2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2010

PROSPEK INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2011


Memasuki tahun 2011, sektor industri pengolaha2010 ekspor sektor manufaktur telah kembali pulih sehingga menggerakkan kembali sektor industri di dalam negeri. Pada tahun 2009, sektor industri manufaktur terpukul dengan adanya krisis finansial global yang menyebabkan ekonomi di negara maju melemah. Akibatnya pasar ekspor menyusut dan sebagian besar industri manufaktur yang berorientasi ekspor mulai dilanda kelesuan. 

Pada tahun 2009 ekspor  sektor industri pengolahan  non-migas turun sebesar  16,6% dibanding tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2010, pasar ekspor mulai bangkit kembali demikian juga pasar domestik. Sehingga secara keseluruhan ekspor sektor industri manufaktur pada tahun 2010 mencapai US$ 98 milyar atau meningkat sebesar 33,5% dibanding ekspor tahun 2010. Nilai ini bahkan diatas nilai ekspor tertinggi yang pernah dicapai tahun 2008 yaitu sebesar UIS$ 88 milyar.

Keadaan ini telah mengundang optimisme bahwa tahun 2011 industri pengolahan akan bisa meningkat lebih baik lagi karena pasar ekspor dunia makin meningkat.

Namun meski krisis global belum sepenuhnaya pulih dan masih rentan terhadap gejolak. Berbagai tantangan masih dihadapi baik dipasar ekspor maupun pasar domestik. Semenjak pasar bebas Asean Cina ( ASEAN-CHINA Free Trade Area) mulai diberlakukan mulai Januari 2010, maka berbagai produk manufaktur dari Cina memasuki pasar Indonesia dengan deras. Berbagai jenis barang elektronik yang berharga murah dari Cina mulai menggerogoti pasar elektronik lokal. Demikian juga produk lainnya seperti besi baja, tekstil, dan barang hasil industri lainnya.
Memang tidak seluruh sektor industri pengolahan mengalami ancaman langsung dari produk Cina, sektor otomotif masih mempunyai daya saing yang kuat, karena selama ini produk yang didominasi merk Jepang masih menguasai pasar Indonesia, sehingga tidak mudah bagi produk Cina menggeser merk Jepang yang sudah dirakit atau diproduksi di dalam negeri. Demikian juga produk seperti pupuk tidak terpengaruh oleh AC FTA karena sampai saat ini masih disubsidi oleh Pemerintah.

Berbagai masalah lainnya yang dihadapi oleh sektor industri manufaktur belum mampu sepenuhnya bisa diatasi. Misalnya masalah pengadaan bahan baku yang masih tergantung impor seperti bahan baku plastik dan produk hulu petrokimia, bahan baku industri baja, dll 

Masalah lainnya adalah pasokan listrik, infrastruktur transportasi, kondisi mesin yang tua menjadi deretan masalah yang dihadapi dan perlu penanganan yang serius karena bila tidak teratasi dalam waktu dekat bisa menurunkan daya saing sektor industri ini sehingga industri manufaktur di Indonesia akan sulit bangkit.

Pada sisi positif, masih ada tanda-tanda peluang untuk perbaikan pada sektor industri pengolahan di tahun 2010. Mulai membaiknya ekonomi dunia terutama negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropah, membuka kembali peluang pasar ekspor karena diharapkan permintaan untuk berbagai barang industri olehan akan meningkat.

Perkembangan Sektor Industri 2010

Setelah terpuruk pada tahun 2009, sektor industri manufaktur kembali bangkit pada tahun 2010. GDP sektor industri manufaktur pada tahun 2010 sampai tumbuh sebesar 4,48% dibanding tahun 2009. Kenaikan terutama berasal dari sektor industri non migas yang mampu meningkat sebesar 5,09 %, sedangkan sektor industri pengolahan migas turun sebesar -2,31 %.

Sepanjang tahun 2010, hampir semua sektor industri pengolahan mengalami peningkatan, kecuali  industri barang kayu yang menurun. Hal ini disebabkan industri barang dari kayu masih terus menghadapi kesulitan pasok bahan baku karena hutan alam sudah habis diproduksi sementara hutan tanaman industri masih belum berkembang untuk bisa memenuhi kebutuhan industri pengolahannya.

Sektor industri alat angkut yang juga sempat terpuruk pada tahun 2009, telah pulih kembali pada tahun 2010 dan mampu meningkat sebesar 10,3 %. Kondisi industri alat angkut yang membaik pada tahun 2010 ditunjukkan dengan terjadinya rekor baru penjualan mobil yang menembus 700 ribu unit.

Sektor industri pengolahan yang stabil pertumbuhannya selama lima tahun terakhir adalah sektor industri  pupuk, kimia dan barang olahan karet. Sektor ini terus tumbuh positif bahkan ketika krisis finansial sedang mencapai puncaknya pada tahun 2009. Dalam lima tahun terakhir industri ini rata-rata tumbuh diatas 4% kecuali tahun 2009 yang hanya tumbuh sebesar 1,6%. Permintaan yang kontinyu terhadap pupuk dan harga barang karet yang tinggi membantu mempertahankan tingkat pertumbuhan sektor industri ini.

Industri baja sempat mengalami penurunan yang besar pada tahun 2009, karena pasar dalam negeri yang menyusut akibat menurunnya sektor konstruksi dan properti, juga karena kalah bersaing dengan produk impor. Sementara itu harga baja juga turun akibat turunnya permintaan baja dunia. Namun pada tahun 2010 industri baja mulai bangkit kembali sejalan dengan bergairahnya sektor insutri kostruksi dan properti dan juga meningkatnya permintaan baja dunia semenjak ekonomi dunia beranjak pulih. Akibatnya harga baja pada tahun 2010 telah meningkat kembali.

Secara umum pertumbuhan PDB sektor industri pengolahan menunjukkan kondisi yang membaik pada tahun 2010. Ekonomi dunia yang mulai pulih dari krisis sudah mulai mendorong peningkatan permintaan. Demikian juga ekonomi nasional yang membaik membantu mempertahankan daya beli di pasar domestik. Walaupun persaingan tetap tinggi dengan produk impor tetapi berbagai industri seperti tekstil dan alas kaki ternyata mampu berkembang.


Ekspor industri non migas pulih kembali

Sektor industri pengolahan non migas merupakan sektor yang ekspornya paling terpukul akibat krisis finansial global.  Ekspor industri non migas  periode Januari-September 2009 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sebesar 25,5%.

Namun pada tahun 2010, ekspor industri manufaktur telah sepenuhnya pulih kembali. Ekspor sebagian besar  komoditi utama sektor industri pengolahan non migas selama tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup besar, seperti industri pengolahan karet, kimia dasar, alat listrik dll.  Hanya ekspor semen dan pupuk yang mengalami penurunan yang disebabkan permintaan dalam negeri yang meningkat untuk komoditas tersebut.

Industri tekstil dan baja yang sebelumnya terpuruk juga sudah bangkit kembali dan selama semester I sampai juni tahun 2010 ekspor tekstil sudah mencapai US$ 5,29 milyar dan baja mesin dan otomotif sudah mencapai US$ 5,24 milyar.

       
ACFTA pukul 5 sektor Industri

Kekhawatiran terhadap dampak negatif Asean-China Free Trade Aqreement (ACFTA) terbukti. Hasil monitoring Kementerian Perindustrian menunjukkan lima sektor industri terpukul oleh implementasi perjanjian perdagangan bebas itu karena kalah bersaing dengan produk China.

Kemenperin juga menemukan indikasi tindakan dumping pada 38 produk yang diimpor dari China melalui skema ACFTA yang berlaku sejak 1 Januari 2010. Survei Kemenperin mengungkapkan pemberlakuan ACFTA menekan kinerja lima sektor industri yang diteliti, yakni elektronik, furnitur, logam dan produk logam, permesinan, serta tekstil dan produk tekstil.

Berdasarkan data statistik, instansi itu menemukan korelasi kuat antara pemberlakuan ACFTA dan penurunan produksi di lima sektor tersebut. Dilihat dari sektor industri, perjanjian itu berkorelasi kuat dengan penurunan produksi, penjualan, keuntungan, dan pengurangan tenaga kerja, serta peningkatan impor bahan baku, terutama di sektor elektronik dan garmen.

Namun, para pelaku bisnis dari lima sektor yang diteliti mengaku masih mampu bersaing secara langsung dengan produk China yang dijual lebih murah. Kekalahan daya saing produk lokal terhadap produk China terutama disebabkan oleh mahalnya bahan baku, kurangnya pasokan komponen, ketidakstabilan dan mahalnya ongkos energi, serta kesulitan permodalan. Akan tetapi, tidak semua produk mengalami lonjakan impor melalui ACFTA karena sebagian besar produk dari China masih menggunakan skema most favoured nation (MFN).

Prospek  industri manufaktur per sektor tahun 2011

Industri Elektronik

Penjualan elek-tronik di pasar domestik telah mencapai Rp 16,8 triliun pada Januari-September 2010. Data Gabel menyebutkan, jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini terjadi seiring meningkatnya daya beli masyarakat serta perbaikan ekonomi nasional pascakrisis global. Nilai transaksi itu merupakan 70% dari target penjualan elektronik tahun 2010 sekitar Rp 24 triliun. Tingginya penjualan elektronik di Indonesia membuat beberapa produsen berancang-ancang melakukan ekspansi, baik kapasitas maupun model.

Penjualan elektronik sempat turun drastis pada April dan Mei tahun 2010. Data EMC menyebutkan, realisasi penjualan produk elektronik pada April 2010 merosot 21% menjadi Rp 1,6 triliun dibanding Maret sebesar Rp 2,021 triliun.

Penurunan tersebut dipicu berlakunya Undang-Undang Nomor 42/2009 tentang PPN dan PPnBM. Dalam UU ini, distributor produk elektronik dengan omzet di atas Rp 600 juta wajib menjadi pengusaha kena pajak (PKP) sebelum membeli barang dari produsen. Sebagai PKP, distributor harus menggunakan faktur pajak standar, bukan faktur sederhana seperti sebelumnya. Akibat penyesuaian dengan ketentuan baru tersebut ditribusi barang elektronik sempat tersendat.

Omzet penjualan produk elektronik meningkat kembali  pada Mei yaitu sebesar 28,75% dari Rp1,6 triliun pada April menjadi Rp2,06 triliun menyusul mulai lancarnya distribusi.

LG mendominasi pasar produk elektronik Indonesia [ada tahun 2010. Penjualan domestik PT LG Electronics Indonesia (LGEIN) menembus Rp 4,5 triliun pada Januari-September 2010. Penjualan terbesar LG disumbangkan dari produk TV LCD (22%), kulkas (19%), AC (15%), dan mesin cuci (11%). Pertumbuhan penjualan LG yang paling signifikan terjadi pada AC dan TV LCD.

Sepanjang tahun 2010, LG tercatat sebagai pemimpin dalam perolehan pangsa pasar di Indonesia untuk kategori Flat Panel Display dengan raihan 34 persen pangsa pasar. Sepanjang tahun 2010 pula, divisi Flat Panel Display dari LG membukukan angka penjualan sebesar 300 ribu unit yang berasal dari seluruh varian. Dengan target pertumbuhan 50 persen, LG mengharapkan dapat menjual kisaran 450,000 unit TV dari kategori Flat Panel Display-nya sepanjang tahun 2011 ini. Hal ini sama artinya dengan penguasaan LG atas 40 persen pangsa pasar untuk kategori tersebut.

Optimisme LG dalam pencapaian target ini tak lepas dari pantauan terhadap pergerakan pasar televisi di Indonesia. Menurut data yang dimiliki LG, pasar TV tabung (CRT TV) cenderung tidak mengalami pergerakan dari sisi jumlah dalam dua tahun terakhir. Tercatat sejak 2010, permintaan pasar TV tabung secara nasional mencapai kisaran 4 juta unit dalam setahun. Data tersebut juga memuat prediksi bahwa jumlah ini akan cenderung stagnan pada tahun 2011. Hal inilah yang menurut LG mengindikasikan adanya pergeseran permintaan konsumen dari TV tabung untuk beralih ke LCD TV dan LED TV.

Nilai penjualan elektronik nasional diperkirakan akan menembus Rp 27-28 triliun pada 2011. Omzet tersebut naik pada kisaran 15-20% dibandingkan pencapaian tahun 2010 yang  sekitar Rp 23,5 - Rp 24 triliun.

Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (Gabel) Yeane Keet mengatakan, nilai omzet elektronik tahun 2011 berpotensi tumbuh 20% menjadi Rp 28 triliun. Produk elektronik seperti TV LCD, AC, dan mesin cuci diperkirakan akan menjadi produk yang mendapati perhatian konsumen tahun depan, karena penetrasinya masih cukup rendah,

Banyak faktor yang akan menopang pertumbuhan industri elektronik, antara lain menguatnya tingkat permintaan elektronik di pasar domestik. Pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi lebih baik tahun depan juga akan mendukungnya. Tumbuhnya pasar elektronik tahun 2011 juga ditopang oleh masih maraknya investasi asing ke Indonesia. Indonesia  masih menjadi tujuan investasi favorit setelah Tiongkok dan India.

Industri semen

Selama tahun 2010 industri semen membaik. Permintaan semen domestik terus tumbuh seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di luar Jawa. Dalam tujuh bulan pertama 2010, tercatat permintaan semen domestik meningkat 10,7 persen menjadi 23,3 juta ton. Permintaan semen di Jawa naik 9,8 persen menjadi 12,5 juta ton. Sementara itu, permintaan semen dari luar Jawa meningkat 11,7 persen menjadi 10,8 juta ton. Semetara itu menurut Asosisasi Semen Indonesia (ASI) kenaikan konsumsi semen nasional selama tahun 2010 mencapai 6% pada 2010. Hingga akhir tahun 2010 total konsumsi mencapai 40,3 juta ton atau naik 6% dari konsumsi tahun lalu yang hanya mencapai 38 juta ton.

Hingga saat ini, sekitar 60-70 persen porsi dari konsumsi semen didominasi oleh sektor swasta, terutama untuk pembangunan properti, baik perumahan, gedung perkantoran, atau pusat perbelanjaan.

Seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan bisa mencapai 6,4%-6,7% pada tahun 2011, para kalangan industri semen optimistis industri semen bakal berkembang dengan baik. Konsumsi semen nasional diproyeksi naik sebesar 10 persen pada tahun 2011. Angka itu berada diatas rata-rata pertumbuhan konsumsi semen nasional selama lima tahun terakhir yang berkisar 5-7 persen per tahun.

Sektor properti, perumahan dan perkantoran diyakini masih menjadi penopang utama pertumbuhan industri semen nasional. Permintaan semen juga akan terus meningkat seiring banyaknya proyek infrastruktur dan pembangunan konstruksi dari pemerintah yang mulai dikerjakan tahun 2011.

Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyebutkan kapasitas produksi semen nasional yang saat ini sebesar 47 juta ton per tahun. Dengan pertumbuhan konsumsi yang diproyeksikan mencapai 10% tahun 2011 maka kapasitas produksi industri semen full capacity  dan pada tahun berikutnya akan sulit memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat.

Melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar para produsen semen berusaha meningkatkan kapasitas produksinya. PT Semen Gresik Tbk (SMGR) terus melanjutkan pembangunan pembangkit listrik dan pabrik baru. Untuk pabrik Semen Tonasa di Pangkep yang juga merupakan bagian dari perusahaan Semen Gresik, pembangunannya diharapkan bisa selesai pada akhir tahun 2011 sehingga kapasitas produksi pabriknya itu bisa mencapai 2,5 juta ton.  Kapasitas produksi keseluruhan Semen Gresik secara nasional mencapai 19 ton untuk 2010 dan  di 2011 kapasitas produksi bisa mencapai 20 juta ton.

PT Indocement juga berencana memulai pembangunan dua penggilingan semen pada tahun 2010. Dana yang disiapkan sebesar USD70 juta. Pembangunan tersebut akan menambah kapasitas produksi hingga dua juta ton. Dengan demikian, kapasitas produksi semen perseroan menjadi 20,6 juta ton pada 2011. Saat ini kapasitas produksi Indocement mencapai 18,6 juta ton dengan utilisasi sebesar 75 persen




Industri tekstil

Meski ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia di tahun 2010 melonjak dibanding tahun sebelumnya, namun Industri tekstil masih stagnan pada tahun 2010. Pertumbuhan sektor industri TPT nasional kini masih di bawah 4%, kecuali untuk produk garmen yang bisa di atas 5%. Padahal kenaikan ekspor tekstil pada tahun 2010 melonjak sebesar  21,2% atau mencapai US$11,32 miliar pada tahun 2010, menyusul pemulihan pasar ekspor dunia yang sejalan dengan pemulihan ekonomi di negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat.

Namun kenaikan ekspor tersebut sebenarnya masih relatif rendah dibanding negara pesain lain, karena keterbatasan kapasitas industri tekstil yang sudah berumur tua yang seharusnya sudah diremajakan. Kurang berkembangnya industri TPT tersebut terjadi karena ketidakmampuan industri nasional menyerap potensi relokasi industri tekstil dari China, Korea Selatan dan Taiwan.

Investasi yang terjadi beberapa tahun terakhir ini lebih pada modernisasi permesinan dan sedikit perluasan kapasitas usaha.  Tiga tahun terakhir banyak investor luar yang akan membangun pabrik disini, namun karena ketidaktersediaan energi listrik mereka beralih ke Vietnam dan Bangladesh.

Sementara itu pasar dalam negeri meskipun terjadi lonjakan konsumsi yang diikuti oleh lonjakan penjualan produk pakaian jadi lokal yaitu sekitar 60% atau menjadi 734 ribu ton, namun pasar domestik banyak digerogoti oleh produk ilegal yang masih cukup besar Dari total konsumsi masyarakat 2010 yang sebesar 1,35 juta ton, penjualan produk lokal hanya 734 ribu ton atau sebesar 54%, produk impor sebesar 54 ribu ton atau 4% dan diperkirakan produk ilegal mencapai 573 ribu ton atau sekitar 42%.

Memasuki tahun 2011, industri tekstil mendapat 2 tantangan sekaligus dari Pemerintah, yaitu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), dan kedua diberlakukannya bea masuk bahan kimia yang tidak diproduksi dalam negeri sebesar 5%. Hal ini bisa menyebabkan daya saing produk tekstil Indonesia menjadi lebih lemah dibanding negara lain seperti Vietnam, Bangladesh dan Thailand.

Sementara itu, harga kapas dunia yang telah mengalami lonjakan sejak Agustus 2010, dikhawatirkan akan mengancam industri tekstil dalam negeri. Pasalnya, kenaikan harga kapas pada saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang 150 tahun terakhir. Sebelumnya, hingga Juli 2010, harga kapas berada di posisi USD0,79-USD0,85 per kilogram (kg). Pada akhir tahun 2010 harga kapas telah melebihi US$ 1,7 per kg. Kenaikan harga kapas akan diikuti oleh kenaikan harga serat sintetis berbasis minyak hingga 64 persen, menjadi 2,3 dolar per kilogram saat harga minyak masih 80 dolar per barel. Namun dengan harga minyak diatas 100 dolar per barel, harga poliester akan membentuk harga sendiri. Kondisi ini otomatis akan mendongkrak biaya produksi, transportasi baik impor bahan baku maupun ekspor bahan jadi.
Walaupun banyak menghadapi tantangan memasuki tahun 2011, masih banyak pihak yang optimis industri tekstil masih bisa bertahan dan mengembankan kembali pasar ekspor sehingga industi ini masih bisa tumbuh sebesar 5% tahun 2011 dan ekspornya meningkat 15-20%.

Bagi industri tekstil yang berorientasi pasar dalam negeri masuknya produk Cina yang murah semenjak berlakunya ACFTA cukup memukul penjualan didalam negri yang diperkirakan akan terus berlangsung pada tahun 2011. Namun bagi industri tekstil yang berorientasi ekspor maka tahun 2011 sebenarnya peluangnya masih baik karena pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat dan Eropa secara bertahap sudah mulai pulih. Pasar utama ini tidak akan terpengaruh oleh adanya ACFTA, karena sebelumnya memang sudah bersaing secara terbuka semenjak kuota ekspor dihapus.
Industri otomotif

Setelah terpuruk pada tahun 2009, penjualan mobil sepanjang tahun 2010 menembus rekor baru ayaitu 764.710  unit. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, total penjualan pada Desember 2010 adalah 70.061 unit atau naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 69.249 unit.

Toyota masih menduduki posisi tertinggi dengan total penjualann sepanjang tahun lalu yakni 280.989 unit, kemudian disusul oleh Daihatsu yang sebesar 118.554 unit, Mitsubishi 106.483 unit, Suzuki 71.210 unit, Honda 61.336 unit, Isuzu 24.012 unit, Nissan Diesel 2.735 unit, Peugeot 177 unit, dan merek lainnya yang sebanyak 99.214 unit.

Pada tahun 2011 perkembangan industri mobil nasional akan banyak sekali bergantung kepada dua kebijakan penting  yang rencananya akan ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 2011, yaitu masalah rencana pemberlakuan pembatasan BBM bersubsidi mulai akhir Maret 2011, serta kenaikan pajak kendaraan bermotor dan pajak progresif  yang juga rencananya mulai pada  2011.

Jika kedua kebijakan diterapkan pada saat yang berbeda, industri otomotif masih berharap  booming penjualan mobil masih akan berlangsung tahun 2011 walaupun tidak seoptimis jika kebijakan tersebut tidak jadi diberlakukan. Namun jika kedua kebijakan diterapkan bersamaan, dipastikan angka penjualan mobil akan turun.

Pada kondisi terburuk dimana kedua kebijakan itu diberlakukan bersamaan , maka penjualan mobil akan turun menjadi sekitar  650 ribu unit. Sedangkan jika kebijakan tersebut diterapkan dalam kurun waktu berbeda, maka masih  bisa diharapkan penjualan mobil bisa mencapai 750-800 ribu unit tahun 2011.

Penjualan sepeda motor di Indonesia pada  tahun 2010  ternyata melebihi target dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang ditetapkan  pertengahan tahun 2010 yang sebanyak 6,4 juta unit. Berdasarkan data AISI, sampai November penjualan sepeda motor 2010 secara wholesale adalah 6.881.893 unit. Artinya jika penjualan Desember mencapai 625.000 unit (rata-rata),  pada akhir tahun penjualan kendaraan roda dua ini di Indonesia dapat menyentuh 7,5 juta unit atau melonjak 27,6%.

Kontribusi penjualan sepeda motor skutik, sampai November, mencapai 3.097.462 unit atau 45% dari total penjualan seluruh segmen. Tahun lalu penjualan motor jenis ini hanya menyumbang 37,7% penjualan sepeda motor, sebesar 2.218.654 unit.

PT Astra Honda Motor (AHM) sampai November telah menjual 3.202.979 unit atau menguasai 46,5% adapun PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) memasarkan 3.095.072 unit, 44,97% pasar nasional.

Pada tahun 2011 mendatang, meski ada pembatasan penggunaan premium bersubsidi, namun penjualan sepeda motor di tahun 2011 diprediksi akan  naik 5 - 10 persen. Sebanya karena banyak sektor positif yang akan mendukung perkembangan tahun di 2011. Seperti mulai membaiknya ekonomi global menjadi salah satu faktor pendukung. Apalagi perkembangan ekonomi domestik pada tahun 2011 juga berada di posisi yang bagus dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6,4%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh konsumsi rumah tangga, peningkatan ekspor serta meningkatnya investasi dalam negeri.

Namun demikian sepanjang tahun 2011 juga akan ada tantangan yang berasal dari kebijakan pemerintah yaitu pengenaan pajak progressive kendaraan bermotor, dan rencana penerapan elektronik road pricing (ERP) yang dikeluarkan untuk mengurangi peredaran sepeda motor karena dianggap sebagai penyebab kemacetan. Kalau semua berlaku kemungkinan pertumbuhan hanya akan mencapai 5%,

Industri baja

Pada tahun 2010 pasar baja di dalam negeri sebagai  dampak mulai redanya krisis finansial global 2008. Merujuk data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pasar baja domestik tahun lalu melejit 53% menjadi 10 juta ton, dari sebelumnya 6,5 juta ton. Sebanyak 6 juta ton dipenuhi dari produsen lokal, sementara sisanya ditutup dari impor. Mayoritas baja impor didatangkan dari Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Meski belum memiliki angka pasti. Indonesian Iron and Steel Industry Association (USIA) memastikan penjualan baja tahun ini bakal bertumbuh. Hal ini sejalan dengan masih positifnya pertumbuhan ekonomi domestik.
Memasuki tahun 2011, pasar baja masih akan meningkat namun tidak seperti pada tahun 2010 karena pada saat bersamaan harga baja diperkirakan akan naik, karena naiknya harga bahan baku yaitu bijih besi dan batubara dunia. Walaupun ekonomi dunia pada tahun 2010 menunjukkan kecenderungan membaik, namun diakhir tahun 2010 perbaikan ekonomi dunia melambat karena banyaknya issue negatf seperti masalah kekurangan pasok pangan dan minyak yang menyebabkan inflasi dunia meningkat. Akibatnya permintaan baja  dunia belum sepenuhnya pulih kembali sehingga banyak pabrik baja di dunia yang memangkas produksinya, menunggu peningkatan kembali permintaan.

Dengan kondisi tersebut diperkirakan harga baja akan mengalami peningkatan hingga 20% pada tahun 2011 mendatang. Menurut catatan, harga baja rata-rata periode Juli-Desember 2009 sekitar US$ 500 per ton, sedangkan harga baja lembaran sekitar US$ 700 per ton. Hingga akhir tahun 2010, harga  baja canai panas (hot rolled coil/HRC) diperkirakan bisa menyentuh level US$ 780 per ton. Kenaikan harga tersebut akibat lonjakan harga balian baku bijih besi , batubara dan minyak bumi.

Sementara di Indonesia permintaan baja diperkirakan akan meningkat karena perbaikan ekonomi terus terjadi di Indonesia, dan pembangunan infrastruktur serta properti diperkirakan akan makin marak pada tahun 2011. Namun peningkatan pasar tersebut tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh produsen lokal karena pasokan baja impor terutama dari Cina juga diperkirakan akan meningkat.

Kondisi ini menurut Krakatau steel tidak akan berpengarus  banyak kepada pasar dari produknya karena permintaan terhadap produk PT KS tetap tinggi. PT Krakatau Steel Tbk (KS) menargetkan pada 2011 mampu meningkatkan volume produksi sekaligus  ekspor baja 10-15 persen.  Hingga akhir 2010, penjualan baja KS diperkirakan berkisar 1,8 juta ton-1,9 juta ton. Sedangkan 2011, penjualan baja KS akan naik menjadi 2,2 juta ton. Pada tahun 2010 produksi Krakatau Steel sempat terhambat karena  ada mesin pabrik dihentikan sementara operasionalnya, untuk upgrade kapasitas. Kini setelah selesai, kapasitas produksi mengalami kenaikan.

Menurut informasi dari pihak Krakatau Streel, dalam lima tahun ke depan, KS memiliki banyak agenda untuk meningkatkan kapasitas pabrik. Pertama, meningkatkan kapasitas produksi slab dari 1,6 juta ton per tahun menjadi 2,4 juta ton setahun dengan teknologi blast furnace. Proyek ini menelan dana sekitar USS 450 juta.

Selanjutnya, KS juga menggenjot kapasitas pabrik hot strip mill dari juta ton menjadi 2,5 juat ton setahun. Ekspansi ini dijadwalkan tuntas pada akhir 2010 dan akan terus ditingkat menjadi 3,5 juta ton hingga 2013.

KS juga akan membangun pabrik baja baru dengan raksasa baja Korea, Pohang Iron and Steel Company (Posco), berkapasitas 6 juta ton setahun. Total investasi proyek ini sekitar USS 6 miliar.

Pabrik baja terpadu ini akan dibangun dalam dua tahap, yakni masin-masing 3 juta ton. Konstruksi tahap pertama akan dimulai pada semester kedua 2010 dan ditargetkan selesai pada Desember 2013. Pabrik berlokasi di samping pabrik KS di Cilegon, Banten.

Sebaliknya kalangan industri baja umumnya memprediksikan industri baja pada tahun 2011 masih akan stagnan. Dengan berlakunya AC- FTA maka pasar baja domestik  makin tertekan karena produk baja Cina memasuki semua sektor industri baja dari mulai hulu sampai hilir. Dengan bea masuk nol maka industri baja hulu akan makin tersisih dari pasar karena sebelum  AC-FTA berlaku, produk baja hulu  seperti bilet, sudah tidak mampu bersaing.

Sementara harapan industri hilir akan mendapat keuntungan dari diberlakukannya AC-FTA karena bahan baku baja impor akan makin murah, juga belum terbukti. Seringkali produsen baja dunia menjual baja hulu dengan harga mendekati harga baja hilirnya sehingga sulit bagi produsen baja yang tidak terintegrasi didalam negeri untuk bisa bersaing dengan mengandalkan bahan baku impor.

Harapan bagi industri baja untuk bisa tumbuh adalah jika permintaan dalam negeri terutama dari sektor konstruksi bisa meningkat pesat sehingga permintaannya cukup tinggi dan tidak akan sepenuhnya dapat dilayani dari impor. Terutama untuk baja yang memenuhi standar nasional untuk proyek besar atau proyek milik negara.

Industri Pulp & Kertas

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) optimistis industri sektor ini tumbuh pada tahun depan seiring terus meningkatnya permintaan. Permintaan dari dalam negeri diperkirakan bisa meningkat hingga 5% per tahun karena tingkat konsumsi kertas di Indonesia baru 26 kg per kapita per tahun, sementara Jepang 245,5 kg/kapita/tahun, Singapura 197,7 kg/kapita/tahun, dan Malaysia 110,8 kg/kapita/tahun. Selain pasar dalam negeri, katanya, pasar ekspor juga masih menjanjikan dengan tingkat pertumbuhan permintaan sekitar 3% per tahun.

Dalam tiga puluh tahun terakhir Industri pulp dan kertas Indonesia telah maju dengan sangat pesat. Bila pada 1970-an Indonesia memiliki tujuh perusahaan kertas dengan jumlah kapasitas 50 ribu ton/tahun, pada 2010 ini telah menjadi 85 perusahaan dengan jumlah kapasitas produksi 13 juta ton/tahun. ....


 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan