2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Desember 2008

ASTRA AGRO TUNDA BANGUN PABRIK SENILAI RP480 MILIAR. PT Astra Agro Lestari Tbk menangguhkan pembangunan empat pabrik baru dari lima pabrik pengolahan kelapa sawit yang rencananya akan dibangun tahun depan. Kebutuhan dana untuk pembangunan satu unit pabrik mencapai Rp120 miliar per unit atau untuk empat pabrik mencapai RP480 miliar. Penangguhan  pembangunan pabrik tersebut terpaksa dilakukan karena ketatnya likuiditas perseroan pada tahun depan, disamping itu juga perseroan membutuhkan  dana untuk mengembangkan bisnis kelapa sawit, diantaranya dengan memperluas lahan tertanam 55.000 ha pada tahun depan.

Saat ini jumlah pabrik yang dimiliki Astra Agro mencapai 20 units dengan total kapasitas pengolahan mencapai 940 ton tandan buah segar (TBS) per jam, adapun satu unit pabrik yang tetap dibangun memiliki kapasitas pengolahan mencapai 45 ton TBS per jam. Selain minyak kelapa sawit (CPO), Astra Agro juga memproduksi karet, kernel, palm kernel oil (PKO), serta palm kernel extract (PKE) dan dari produk yang dihasilkan, 90% diantaranya dijual melalui tender lokal, sedangkan yang 10%nya tender ekspor. Beberapa negara yang menjadi tujuan pemasaran Astra Agro adalah India, Eropa, Cina serta Malaysia.

PERTAMINA AKAN DIVESTASI ANAK USAHA NON INTI. PT Pertamina (Persero) akan melakukan divestasi anak perusahaan yang menderita kerugian, terutama yang tidak masuk dalam bisnis inti perseroan minyak dan gas. Dalam rapat dengan pendapat dengan komisi VI DPR, Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin mengatakan anak perusahaan yang saat ini bergerak di bidang bisnis non inti meliputi asuransi, dana pension, jasa hokum, jasa pariwisata dan akomodasi, layanan kesehatan, konstruksi dan manufaktur, realestat dan property.

Dari 21 anak perusahaan  tercatat lima diantaranya hingga periode September 2008 mengalami rugi usaha yaitu PT Geo Dipa Energi, PT Patra Dok Dumai, PT Pertamina EP Randugunting dan PT Pelita Air Service. Saat ini perseroan sedang melakukan transisi seluruh anak perusahaan sehingga Pertamina lebih focus ke bisnis inti. Perusahaan yang tidak terkait langsung seperti hotel dan konsultan akan dilepas, sedangkan yang menunjang langsung bisnis Pertamina akan dipertahankan

TRUBA CARI UTANG BANK US$189 JUTA UNTUK BIAYAI PLTU KUALA TANJUNG. PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk mencari pendanaan US$189 juta (Rp2,09 triliun) dari bank lokal dan asing untuk membiayai pembangunan PLTU Kuala Tanjung, Sumatera Utara yang berkapasitas 270MW. Saat ini perseroan menjadi pengendali utama dalam pembangkit Kuala Tanjung, dengan menguasai 70% saham. PLTU tersebut merupakan salah satu dari beberapa pembangkit swasta yang akan dibangun perseroan. Jika PLTU Kuala Tanjung selesai, maka total kapasitas pembangkit yang dimiliki perseroan mencapai 470 MW. Sedangkan pembangkit lain yang masih dalam tahap pengerjaan yaitu di Lampung yang berkapasitas 60 MW, PLTU di Bangka berkapasitas 25 MW, serta PLTU di Pontianak 60 MW. Untuk pembangkit di Lampung, perseroan berencana menambah lagi kapasitasnya sebesar 60 MW dan diharapkan bisa selesai pada semester I tahun depan.

MEDCO RAUP KREDIT US480 JUTA. PT Medco Energi Internasional Tbk mengantongi US$70 juta - US$80 juta dari BCA untuk membiayai proyek lapangan gas Singa, Lematang PSC, Sumatera Selatan. Sebelumnya perseroan mencari pendanaan eksternal berkisar US$1,36 miliar dari total kebutuhan investasi enam proyek Medco hingga lima tahun ke depan senilai US$1,7 miliar. Setelah perseroan mengantongi kredit dari BCA dari total kebutuhan pendanaan proyek Lematang yang membutuhkan US$100 juta dan sisanya akan menggunakan dari kas internal. Presiden Direktur Medco, Darmoyo Doyoatmojo mengatakan, perseroan akan menggarap sisa enam proyek dari tujuh proyek yang ditargetkan, terkait dengan selesainya  proyek bio ethanol di Lampung yang dibiayai dari kas internal. Enam proyek itu adalah pertama, fasilitas lapangan gas Singa, Lematang PSC, Sumatera Selatan. Kedua, lapangan gas Blok A, Aceh yang kegiatan pengembangannya dilakukan dengan target produksi awal pertengahan 2011. Ketiga, enchanced oil recovery (EOR) Blok Rimau. Keempat. Area 47 Libia, Medco bersama dengan Verenex Energy Inc menyerahkan laporan penilaian akhir lapangan kepada komite manajemen Area 47. Kelima, lapangan gas Senoro, Sulawesi Tengah yang pembiayaannya berasal dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan bank komersial yang sedang berlangsung. Keenam, proyek panas bumi Sarulla, Sumatera Utara, Medco bersama dengan Kyushu Electric Power Co. Inc, Itochu Corporation dan Ormat International Ltd masih dalam proses negoisasi.

INDOSAT TUNDA JUAL MENARA. PT Indosat Tbk menunda penjualan menara hingga tahun 2009 menyusul terjadinya pengetatan likuiditas yang menyebabkan calon pembeli kesulitan mencari pendanaan. Saat ini Indosat tercatat memiliki sekitar 12.500 unit menara BTS (base transceiver station) dengan 2.500 unit diantaranya merupakan menara baru yang dibangun dalam sembilan bulan pertama tahun 2008. Operator telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia ini berencana membangun sebanyak 3.000 BTS pada tahun ini dan perseroan optimis dapat mencapai target dengan membangun sebanyak 500 menara pada kuartal terakhir. Kasus penundaan penjualan menara telekomunikasi juga dialami oleh PT Excelcomindo Pratama Tbk. Operator telekomunikasi terbesar ketiga ini menunda penjualan sebanyak 7.000 menara senilai Rp7 triliun - Rp9 triliun menjadi tahun depan. Sebenarnya beberapa waktu Direktur Utama Indosat Tbk Johnny Swandi Sjam sedang mengkaji mengenai opsi penjualan, penyewaaan, atau keuanya. Dia menilai program menara bersama yang telah ditetapkan oleh pemerintah sangat bagus untuk industri telekomunikasi terutama untuk mengurangi beban perusahaan. Namun isu mengenai penjualan menara Indosat sudah mencuat sejak akhir tahun lalu.

UOB BUANA DAN UOB INDONESIA AKAN MERGER. United Overseas Bank Ltd Singapura, pemilik saham mayoritas di dua bank di Indonesia yakni PT Bank UOB Buana Tbk dengan PT Bank UOB Indonesia akan mengambil langkah penggabungan dua anak usahanya itu paling lambat pada 2010. Managing Director UOB Buana Francis Hsu mengatakan proses merger dua bank tersebut akan didahului dengan upaya menguasai dua saham bank itu secara keseluruhan. Menurutnya, kebijakan kepemilikan tunggal sangat positif dalam mendorong kualitas perbankan menjadi semakin solid dan dia menyatakan optimistis rencana penggabungan tersebut sebagai langkah terbaik untuk memperkuat bisnisnya di Indonesia. Melalui merger tersebut UOB Buana akan memperkuat bisnis penjualan kartu kredit sesuai dengan garapan utama Induk usaha UOB Singapura dengan mengutamakan pasar kelas atas. Merger antara bank swasta dan campuran tersebut akan menjadikan bank hasil penggabungan membersar dan makin luas jaringannya. Hingga September UOB Buana menguasai asset Rp19,47 triliun dan UOB Indonesia memiliki aktiva Rp10,06 triliun. UOB menjadi pengendali pada bank Buana setelah mengambil alih kepemilikan PT Sari Dasa Karsa, adalapun di UOB Buana lembaga keuangan tersebut menguasai 99% saham dan sisanya dimiliki oleh Sukanta Tanudjaja.

KRAKATAU ILTHABI BANGUN PABRIK PIG IRON. PT Krakatau Ilthabi Adhijaya akan mendirikan pabrik pig iron di Cilegon dengan produksi 300.000 ton per tahun dengan total investasi Rp780 miliar. Investasi ini dilakukan menyusul penggunaan limbah gas dari hasil pengelolaan pig iron digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik kapasitas 30 MW. PT Krakatau Ilthabi Adhijaya merupakan perusahaan patungan yang didirikan oleh PT Mitra Investasi Artaperdana dan Dana Pensiun Krakatau Steel (DPKS). Menurut Direktur Pengembangan Usaha DPKS Alugro Mulyowahyudi mengatakan pabrik pig iron tersebut akan menggunakan teknologi Oxycup asal Jerman yang menggunakan zero waste concept dan limbah pig iron tersebut akan menghasilkan top gas yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik skala 30 MW kemudian listrik yang dihasilkan tersebut akan dialokasikan untuk menerangi wilayah sekitar pabrik dan juga untuk kebutuhan industri setempat. Namun, listrik yang dihasilkan ini tidak akan terkoneksi dengan jaringan milik PLN. Sementara itu, Direktur Mitra Investasi Artaperdana Miranti Serad mengatakan Indonesia seyogianya perlu menjadi sebuah negara industri yang kuat, oleh karena itu keberadaan pabrik ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam proses industrialisasi.

PELINDO II SIAPKAN RP300 MILIAR UNTUK PROYEK MUARA SABAK. PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) menyiapkan dana investasi untuk membangun pelabuhan laut bertaraf internasional di Muara Sabak, tanjungjati Timur, Jambi. Dana sebesar Rp300 miliar tersebut berasal dari kas internal, dari laba bersih selama ini. Direktur Utama PT Pelindo II Abdullah Saefuddin mengatakan proses pembangunan pelabuhan ini diharapkan dimulai pada tahun depan dan ditargetkan beroperasi mulai 2010 untuk menggantikan pelabuhan lama dan untuk tahap awal Pelindo II akan bekerja sama dengan pemda di Jambi untuk membebaskan lahan untuk infrastruktur jalan ke pelabuhan. Kapasitas pelabuhan yang akan dibangun akan dapat melayani bongkar muat barang sebanyak 5 juta ton dan 50.000 TEUs peti kemas per hari dengan luas pelabuhan yang mencapai 200 ha. Pada tahap awal, Pelindo II akan mengalokasikan Rp50 miliar untuk membangun dermaga sepanjang 150 meter dan lebar 30 meter, serta sarana dan prasarana gudang. Selain itu, Pelindo II juga akan melakukan pengerukan laut untuk mencapai kedalaman sekitar 9 meter, sehingga bisa dirapati kapal berbobot mati 15.000 DWT. Disamping  itu, pelabuhan di Muara Sabak juga ditargetkan menjadi pelabuhan ekspor dan impor bertaraf internasional, ditambah lahan seluas 200 ha milik pemerintah daerah untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus.

INDOFOOD SELESAIKAN AKUISISI DAN UTANG RP59 MILIAR. PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui anak perusahaannya yaitu PT Indofood Agri Resources Ltd, menyelesaikan akuisisi sekaligus penyelesaian utang atas PT Abadi Cemerlang Sejahtera (ACS) senilai Rp59,1 miliar. Menurut Direktur Eksekutif Indofood Agri Resources Moleonoto Tjang mengatakan, anak perusahaan Indofood Agri, yaitu PT Salim Ivomas Pratama telah menandatangani perjanjian jual beli atas 100% dari total modal saham yang ditempatkan ACS dalam tiga perusahaan. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Cakra Alam Makmur, PT Hijaupertiwi Indah Plantation, dan PT Cangkul Bumisubur serta anak perusahaannya yaitu PT Pelangi Intipertiwi dengan nilai transaksi Rp11,7 miliar. Adapun Salim Ivomas juga berkewajiban menyelesaikan pinjaman yang diberikan ACS kepada PT Cakra Alam Makmur, PT Hijaupertiwi Indah Plantation, dan PT Cangkul Bumisubur senilai Rp47,4 miliar. Selain akuisisi ACS tersebut, Indofood juga mengantongi kesepakatan pinjaman dari sejumlah bank untuk menutup 60% dari nilai akuisisi seluruh saham Drayton Pte Ltd senilai US$350 juta.

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
MONTHLY REPORT
 
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan