2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2009

PROSPEK INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2010
Halaman selanjutnya>>

Latar Belakang

Memasuki tahun 2010, sektor industri pengolahan masih menghadapi berbagai tantangan yang besar. Pada tahun 2009, sektor industri manufaktur terpukul dengan adanya krisis finansial global yang menyebabkan ekonomi di negara maju melemah. Akibatnya pasar ekspor menyusut dan sebagian besar industri manufaktur yang berorientasi ekspor mulai dilanda kelesuan. 

Pada tahun 2009 sampai kuartal III, sektor industri pengolahan  non-migas hanya tumbuh sebesar  1,72 % dan nilai ekspor turun sebesar 25,5%.

Memasuki kwartal IV 2009, pasar ekspor mulai bangkit kembali demikian juga pasar domestik. Keadaan ini telah mengundang optimisme bahwa tahun 2010 industri pengolahan akan bisa bangkit.

Namun meski krisis global baru mulai pulih, industri pengolahan masih menghadapi tantangan yang besar di pasar domestik yang selama ini menjadi penyelamat bagi sektor industri manufaktur yang kehilangan pasr ekspor. Mulai Januari 2010, pasar bebas Asean Cina ( ASEAN-CHINA Free Trade Area) mulai diberlakukan, dengan membebaskan bea masuk bagi produk Cina yang akan masuk ke pasar ASEAN termasuk Indonesia.

Dengan demikian produk Cina akan makin tinggi daya saingnya di pasar domestik Indonesia karena selama ini ketika bea masuk belum  dibebaskan produk lokal sudah sulit bersaing dengan produk dari Cina.

Memang tidak seluruh sektor industri pengolahan mengalami ancaman langsung dari produk Cina, sektor otomotif masih mempunyai daya saing, karena selama ini produk yang didominasi merk Jepang masih menguasai pasar Indonesia, sehingga tidak mudah bagi produk Cina menggeser merk Jepang yang sudah dirakit atau diproduksi di dalam negeri. Demikian juga produk seperti pupuk tidak terpengaruh oleh AC FTA karena sampai saat ini masih disubsidi oleh Pemerintah.

Produk yang paling terkena dampak FTA diantaranya industri tekstil dan Sepatu, karena selama inipun sektor industri tersebut sudah banyak tergerus pasarnya.

Masalah yang dihadapi sektor ini pada tahun 2010 bukan hanya masalah pasar bebas Asean Cina saja. Masalah bahan baku impor, pasokan listrik, infrastruktur transportasi, kondisi mesin yang tua menjadi deretan masalah yang dihadapi dan perlu penanganan yang serius karena bila tidak teratasi dalam waktu dekat bisa menurunkan daya saing sektor industri ini sehingga industri manufaktur di Indonesia akan sulit bangkit.

Pada sisi positif, masih ada tanda-tanda peluang untuk perbaikan pada sektor industri pengolahan di tahun 2010. Mulai membaiknya ekonomi dunia terutama negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropah, membuka kembali peluang pasar ekspor karena diharapkan permintaan untuk berbagai barang industri olehan akan meningkat.

Selama tahun 2009 ekspor tekstil ternyata  masih mampu mempertahankan ekspornya dan tidak terlalu drastis penurunannya, padahal pasar ekspor pada tahun tersebut sangat terpukul oleh krisis ekonomi dunia. Diharapkan dengan membaiknya ekonomi dunia ekspor produk tekstil akan kembali meningkat dipasar ekspor tradisional yang selama ini produk Indonesia masih bisa bersaing dengan Cina.

Suku bunga yang rendah dan inflasi yang terkendali dibawah 6% diperkirakan akan memberi dampak positif kepada sektor manifaktur karena daya beli masyarakat akan meningkat. Selama daya saing produk lokal bisa ditingkatkan maka tahun 2010 keadaannya akan lebih baik bagi sektor industri manufaktur.

Perkembangan Sektor Industri 2009

Pada tahun 2009 sampai kuartal III, sektor industri pengolahan hanya tumbuh sebesar 1,43%. Sektor industri pengolahan migas turun sebesar -1,78% dan industri non-migas tumbuh hanya 1,72 %.

Sampai Q-III tahun 2009, hampir semua sektor industri pengolahan mengalami penurunan, pertumbuhan positif sektor industri pengolahan terutama ditopang oleh kenaikan sektoir industri makanan, minuman dan tembakau yang tumbuh masih tinggi yaitu sebesar  13,3%. Pertumbuhan yang tinggi terjadi karena permintaan yang masih tinggi dan harga yang cenderung meningkat.

Sedangkan sektor industri alat angkut yang pertumbuhannya  paling tinggi tahun 2008 yaitu sebesar 9,79%, ternyata sampai Q-III tahun 2009  mengalami penurunan sebesar -5,3%. Kondisi industri alat angkut baru membaik pada kwartal IV 2009 seperti ditunjukkan dengan meningkatnya penjualan rata-rata per bulan pada akhir tahun 2009.

Sedangkan industri yang mengalami pertumbuhan negatif  dalam dua tahun berturut-turut adalah industri Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki  yaitu minus 0,7 persen,  industri Semen & Barang Galian Bukan Logam minus 2,8 persen dan industri baja - 7,1persen

Industri baja mengalami penurunan terbesar karena selain pasar dalam negeri yang menyusut karena sektor konstruksi dan properti menurun, juga karena kalah bersaing dengan produk impor. Sementara itu harga baja juga turun akibat turunnya permintaan baja dunia.

Pertumbuhan PDB sektor industri pengolahan sampai Kwartal III- 2009 ini memang menunjukkan kondisi yang buruk yang dialami sektor ini pada tahun 2009. Namun diperkirakan pada kwartal IV 2009 kondisinya menjadi lebih baik. Ekonomi dunia yang mulai pulih dari krisis sudah mulai mendorong peningkatan permintaan. Demikian juga ekonomi nasional yang membaik membantu mempertahankan daya beli dipasar domestik. Dengan demikian ditengah kekhawatiran serbuan produk Cina kepasar dalam negeri, sebenarnya pada tahun 2010 banyak peluang bagi sektor industri pengolahan tertentu seperti industri makanan dan minuman, industri otomotif, bahan bangunan dll untuk bisa bangkit lebih baik dari tahun 2009.


Ekspor industri non migas anjlok

Sektor industri pengolahan non migas merupakan sektor yang ekspornya paling terpukul akibat krisis finansial global.  Ekspor industri non migas  periode Januari-September 2009 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sebesar 25,5%.

Ekspor hampir semua komoditi utama sektor industri pengolahan non migas selama tahun 2009 mengalami penurunan yang cukup besar. Hanya ekspor barang elektronika yang masih tumbuh positif sebesar 17,3%. Sedangkan ekspor industri olahan kelapa sawit, indutri olahan karet, industri besi baja ekspornya turun lebih dari 25%.

Industri tekstil yang sering dianggap terpuruk karena kalah bersaing dengan produk Cina ternyata ekspornya tidak terlalu buruk. Pada tahun 2009 sampai Q-III ekspornya hanya turun  sekitar 12%. Di[perkirakan dalam tiga bulan terakhir 2009 ekspor tekstil juga masih terus meningkat.

Prospek  industri manufaktur per sektor tahun 2010

Halaman selanjutnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan