2008-2009ã PT Data Consult. All rights reserved.
MARKET INTELLIGENCE REPORT ON

PENERBANGAN REGULER DI INDONESIA 
April 2008


Current  issues

Perang tarif ditanggapi pro dan kontra

Persaingan dalam industri penerbangan reguler di Indonesia saat ini semakin ketat, yang terlihat dari maraknya maskapai penerbangan menetapkan harga tiket yang sangat rendah, termasuk untuk rute-rute padat yang selalu ramai oleh penumpang, seperti Jakarta- Medan dan Jakarta Surabaya.

Persaingan terjadi karena banyaknya jumlah maskapai penerbangan reguler di Indonesia saat ini, yang mencapai 21 perusahaan. Selain itu terjadinya perang tarif oleh hampir semua maskapai penerbangan juga terjadi karena pemerintah hanya menetapkan batas atas untuk tarif penerbangannya, sehingga setiap perusahaan leluasa mengatur berapa tarif terendahnya.

Meskipun terkesan mendukung kepentingan konsumen, tetapi banyak pihak mengkhawatirkan dampak dari perang tarif ini, karena terdapat kekhawatiran akan terjadinya penurunan standar keselamatan penerbangan, jika efisiensi yang dilakukan oleh pihak maskapai penerbangan ikut memangkas biaya perawatan dan penggantian komponen pesawat.
       
Pesawat bertambah, lembaga pendidikan penerbangan terbatas
      
Peningkatan jumlah penerbangan dan pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia, tidak diikuti oleh jumlah lembaga pendidikan penerbang dan teknisi yang memadai, yang berakibat terjadinya kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan akan bertambahnya ratusan pesawat terbang baru dalam beberapa tahun kedepan, kebutuhan terhadap tenaga pilot, co pilot dan  teknisi pesawat terbang semakin besar, karena produk sumber daya manusia terkait industri ini belum dapat mencukupi kebutuhan ini.

Lembaga pendidikan yang menjadi tumpuan penyediaan pilot di dalam negeri, yaitu Sekolah Tinggi  Penerbang Indonesia (STPI) Curug, saat ini baru mencapai sekitar 180-200 penerbang per tahunnya sementara kebutuhan dalam negeri mencapai 400 penerbang per tahun, demikian pula untuk tenaga teknisnya jumlah lulusannya masih sangat terbatas.

Kondisi ini harus menjadi perhatian banyak pihak terutama pemerintah dan perusahaan penerbangan, agar penggunaan SDM terutama Pilot, benar-benar sudah memenuhi kriteria dalam kemampuan dan jam terbang yang ditentukan untuk menekan potensi human error dari setiap kegiatan penerbangan.

Pemain  industri penerbangan reguler di Indonesia

Pemain industri penerbangan reguler di Indonesia terdiri dari maskapai penerbangan domestik, perintis dan luar negeri. Diantara pemain industri  penerbangan tersebut, sebagian besar merupakan pelaku penerbangan reguler domestik.

Berdasarkan data Direktorat Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan, Jumlah maskapai penerbangan domestik berjadwal atau reguler terhitung April 2008 adalah 16 perusahaan.

Maskapai penerbangan yang beroperasi saat ini adalah maskapai penerbangan yang masih bertahan dan masih diizinkan beroperasi oleh pemerintah setelah pemerintah mencabut izin beroperasi beberapa maskapai penerbangan yang tidak beroperasi, akibat ketidakmampuannya melakukan kegiatan penerbangan karena ketidak siapan pesawat, sumber daya manusia maupun fasilitas lainnya.

Beberapa maskapai penerbangan reguler yang dicabut izin operasinya tersebut diantaranya adalah Bouraq Airlines yang dicabut izinnya pada Februari 2007, kemudian Bali International Air Service yang dicabut pada Desember 2007, Star Air pada Mei 2007, Bayu Indonesia Air dan lain-lain yang juga telah dicabut izinnya sejak 2006.

Dengan telah dicabutnya beberapa izin operasi dari beberapa maskapai penerbangan di Indonesia, kini terdapat  16 maskapai penerbangan yang masih beroperasi baik untuk penerbangan domestik maupun luar negeri.

Beberapa maskapai penerbangan tersebut antara lain adalah Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Indonesia Air Asia, Lion Air, Mandala Air, Wings Air, Batavia Air,  dan lain-lain.

Kemelut ditubuh Adam Air

Maskapai penerbangan Adam Air yang dalam beberapa tahun terakhir ini cukup fenomenal dalam kancah industri penerbangan, terutama dengan keberaniannya menetapkan tarif penerbangan yang ekstra murah serta cepatnya melakukan ekspansi dalam jasa penerbangan karena dalam waktu singkat telah mempunyai banyak rute penerbangan, dengan 21 rute domestik dan 2 rute luar negeri.

Tingginya frekuensi penerbangan Adam Air, yaitu sebanyak 490 penerbangan domestik /minggu dan 42 penerbangan luar negeri / minggu membuat Adam Air menjadi maskapai penerbangan dengan jumlah penumpang diangkut ketiga tertinggi setelah Lion Air dan Garuda.

Pesatnya perkembangan bisnis Adam Air ternyata tidak didukung pengelolaan yang ketat terhadap faktor keselamatan penerbangannya, antara lain tidak melakukan perawatan pesawat terbangnya secara tetap, serta kurangnya pembinaan terhadap pilot dalam menerapkan prosedur standar pengoperasian Boeing 737-400 yang dioperasikannya, sehingga disinyalir menjadi penyebab beberapa kecelakaan yang terjadi pada pesawat Adam Air di perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007.

Pada  7 Januari 2007, 16 pilot Adam Air mengundurkan diri karena mereka menilai buruknya standar keamanan dan sistem navigasi di pesawat-pesawat yang dinilai berkualitas buruk. Adam Air kemudian menuntut balik semua pilot ini karena kontrak kerja mereka belum habis.

PT. Bhakti Investama yang membeli 50% saham Adam Air dari keluarga Sandra Ang dan Adam Suherman pada April 2007, melalui anak perusahaannya Global Air Transport, pada 14 Maret 2008 menarik seluruh sahamnya karena merasa Adam Air tidak melakukan perbaikan tingkat keselamatan serta tiadanya transparansi.

Kegiatan operasional Adam Air kemudian dihentikan sejak 17 Maret 2008 dan baru akan dilanjutkan jika ada investor baru yang bersedia menalangi 50 persen saham yang ditarik Bhakti Investama tersebut.

Terkait  terjadinya beberapa kecelakaan dan gangguan yang terjadi pada maskapai Adam Air serta kemelut yang terjadi pada pilot serta pemegang saham perusahaan tersebut sehingga menghentikan kegiatan operasionalnya, maka pada 18 Maret 2008, izin terbang atau Operation Specification Adam Air dicabut Departemen Perhubungan melalui surat bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008.

Isi surat pencabutan tersebut menyatakan bahwa Adam Air tidak diizinkan lagi menerbangkan pesawatnya dan  berlaku efektif mulai pukul 00.00 tanggal 19 Maret 2008.  Sementara itu AOC (Aircraft Operator Certificate) atau izin rutenya juga terancam dicabut jika tidak dilakukan perbaikan terhadap standar keselamatan pesawat dan fasilitas lainnya selama jangka waktu 21 hari setelah pencabutann itu.

Jumlah dan jenis pesawat  yang dioperasikan

Persaingan yang sangat ketat pada industri penerbangan di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, menunjukan bahwa sektor transportasi udara masih memberikan prospek yang menarik bagi dunia usaha.

Dari total 297 pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia yang terdaftar pada Direktorat Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan pada Desember 2007, hanya 221 pesawat yang beroperasi, karena sebagian pesawat yang tidak beroperasi sedang dalam perawatan dan perbaikan serta terdapat kendala teknis lainnya.

Garuda Indonesia masih menjadi pemain utama industri penerbangan di Indonesia, karena selain jumlah armadanya paling besar, fasilitas perawatan dan latihannya paling lengkap, juga kesiapan SDM nya lebih tinggi dibanding maskapai lain.

Saat ini Garuda mulai menerapkan strategi yang lebih terencana, terutama dalam pengadaan pesawat terbangnya, antara lain mulai menggantikan beberapa pesawat tuanya, yang terdiri dari berbagai jenis dan tipe menjadi satu merek utama di jajaran armadanya, yaitu menggunakan pesawat produksi Boeing.

Saat ini dari 50 pesawat terbangnya yang beroperasi, 47 pesawatnya adalah produksi Boeing, antara lain tipe B 747 400, yang akan segera digantikan oleh tipe B 787 Dreamliner untuk penerbangan ultra jauh,  kemudian beberapa seri   B 737 mendominasi jajaran pesawat terbang jarak menengahnya.

Merpati Nusantara Airlines yang sempat mendominasi penerbangan domestik  saat Garuda fokus dengan penerbangan luar negerinya, sempat hampir mengalami kebangkrutan akibat persaingan yang ketat pada awal 2000 an, karena banyaknya pesaing baru dalam penerbangan domestik, serta mulai berkembangnya Low Cost Carrier di Indonesia, terutama dipicu oleh Lion Air dan kiprah dari Adam Air.

Meskipun mempunyai 80 pesawat terbang, tetapi Merpati Airlines hanya mengoperasikan 34 pesawatnya, selain karena terlalu tua, sebagian pesawatnya memerlukan perawatan dan perbaikan.
Saat ini Merpati masih menggunakan beberapa jenis dan merek pesawat terbang, terutama karena peran Merpati dalam penerbangan perintis di Indonesia masih besar, sehingga membutuhkan beberapa jenis pesawat yang sesuai dengan kondisi alam dan bandara di daerah-daerah terpencil.

B 737-200, Casa 212 dan DHC6 adalah beberapa jenis pesawat yang masih digunakan oleh Merpati untuk menunjang jasa angkutan udaranya. Selain itu Merpati juga sedang memesan beberapa pesawat Boeing B737-300 dan B 737-400 untuk melayani rute-rute penerbangan yang sempat ditinggalkannya.

Pemain utama lain yang menjadi salah satu penggerak Low Cost Carrier di Indonesia adalah Lion Air, dengan perkembangan yang pesat dalam peningkatan jumlah armadanya, menjadikannya maskapai terbesar di Indonesia selain Garuda.

Lion Air saat ini didukung oleh 30 pesawat terbang termasuk beberapa pesawat  B 737-900ER baru yang merupakan bagian dari pembelian 178 pesawat Boeing pada tahun 2007,  yang akan  melayani beberapa wilayah Indonesia dan untuk pengembangan penerbangan reguler luar negeri.

Pesawat tua masih menjadi andalan maskapai  Indonesia
Berdasarkan data Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara, Departemen Perhubungan pada Desember 2006, rata-rata umur pesawat terbang di Indonesia yang paling muda adalah sekitar 10 tahun, yaitu pesawat dari maskapai Garuda Indonesia. Sementara itu umur pesawat terbang diluar Garuda rata-rata berumur diatas 15 tahun.

Selain Garuda Indonesia, maskapai yang rata-rata umur pesawatnya masih di bawah 20 tahun adalah Sriwijaya Air dengan rata-rata 13,8 tahun dari 5 pesawatnya dan Lion Air yang umur rata-rata pesawatnya 17,5 tahun dari 30 pesawatn yang dipoerasikannya.

Untuk beberapa tahun kedepan Lion Air akan menjadi maskapai dengan rata-rata umur pesawatnya termuda, karena perusahaan ini telah memesan sejumlah 178 pesawat baru yang sebagian mulai bergabung dengan armadanya pada tahun 2008 dan sisanya akan bergabung dalam beberapa tahun kedepan.

Sementara itu beberapa maskapai lainnya antara lain Indonesia Air Asia, Kartika Airlines, Mandala Airlines dan lain-lain masih menggunakan pesawat dengan umur rata-rata di atas 20 tahun, termasuk Merpati Airlines.

Seperti juga Lion Air beberapa maskapai yang sudah pasti melakukan pembelian pesawat baru seperti Garuda, Merpati Airlines, Mandala Airlines dan lain - lain umur rata-rata pesawatnya akan segera lebih muda pada beberapa tahun kedepan.

Rute penerbangan 

Rute penerbangan dalam negeri terdiri atas :
1.        Rute Utama yang berfungsi menghubungkan antar bandar udara pusat penyebaran yang meliputi bandara pusat penyebaran primer, sekunder dan tersier.
2.        Rute Pengumpan yang berfungsi sebagai penunjang rute utama yang menghubungkan antara bandar udara pusat penyebaran dengan bandar udara bukan pusat penyebaran dan antar bandar udara bukan pusat penyebaran.
3.        Rute Perintis yang berfungsi menghubungkan daerah terpencil dan pedalaman serta daerah yang sukar dihubungi oleh moda transportasi lain.

Rute penerbangan domestik terus berkembang
Rute penerbangan di Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama adanya beberapa maskapai penerbangan yang berbasis di luar Jakarta dan mengembangkan penerbangan reguler yang beroperasi di beberapa wilayah di Indonesia.

Maskapai tersebut antara lain Riau Airlines yang fokus melayani penerbangan di wilayah sumatera, kemudian Dirgantara Air Services yang melayani penerbangan ke beberapa kota di Kalimantan, serta Trigana Air Services yang banyak melayani kota-kota di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute non Jakarta tersebut, sebagian adalah maskapai penerbangan yang melayani penerbangan perintis, yang terus meningkat armadanya sehingga mulai melayani penerbangan non perintis. 
Sementara itu penerapan strategi penerbangan Low Cost Carrier oleh sebagian besar maskapai penerbangan yang membuat harga tiket menjadi jauh lebih murah, ikut menumbuhkan peningkatan pengguna pesawat terbang oleh pengguna moda transportasi lain, sehingga jumlah penerbangan  pada kota-kota besar di Indonesia semakin bertambah.

Karena semakin murahnya harga tiket pesawat terbang, semakin banyaknya pengguna moda transportasi lain seperti kapal laut, bis dan kereta api yang berubah menggunakan transportasi udara. Hal inimembuat terjadinya peningkatan jumlah penumpang  pesawat di beberapa kota-kota besar di Indonesia.

Akibatnya beberapa maskapai penerbangan meningkatkan frekuensi penerbangannya di rute tersebut dan bersaing ketat dengan banyak maskapai penerbangan lainnya. Selain maskapai penerbangan lama, beberapa maskapai penerbangan yang awalnya hanya melayani penerbangan carter dan perintis,  mulai masuk ke rute padat ini, antara lain Riau Airlines, Trigana Air Services, Pelita Air Services dan lain lain. 

Penerbangan perintis masih sangat dibutuhkan

Rute penerbangan perintis berfungsi mendorong pertumbuhan dan pengembangan wilayah di Indonesia, untuk mendukung penyelenggaraan penerbangan perintis ini, pemerintah memberikan subsidi berupa subsidi operasi angkutan udara perintis dan subsidi angkutan bahan bakar.

Kebijakan mengenai angkutan udara perintis diatur dalam UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, PP No. 40 Tahun 1995 dan KM 81 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara. Fungsi dan tujuan ditetapkannya rute perintis yaitu Mendorong Pertumbuhan dan pengembangan wilayah.
Jumlah rute penerbangan perintis hingga saat ini terus berkembang pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia antara  lain di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Papua dan Irian Barat.

Papua merupakan wilayah di Indonesia yang mempunyai rute penerbangan perintis terbanyak, yang mencapai 33 rute penerbangan pada tahun 2007. Kemudian diiluti oleh Irian Jaya Barat dan NAD yang mencapai 9 rute pada tahun 2007.

Kondisi geografis serta keterbatasan infrastruktur jalan yang membuat kebutuhan terhadap penerbangan perintis sangat dibutuhkan di wilayah - wilayah tersebut.

Pada tahun 2002 jumlah rute penerbangan perintis mencapai 55 rute, kemudian berkembang menjadi 73 rute pada tahun 2003 dan secara bertahap terus meningkat, meskipun penambahan jumlah rutenya relatif kecil. Penambahan jumlah rute penerbangan perintis juga terkait bertambahnya jumlah kota dan propinsi yang dilayani oleh penerbangan perintis.

Pada tahun 2002  jumlah propinsi yang dilayani penerbangan perintis hanya 10 kota, kemudian bertambah pada tahun 2003 menjadi 11 propinsi. Jumlah propinsi yang dilayani penerbangan perintis bertambah pada tahun 2005 menjadi 13 propinsi, yaitu masuknya wilayah Sulawesi Barat dan Irian Jaya Barat.

Beberapa maskapai penerbangan yang melayani penerbangan perintis antara lain Merpati Nusantara Airlines, Riau Airlines di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, Trigana Air Service di wilayah NTT, Papua, Maluku, dan wilayah Sumatera, Deraya di wilayah Sumatera, Maluku,  Papua dan lain-lain.

Rute penerbangan luar negeri

Maskapai penerbangan dalam negeri yang melayani penerbangan internasional pada tahun 2007 adalah 9 perusahaan, sementara maskapai penerbangan asing yang melayani penerbangan ke Indonesia adalah 34 perusahaan. Jumlah maskapai yang melayani penerbangan international ini relatif tetap sejak tahun 2003 hingga 2007, baik untuk maskapai nasional maupun asing.
Garuda Indonesia masih menjadi maskapai nasional yang melayani penerbangan luar negeri terbanyak, kemudian diikuti oleh Lion Air dan Merpati Nusantara Airlines.

Sebagian besar negara yang dilayani oleh maskapai penerbangan Indonesia adalah negara Asia, hampir semua wilayah Asean, Australia dan Selandia Baru serta beberapa negara Timur Tengah. 

Perkembangan aktivitas angkutan udara reguler

Perkembangan angkutan udara reguler di Indonesia dapat terlihat pada beberapa faktor penting yang menjadi indikasi perkembangan tersebut, antara lain perkembangan jarak penerbangan (Aircraft KM), banyaknya jumlah keberangkatan (Aircraft Departure)serta jumlah penumpang terangkut (Passenger carried).

Perbandingan jumlah penumpang (Passenger KM) dengan jumlah kursi yang tersedia (Available Seat KM) atau disebut juga Passenger L/F, merupakan indikator penting yang dapat menunjukan meningkat atau tidak kinerja dari suatu maskapai penerbangan dengan melihat prosentase jumlah kursi yang terisi dari total jumlah penerbangan selama setahun. .........................Lihat Daftar Isi >>


HOME        PRODUCTS      ABOUT US       CONTACTS      
 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan