2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2008


OUTLOOK EKONOMI INDONESIA 2009

Halaman Berikut >>

Latar belakang

Melangkah menuju tahun 2009, ekonomi Indonesia tidak bisa berkelit dari dampak krisis finansial global. Sepanjang tahun 2008, terutama sampai triwulan ke III, ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang baik, sehingga ketika pada tiga bulan terakhir tahun 2008 pertumbuhan ekonomi mulai melambat, maka secara keseluruan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 masih bisa mencapai 6,1 %. Keadaan ini lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Singapura yang  diperkirakan hanya tumbuh 2,2% tahun 2008 ini.

Selama tahun 2008, ketika krisis finansial global sudah mulai menimpa berbagai negara maju dan berkembang akibat kesulitan likuiditas dan naiknya harga komoditi primer. Indonesia selain menderita akibat naiknya harga minyak, namun juga mendapat berkah dari peningkatan harga berbagai komoditas ekspor utama, sehingga sampai triwulan III 2008 ekspor menjadi salah satu penunjang utama pertmbuhan ekonomi, disamping konsumsi dalam negeri.

Pada awalnya ketika krisis finansial global mulai merebak, sektor keuangan di Indonesia belum terkena dampak yang berarti, karena tidak ada perbankan Indonesia yang terpapar langsung dengan krisis subprime mortgages di Amerika Serikat yang telah merugikan banyak lembaga keuangan raksasa di dunia.

Selama tahun 2008, masyarakat masih bisa menikmati bunga rendah, ketika  BI menurunkan BI rate sampai 8%. Baru setelah harga minyak bumi terus melesat BI rate naik, dan sektor konsumsi mulai melambat pertumbuhannya.

Dampak krisis finansial global, mulai dirasakan pada triwulan III 2008, yang ditandai dengan makin sulitnya likuiditas yang dialami lembaga keuangan, sementara BI menaikan BI rate untuk menjaga inflasi yang melambung smenjak harga bahan bakar minyak dinaikan awal Juli 2008.

Pertumbuhan ekonomi juga mengalami titik balik, ketika harga berbagai komoditas ekspor  menurun menyusul anjloknya harga minyak dunia. Ketakutan masyarakat dunia akan terjadinya resesi telah menyebabkan menurunya permintaan terhadap berbagai produk tersebut sehingga harga terus menurun. Akibatnya Indonesia yang semula mengandalkan ekspor sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi mulai memasuki masa sulit.

Berbagai industri manufaktur terutama yang berorientasi ekspor  seperti tekstil, sepatu dan elektronik, mulai mengurangi kegiatannya termasuk mengurangi tenaga kerja karena permintaan pasar ekspor yang menurun. Upaya untuk mencari pasar baru bukanlah hal yang mudah.

Memasuki tahun 2009, ekonomi Indonesia akan menghadapi tantangan yang berat. Selama tahun 2008 ekonomi Indonesia relatif baik apabila melihat berbagai indikator ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diperkirakan mecapai 6.1%, inflasi bisa ditekan menjadi 11,06% berarti lebih rendah dari target inflasi BI yang sebesar 11,4%. Hal ini berkat deflasi dalam dua bulan terakhir, setelah harga  BBM turun dan juga harga berbagai bahan pokok  seperti minyak goreng padahal memasuki akhir tahun inflasi biasanya cukup besar.

Walaupun secara umum indikator ekonomi tahun 2008 cukup baik, namun jika diperhatikan mulai triwulan ke III, kegiatan ekonomi mulai melemah, ekspor menurun nilainya, pasar dalam negeri mulai lesu, industri menghadapi kesulitan pasar dan likuiditas sehingga ancaman pemutusan hubungan kerja semakin nyata.

Umumnya semua pihak sepakat bahwa ekonomi Indonesia pada tahun 2009 akan mengahadapi kesulitan. Namun besarnya kesulitan, bagaimnaa mengatasi, dan kapan kesulitan itu berakhir masih menjadi perdebatan. Walaupun demikian harapan adanya jalan keluar bagi Indonesia untuk le[pas dari krisis finansial saat ini jauh lebih besar dibanding krisis moneter sepuluh tahun yang lalu.

Tantangan Ekonomi tahun 2009

Krisis finansial global berimbas kepada ekonomi Indonesia melalui dua jalan yaitu efek terhadap sektor keuangan dan efek terhadap sektor ekspor. Dampak krisis finansial terhadap sektor keuangan sudah dirasakan selama tahun 2008, yaitu dengan anjloknya nilai tukar Rupiah, turunnya indeksharga saham karena larinya investor asing, pelarian modal baik dari bursa saham maupun pasar obligasi Pemerintah.  Akibatnya likuiditas sektor keuangan sangat ketat, inflasi tinggi, tingginya risiko usaha, dan makin besarnya cost of money.

Sementara itu sektor riil menghadapi dampak krisis finansial global ini dengan makin surutnya pasar ekspor kenegara maju terutama Ameriaka Serikat, Jepang dan Uni Eropa, yang merupakan pasar ekspor utama Indonesia selama ini. Akibatnya kegiatan industri menurun dan ancaman PHK semakin nyata.

Sementara itu pasar dalam negeri juga lemah, karena turunnya daya beli masyarakat  akibat inflasi dan suku bunga kredit konsumsi yang tinggi. Sementara itu persaingan produk industri dalam negeri dengan barang imporpun akan makin ketat.

Memasuki tahun 2009 bagaimana upaya mengatasi tantangan diatas akan menjadi penentu kepulihan ekonomi Indonesia.

Gambaran umum ekonomi Indonesia tahun 2008

Walaupun krisis finansial global telah berlangsung selama tahun 2008 namun Produk domestik bruto (PDB) masih  meningkat cukup tinggi walaupun tidak setinggi tahun 2007. Sampai triwulan ke III PDB 2008 (year on year) meningkat 6,1%, sedangkan PDB tahun 2007 mencapai 6,32%.

Melesunya ekonomi dunia sebagai dampak  krisis subprime mortgage di Amerika Serikat menyebabkan laju pertumbuhan ekspor menurun. Demikian juga harga minyak bumi dunia yang tinggi terutama selama tiga triwulan pertama merupakan salah satu hambatan eksternal yang menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi tidak sepesat yang diharapkan..

Pertumbuhan PDB tahun 2008 masih ditunjang oleh pertumbuhan sektor hampir seluruh sektor terutama konsumsi Pemerintah yang meningkat sebesar 16,87% tahun 2008 dibanding periode yang sama tahun 2007 yang hanya mencapai 3,89%. Hal ini menunjukkan Pemerintah telah berusaha mempercepat pencairan dana APBN baik untuk pengeluaran rutin maupun untuk pembangunan, yang selama tahun 2007 lalu dinilai lamban.

Pertumbuhan ekspor juga relatif tinggi sebagai dampak dari tingginya harga komoditas ekspor Indonesia di pasar dunia.

PDB Indonesia selama ini ditunjang oleh besarnya pengeluaran sektor konsumsi Rumah tangga  dan ekspor barang dan jasa. Dengan naiknya inflasi tahun 2008 akibat kenaikan berbagai harga bahan pokok termasuk bahan bakar, minyak goreng dll, maka daya beli masyarakat menurun dan pada gilirannya menyebabkan menurunya pangsa konsumsi  rumah tangga dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Peran konsumsi Pemeritah saat ini sangat penting  dalam mendorong pertumbuhan ekonomi karena sektor ekonomi lainnya seperti konsumsi rumah tangga dan ekspor diperkiralan akan merosot sejalan delangan kelesuan ekonomi dunia.

Sektor Angkutan dan komunikasi masih memberi andil terbesar pertumbuhan  ekonomi

Sektor angkutan dan komunikasi masih terus berkembang dan memberi andil yang paling besar dalam pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 seperti juga yang terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Sub-sektor penerbangan dan telekomunikasi masih menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar PDB tahun 2008, yang ditandai oleh semakin banyaknya perusahaan penerbangan dan pesawat terbang dan melonjaknya langganan atau pemakai telpon seluler.

Sampai bulan triwulan III 2008, sektor angkutan dan komunikasi masih  tumbuh sebesar 17,11%, dibanding pertumbuhan tahun 2007 yang mencapai 14,38%.

Sektor pertanian mulai  melambat yaitu hanya tumbuh sebesar 2,43% tahun 2008 dibandingkan dengan 3,50% tahun 2007. Hal ini disebabkan mulai melemahnya harga komoditas pertanian terutama kelapa sawit, karet dan kokoa menyusul turunya harga minyak bumi.

Sektor manufaktur melambat  dengan pertumbuhan 4,25% tahun 2008 dari 4.66% tahun sebelumnya akibat naiknya biaya produksi setealh harga BBM  dan suku bunga meningkat.

Sektor pertambangan juga  mulai melambat dibanding pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya.

Ekspor mulai melemah

Pertumbuhan ekspor sampai bulan November 2008 mampu mencapai 24,17% seperti yang ditargetkan Pemerintah. Sampai bulan November 2008 kumulatif ekspor telah mencapai US$ 128,09 milyar, diperkirakan sampai akhir 2008 ekspor akan mencapai sekitar US$ 137 milyar.

Namun demikian nilai ekspor pada bulan Nopember 2008 mulai mengalami penurunan. Nilai ekspor Indonesia November 2008 mencapai US$9,61 miliar atau mengalami penurunan sebesar 11,09 persen dibanding ekspor Oktober 2008. Demikian pula bila dibanding ekspor November 2007 mengalami penurunan sebesar 2,36 persen.

Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2008 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$232,2 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada pakaian jadi bukan rajutan sebesar US$50,0 juta.

Ekspor nonmigas ke Jepang November 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$1,13 miliar, disusul Amerika Serikat US$935,2 juta dan Singapura US$726,5 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,21 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,24 miliar.

Dengan terjadinya resesi di negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Amerika Serikat dan Jepang, maka diperkirakan penurunan ekspor masih akan berlangsung sampai tahun 2009 nanti

Pada tahun 2008, surplus perdagangan Indonesia mengalami penurunan drastis, yaitu sampai bulan oktober 2008 surplusnya hanya mencapai US$ 8,26 milyar.

Harga minyak telah mendorong kenaikan pendapatan ekspor minyak dan gas namun peningkatan impor lebih besar lagi sehingga sampai bulan Oktober 2008 devisit neraca perdagangan untuk minyak dan gas mencapai US$1,89 milyar.

Inflasi tahun 2008 mulai terkendali

Menyusul turunnya harga BBM dalam bulan Nopember 2008 makap ada bulan Desember terjadi deflasi sebesar  0,04%. Dengan  demikian inflasi tahun kalender 2008 mencapai 11,06% berarti masih dibawah target Pemerintah yang mencapai 11,4%.

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 2,74 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,57 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,52 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,52 persen, kelompok sandang 1,13 persen, kelompok kesehatan 0,21 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16 persen.

Setelah mencapai puncaknya pada bulan Juni 2008, inflasi mulai mereda dan  dalam tiga bulan terakhir angka inflasi relatif lebih rendah dari bulan yang sama tahun 2007. Makin terkendalinya inflasi diharapkan akan memberi dampak positif terutama terhadap suku bunga. Selama ini suku bunga BI rate yang tinggi ditujukan untuk menahan laju inflasi yang terus meningkat diawal tahun 2008.

Dengan lesunya ekonomi dalam beberapa bulan terakhir diharapkan BI dapat menurunkan kembali suk bunganya tanpa khawatir terjadi kenaikan tingkat inflasi yang berarti.

Outlook  ekonomi dunia 2009

Halaman Berikut >>
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
MONTHLY REPORT
 
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan