2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
GARUDA JAKAKI AKUISISI SEJUMLAH MASKAPAI SWASTA. Maskapai Garuda Indonesia saat ini agresif menjajaki akuisisi sejumlah maskapai penerbangan nasional yang mengalami masalah keuangan dan operasional untuk meningkatkan dominasi rute penerbangan domestik. Direktur Strategi dan Teknologi Informasi Garuda Elisa Lumbantoruan mengatakan pihaknya sedang melakukan pendekatan ke sejumlah maskapai swasta, termasuk Linus Arways yang kini berhenti beroperasi. Menurutnya langkah untuk melakukan akuisisi maskapai lain bertujuan memperbesar sumber daya Garuda setelah memberlakukan UU No.1/2009 tentang Penerbangan, sekaligus menghadapai era globalisasi, khususnya kawasan perdagangan bebas Asean. Selain itu, selama ini pihak Garuda mengalami kesulitan untuk memperoleh pilot baru, menyusul banyaknya pesawat yang didatangkan oleh maskapai penerbangan nasional lainnya. Karena itu, Garuda mengambil strategi untuk mengambil alih hingga 100% saham maskapi lain, termasuk Linus Airways jika nilainya memadai. Sementara itu, Citilink  yang merupakan unit usaha Garuda, saat ini sedang memproses  pengajuan surat izin usaha perusahaan penerbangan (SIUP) dan air operator certificate (AOC) setelah memperoleh status perseroan terbatas.

SEBUKIT BANGUN PEMBANGKIT GAMBUT US$400 JUTA. PT Sebukit Power akan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar gambut dengan investasi US$400 juta dan kapasitas 3X36 MW di Mempawah, Kalimantan Barat. Presdir Sebukit Power Marcelius Kurniawan mengatakan proyek ini terintegrasi dengan penambangan gambut sebagai bahan bakar dan reklamasi. Dalam rangka pembangunan proyek tersebut, PT Sebukit Power bekerja sama dengan VP Korean Electric Power Corporation (Kepco) dan Korean Southern Power Ltd (Kospo). Pembangkit ini akan beroperasi pada 2012 dan listriknya akan di jual ke PLN. PT Sebukit Power merupakan perusahaan patungan Insfoil Venture Pte Ltd (IPV) dan PT Sebukit Energy (SE) yang berkomitmen untuk menyelesaikan proyek dari tahap pendanaan, pembangunan hingga pengoperasian selama 30 tahun. Sebukit Power telah mendapatkan kepastian untuk menjual daya listrik melalui head of agreement dengan PLN pada 18 September 2008 selama 30 tahun dan tarif yang disepakati adalah 4,775 sen dolar per kWh.

SISTEM TELEKOMUNIKASI FIBER OPTIK ICON+ SELESAI 2009. PT Indonesia Commets Plus (ICON+), anak usaha PLN optimis pembangunan sistem telekomunikasi fiber-optik Sumatra-Jawa-Bali-Lombok selesai pada Oktober 2009 dengan total investasi lebih dari Rp375 miliar. Selain untuk melayani kebutuhan PLN, sistem komunikasi juga disiapkan untuk melayani pelanggan industri, perbankan, dan pelanggan lainnya. Menurut Direktur Utama ICON+ Mulyo Adji pembangunan sistem telekomunikasi fiber-optik untuk wilayah Jawa-Bali sudah dibangun sebelum 2000 dan ditargetkan pada Oktober 2009, wilayah Sumatra-Jawa-Bali-Lombok sudah tersambung jaringan internetnya. Bahkan lebih cepat dari proyek Palapa Ring. ICON+ merupakan perusahaan yang bergerak dibidang telekomunikasi dan informasi yang memperoleh hak pemanfaatan aset dari PLN dalam melakukan pembangunan dan perluasan jaringan akses telekomunikasi ke pelanggannya. ICON+ juga memelihara jaringan telekomunikasi yang digunakan PLN, termasuk jaringan gardu induk, tranmisi data, website, internet, dan lainnya. Adapun beberapa perusahaan terkemuka yang menjadi pelanggan ICON+ adalah PT Telkom (Persero), Indosat, Telkomsel, Lintasarta, CSM, Bank Mandiri, BRI, Medco dan lainnya.

HEIDELBERG TETAP KUASAI INDOCEMENT. HiedelbergCement AG menuntaskan transaksi penjualan 520,5 juta saham atau 14,1% saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk senilai Rp3,12 triliun kepada pemodal institusi internasional. Dalam penjualan saham tersebut, Heidelberg dibantu oleh Royal Bank of Scotland Group Plc (RBS) Hongkong dengan melibatkan ABN Amro Asia Securities Indonesia untuk melaksanakan transaksi di Bursa Efek Indonesia. Bernd Scheifele, Chairman of HiedelbergCement Managing Board, mengatakan pihaknya menjual 14,1% dari 65,1% saham Indocement yang dimilikinya. Hasil penjualan saham itu akan digunakan HiedelbergCement untuk mengurangi utang perusahaan induk. Sebelumnya Hiedelberg melalui anak usahanya Birchwood Omnia Limited, Inggris menguasai 65,14% saham atau 2,39 miliar saham Indocement. Sementara pemegang saham lainnya adalah Grup Salim melalui PT Mekar Perkasa sebesar 13,03%, sedangkan publik hanya menguasai 21,83%. Selain itu, Indocement merupakan produsen semen terbesar kedua nasional dengan kapasitas produksi total sebanyak 17,1 juta ton dari pabrik yang terletak di Citeureup, Bogor dan Tarjun, Kalimantan Barat.

GARDA TUJUH AKUISISI 2 TAMBANG. PT Garda Tujuh Buana menjajaki untuk mengakuisisi dua tambang batubara di Kalimantan Timur pada tahun ini dengan menggunakan sebagian dana yang didapat dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Garda Tujuh merupakan perusahaan pertambangan batubara dengan kuasa pertambangan (KP) seluas 710 ha di Pulau Bunyu, Kalimantan Timur. Saat ini, tambang perusahan telah memasuki tahap produksi dengan kualitas batu bara 4.471 - 4.851 kilo kalori. Menurut Direktur Utama PT Garda Tujuh Buana Hari Purnomo mengatakan proses akuisisi tersebut diharapkan tuntas pada tahun ini, untuk mendongkrak kapasitas perseroan dan memperbaiki kinerja perusahaan. Setiap tambang tersebut memiliki cadangan batu bara sekitar 50 juta metrik ton dengan kualitas 4.000 - 5.000 kilo kalori. Pasca akuisisi ini produksi batu baranya diharapkan naik menjadi 905.000 metrik ton dari posisi 2008 sebanyak 30.000 metrik ton. Perseroan sedang memproses IPO semester pertama tahun ini, untuk membiayai kebutuhan pengembangan usaha. Dari proses IPO tersebut, dananya akan digunakan untuk investasi seperti pembelian mesin, pambangunan fasilitas, dan infrastruktur, serta pembebasan lahan penambangan sebesar 54,48%. Sedangkan 45,52% dana dari IPO itu akan dialokasikan untuk modal kerja perusahaan.

BOSOWA GROUP PEMBELI SIAGA BANK KESAWAN. Bosowa Group, milik pengusaha Aksa Mahmud mulai merambah bisnis perbankan dengan menjadikan anak usahanya PT Malomo Trasportindo sebagai pembeli siaga pada penawaran terbatas PT Bank Kesawan Tbk. Bank publik ini akan melakukan penawaran saham terbatas (rights issue) sebesar 20% saham dengan harapan bisa meraup dana sekitar Rp 40 miliar. Saat ini, pengendali saham Bank Kesawan Tbk dipegang oleh PT Adhi Tirta Mustika sebesar 63,03%. Adapun pemegang saham perorangan dengan kepemilikan dibawah 1% sebanyak 0,05% dan pemegang saham publik 35,92%. Direktur Utama Bank Kesawan Dinno Indiano mengatakan Malomo Trasportindo berpotensi menjadi pemegang saham Bank Kesawan jika pemodal mayoritas tidak menyerap hak memesan efek  terlebih dahulu pada rights issue. Sementara itu CEO Bosowa Group Erwin Aksa menyampaikan bahwa Malomo akan berkomitment untuk maksimum harga penawaran saham terbatas Bank Kesawan sebesar RP320 per lembar saham apabila pemegang saham tidak melaksanakan hak memesan terlebih dahulu. Menurutnya jika Malomo menjadi pembeli siaga atas 125,3 juta lembar saham baru Bank Kesawan, perusahaannya hanya akan menguasai 20% saham sedangkan Adhi Tirta masih akan menjadi pemilik saham mayoritas atau setara dengan 51,2%, sementara Kapita Sekurindo 6,5% dan Masyarakat menjadi 22,2%.

BAT AKUISISI BENTOEL. British American Tobacco p.l.s (BAT) mengakuisisi 85,1% saham atau 5,73 miliar saham perusahaan rokok nasional PT Bentoel Internasional Investama Tbk senilai Rp 5 triliun. Pembelian saham tersebut terjadi pada 17 Juni 2009 setelah terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) 5,73 miliar saham Bentoel di bursa pada harga Rp 873 per saham oleh broker Credit Suisse Securities Indonesia. Selama ini, Grup Rajawali telah lebih dari 12 tahun membawa Bentoel menjadi perusahaan rokok terbesar keempat nasional, dan pemegang saham lainnya secara bersamaan menjual saham Bentoel yang berkode RMBA kepada BAT. Grup Rajawali merupakan perusahaan milik konglomerat Peter Sondakh yang telah melego 56,96% sahamnya senilai Rp 3,35 triliun untuk mengalihkan investasinya dari sektor rokok. Selain Rajawali Grup, pemegang saham lainnya dengan jumlah saham sebesar 28,17% juga telah melepas sahamnya ke BAT. Sementara itu, berdasarlan laporan keuangan Bentoel per Maret 2009, pemegang saham perusahaan ini adalah Bella Spphire Ventures Ltd sebesar 41,73%, Blue Eagle Ltd 14,48%, Citibank NA 9,66%, dan publik 34,13%. Menurut Managing Director Business Development Grup Rajawali Darjoto Setyawan mengatakan perseroan akan mengalihkan investasi dari Bentoel tersebut ke tiga sektor utama yang menjadi fokus yakni properti, perkebunan dan pertambangan.

BAKRIE PLANTATIONS INVESTASI US$8 JUTA UNTUK PEMBENIHAN KELAPA SAWIT. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk mengalokasikan investasi senilai US$ 8 juta untuk mendirikan Bakrie Agro Research Institute (BARI) termasuk mengembangkan kebun induk penghasil bibit (seed garden) kelapa sawit. Direktur Operasional Bakrie Sumatera Howard James Sargeant memaparkan bahwa investasi senilai US$ 5 juta telah dibelanjakan untuk mengembangkan kebun induk yang dirintis sejak 2004. Sebagian besar dana itu dibelanjakan untuk pembelian sumber genetik dari ASD de Costa Rica S.A., perusahaan bibit kelapa sawit berbasis di Costa Rica, Amerika Tengah. Selain itu, Bakrie Sumatera juga menggandeng ASD dalam pengembangan seed garden dengan membentuk perusahaan patungan dengan nama Bakrie Seed Garden (BSG) yang akan mulai produksi pada 2011. Untuk pengembangan BARI, perusahaan mengalokasikan belanja modal US$3 juta dalam 5 tahun ke depan sejak 2010. Pengembangan kebun induk ini dimaksudkan untuk menghasilkan bibit sawit dengan produktivitas hasil panen yang tinggi. Kebun bibit ini juga ditargetkan menjadi cikal bakal sawit yang mampu memproduksi 40 ton tandan buah segar (TBS) per ha dengan tingkat rendemen 25% sehingga akan diperoleh 10 ton minyak sawit per ha.

MALINDO BANGUN PABRIK PAKAN TERNAK. PT Malindo Feedmill Tbk akan membelanjakan Rp100 miliar untuk pembangunan pabrik pakan ternak sekaligus menjajaki akuisisi perusahaan peternakan ayam pada tahun ini. Saat ini perseroan sedang memproses pembangunan pabrik pakan ternak di lahan seluas 5,4 ha di kawasan industri modern Cikande, Serang, Banten. Biaya pembangunan pabrik ini diperkirakan akan memerlukan waktu sekitar satu tahun dan membutuhkan biaya sebesar Rp100 miliar. Kapasitas pabrik pakan ternak baru ini kapasitasnya sebesar 30.000 ton per bulan atau 360.000 ton per tahun, dan perseroan akan menambah kapasitas pabrik yang sudah ada saat ini menjadi 450.000 ton per tahun. Sementara itu, Komisaris Malindo Tan Lai Kai menargetkan pertumbuhan perseroan sebesar 10% - 15% pada tahun ini mengingat kondisi ekonomi yang membaik dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4% terbesar ketiga dunia setelah China dan India.

GLOBAL MEDIACOM INVESTASI Rp500 MILIAR UNTUK JARINGAN TV . PT Global Mediacom Tbk akan menginvestasikan dana sebesar Rp400 miliar - Rp500 miliar untuk ekspansi ke bisnis jaringan televisi lokal, diantaranya melalui proses akuisisi. Selain itu, perseroan memastikan akan melepaskan 19% kepemilikannya di PT Mobile-8 Telecom Tbk kepada investor strategis, dan akan fokus ke bisnis media yang berbasiskan iklan maupun pelanggan. Menurut CEO Global Mediacom Bambang Harry Tanoesudibyo pada tahun ini perseroan menargetkan untuk memiliki 10 unit stasiun televisi lokal baru untuk mendukung pengembangan televisi di daerah. Sementara itu, sepanjang tahun lalu pendapatan Global Mediacom mencapai Rp5,38 triliun yang berasal dari media berbasis iklan dan konten menyumbangk Rp3,78 triliun. Sedangkan pendapatan dari media berbasis pelanggan mencapai sebesar Rp776 miliar, teknologi informasi Rp828 miliar serta lain-lain Rp0,9 miliar. Pertimbangan itulah yang mendorong perseroan berencana melepas untuk kepemilikannya di Mobile-8.

STAR ENERGY TAMBAH INVESTASI US$ 400 JUTA. Star Energy Geothermal Ltd. Akan menggelontorkan investasi senilai US$350 juta - US$400 juta untuk pengembangan panas bumi dengan kapasitas total 173 MWe (megawatt electrical). CEO & Managing Director Star Energy Bret Mattes mengatakan ekspansi unit ke tiga pembangkit listrik tenaga uap bumi (PLTP) itu merupakan bagian dari target perusahaan untuk mengembangkan PLTP dengan total kapasitas 400 MW pada 2014. Saat ini, perusahaan telah mengoperasikan dua unit PLTP yaitu PLTP Wayang Windu 1 dan 2 masing-masing 110 MW dan 117 MW. PLTP Wayang Windu unit 2 merupakan pembangkit yang baru saja selesai dibangun  dengan biaya investasi US$ 210 juta. Star Energy merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham yang dikuasai oleh Prajogo Pangestu melalui Barito Pasifik sebesar 40% dan sisanya oleh perusahaan institusi keuangan yang berbasis di London Ashmore 30% dan individu sebesar 20%.. Dengan beroperasinya pembangkit ini, Star Energy telah memasok listrik sistem Jawa-Madura-Bali sebanyak 227 MW.

PERTAMINA AMBIL 46% SAHAM BLOK ONWJ. PT Pertamina (persero) akhirnya ditetapkan sebagai pemenang tender 46% hak partisipasi Beyond Petroleum West Java Ltd atas Blok Offshore North West Java (ONWJ) sekaligus mengambil alih posisi operator dengan nilai akuisisi US$280 juta. Kepastian kemenangan tersebut stelah dilakukannya penandatangan kesepakatan jual beli antara Pertamina dan BP Indonesia. Pertamina yang tidak lagi bergandengan dengan PT Indika Energy Tbk mengalahkan PT Medco Internasional Tbk, China National Petroleum Corporatin dan PT Energi Mega Persada Tbk serta Supreme Energy. Menurut Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan akuisisi Blok ONWJ merupakan bagian dari langkah perusahaan untuk bergerak memperkuat sektor hulu migas, terutama di lepas pantai. Dengan adanya akuisisi Blok ONWJ ini, Pertamina setidaknya akan memperoleh tamahan produksi minyak sekitar 12.000 barel per hari dan lebih dari 100 juta kaki kubik gas per hari (MMscfd) dari ONWJ. Blok ONWJ memiliki 314 sumur produksi dan 218 struktur offshore kini memproduksi 22.000 bph minyak dan 220 MMscfd gas. Sehingga ONWJ dapat memasok gas untuk pembangkit listrik, industri, dan konsumsi rumah tangga di Jakarta.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Mei 2009
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan