ton per tahun pada 2013. Ekspansi tersebut sekaligus menjadikan SPV sebagai produsen serat selulosa sintetis terbesar di dunia. Investasi lanjutan sebesar US$ 130 juta itu dilakukan langsung setelah rampungnya pembangunan pabrik keempat senilai US# 170 juta pada Mei 2010. Secara total, investasi yang dilakukan SPV selama hampir 3 dekade keberadaannya di Indonesia mencapai US$ 700 juta. Selain ekspansi tersebut, SPV akan meningkatkan kapasitas produksi sodium sulphate dari 142.000 ton menjadi 188.000 ton per tahun.

6 INVESTOR LOKAL SIAP BANGUN FOOD ESTATE DI MERAUKE. Enam perusahaan nasional tertarik membangun infrastruktur di kawasan industri berbasis agro (food estate) yang akan dibangun di Merauke, Papua, apabila pemerintah menyediakan lahan dan tax holiday. Investor yang telah menyatakan minat membangun infrastruktur guna mengembangkan food estate di Merauke adalah Grup Wilmar, Grup Medco, Grup Sinar Mas, serta korporasi milik Anthony Salim dan Ibrahim Risjad. Investor lokal itu masuk dalam daftar 15 investor yang berminat membangun industri gula di Merauke. Menurut Menteri Perindustrian M.S. Hidayat untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur tersebut, investor meminta kompensasi  dari pemerintah berupa penyediaan lahan untuk perkebunan tebu. Pemerintah juga diminta memberikan insentif jangka panjang seperti tax holiday (penundaan pembayaran pajak selama periode tertentu). Pemberian insentif tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas insentif fiskal yang baru saja dikeluarkan oleh Kementrian Keuangan, yakni PP No. 94/2010. Dalam  PP No. 94/2010 ini, industri yang dapat menerima tax holiday di antaranya industri pionir yang dapat menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, membawa teknologi baru, masuk ke daerah kecil dan terbelakang, serta memberikan nilai tambah bagi industri lain dan perekonomian Indonesia secara luas.

CIMB NIAGA TUNTASKAN AKUISISI MULTIFINANCE. PT Bank CIMB Niaga Tbk menargetkan akusisi perusahaan pembiayaan sepeda motor tuntas pada semester I/2011. Perusahaan multifinance itu akan menjalankan roda bisnis terpisah dengan entitas pembiayaan yang dimiliki saat ini. Rencana akuisisi perusahaan multifinance itu sempat tertunda dari rencana semula Juni 2010. waktu itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid mengatakan baha tengah memfinalisasi 2-3 perusahaan multifinance untuk diakuisisi. Menurut Direktur Bisnis CIMB Niaga Handoyo, akuisisi perusahaan multifinance itu tidak akan dimerger dengan anak usaha yang dimiliki saat ini. Perusahaan itu akan berjalan sendiri karena konsentrasi kepada pembiayaan sepeda motor. Saat ini, CIMB Niaga telah memiliki perusahaan pembiayaan bernama PT CIMB Niaga Auto Finance yang sebelumnya bernama Saseka Gelora Finance dan pada tahun lalu perusahaan milik CIMB Group itu telah meningkatkan kepemilikan pada Niaga Auto Finance menjadi 99,99%, dengan membeli saham milik NV De Indonesische Oversees Bank (Indover), anak usaha Bank Indonesia yang gulung tikar pada 2008.


MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Januari 2011
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan