2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember2009

FOKUS

OUTLOOK EKONOMI INDONESIA 2010



Latar belakang

Berbeda dengan kondisi di awal tahun 2009, diipenghujung tahun 2009 telah muncul berbagai optimisme mengenai ekonomi dunia umumnya dan ekonomi Indonesia khususnya. Berbagai indikator ekonomi makro telah mulai menunjukkan adanya perbaikan dari ekonomi di negara besar dunia seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropah. Demikian juga mulai terrlihat indikator pulihnya sektor manufaktur di Cina dan India yang menunjukkan pasar ekspor dunia mulai bangkit kembali.

Ekonomi dunia juga dimotori oleh Cina terus menggeliat. Satu-persatu negara maju mulai keluar dari resesi ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai positif seperti Amerika Serikat dan beberapa negara besr di Eropah. Dengan demikan pasar ekspor mulai tumbuh kembali dan memberikan peluang bagi Indonesia untuk memicu kembali ekspornya.

Demikian juga di Indonesia, ternyata selama tahun 2009 ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula. Diawal tahun banyak pihak meramalkan tahun 2009 ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sekitar 3% - 3,5%, namun kenyataannya sampai bulan November 2009 ekonomi Indonesia bisa tumbuh sampai 4,2%.

Demikian juga indikator lainnya seperti inflasi yang mencapai tingkat terendah selama sepuluh tahun terakhir yaitu sampai bulan November inflasi hanya mencapai 2,7% (yoy). Kurs rupiah juga kini mulai stabil bahkan ada kecenderungan masih terus menguat pada level sekitar Rp. 9.400 per US dollar.

Namun tahun 2010 bukan tanpa tantangan bagi ekonomi Indonesia. Dari faktor eksternal, pemberlakuan pasar bebas antara ASEAN dan CINA atau ASEAN-China Free Trade Agreements (AC-FTA) yang mulai diberlakukan Januari 2010  telah mengancam kelangsungan hidup berbagai sektor industri manufaktur di Indonesia yang bahkan sebelum AC-FTA berlaku telah mengalami kesulitan untuk bersaing dengan produk Cina.

Demikian juga masalah keterbatasan infrastruktur yang belum bisa terpecahkan seperti kondisi jalan raya dan pasokan listrik, diperkirakan bisa menghambat laju investasi yang diharapkan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ditahun 2010. Belum lagi kondisi politik yang memanas karena kasus Bank Century, yang apabila berlarut-larut juga akan mengganggu kinerja Pemerintah dalam membangun perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan juga tidak merata, misalnya sektor manufaktur masih relatif lambat untuk bangkit kembali karena kondisi pabrik yang memerlukan restrukturisasi setelah sekian lama tidak ada investasi untuk meremajakan fasilitas produksi yang sudah tua.

Namun di luar itu, hampir semua pihak sepakat bahwa ekonomi Indonesia pada posisi yang menguntungkan untuk bisa tumbuh lebih pesat pada tahun 2010. Bukan hanya Pemerintah dan Bank Indonesia yang menunjukkan optimisme dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2010 yaitu sekitar 5 sampai 5.5 %, namun berbagai lembaga keuangan dunia juga menunjukkan ramalan yang lebih positif tehadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. World Bank dalam laporannya mengenai ekonomi Indonesia pada akhir tahun 2009, meramalkan pada tahun 2010 ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,6%, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang telah meningkat kembali semejak kwartal keIV tahun 2009, yang ditandai dengan meningkanya kembali ekspor Indonesia.

Walaupun lebih rendah dari perkiraan Pemerintah, IMF memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2009 yaitu sebesar  4,8%  tahun 2010. Prediksi dari IMF mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini memang cenderung lebih kecil dibandingkan prediksi lembaga lain.

Gambaran umum ekonomi Indonesia tahun 2009

Setelah mengalami gejolak yang cukup tajam pada tahun 2008, perekonomian pada tahun 2009 relatif stabil. Suku bunga BI rate telah turun sampai 6,50% jauh dibawah tingkat suku bunga  yang berlaku pada tahun 2008 dan juga pada tahun 2007.

Nilai tukar rupiah juga mulai stabil. Pada akhir 2009 rupiah telah menguat kembali dan berada pada level Rp. 9400 per US dollar atau sama dengan level pada tahun 2007. Demikian juga harga BBM kembali turun menjadi Rp. 4500 per liter. 

Dengan tingkat harga berbagai komoditi yang kembali melemah pada tahun 2009 setelah mencapai puncaknya pada tahun 2008, maka inflasi cenderung rendah. Pada tahun 2009 inflasi hanya mencapai 2,78% atau merupakan tingkat inflasi terendah dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Dengan  makro ekonomi yang relatif stabil, perekonomian Indonesia kembali tumbuh walaupun belum mampu mencapai tingkat pertumbuhan seperti pada dua tahun sebelumnya. Namun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,2% yang dicapai sampai bulan November tahun 2009, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil tumbuh melebihi perkiraan semula yang hanya diprediksi tumbuh sekitar 3,5% oleh lembaga intenasional.  Pertumbuhan itu juga jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara tetangga di kawasan ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 terutama didukung oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah masing-masing 4,7% dan 10,2%. Sementara  ekspor dan impor mengalami penurunan. Ekspor mengalami penurunan sebesar 8,2% dan impor sebesar 18,3%

Pertumbuhan PDB Indonesia masih bisa tumbuh positif walaupun ekspor menurun karena peranan pengeluaran sektor konsumsi yang  besar  dalam ekonomi Indonesia. Pada tahun 2009 peran konsumsi rumah tangga terhadap PDB mencapai 58% sedangkan ekspor hanya 23,5%, sehingga ketika pasar ekspor melemah akibat  sedangkrisis finansial yang sedang dihadapi negara besar yang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh dengan mengandalkan pasar domestik.

Pertumbuhan Sektor Angkutan dan komunikasi masih tetap terbesar

Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 (y-on-y), PDB Indonesia Triwulan III-2009 ini tumbuh sebesar 4,2 persen, dimana hampir semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 18,2 persen, sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh minus 0,6 persen.

Ekspor mulai bangkit di Q-IV 2009

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2009 mencapai US$103,15 miliar atau menurun 19,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$86,64 miliar atau menurun 13,71 persen.

Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$347,9 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada kakao/coklat sebesar US$21,0 juta.

Ekspor nonmigas ke Jepang November 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$935,7 juta, disusul Amerika Serikat US$905,0 juta dan Cina US$872,2 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,19 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,17 miliar.

Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-November 2009 turun sebesar 20,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian 6,12 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 28,11 persen.

Namun dibandingkan dengan ekspor bulan November 2008, ekspor bulan November 2009 meningkat 2,51 persen. Memasuki kwartal IV-2009 ekspor Indonesia mulai meningkat kembali dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Pada bulan Oktober 2009 ekspor meningkat hampir 13,5% dibanding ekspor bulan Oktober 2008. Padahal selama sembilan bulan pertama tahun 2009 ekspor terus anjlok dibandingkan bulan yang sama tahun 2008. Dengan pasar ekspor dunia yang berangsur pulih maka diharapkan pertumbuhan ekspor akan terus berlangsung di tahun 2010.

Selain ekspor, maka impor selama tahun 2009 juga mengalami penurunan. Nilai impor Indonesia selama Januari-November 2009 impor mencapai US$86,58 miliar atau turun 28,75 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.

Impor nonmigas selama Januari-November 2009 mencapai US$69,69 miliar atau turun 24,22 persen, sedangkan impor migas selama Januari-November 2009 mencapai US$16,89 miliar atau turun 42,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Inflasi tahun 2009 dibawah 3%

Selama tahun  2009 ekonomi Indonesia relatif stabil seperti yang ditunjukkan oleh tingkat inflasi yang rendah yaitu hanya mencapai 2,78% atau merupakan inflasi terendah semenjak lebih dari  sepuluh tahun terakhir. Mulai menurunnya harga komoditi primer di pasar internasional pada awal tahun 2009  terutama beras dan minyak goreng berdampak kepada harga komoditi tersebut ditanah air. Lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia telah mengurangi tingkat permintaan sehingga menahan laju kenaikan harga.

Bagi Indonesia kondisi ini menguntungkan perekonomian Indonesia karena dengan inflasi yang rendah daya beli masyarakat masih bisa dipertahankan sehingga pasar domestik masih bisa terus tumbuh.

Pada bulan Desember 2009 inflasi bergerak naik karena kenaikan berbagai harga komoditi dipasar dunia seperti harga beras dan gula. Demikian juga geliat pemulihan ekonomi dunia juga mendorong naiknya permintaan sehingga mendorong kenaikan harga. Namun demikian diperkirakan tahun 2010 tidak akan ada kenaikan inflasi yang melonjak karena secara umum pemulihan ekonomi dunia tahun 2010 masih relatif lambat.

Dampak kenaikan berbagai harga komoditi primer termasuk harga bahan pangan diperkirakan akan mendorong tingkat inflasi di Indonesia yang lebih tinggi dari tahun 2010. Dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat diperkirakan inflasi tahun 2010 hanya akan meningkat antara 5%-6% dibanding tahun 2009.

Tantangan ekonomi tahun 2010

Pemulihan ekonomi dunia yang mulai berlangusng diberbagai negara baik negara maju maupun berkembang, telah membawa optimisme terhadap perkembangan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 yang bisa tumbuh lebih pesat. Namun demikian untuk bisa merealisasikan harpan tersebut masih banyak tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2010 yang apabila tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan tersendatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti yang diharapkan.
Tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia dapat bersumber dari faktor eksternal dan internal.

Outlook  ekonomi dunia 2010

Hampir semua pihak sepakat bahwa ekonomi dunia pada tahun 2010 akan lebih baik dari kondisi tahun 2009. Pemulihan ekonomi yang lebih cepat terjadi akibat besarnya insentif dan stimulus ekonomi yang digelontorkan negara besar seperti Amerka Serikat, Cina, Jepang dan negara Eropa ternyata mampu menahan ekonomi dunia untuk tidak jatuh ke jurang depresi yang hebat seperti tahun 1930'an.

Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, telah menaikkan proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi global 2010 sebesar 0,6 poin menjadi 2,5 persen, namun tetap mengatakan pemulihan dari resesi akan melambat.

Sejalan dengan IMF, Bank Dunia juga menilai puncak krisis finansial telah terlewati dan ekonomi dunia mulai berangsur pulih. Namun demikian pemulihan ekonomi masih rentan dengan gejolak. Menurut Bank Dunia pada paruh ke dua tahun 2010 pertumbuhan ekonomi akan melambat sebagai dampak dari berbagai langkah fiskal dan moneter yang melemah. Menurut Bank Dunia ekonomi global akan tumbuh sebesar 2,7% tahun 2010 dan meningkat menjadi 3,2% tahun 2011.

Prospek Ekonomi Indonesia 2010

Dengan mulai pulihnya ekonomi dunia semenjak akhir 2009, maka Indonesia yang telah mampu bertahan selama krisis finansial global, diperkirakan  bisa  manfaat.
Kepala Ekonom Bank Dunia William Wallace memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 akan mencapai 5,6 persen, dengan syarat ada pertumbuhan konsumsi yang stabil serta pemulihan investasi mesin dan sarana pendukung. Menurut World Bank, pendorong utama pertumbuhan ekonomi 2010 diperkirakan berasal dari permintaan dalam negeri (domestik) didukung pemulihan di sektor eksternal.

Pada 2010, volume ekspor Indonesia juga diprediksi naik ke tingkat sebelum krisis karena dunia pulih secara bertahap dan ada kenaikan harga komoditas. Namun impor diperkirakan lebih cepat pulih dibanding ekspor karena ekonomi domestik tumbuh cepat daripada di negara tujuan ekspor Indonesia dan juga  produksi barang ekspor.

Proyeksi Bank Dunia ini tidak jauh berbeda dengan target Pemerintah yang mengusung pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% tahun 2010.

Sementara itu Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5% - 5,5% pada tahun 2010. Sebelumnya BI telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2009 ini pada kisaran 4,0%-4,5% atau lebih baik dari perkiraan semula, yang cuma 3,5% - 4%. Dan ternyata apa yang diramalkan BI kurang lebih tercapai. BI juga, sejalan dengan pendapat Menteri Keuangan, memperkirakan inflasi bakal melonjak menjadi 5% plus-minus 1%  pada tahun 2010.

Walaupun semua pihak optimis namun kebanyakan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia peningkatannya hanya moderat saja. Masih lemahnya sektor manufaktur merupakan salah satu alasan bahwa pertumbuhan ekonomi masih belum bisa melesat seperti Cina atau India, karena tantangan untuk sektor manufaktur dipasar ekspor masih cukup berat.

Namun menurut pandangan Data Consult, dengan pulihnya pasar ekspor dan masih tingginya harga komoditi primer, maka ekspor Indonesia akan terus meningkat melanjutkan peningkatan selama kwartal terakhir tahun 2009. Dengan mengacu pada tren pertumbuhan tiga bulkan terakhir diperkirakan selama tahun 2010, ekspor bisa meningkat 15%-20% dibanding tahun 2009. Demikian juga impor akan meningkat lebih pesat karena sebagian bahan baku untuk barang ekspor berasal dari impor. Demikian juga investor asing akan makin banyak lagi masuk ke Indonesia mengingat Indonesia memiliki peluang ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara berkembang lainnya.

Sementara itu daya beli masyarakat diperkirakan masih tetap tinggi. Dengan suku bunga yang rendah dan nilai tukar Rupiah yang stabil dan kuat maka pasar domestik masih bisa tumbuh lebih baik sehingga PDB dari sektor domestik bisa meningkat lebih tinggi dibanding tahun 2009. Dengan demikian pada tahun 2010 ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh antara 6%-7%. Apalagi kalau berbagai hambatan seperti masalah infrastruktur, suku bunga yang tinggi, daya saing yang rendah dari sektor manufaktur bisa diatasi, maka sektor ini akan memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan PDB tahun 2010.


 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan