2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2011

PROSPEK INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2012


Tahun 2011 yang lalu ditandai oleh kebangkitan kembali sektor manufaktur, seperti terlihat dari kinerja ekspornya maupun juga kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat. Industri manufaktur selama ini dibayangi oleh ancaman deindustrialisasi karena banyaknya pabrik tua yang sudah tidak kompetitif lagi dan kurangnya minat investasi. Selama-lama bertahun-tahun semenjak krisis monter yang terjadi pada tahun 1998 yang lalu industri manufaktur belum sepenuhnya bisa pulih kembali seperti terlihat dari pertumbuhan sektor ini yang rata-rata kurang dari 5% per tahun. Baru pada tahun 2011 sektor industri manufaktur mulai menunjukkan kebangkitan kembali seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB yang mencapai 6,2% dan pertumbuhan ekspor yang  mencapai 24,6%.

Memasuki tahun 2012 optimisme kalangan industri manufaktur masih cukup besar walaupun sektor ini akan menghadapi tantangan yang cukup berat pada tahun 2012 diantaranya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik yang banyak menentukan daya saing hasil industri baik dipasar domestik maupun pasar ekspor. Keadaan ekonomi negara maju terutama Eropa yang masih dililit krisis finansial juga menjadi ancaman tambahan  bagi pertumbuhan sektor ini.

Namun potensi industri manufaktur untuk bisa berkembang pesat pada tahun 2012 masih cukup besar. Sektor industri yang utama di Indonesia seperti sektor otomotif, industri makanan dan minuman, industri elektronik, tekstil,  dan banyak industri pengolahan lainnya diperkirakan masih akan mampu memperthankan tingkat pertumbuhan yang tinggi karena pasar domestik yang besar dan makin kompetitifnya produk industri itu setelah sebagian dari industri manufaktur melakukan revitalisasi.


Setelah ekspor sektor industri pengolahan  non-migas mengalami penurunan sebesar 16,6% pada tahun 2009 maka memasuki tahun 2010, pasar ekspor telah bangkit kembali demikian juga pasar domestik. Pada tahun 2010 secara keseluruhan ekspor sektor industri manufaktur pada tahun 2010 mencapai US$ 98 milyar atau meningkat sebesar 33,5% dibanding ekspor tahun 2009. Peningkatan ekspor industri manufaktor non migas masih berlanjut pada tahun 2011 yaitu mencapai 24,6%.

Keadaan ini telah mengundang optimisme bahwa tahun 2012 industri pengolahan akan bisa meningkat lebih baik lagi walau  pasar ekspor  di beberapa bagian dunia masih lemah seperti kawasan Eropa dan Amerika Serikat, namun dibagian dunia lain, seperti Asia dan Timur tengah masih terus menguat pasarnya.

Namun meski krisis global belum sepenuhnaya pulih dan masih rentan terhadap gejolak. Berbagai tantangan masih dihadapi baik dipasar ekspor maupun pasar domestik. Semenjak pasar bebas Asean Cina ( ASEAN-CHINA Free Trade Area) mulai diberlakukan mulai Januari 2010, maka berbagai produk manufaktur dari Cina memasuki pasar Indonesia dengan deras. Berbagai jenis barang elektronik yang berharga murah dari Cina mulai menggerogoti pasar elektronik lokal. Demikian juga produk lainnya seperti besi baja, tekstil, dan barang hasil industri lainnya.

Dengan melemahnya permintaan impor dari negara Eropa dan Amerika Serikat yang masih menghadapi masalah ekonomi, maka Cina mulai meningkatkan ekspornya ke negara Asia lain termasuk Indonesia sehingga impor dari Cina semakin besar. Memang tidak seluruh sektor industri pengolahan mengalami ancaman langsung dari produk Cina, sektor otomotif masih mempunyai daya saing yang kuat. 

Namun ACFTA  mempunyai sisi positif dengan meningkatnya perdagangan antara Indonesia dan Cina. Cina dengan pasarnya yang besar karena daya beli yang meningkat dan jumlah penduduk yang besar bisa merupakan tujuan ekspor Indonesia yang penting, demikian juga Indonesia bagi Cina.

Dengan adanya ACFTA perdagangan Indonesia dan Cina semakin pesat. Walaupun saat ini neraca perdagangan Indonesia masih defisit namun nilainya mulai mengecil, hal ini menunjukkan bahwa ditahun-tahun mendatang makin banyak produk Indonesia yang makin kompetitif di pasar Cina.

Sebelum diberlakukan ACFTA, pada tahun 2009 total  perdagangan Indonesia dan Cina baru mencapai US$  25,5 milyar, terdiri dari ekspor sebesar US$ 11,5 milyar dan impor sebesar US$ 14,0 milyar. Dengan demikian defisit neraca perdagangan mencapai US$ 2,5 milyar. Pada tahun 2010 perdagangan meningkat menjadi US$ 36,1 milyar dan pada tahun 2011 menjadi US$ 49,2 milyar. Walaupun defisit masih besar namun semenjak tahun 2011 nilainya makin turun.
Perkembangan Sektor Industri 2011

Berbagai masalah yang dihadapi oleh sektor industri manufaktur belum mampu sepenuhnya bisa diatasi. Misalnya masalah pengadaan bahan baku yang masih tergantung impor seperti bahan baku plastik dan produk hulu petrokimia, bahan baku industri baja, dll  

Sementara itu impor berbagai produk industri manufaktur dari Cina  juga semakin banyak, terutama ketika Cina mengalami kesulitan meningkatkan ekspornya ke Eropa dan Amerika Serikat. 

Masalah lainnya adalah keterbatasan infrastruktur transportasi, kondisi mesin yang tua menjadi deretan masalah yang dihadapi dan perlu penanganan yang serius karena bila tidak teratasi dalam waktu dekat bisa menurunkan daya saing sektor industri ini sehingga industri manufaktur di Indonesia akan sulit bangkit.

Pada sisi positif, mulai ada tanda-tanda perbaikan pada sektor industri pengolahan di tahun 2011. Secara umum industri manufaktur meningkat pada tahun 2011. Pertumbuhan industri pengolahan non-migas hingga triwulan III 2011 mencapai 6,49 persen,  jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri nonmigas sepanjang 2010 yang hanya 5,09 persen. Ini juga merupakan capaian pertumbuhan tertinggi industri sejak 2005. Cabang-cabang industri pengolahan nonmigas yang tumbuh meliputi industri logam dasar besi dan baja sebesar 15,03 persen serta industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang tumbuh 8,63 persen.

Selain itu industri makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 6,49 persen serta industri alat angkut, mesin, beserta peralatan yang juga tumbuh cukup tinggi sebesar 7,29 persen. 

Diperkirakan angka pertumbuhan industri secara kumulatif selama 2011 tidak akan jauh berbeda dengan capaian hingga triwulan III 2011. Kalaupun ada penurunan, paling antara 0,1 persen sampai 0,2 persen.

Ketidakpastian kondisi ekonomi dunia masih berpotensi menurunkan permintaan dari pasar AS dan Eropa, sehingga bisa menekan ekspor produk industri Indonesia ke pasar tersebut. Namun, pengaruhnya terhadap pertumbuhan industri pengolahan nonmigas hingga saat ini belum signifikan. Hal ini dikarenakan kinerja ekspor industri pengolahan non-migas hingga triwulan III juga menunjukkan tren positif sepanjang 2011.

Nilai ekspor non migas periode Januari-September 2011 tercatat US$ 91,8 miliar  atau meningkat 33,4 persen dibanding periode yang sama pada 2010. Dengan ini diyakini peningkatan ekspor industri Indonesia hingga akhir tahun 2011 tetap tinggi. Ekspor ke Eropa dan AS tidak akan terpengaruh banyak dengan dampak krisis. Apalagi nilai realisasi investasi dari penanaman modal asing secara langsung ke berbagai sektor industri selama Jnauari-September 2011 mencapai 14,34 miliar dolar AS. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding realisasi investasi sektor industri sepanjang 2010 yang hanya 3,36 miliar dolar AS.

Nilai realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada berbagai sektor industri juga cukup tinggi pada sepanjang Januari-September 2011, yakni sebesar Rp 51,98 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding nilai investasi selama 2010 yang hanya Rp 25,61 triliun. 

Hampir semua jenis industri manufaktur mengalami kenaikan sampai triwulan III 2011. Jenis-jenis industri yang mengalami pertumbuhan produksi tertinggi pada triwulan III tahun 2011 adalah Industri logam dasar (besi dan baja) yang mencapai 15.03% disusul oleh industri tekstil, barang kulit dan alas kaki sebesar  8.63%.   Kertas dan Barang dari Kertas naik 8,63%, industri makanan dan minuman naik 7,29% dan industri kendaraan bermotor naik 7,01%, 

Sementara  Industri Bahan Kimia dan Barang dari bahan Kimia pertumbuhannya lebih rendah dibanding tahun sebelunya yaitu hanya naik 4,18%.

Ekspor industri non migas pulih kembali

Sektor industri pengolahan non migas merupakan sektor yang ekspornya paling terpukul akibat krisis finansial global pada tahun 2009.  Namun pada tahun 2010, ekspor industri manufaktur telah sepenuhnya pulih kembali dan meningkat lebih dari 30% dibanding tahun 2009. Pada tahun 2011 pertumbuhan ekspor terus berlanjut walaupun perekonomian dunia terutama negara maju belum pulih sperti semula. 

 Ekspor sebagian besar  komoditi utama sektor industri pengolahan non migas selama tahun 2010  dan 2011 mengalami peningkatan yang cukup besar, seperti industri pengolahan karet, kimia dasar, alat listrik dll.  Hanya ekspor semen dan pupuk yang mengalami penurunan yang disebabkan permintaan dalam negeri yang meningkat untuk komoditas tersebut.

Industri tekstil dan baja yang sebelumnya pada tahun 2009 sempat terpuruk, kini terus melaju.  Sampai triwulan III 2011, ekspor tekstil sudah mencapai US$ 19,1  milyar atau meningkat 23,42% dan baja mesin dan otomotif sudah mencapai US$ 9,9  milyar atau meningkat 26,07 % jika dibandingkan ekspor pada perioda yang sama tahun 2010, 

Ekspor bubur kayu (pulp) dan kertas selama tahun 2011 tampaknya tak terpengaruh oleh penurunan harga yang terjadi selama tahun 2011. Permintaan terhadap pulp dan kertas  yang tinggi mendongkrak volume ekspor pulp dan kertas lokal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume ekspor bubur kayu sepanjang Januari hingga September 2011 naik 72,37% menjadi 1,81 juta ton, dari 1,05 juta ton di Januari-September 2010. Adapun data BPS mencatat pada periode Januari hingga September 2011, nilai ekspor pulp dan kertas telah mencapai US$ 4,40 miliar naik 7,04% dari US$ 4,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski tipis, nilai ekspornya naik walaupun kenaikan nilai ekspor  tak setinggi volume disebabkan  harga pulp di dunia sedang merosot. Menurut data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) harga tertinggi pulp terjadi pada pertengahan tahun 2011 di tingkat US$ 1.000 per ton, tetapi setelah itu terus turun. Pada akhir tahun 2011, harga bubur kayu hanya US$ 700-US$ 800 per ton.

       
Peluang perdagangan dengan Cina

Kekhawatiran terhadap dampak negatif Asean-China Free Trade Aqreement (ACFTA) pada tahun 2011 masih cukup besar kendati selama tahun 2011 defisit perdagangan  anatar Indonesia dengan Cina pada tahun 2011 mulai berkurang dibandingkan tahun sebelumnya ketika defisit perdaganagn sektor manufaktur pada tahun 2010 meningkat sangat besar. 

Pada tahun 2011 defisit perdagangan dengan Cina US$ 3,27 milyar sementara tahun sebelumnya defisit lebih besar yaitu US$ 4,73 milyar. Ditahun mendatang defisit neraca perdagangan akan sangat tergantung kepada pulihnya ekonomi dan pasar di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Karena dikhawatirkan Cina akan mengalihkan ekspornya ke negara Asia terutama Indonesia jika pasar di Eropa masih belum pulih. Jika hal itu terjadi maka diperkirakan defisit akan membesar kembali.

Namun demikian perdagangan dengan Cina tidak bisa hanya dilihat dari besarnya defisit, tapi juga dari peluang pasar bagi Indonesia. Dengan penduduk yang besar dan daya beli yang semakin meningkat maka Cina adalah pasar yang potensial bagi produk Indonesia. Demikian juga Indonesia bagi Cina. 

Dengan kemudahan perdagangan antara Indonesia dan Cina maka volume perdagangan anatara kedua negara itu akan  bisa tumbuh pesat. Dalam dua tahun semenjak diberlakukannnya CAFTA volume perdagananygan meningkat hampir dua kali lipat yaitu dari US$ 25,5 milyar menjadi US$ 49,15 milyar.

Pertumbuhan volume perdagangan ini pada gilirannya akan bisa menggerakan roda perekonomian nasional. Diperkirakan volume perdagangan Indonesia dan Cina pada tahun 2012 sudah bisa melampaui  US$ 80 milyar. Hal ini merupakan satu faktor penyelamat untuk menghindarkan dampak buruk krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Eropa.

Tentu saja pertumbuhan impor dari Cina yang terlalu cepat perlu diawasi dan dibuat aturan pencegahannya. Terutama jika impor tersebut  sudah menjadi ancaman yang merugikan industri lokal. Aturan tersebut selain harus tetap berpegangan pada aturan  yang berlaku di WTO, juga jangan sampai mengundang perang dagang. Hal ini perlu diplomasi yang aktif dari Pe,merintah ke dua negara.

Dampak kenaikan harga BBM 

Pemerintah sudah mencanangkan akan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tanggal 1 April 2012 yaitu sebesar Rp. 1500 menjadi Rp. 6000 per liter. Menurut Pemerintah kenaikan ini perlu segera dilakukan karena kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah melewati US$ 100 per barel akan menguras APBN untuk membayarkan subsidi BBM. Walaupun belum disetujui oleh DPR, nampaknya kenaikan ini akan terjadi walaupun besarnya kenaikan belum tentu sesuai dengan keinginan Pemerintah.

BBM sebagai salah satu unsur biaya dalam produksi dan distribusi produk industri manufaktur maka kenaikan harganya pada tahun 2012 akan berpengaruh secara luas, walaupun dampaknya berbeda untuk setiap sektor industri.

Menurut perhitungan Kementerian Perindustrian Industri pengolahan (manufaktur) nonmigas di Tanah Air diyakini bisa menoleransi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak hingga Rp 2.000 (44%) dan tarif dasar listrik (TDL) 10% pada 2012. Pertumbuhannya akan lebih rendah, namun diyakini masih mencapai 6,75% dari target maksimal 7-7,2%.

Menurut Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin, kenaikan harga BBM hingga Rp 1.500 per liter (33%) diperkirakan memangkas pertumbuhan industri manufaktur nonmigas nasional sebesar 0,12% dari target 7-7,2%. Jika harga BBM naik 44%, pertumbuhan manufaktur bakal terkoreksi 0,14% dari target. Jika harga BBM dan tarif dasar listrik (TDL) masing-masing naik bersamaan 33% dan 10%, pertumbuhan manufaktur juga akan terpangkas 0,14% dari target.

Dari sembilan cabang industri pengolahan nonmigas, sektor makanan dan minuman (mamin) dan tembakau yang akan tetap tumbuh positif, yakni sekitar 0,07% jika harga BBM dinaikkan 33% dan 0,08% jika harga BBM naik 44%. Jika TDL naik 10%, sektor mamin dan tembakau juga masih bisa naik 0,06% serta industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 0,05%.

Sektor industri  makanan, minuman dan tembakau selama ini berkontribusi sekitar 35,20% terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional. Penyumbang terbesar kedua industri alat angkut, mesin, dan peralatannya, yang diperkirakan terkoreksi 0,25% dari target jika harga BBM naik 33%. Jika TDL dinaikkan 10%, sektor ini bakal terkoreksi 0,23% dari target.

Pihak industri umumnya sudah bersiap mengatasi kenaikan harga BBM. Selama ini harga BBM untuk keperluan industri sudah mengikuti harga pasar sehingga untuk kebutuhan proses produksi maka kenaikan harga BBM bersubsidi tidak banyak pengaruhnya. Pengaruh  harga BBM akan terasa pada sektor transportasi yang terkena untuk seluruh sektor ekonomi baik industri maupun perorangan.

Masalah yang dikhawatirkan oleh sektor industri manufaktur adalah jika kenaikan BBM dilakukan bersamaan dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), karena dampaknya akan langsung terasa oleh semua sektor industri berupa kenaikan biaya. Hal ini ditakutkan akan menyebabkan daya saing industri lokal melemah sehingga tidak mampu bersaing di pasar ekspor maupun domestik.

Mengenai hal itu Pemerintah telah berjanji untuk tidak menaikan TDL selama tahun 2012 dan baru akan dilakukan secara bertahap setelah tahun 2013. Dengan demikian diharapkan industri manufaktur tidak akan terpengaruh pertumbuhannya dengan kenaikan BBM pada tahun 2012.

Prospek  industri manufaktur per sektor tahun 2012

Industri Elektronik

Tahun 2011  industri barang elektronik konsumsi mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Menurut data Electronic marketer Club (EMC), realisasi nilai penjualan produk elektronik selama bulan Januari hingga November 2011 mencapai Rp 22,65 triliun. Angka penjualan tersebut mengalami kenaikan 27% dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu. 

Pertumbuhan penjualan tersebut banyak ditunjang  oleh peningkatan penjualan yang signifikan untuk produk-produk flat panel TV, kulkas dan mesin cuci. Penjualan flat panel TV terutama terjadi karena adanya kecenderungan perpindahan dari televisi tabung (CRT) yang lebih boros energi listrik ke flat panel yang terdiri dari LCD, LED, dan plasma.

Diperkirakan  total penjualan sepanjang tahun 2011 bisa melampaui total penjualan tahun 2010. karena  biasanya masing-masing produsen menggelar kegiatan promosi besar-besaran di pengujung tahun untuk menggenjot penjualan.

Gambaran pasar elektronik tahun depan rupanya juga tidak kalah optimistis bila dibanding tahun ini. Kalangan industri elektronik umumnya optimisis bahwa, penjualan berbagai produk elektronik di tahun depan akan tumbuh antara 15% hingga 25%.

Optimisme itu didasarkan pada langkah beberapa merek yang akan memperbesar kapasitas mesin cuci, lemari es pada tahun depan. Selain itu, pasar elektronik di dalam negeri juga diyakini masih akan terus meningkat.

Namun ada beberapa potensi kendala yang bisa menurunkan penjualan barang elektronik pada tahun 2012. Pertama, krisis yang belakangan ini melanda sejumlah negara dan mengarah ke krisis global kemungkinan akan ada dampaknya. akan terasa di kuartal I-2012. Kkrisis global dierkirakan akan mendorong penguatan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah. Penguatan dollar AS ini akan mendorong kenaikan harga elektronik. Bila demikian, bisa dipastikan, kenaikan harga tersebut akan memangkas pertumbuhan penjualan.

Kekhawatiran lainnya adalah pembatalan  Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 39 Tahun 2010 tentang Ketentuan Impor Barang Jadi oleh Produsen oleh Mahkamah Agung yang menyebabkan dilarangnya impor produk elektronik oleh produsen . Selama ini produsen barang elektronik multinasional banyak mengimpor barang jadi dari pabriknya di negara lain untuk di pasarkan di Indonesia. Tanpa ada aturan  baru Menteri Perdagangan maka impor tidak bisa langsung dilakukan oleh produsen. 

Sampai saat ini pasar Elektronik Indonesia terutama untuk kelas premium merupakan salah satu pasar yang menarik bagi produsen elektronik dunia dari Jepang dan  Korea Selatan. Diperkirakan denagn adanya larangan impor pasar segmen ini akan berkurang.

Namun demikian menurut Data Consult secara umum pasar elektronik pada tahun 2012 masih akan tetap tumbuh  cukup nbesar sekitar  20%. Produk yang  potensial meningkat penjualannya adalah adalah flat panel TV, mesin cuci dan kulkas.

Industri semen

Meskipun akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada bulan April 2012, yang akan meningkatkan biaya, terutama pada biaya transportas, namun industri semen masih akan tetap prospektif pada tahun 2012. Hal ini seiring dengan akan meningkatnya pembangunan di sektor infrastruktur, sehingga  diperkirakan  permintaan semen tahun 2012 akan lebih tinggi dari 2011.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum  kebutuhan pendanaan infrastruktur di tahun 2012 seluruhnya akan mencapai Rp 306,1 triliun. Untuk Kementerian PU saja , alokasi anggarannya mencapai Rp 62, 56 triliun, dan sebesar 88% (Rp 55,05 triliun) di antaranya akan digunakan untuk proyek yang sifatnya fisik atau konstruksi. Sementara itu untuk pihak swsta diharapkan banyak investor yang akan memulai  pembangunan jalan tol.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) optimis kebutuhan industri semen akan meningkat dan memperkirakan kebutuhan semen nasional tahun 2012 mencapai 53 juta ton. Angka ini meningkat sekitar 11% dibandingkan tahun lalu sebesar 48 juta ton. 

Meskipun prospek cerah, kenaikan harga BBM bisa menjadi batu sandungan industri semen.  Menurutn Ketua Umum ASI, dampak langsung kenaikan BBM subsidi berpengaruh terhadap distribusi semen,meskipun pabrik-pabrik semen dalam produksinya tidak menggunakan BBM subsidi. 

Optimisme pengusaha industri  juga semen terlihat dari meningkatnya investasi di industri semen meskipun dihantui kemungkinan kenaikan biaya karena naiknya harga BBM. Saat ini tercatat ada  delapan investor yang  siap menanamkan modalnya sebesar Rp 57 triliun untuk membangun pabrik semen baru dengan total kapasitas produksi sekitar 30 juta ton per tahun.

Saat ini enam investor diantaranya sedang melaksanakan studi kelayakan, menjalankan analisa dampak lingkungan, dan telah meneken nota kesepahaman. Mereka adalah PT Semen Gresik, PT Semen Baturaja, PT Indocement Tunggal Prakarsa melalui anak usahanya PT Sahabat Mulia Sakti, PT Semen Bosowa, Lafarge Cement Indonesia dan China Anhui Conch Group Co. Ltd. Adapun dua investor lainnya adalah China Triumph International Engineering Co. Ltd, dan State Development and Investment Cooperation.

Industri tekstil 

Pada tahun 2011, industri tekstil tumbuh pesat yaitu sampai Triwulan III telah tumbuh sekitar 8,6%, padahal selama ini pertumbuhan industri tekstil termasuk lambat bahkan tahun 2007 dan  2008 pertumbuhannya negatif. Pertumbuhan yang pesat juga ditandai dengan peningkatan ekspor diatas 23 % padahal pasar dunia belum sepenuhnya pulih.

Namun pada tahun 2012 diperkirakan pertumbuhan industri tekstil akan kembali menghadapi hambatan. Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pertumbuhan industri tekstil Indonesia pada 2012 diprediksikan akan tumbuh tipis atau sekitar 2 persen dibandingkan tahun lalu, Pertumbuhan industri tekstil dunia secara umum diprediksi akan turun tahun depan, hanya Indonesia dan negara kawasan ASEAN saja yang bisa tumbuh tipis.

Menurunya  pertumbuhan industri tekstil dunia, disebabkan karena krisis utang Amerika Serikat dan Eropa ditambah melambatnya pertumbuhan ekonomi China. Krisis tersebut,  menyebabkan permintaan terhadap pasokan tekstil menurun, sehingga produksi nasional kemungkinan akan berkurang, meskipun tumbuh tipis.

Selain pasar ekspor yang melemah, maka perlambatan industri teksptil juga disebabkan oleh banyaknya impor tekstil terutama dari Cina yang mulai menggerogoti pasar tekstil domestik.

Dengan biaya produksi industri tekstil nasional tahun depan yang berpotensi naik, seiring berbagai kenaikan harga BBM yang akan disusul oleh kenaikan TDL tahun 2013, maka kalangan pengusaha tekstil  memperkirakan biaya produksi tekstil nasional tahun depan akan naik di atas 10 persen dibandingkan tahun 2011.  Hal ini akan menyebabkan makin rendahnya daya saing indstri tekstil nasional.

Jika tahun 2011 industri textil  bisa tumbuh sampai 8 persen, tapi tahun 2012 menurut API  industri tekstil  perkirakan hanya akan tumbuh sampai 2 persen. Dengan kenaikan tersebut ditambah masih lesunya poasasr ekspor maka pertumbuhan industri tekstil tidak akan sepesat tahun 2011 lalu.

Industri otomotif

Tahun 2011 industri mobil kembali mencatat rekor penjualan, Selama tahun  21011 penjualan mobil mencapai 890.410 unit, tertinggi sepanjang sejarah dan terbesar di antara negara ASEAN. Dengan pesatnya pertumbuhan penjualan mobil dalam dua tahun terakhir dan masih tingginya permintaan akan mobil baru maka banyak pengamat memprediksi pasar otomotif Indonesia diperkirakan bisa mencapai 1 juta unit pada tahun 2012, namun Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) memprediksi  angka penjualan berkisar  920.000 – 940.000 unit. 

Walaupun potensi untuk peningkatan penjualan mobil pada tahun 2012 masih akan tetap tinggi, namun berbagai tantangan akan dihadapi oleh industri mobil pada tahun 2012, diantaranya kenaikan harga BBM bersubsidi, kenaikan Bea Balik Nama (BBN) dan rencana pengetatan kredit pemilikan kendaraan bermotor oleh Bank Indonesia dengan menerapkan down payment yang lebih tinggi yaitu diatas 25% untuk  kendaraan pribadi dan 20% untuk kendaraan komersial. Apabila semua faktor ini terjadi serentak, maka akan memberi dampak cukup berarti terhadap penjualan mobil. Terutama pembatasan uang muka minimal bagi pembelian  kendaraan bermotor melalui kredit konsumsi, akan berdampak cukup besar karena selama ini pembiayaan pembelian mobil lebih dari 90% menggunakan kredit.
 
Dengan ekonomi domestik yang stabil, sentimen positif konsumen dan peluncuran model-model terbaru, pasar otomotif pasar otomotif nasional bisa mencapai 948.500 unit. Jika ditambah kondisi ekonomi global yang kondusif dan kebijakan domestik yang kuat, angka 1 juta unit bisa tercapai tahun ini katanya.

 Pada tahun 2012 perkembangan industri mobil nasional akan banyak sekali bergantung kepada dua kebijakan penting  yang rencananya akan ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 2012, yaitu masalah rencana kenaikan harga  BBM mulai akhir April 2012, serta kenaikan batas minimal uang muka pembelian mobil dan sepeda motor yang dibiayai oleh kredit konsumsi yang akan diterapkan pada tahun 2012 oleh BI.

Jika kedua kebijakan diterapkan pada saat yang berbeda, industri otomotif masih berharap  booming penjualan mobil masih akan berlangsung tahun 2012 walaupun tidak seoptimis jika kebijakan tersebut tidak jadi diberlakukan. Namun jika kedua kebijakan diterapkan bersamaan, dipastikan angka penjualan mobil akan turun.

Penjualan sepeda motor di Indonesia pada  tahun 2010  ternyata melebihi target dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang ditetapkan  pertengahan tahun 2010 yang sebanyak 6,4 juta unit. Berdasarkan data AISI, sampai November penjualan sepeda motor 2010 secara wholesale adalah 6.881.893 unit. Artinya jika penjualan Desember mencapai 625.000 unit (rata-rata),  pada akhir tahun penjualan kendaraan roda dua ini di Indonesia dapat menyentuh 7,5 juta unit atau melonjak 27,6%.

Industri baja

Pasar baja di Indonesia diperkirakan naik 7,9% di 2012 menjadi 10,25 juta ton dibanding 2011. Jika harga baja dunia mencapai US$ 690-720 per ton, maka pasar baja di Indonesia ditaksir senilai US$ 7,38 miliar atau Rp 66,4 triliun pada tahun 2012

Nilai pasar baja di Indonesia di 2012 diperkirakan naik 4,2% dibanding 2011 sebesar Rp 63,7 triliun. Peningkatan dipicu oleh konsumsi baja di sektor konstruksi dan manufaktur yang diperkirakan naik sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang diramalkan bisa mencapai 6,5%. Sektor konstruksi diperkirakan tumbuh 7,3%, sedangkan dan sektor manufaktur ditargetkan tumbuh di atas 6,5%.

Khusus kebutuhan baja di dalam negeri, selain ditopang pertumbuhan ekonomi, konsumsi baja juga didorong oleh peningkatan produksi otomotif. Indonesia termasuk salah satu konsumen sekaligus produsen baja yang besar. Namun yang terjadi saat ini, produksi baja nasional tidak pernah seimbang dengan konsumsi kebutuhan dalam negeri.

Pada tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan produksi baja nasional diperkirakan mencapai 6-6,5 juta ton. Sehingga masih terjadi defisit pasokan baja di dalam negeri mencapai 3-3,5 juta ton. Defisit pasokan itu terpaksa harus dipenuhi dari impor.

Industri Pulp & Kertas ....

Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan