2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2008

PROSPEK INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2009


Halaman Berikut >>

Current issues

Sektor industri manufaktur kembali terpukul dengan adanya krisis finansial global yang menyebabkan ekonomi di negara maju melemah. Akibatnya pasar ekspor menyusut dan sebagian besar industri manufaktur yang berorientasi ekspor mulai dilanda kelesuan.  Ancaman PHK sudah mulai dihadapan mata karena makin sedikitnya pesanan sehingga pabrik tidak mampu beroperasi secara normal.

Disamping pasar yang melemah industri manufaktur juga menghadapi masalah naiknya biaya produksi karena mahalnya harga bahan bakar dan bahan baku sehinggga sulit untuk bisa bersaing. Bagi industri yang bergantung kepada bahan baku impor seperti industri baja, industri otomotif, industri elektronik dan juga industri tekstil, melemahnya nilai tukar Rupiah juga menyebabkan harga bahan baku impor menjadi mahal. Akibatnya bukan saja persaingan dipasar ekspor makin berat tapi juga persaingan yang ketat terjadi di pasar domestik.

Satu masalah lagi yang adalah tingginya suku bunga kredit dan semakin ketatnya likuiditas perbankan sehingga makin sulit industri manufaktur untuk memperoleh kredit investasi dan modal kerja dengan bunga rendah.

Melemahnya pasar ekspor menyebabkan industri yang berorientasi ekspor seperti sektor industri tekstil dijaukan kembali oleh perbankan. Padahal sejak awal 2008 industri tekstil sudah mulai kembali dibiayai oleh perbankan setelah Pemerintah menyediakan dana  bantuan berupa insentif suku bunga kepada industri tekstil yang akan melakukan restrukturisasi mesin-mesinnya. Namun kini upaya yang baru dirintis ini kembali mengalami kesulitan memperoleh kepercayaan dari perbankan.

Memasuki akhir tahun 2008, sektor industri sebagaimana sektor ekonomi lain menghadapi kondisi yang paradoks. Semula harga bahan baku terutama  barang tambang seperti bijih besi dan komoditi perkebunan seperti CPO, harganya melambung tinggi sehingga industri hilir mengalami  kesulitan karena biaya produksi meningkat pesat sementara harga jual tidak bisa mengikuti kenaikan harga bahan baku. Akibatnya banyak industri yang tidak mampu bertahan untuk tetap berproduksi.

Kemudian semenjak semester ke dua harga bahan baku menurun menyusul turunnya harga  minyak dunia.  Namun industri tidak bisa segera pulih kembali karena pasar ekspor tetap lesu dan di pasar dalam negeri sangat ketat bersaing dengan produk impor. Sementara itu suku bunga masih tetap tinggi sehingga dari sisi likuiditas banyak perusahaan yang masih tetap kesulitan.

Menghadapi masalah tersebut maka industri mulai menoleh kepada Pemerintah untuk mengeluarkan berbagai kebijakan yang bisa menyelamatkan industri, termasuk diantaranya bagaimana melindungi pasar domestik dari serbuan barang impor terutama impor ilegal, dan bagaimana menyediakan stimulus ekonomi untuk merangsang kembali pergerakan industri manufaktur.

Perkembangan Sektor Industri 2008

Secara umum sektor industri pengolahan mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 4,14 persen sampai dengan triwulan II tahun 2008 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,17 persen. Penurunan pertumbuhan tersebut juga terjadi pada industri pengolahan bukan migas yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,49 persen dan industri pengolahan migas yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 0,65 persen.

Pertumbuhan terbesar pada sektor industri non migas dicapai oleh industri alat angkut, mesin dan peralatannya sebesar 15,82 persen, disusul industri Pupuk, Kimia & Barang dari karet sebesar 3,49 persen, industri Logam Dasar Besi & Baja sebesar 2,98 persen, industri Kertas dan Barang cetakan sebesar 0,42 persen, dan industri Barang Kayu & Industri Hutan Lainnya sebesar 0,32 persen.

Sedangkan industri yang mengalami pertumbuhan negatif yang terbesar adalah industri barang lainnya minus 4,26 persen. diikuti industri Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki minus 3,43 persen, industri Makanan, Minuman dan Tembakau minus 2,36 persen, dan industri Semen & Barang Galian Bukan Logam minus 0,48 persen.

Bila dilihat dari kontribusinya industri Alat angkut, Mesin dan Peralatannya menempati urutan pertama dengan kontribusi yang mencapai 29,80 persen dari total PDB sektor industri pengolahan non migas. Di posisi kedua ditempati industri Makanan, Minuman dan Tembakau dengan kontribusi sebesar 28,87 persen, disusul industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 13,46 persen. Sedangkan sektor industri lainnya memberikan kontribusi kurang dari 10 persen terhadap industri pengolahan non migas

Sementara itu, bila dilihat dari utilisasi, rata-rata untuk kapasitas produksi industri pengolahan mencapai 71.12 persen, masing-masing sektor industri masih berpeluang untuk meningkatkan outputnya. Sektor dengan utilisasi kapasitas produksi tertinggi adalah industri logam dasar besi dan baja yang mencapai 82,50 persen dari kapasitas terpasang.

Ekspor non migas masih terpicu tingginya harga komoditi

Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2007, maka pada tahun 2008 ketika pasar dalam negeri lesu, ekspor komoditas non migas terutama produk industri manufaktur walaupun pertumbuhannya melambat namun tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Salah satunya adalah karena didukung oleh  meningkatnya nilai ekspor berbagai komoditas industri olahan karena meningkatnya harga berbagai komoditas  dipasar internasional sampai pertengahan  tahun 2008.

Ekspor pupuk periode April-Juni (Triwulan II ) 2008 Bila dibandingkan dengan periode Januari-Maret 2007 (Triwulan I) meningkat sebesar 54,9 persen menjadi US$14,09 Juta dari sebelumnya sebesar US$9,10 Juta, Sementara itu Impor mengalami peningkatan sebesar 112,40 persen dari sebelumnya sebesar US$230,37 Juta menjadi US$489,30 Juta

Produk industri yang mengolah sumber daya alam seperti minyak nabati terutama minyak kelapa sawit meningkat cukup besar nilai ekspornya karena kenaikan harga dipasar internasional yang tinggi. Pada tahun 2008 sampai bulan Juli  ekspor minyak nabati meningkat lebih dari 100% dibanding periode yang sama tahun 2007, baru memasuki triwulan III ekspor minyak nabati mulai melemah karena penurunan harga dan permintaan.

Harga berbagai jenis barang logam sampai triwulan II tahun 2008 masih tinggi sehingga perolehan ekspor masih meningkat tinggi. Namun memasuki triwulan III harga telah menurun kembali sehingga perolehan ekspor  produk-produk logam non besi termasuk hasil tambang seperti nikel, tembaga, timah  dll  mulai melemah

Demikian juga produk hilir berbahan baku utama logam seperti industri  mesin dan otomotif sampai triwulan ke II/2008 juga mengalami peningkatan yang cukup besar dibanding periode yang sama tahun 2008, yaitu meningkat hampir 40%.

Investasi

Perkembangan realisasi investasi (izin usaha tetap) PMDN sampai triwulan kedua 2008 menunjukkan penurunan dibanding periode yang sama tahun 2007. Total investasi PMDN yang terealisasi pada pada periode Januari sampai dengan Juni tahun 2008 mencapai Rp.8.496,6 miliar, meniurun sebesar 70,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun demikian dari jumlah proyek terjadi kenaikan sebesar 30,86 persen menjadi 106 proyek sepanjang Januari-Juni 2008.

Penurunan realisasi investasi PMDN terjadi di semua sektor. Penurunan terbesar terjadi pada sektor primer yang menurun sebesar 73,04 persen menjadi Rp. 688,9 miliar pada periode Januari - Juni 2008, sektor tersier turun sebesar 71,07 persen menjadi Rp.992,4 miliar dan sektor sekunder menurun sebesar 69,56 persen menjadi Rp.6.815,2 miliar.
Hal yang sebaliknya terjadi pada PMA, total investasi PMA yang terealisasi pada periode tersebut mencapai US$ 10,38 miliar, meningkat sebesar 153,04 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk jumlah proyek periode Januari-Juni 2008 meningkat sebesar sebesar 9,90 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 544 proyek.

Peningkatan realisasi yang sangat signifikan terjadi pada sektor tersier yang meningkat sebesar 760,04 persen menjadi US$ 7,52 miliar pada periode Januari-Juni 2008, sedangkan sektor primer turun sebesar 34,00 persen menjadi Rp.290,5 Juta dan sektor sekunder menurun sebesar 7,85 persen menjadi US$ 2,57 miliar.

PMDN Sektor Industri/Sekunder

Pada periode Januari-Juni tahun 2008 Industri Makanan, serta Industri Logam, Mesin dan Elektronika merupakan sektor-sektor yang diminati oleh investor dalam negeri. Kedua sektor tersebut mempunyai nilai investasi diatas Rp. 1 triliun, bahkan Industri Makanan mencapai Rp. 3,8 triliun, sedangkan nilai investasi untuk industri lainnya dibawah Rp 1 triliun. Demikian juga bila dilihat dari jumlah proyek yang terealisasi Industri Makanan menjadi yang terbanyak dengan 23 proyek, disusul Industri Logam, Mesin dan Elektronik 17 Proyek, sedangkan jumlah proyek untuk industri lainnya dibawah 10 proyek.

PMA Sektor Industri/Sekunder

PMA sektor Industri Logam, Mesin dan Elektronika merupakan sektor primadona investor asing dengan total investasi sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2008 sebesar US$ 543,1 juta, diikuti oleh industri Kendarran Bermotor & Alat Transportasi sebesar US$ 465,7 juta, industri Kimia & Farmasi sebesar US$ 441,0 juta, industri Kertas dan Percetakan sebesar US$ 294,0 juta.

Dari jumlah proyek yang terealisasi, Industri Logam, Mesin dan Elektronik mencapai 56 Proyek dan menjadi yang terbanyak, disusul Industri Tekstil 39 Proyek dan Industri Karet dan Plastik sebanyak 22 proyek.


Stimulus Fiskal

Guna mendorong pertumbuhan sektor industri manufaktur yang mengalami kesulitan likuiditas dan pendanaan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk memberikan stimulus fiskal yang mulai berlaku awal Januari 2009.

Pemerintah menetapkan sebanyak 31 sektor akan mendapatkan  stimulus Rp 12,5 triliun yaitu sebanyak 17 sektor industri akan  mendapatkan fasilitas PPN ditanggung pemerintah (DTP), sedangkan untuk bea masuk DTP dibagikan kepada 14 sektor industri.

Untuk keempatbelas sektor tersebut insentif BM DTP yang didapatkan adalah Rp 2,4 triliun. Sementara untuk tambahan stimulus Rp 38 triliun sebagai tambahan stimulus Rp 50 triliun peruntukkannya untuk menjaga stabilitas dan juga sebagai stimulus

Prospek  industri manufaktur per sektor tahun 2009

Halaman Berikut >>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan