2008-2009ã PT Data Consult. All rights reserved.
MARKET INTELLIGENCE REPORT ON

INDUSTRI MULTIFINANCE SEMAKIN BERSINAR
Maret 2008


Current Issue

Dalam tiga tahun belakangan ini industri multifinance mengalami perkembangan yang berarti. Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) rata-rata pertumbuhan industri pembiayaan sekitar 15% per tahun. Hal ini didukung oleh kondisi ekonomi di dalam negeri yang mulai membaik. Turunnya suku bunga BI Rate pada level 8% pada 2007 lalu turut mendorong pertumbuhan multifinance, sebab pertumbuhan industri pembiayaan di Indonesia selama ini masih mengandalkan sewa guna usaha (leasing) dan pembiayaan konsumen (pembiayaan mobil dan sepeda motor) dengan kontribusi mencapai 95% dari total pembiayaan.

Pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha masih mendominasi industri tahun 2007 lalu. Hal ini membuat kalangan industri berupaya untuk menjaga angka kredit macet pada kedua jenis pembiayaan itu. Sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen sebagai komponen kredit terbesar pada multifinance setiap tahun cukup stabil dengan angka kredit macet selalu di bawah 3%. Untuk anjak piutang dan kartu kredit, industri belum banyak yang melakukan transaksi karena masih belum dikenal masyarakat. Sehingga nilai transaksinya masih relatif kecil.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada 2007 total nilai pembiayaan mencapai  mencapai Rp 107,7 triliun atau naik 15,7% dari tahun sebelumnya Rp 93,1 triliun. Pembiayaan konsumen dengan nilai Rp 67,6 triliun memberikan kontribusi terbesar yaitu 62,8% dan disusul oleh sewa guna usaha yang memberikan kontribusi 33,9% atau senilai Rp 36,5 triliun. Perkembangan multifinance tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih banyak ke sektor konsumsi.

Dari segi asset, industri multifinance berkembang cukup pesat. Total aset secara nasional pada akhir 2007 tumbuh menjadi Rp 127,26 triliun dari tahun sebelumnya Rp 108,34 triliun, atau terjadi kenaikan 17,5%. Tetapi pencapaian aset tersebut belum memenuhi target APPI yang mentargetkan pertumbuhan secara nasional Rp130 triliun pada 2007.
 
Dengan berkembangnya bisnis pembiayaan, maka belakangan ini perusahaan multifinance menjadi incaran bank sebagai target akuisi. Keberhasilan mengakusisi dan lalu membesarkannya seperti Bank Danamon dengan Adira Finance dan BII dengan WOM Finance, mendorong bank-bank lain untuk melakukan  hal  yang  sama, khususnya bank yang akan mengembangkan bisnis


pembiayaan konsumen. Bank BUMN besar seperti Bank Mandiri juga akan segera mengakuisisi beberapa perusahaan multifinance. Selain itu juga 5 Bank pembangunan Daerah juga sudah merencanakan akan mengakuisisi perusahaan multifinance dalam waktu dekat.
Namun demikian, sepanjang 2007 lalu sejumlah perusahaan multifinance terpaksa dibekukan oleh Departemen Keuangan, akibat melanggar ketentuan dan kondisi perusahaan dinilai tidak memenuhi syarat. Sejumlah perusahaan tersebut yaitu PT Artamas Multi Finance, PT Air Multi Finance Corporation, PT Infiniti Finance, PT JRD Finance Utama, PT Primarindo Finance Corporation, dan PT Primadana Putra Finance. Sebaliknya beberapa perusahaan baru sudah mendapatkan izin diantaranya PT Al-Ijarah Indonesia Finance, PT Mega Central Finance dan PT Mega Auto Finance.

Dalam laporan ini akan dibahas perkembangan industri multifinance termasuk jenis kegiatan, pertumbuhan nilai pembiayaan, pertumbuhan asset dan sebagainya.

Produk dan jasa multifinance

Industri multifinance di Indonesia berada dibawah pengawasan Biro Pembiayaan dan Penjaminan, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK), Departemen Keuangan.

Multifinance terdiri dari jasa sewa guna usaha (leasing), pembiayaan anjak piutang (factoring), pembiayaan konsumen dan pembiayaan kartu kredit.

Sewa guna usaha (leasing)        
Kelompok ini mencakup pembiayaan perusahaan dalam bentuk "finance lease" untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lesee) selama jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran secara berkala. Apabila jangka waktunya sudah habis lesee boleh membeli barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.

Pembiayaan anjak piutang (factoring)
Kelompok ini mencakup usaha yang kegiatan utamanya melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembeli atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.

Pembiayaan konsumen (consumer credits)
Kelompok ini mencakup usaha yang kegiatan utamanya melakukan kegiatan pembiayaan pengadaan barang dan jasa berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran secara angsuran atau berkala.

Pembiayaan kartu kredit (credit card)
Kelompok ini mencakup usaha yang kegiatan utamanya melakukan pembiayaan dalam transaksi pembelian barang dan jasa para pemegang kartu kredit.

Perkembangan perusahaan multifinance

Perkembangan jumlah perusahaan
Pada periode 2003-2007 jumlah perusahaan pembiayaan di Indonesia mengalami rata-rata penurunan 3,4% per tahun. Berdasarkan data BI, pada 2004 masih tercatat 239 perusahaan tetapi pada 2007 berkurang menjadi 205 perusahaan. Selama 2007 sejumlah perusahaan baru mendapatkan izin, 3 diantaranya yaitu PT Al-Ijarah Indonesia Finance, PT Mega Central Finance, dan PT Mega Auto Finance.

Pada periode 2006 sebanyak 24 multifinance dibekukan sementara oleh Departemen Keuangan, karena tidak menyampaikan laporan keuangan yang diaudit untuk tahun buku 2004. Perusahaan-perusahaan itu hanya boleh menarik kredit yang telanjur dikucurkan, tetapi tak boleh memberikan kredit baru. Perusahaan-perusahaan tersebut diberi jangka waktu enam bulan untuk  menyerahkan laporan keuangan, jika tidak dapat memenuhi maka Depkeu akan mencabut izin usahanya.

Beberapa diantaranya sudah memenuhi kewajibannya, namun per 2007 sebanyak 6 perusahaan diantaranya terpaksa dibekukan untuk selamanya karena gagal memenuhi kewajiban.  Keenam perusahaan tersebut  yaitu PT Artamas Multi Finance, PT Air Multi Finance Corporation, PT Infiniti Finance, PT JRD Finance Utama, PT Primarindo Finance Corporation dan PT Primadana Putra Finance.

Selain diakibatkan oleh pembekuan sejumlah perusahaan, menurunnya jumlah perusahaan multifinance juga diakibatkan karena proses merger, beralih unit usaha, maupun bangkrut.  Selain itu, juga disebabkan karena terbatasnya dana perusahaan pembiayaan skala kecil, sehingga berpengaruh pada bank yang ingin menyalurkan kreditnya. Perusahaan kecil mengalami kesulitan beroperasi karena kompetisi binis multifinance yang ketat. Modal perusahaan pembiayaan skala kecil terbatas, menyebabkan bank sebagai sumber pendanaan ragu memberikan pinjaman.

Perusahaan Multifinance berdasarkan status
Sebagian besar atau sekitar 76,6% (157 perusahaan) merupakan perusahaan swsata nasional dari total perusahaan multifinance, sedangkan sekitar 22,9% (45 perusahaan) adalah perusahaan joint venture. Hanya ada satu-satunya multifinance milik pemerintah yaitu PT. PANN Multifinance yang bergerak dalam pembiayaan pengadaan kapal laut nasional.
 
Dengan dukungan dari principal luar negeri tersebut, perusahaan-perusahaan joint venture lebih mudah mendapat kucuran modal dari luar negeri. Beberapa perusahaan joint venture yang besar terutama bekerjasama dengan principal yang berasal dari Jepang.

Kepemilikan multifinance
Secara umum kepemilikan multifinance terdiri dari bank, afiliasi grup perusahaan ATPM dan principal asing yang bergerak dalam jasa financing.  Perusahaan pembiayaan yang kuat hanyalah yang berafiliasi dengan bank atau produsen mobil dan agen tunggal pemegang merek (ATPM).

Guna memperluas distribusi dan penjualan produk otomotifnya, ATPM menggaet perusahaan pembiayaan. Bahkan beberapa grup ATPM mendirikan perusahaan multifinance sendiri. Grup Astra yang menjadi ATPM Toyota, Daihatsu dan Isuzu (mobil) dan Honda (sepedamotor) mendirikan Astra Sedaya Finance, Toyota Astra Finance (pembiayaan mobil) dan Federal International Finance (pembiayaan sepedamotor).

Grup Indomobil juga memiliki perusahaan pembiayaan sendiri yaitu Indomobil Finance Indonesia (pembiayaan mobil) dan Suzuki Finance Indonesia (pembiayaan sepedamotor).

Sementara itu berdasarkan kelompok kepemilikan, bank tercatat memiliki anak perusahaan multifinance terbanyak dibandingkan Grup ATPM dan lainnya. Bank yang terbanyak memiliki perusahaan multifinance adalah Bank Panin dengan 3 anak perusahaan yaitu Clipan Finance, DKB Panin Finance dan Verena Oto Finance.

Pemain utama

Pemain besar pembiayaan konsumen
Kegiatan pembiayaan konsumen terutama memberikan pembiayaan untuk mobil dan sepeda motor. Selain itu, juga memberikan pembiayaan untuk produk-produk elektronik seperti TV, kulkas, AC, mesin cuci, DVD player dan sebagainya.  

Beberapa pemain besar pembiayaan konsumen diantaranya adalah
Federal International Finance (FIF) berdiri pada 1989 dengan nama PT. Mitrapusaka Artha Finance. Pada 1991 berubah nama menjadi PT. Federal International Finance (FIF), mayoritas sahamnya dikuasai oleh PT. Astra International dari Grup Astra. FIF bergerak dalam bidang pembiayaan sepeda motor dengan produknya FIF UMC yang khusus memberikan pembiayaan untuk sepedamotor merk Honda yang diproduksi oleh PT. Astra Honda Motor yang juga anak Grup Astra. Kemudian FIF mengembangkan bisnisnya ke pembiayaan produk elektronik melalui FIF Spektra dan pembiayaan syariah melalui FIF Syariah. FIF memperoleh  dukungan pendanaan dari Bank Permata, yang juga merupakan anak perusahaan Astra Grup.

Astra Sedaya Finance (ASF) berdiri pada1982 dengan nama PT. Rahardja Sedaya. Setelah diambil alih oleh Astra International holding Grup Astra, pada 1992 nama perusahaan ini berubah menjadi Astra Sedaya Finance. ASF menjadi holding beberapa anak perusahaan yaitu Astra Auto Finance, Estetika Sedaya Finance, Stacomitra Sedaya Finance dan Swadharma Bhakti Sedaya Finance. Gabungan perusahaan ini dikenal sebagai Astra Credit Company (ACC)m yang memberikan pembiayaan mobil yang diproduksi Grup Astra yaitu Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot dan truk Nissal Diesel.

Bussan Auto Finance (BAF) mulai beroperasi pada 1997. Awalnya perusahaan ini bernama Danamon Mitsui Otomotif Finance, dengan pemegang saham PT. Danamon Sanggrahan dan Mitsui Co Ltd dari Jepang. Pada 1998, Danamon mengundurkan diri sebagai pemegang saham, kemudian nama perusahaan ini berubah menjadi Bussan Auto Finance. BAF bergerak dalam pembiayaan sepeda motor khusus merk Yamaha produksi Jepang.

Oto Multiartha didirikan pada 1994 dengan nama Manunggal Multi Finance. Pada 1995, namanya berubah menjadi Oto Multiartha. Pada 1996 Sumitomo Corp dari Jepang mengambil alih mayoritas saham perusahaan ini. Oto memberikan pembiayaan untuk mobil. Sedangkan sister companynya yaitu Summit Oto Finance memberikan pembiayaan untuk sepeda motor.

Wahana Otomitra Multiartha (WOM) didirikan pada 1982 dengan nama PT. Jakarta Tokyo Leasing oleh PT. Fuji Semeru Leasing. Pada 1997 perusahaan ini diakuisisi oleh Bank International Indonesia (BII) sebagai pemegang saham mayoritas (50,03%) dan namanya berubah menjadi Wahana Otomitra Multiartha.
WOM memberikan pembiayaan khusus untuk sepedamotor merk Jepang yaitu Honda, Yamaha dan Suzuki. Ketiga merk Jepang ini memiliki pangsa pasar yang besar di dalam negeri (captive market).

Jasa sewa guna usaha umumnya memberikan pembiayaan alat-alat berat seperti traktor, loader. excavator dan lain-lain serta  barang modal seperti mesin pabrik dan sebagainya. Saat ini sewa guna usaha terus menigkat, sejalan dengan semakin pesatnya pertumbuhan industri pertambangan dan konstruksi, mendorong bisnis penyewaan alat-alat berat juga melonjak. 

Pemain utama pada jasa sewa guna usaha
Central Java Power (CJP) merupakan anak perusahaan PT. PLN. Pada Mei 2003 CJP dan PLN melanjutkan proyek PLTU Tanjung Jati B senilai US$ 1,65 miliar yang sebelumnya tertunda. PLTU yang memiliki kapsitas 2x660 MW berlokasi di Jepara, Jawa Tengah. Perjanjian antara CJP dan PLN dalam bentuk skema sewa guna usaha (nuilt, lease dan transfer). Pada 2006 CJP (sebagai lessor) telah menyerahkan pemeliharaan, produksi dan penjualan listrik yang dilakukan oleh PLN (sebagai lessee). Skema sewa guna usaha ini untuk jangka waktu selama 20 tahun. 

Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) yang didirikan pada 1990an. CSUL merupakan salah satu anak perusahaan Grup Trakindo, dimana PT. Trakindo Utama sebagai holding. CSUL memberikan pembiayaan untuk pembelain alat-alat berat merk Caterpillar dari Amerika Serikat yang diageni oleh Trakindo. Untuk melayani konsumennya CSUL memiliki cabang di Medan. Sumatera Utara dan Surabaya, Jawa Timur.

Orix Indonesia Finance (ORIF) berdiri pada 1975 dengan nama PT.Orient Bina Usaha Leasing (OBUL). Perusahaan ini merupakan joint venture antara   ORIX Corporation (85%) and Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (15%). ORIF intends to further strengthen its reputation among customers and promote the idea that ORIF is synonymous with the best in financial services. ORIF memberikan pembiayaan untuk heavy equipment, shipping, peralatan kantor, mesin-mesin industri dan sebagainya. Disaping itu ORIF juga memberikan pembiayaan mobil, namun volume transaksi relative kecil dibandingkan sewa guna usaha.  

Pemain Utama Perusahaan Pembiayaan anjak piutang 
Kegiatan anjak piutang (factoring) sejauh ini masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Sebab belum banyak nasabah yang mengalihkan piutangnya kepada perusahaan pembiayaan, guna untuk memperbaiki likuiditas keuangannya.   Hal   ini   terlihat  dari  kecilnya  nilai  pembiayaan  anjak  piutang dibandingkan dengan jenis kegiatan lain seperti sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen. Selain itu, pemainnya juga  tidak sebanyak jasa sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen. 

Pemain utama dalam kegiatan pembiayaan anjak piutang  diantaranya:
"        Koexim Mandiri Finance
"        Clemont Finance Indonesia Corp

Pembiayaan kartu kredit memberikan pembiayaan untuk pembelian barang atau jasa dengan menggunakan kartu kredit. Menurut data BI,   principal kartu kredit yang ada di Indonesia saat ini adalah Visa International, Mastercard International, Diners dan Amex. Penyelenggara kartu kredit dilakukan oleh 22 penerbit yang terdiri dari 20 bank umum dan 2 perusahaan multifinance.

GE Finance Indonesia merupakan anak perusahaan GE Capital, sebuah perusahaan multinasional dengan total asset lebih dari US$ 425 miliar yang berpusat di AS. GE Finance menerbitkan kartu kredit Master Card. GE Finance juga menerbitkan beberapa kartu lainnya seperti Smart Card yang berkejasama dengan Sumber Kredit dan Kartu Belanja bekerjasama dengan Carrefour, hypermart asal Perancis yang memiliki banyak outlet di Indonesia. Saat ini GE Finance memiliki sekitar 1,1 juta pemegang kartu.

Diner Jaya Indonesia International menerbitkan kartu kredit dengan lisensi Diners Club di AS. Kartu kredit Diners Club di Indonesia relatif sedikit dibandingkan dengan Visa dan Master Card.


Kinerja multifinance

Pertumbuhan asset multifinance 27,4% per tahun
Pada periode 2003-2007 tital asset multifinance mengalami pertumbuhan cukup signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 27,4% per tahun. Pada 2003 masih tercatat sebesar Rp 30,1 triliun kemudian melonjak hingga mencapai Rp 127,3 triliun pada 2007 lalu. 

Secara umum pertumbuhan asset ini didorong oleh sector pembiayaan konsumen karena tingginya permintaan kendaraan. Tahun 2007, permintaan pembiayaan mobil lebih tinggi dari 2006. Disamping itu,  permintaan terhadap leasing alat berat dan mesin pabrik juga memberikan kontribusi meski tidak sebesar pembiayaan kendaraan.

Pembiayaan alat-alat berat dipengaruhi oleh distribusi komoditi perkebunan di sejumlah daerah seperti Sumatera dan Kalimantan.................. Lihat Daftar Isi>>

HOME        PRODUCTS      ABOUT US       CONTACTS      
 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan