2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Mei 2011


INDUSTRI KELISTRIKAN DI INDONESIA

Latar belakang

Secara umum sektor kelistrikan mengalami pertumbuhan yang cukup baik walaupun masih menghadapi kendala keterbatasan kemampuan pembangkit. , Dalam lima tahun terakhir produksi energi listrik  di Indonesia yang dihasilkan oleh   PT. PLN sebagai BUMN yang bertugas sebagai penyedia tenaga listrik terus meningkat. Produksi listrik tercatat sebesar 133.109,00 GWh pada 2006, kemudian terus meningkat hingga mencapai 160.786,21 GWh.pada 2010. 
 
Sementara itu, pertumbuhan kebutuhan listrik tiap tahun rata-rata mencapai 7%. Namun karena pemerintah terlambat mengantisipasi laju pertumbuhan ini, sistim ketenaga listrikan di sejumlah wilayah di Jawa dan luar Jawa sangat rentan terhadap pemadaman apabila terjadi gangguan dari operasi pembangkit karena keterbatasan kapasitas pembangkit. Upaya mengatasinya telah dilakukan melalui percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW dan mulai memberi hasil karena pada tahun 2011 makin berkurang frekwensi pemadaman terutama di P. Jawa.  Pada 2010 dijadwalkan penyelesaian  tambahan proyek pembangkit listrik dengan kapasitas 2.400 MW. Dengan demikian, total 4.300 MW kapasitas listrik pembangkit dari proyek 10.000 MW akan selesai pembangunannya per tahun 2010.

Namun realisasinya pada 2010 lalu PLN mengalami hambatan produksi listrik yang disebabkan oleh telambatnya penyelesaian proyek percepatan pembangkit 10.000 MW. Diantaranya   keterlambatan kontraktor pelaksana menyelesaikan proyek PLTU Labuan Unit  2, PLTU Rembang (Unit 1 dan 2), dan PLTU Indramayu Unit 1, sehingga jadwal operasional PLTU mundur.

Selain masalah lketerbatasa kapasitas pembangkit PLN juga menghadai masalah pasokan bahan bakar. Mengingat harga bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi, PLN meningkatkan pemakaian gas sebagai bahan bakar pembangkit. Namun masih menjadi kendala, sebab pasokan gas sering terhambat.  Pada 2010 hambatan pasokan gas yaitu pemasok gas menurunkan volume gas dari Kalila ke PLTGU Teluk Lembu, pasokan gas dari PGN ke PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Talang Duku, pasokan gas dari Pertamina ke PLTGU Belawan dan pasokan gas SEMCO ke PLTGU Semberah, sehingga menyebabkan tingkat pemakaian BBM tinggi.

Pada 2010 dilihat dari besarnya kapasitas terpasang 26.895 MW, terbesar adalah PLTU 9.452 MW, PLTGU 6.951 MW, PLTA 3.523 MW dan lainnya. Sedangkan dari jumlah unit, dari total pembangkit 5.541.unit yang terbanyak PLTD 4.637 unit dengan pangsa sekitar 83,7%,   PLTA 381 unit (6,9%), PLTG 178 unit (3,2%), PLTU 161 unit (2,9%) dan lainnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir sekitar 6%-7%, sementara produksi listrik hanya tumbuh sekitar 6,28% per tahun. Pembangunan pembangkit baru pun diperlukan untuk menambah kapasitas listrik, agar dapat  mengatasi terjadinya krisis pasokan listrik, yang dalam jangka panjang akan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Permintaan ini diperkirakan akan meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan peralihan penggunaan listrik non-PLN ke listrik PLN.

Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak kendala yang menyebabkan proyek-proyek pembangkit terutama pembangkit berbahan bakar gas tertunda, karena ketidak pastian pasokan gas. Akibatnya pembangkit-pembangkit BBM yang sudah dikonversi ke gas, terpaksa terus beroperasi menggunakan BBM yang harganya semakin mahal. Untuk menekan biaya produksi PLN akibat tingginya harga minyak dunia, maka pemerintah melakukan program diversifikasi pembangkit-pembangkit BBM ke non BBM. 

Untuk mengatasi krisis listrik tersebut, sejak 2006 pemerintah mendorong percepatan crash program pembangunan pembangkit berbahan bakar batubara 10.000 MW. Beberapa proyek dalam Tahap I sudah selesai sejak 2009 dan sebagian lagi bertahap akan selesai pada 2011.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia masih membutuhkan energi listrik 35.000 MW hingga 2015. Untuk mengantisipasi krisis listrik, PLN mendorong investasi pembangkit listrik terbarukan dan mendorong perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) untuk segera merealisasikan proyek-proyek listriknya. 

Pengelolaan sistem tenaga listrik di Indonesia 

Sesuai dengan UU no 15/1985 mengenai Ketenagalistrikan, sistem kelistrikan di Indonesia ditangani olh PLN sebagai BUMN listrik. Sistem kelistrikan  dibagi menjadi beberapa wilayah yang terinterkoneksi yaitu Sistem Jawa-Bali, Sumatera  Bagian Selatan (Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sebagian Riau), Sumatera bagian Utara (Sumatera Utara dan NAD). Selebihnya di Pulau-pulau lain belum ada sistim interkoneksi seperti di Jawa dan Bali.

Sistem Kelistrikan Jawa Bali
Sistem Jawa Bali adalam sistem kelistrikan terbesar di Indonesia yang menghubungkan berbagai pembangkit listrik dan pusat-puat beban di seluruh P. Jawa, P. Madura dan P. Bali. Sistem ini terdiri dari pembangkit listrik dengan total kapasitas 22.236 MW yang dihubungkan dengan saluran transmisi tegangan ekstra tinggi 500KV dan tegangan tinggi 150 KV dan 70 KV.

Jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV telah menghubungkan pembangkit diseluruh   wilayah P.  Jawa  melalui jaringan transmisi sepanjang pantai utara P, Jawa dan diperkuat dengan jaringan  transmisi di daerah Selatan.  Sistim interkoneksi Jawa Bali dikelola oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLNP3B) Jawa Bali.

Pembangkit di Jawa seluruhnya kini dibawah pengelolaan anak perusahaan PLN yang dibentuk khusus untuk menangani pembangkit yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkit Jawa Bali (PT PJB)

PT. Indonesia Power mengelola 8 Unit Bisnis Pembangkitan, yaitu Suryalaya (3.400 MW), Priok (1.343,56 MW), Semarang (1.469,26 MW), Perak (561,83 MW), Bali (324,82 MW), Kamojang (360 MW), Mrica (819 MW), dan Saguling (797,36 MW).

Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya menangani 7 unit PLTU dengan bahan bakar batubara sebagai bahan bakar utamanya. Unit 1 s/d 4 masing-masing mempunyai kapasitas 400 MW dan unit 5 s/d 7 masing-masing 600 MW sehingga U.P.Pembangkitan Suralaya menangani PLTU batubara dengan kapasitas total 3400 MW.

PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali II  atau saat ini bernama PT. PJB berdiri pada 1995.   PJB memiliki 8 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang 6.526 MW dan aset setara kurang lebih Rp 41,5 trilyun. Didukung 2.203 karyawan, PJB telah berkembang menjadi produsen energi listrik kelas dunia. Kapasitas, mutu, kehandalan dan layanan yang diberikan mampu memenuhi standar internasional. Yaitu Unit Pembangkit Gresik (2259 MW), Muara Karang (1208 MW), Paiton (800 MW),  Muara Tawar (920 MW), PLTA Cirata (1008 MW), PLTA Brantas (281 MW)

Sistem tenaga Listrik Sumatera sudah terpadu
Dengan diselesaikannnya Pembangunan Transmisi 150 kV antara Rantau Prapat-Kota Pinang-Bagan Batu sepanjang 102 km pada Juli 2007, maka  dengan demikian sistem kelistrikan Sumatera bagian Utara (Sumbagut) terhubung dengan Subsistem kelistrikan Sumatera bagian Selatan-Tengah (Sumbagselteng).

Sistem kelistrikan Sumbagselteng akan memasok daya listrik hingga mencapai 70 MW ke sistem kelistrikan Sumbagut. Sumbagselteng ada kelebihan sekitar 100 MW pada siang hari.
.
Terhubungnya interkoneksi Sumbagut dan Sumbagselteng maka jaringan Saluran Tegangan Tinggi (SUTTI) 150 kV mulai dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh sepanjang 3.000 km kini telah terpadu. Hal ini menunjukkan sistem kelistrikan Pulau Sumatera menunjukan kondisi kelistrikan PLN di Sumatera mulai membaik.

Pengiriman energi melalui transmisi jaringan 150 kV mulai dari Kota Panjang Riau hingga Kota Pinang Rantau Prapat, sangat panjang mencapai 400 km. Pengiriman daya itu tidak mudah, ada pengaruh terhadap tegangan sehingga ketika sampai ke Sumbagut sekitar 70 MW.

Namun interkoneksi yang telah terpadu di Sumatera belum sepenuhnya menyelesaikan masalah defisit listrik yang terjadi di Sub Sistem Sumbagut. Hal itu dikarenakan pasokan energi dari pembangkit yang tersedia masih lebih kecil dari beban yang harus dipenuhi.

Sistem kelistrikan di Pulau lain
Saat ini sistem kelistrikan di pulau Kalimantan yang sudah terkoneksi yaitu Kalteng-Kalsel. Dalam proses yang sedang berjalan mengkoneksikan Kalsel dan Kaltim. Menurut rencana dalam jangka panjang akan ada koneksi Kalbar-Kalteng. Dengan sistem jaringan kelistrikan interkoneksi itu, jika satu daerah mengalami kendala dari unit pembangkit atau masuk dalam fase pemeliharaan pembangkit, maka suplai listrik dari propinsi lain dapat dilakukan.

Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat dikategorikan tertinggal. Saat ini Pontianak sedang membangun jaringan berpola "loop" (melingkar) untuk kota Pontianak. Sehingga jika terjadi kendala dalam salah satu transmisi, maka dapat disuplai melalui lingkar lainnya. Demikian juga untuk wilayah Kalbar lain hingga kedepannya untuk rencana program sistem jaringan kelistrikan interkoneksi di Kalimantan.

Di Kalimantan Timur  terdapat beberapa sistem kelistrikan dan yang terbesar sistim Mahakam  yang melayani Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong, ibu kota Kutai Kartanegara.

Selain Sistem Mahakam, PLN memiliki jaringan listrik Bontang-Sangatta untuk Kalimantan Timur bagian utara, Sistem Melak dan Kota Bangun untuk kawasan sekitar Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, serta Sistem Petung dan Tanah Grogot untuk melayani pelanggan di Kalimantan Timur bagian selatan. Namun, yang paling besar memang Sistem Mahakam dengan jumlah pelanggan sekitar 330.000 pelanggan dan daya listrik yang digunakan 171,5 MW. PLTGU Tanjung Batu merupakan satu dari enam pembangkit listrik dalam Sistem Mahakam dengan beban pelanggan 180 MW. Lima pembangkit lainnya menggunakan diesel yang berbahan bakar solar.

Kondisi Sistem Pembangkitan

Dalam periode lima tahun dari 2006 hingga 2010 terakhir kapasitas terpasang PLN mengalami pertumbuhan rata-rata 2,0% per tahun. Pada 2006 kapasitas terpasang sebesar 24.846 MW, kemudian terus meningkat hingga mencapai 26.895 MW.

Sementara itu, menurut RUPTL 2010 seiring dengan sejumlah pembangkit yang selesai dibangun, maka diperkirakan akan ada tambahan kapasitas sekitar 6.248 MW. Dengan demikian total kapasitas terpasang meningkat menjadi 32.388 MW pada 2011.

Dilihat dari jenis pembangkit, pada 2010 pembangkit jenis PLTU yang terbesar yaitu mencapai 9.452 MW, PLTGU 6,952 MW, PLTA 3.523 MW, PLTD 3,268 MW dan PLTG 3.224 MW.

Kapasitas terpasang pembangkit PLN  di sistem Jawa Bali meningkat menjadi sebesar 18.534,27 MW pada 2009. Tambahan daya pembangkit baru diantaranya berasal dari PLTU Labuan Unit I, Banten berdaya 300 MW.Indramayu Unit II, Jawa Barat berkapasitas 330 MW. 

Sementara itu pada sistem luar Jawa Bali, dengan adanya penambahan kapasitas di beberapa lokasi seperti Kalimantan menyebabkan kapasitas pembangkit naik menjadi sebesar 7.102,43 MW pada 2009.

Perkembangan pembangkit

Jumlah pembangkit
Jumlah unit pembangkit terus berkembang pesat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan listrik oleh masyarakat. Dalam periode lima tahun 2006-2010, jumlah pembangkit mengalami peningkatan dari 5.039 unit pada 2006 menjadi 5.541 unit pada 2010. 

Pada Maret 2010 PLTU yang mulai beroperasi adalah PLTU Suralaya 625 MW. Kemudian pada Juni 2010 beroperasi  PLTU Indramayu Unit 1 dan PLTU Rembang Unit 2. Pada Desember 2010 PLTU Paiton 600 MW serta PLTU Indramayu Unit 2 dan 3 mulai beroperasi.

Dilihat dari jenisnya, pada 2010 pembangkit jenis PLTD merupakan yang terbanyak mencapai 4.637 unit dengan pangsa sekitar 83,7% dari seluruh total pembangkit. Selanjutnya diikuti oleh PLTA sebanyak 381 unit (6,9%), PLTG 178 unit (3,2%), PLTU 161 unit (2,9%), PLTGU 119 unit (2,1%), PLTMG 43 unit (0,8%) dan PLT Bayu 3 unit (0,05%).

Kondisi Sistem Transmisi
Perkembangan kapasitas trafo distribusi dan sarana penyaluran Sistem Jawa Bali untuk 5 (lima) tahun terakhir ditunjukkan pada tabel berikut: ...

Kapasitas trafo 70/20 KV hampir tidak berubah karena makin banyaknya penggunaan jaringan transmisi 150KV menggantikan jaringan transmisi 70 KV.

Dalam lima tahun terakhir panjang saluran transmisi 70 kV terus berkurang karena adanya upaya uprating menjadi 150 kV guna meningkatkan keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.

Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas Interbus Transformer (IBT) dan trafo distribusi dilihat dari sisi tegangan 500, 150 dan 70 kV, dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah seperti pada tabel berikut :

Sistem Penyaluran dan Distribusi di Luar Jawa Bali dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi. Sedangkan sistem lainnya, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.

Realisasi pertumbuhan sektor tenaga listrik 

Produksi listrik naik 6,28% per tahun

Produksi listrik PLN berasal dari produksi sendiri, sewa pembangkit  dan pembelian listrik dari perusahaan swasta (Independent Power Producer/IPP). Produksi listrik PLN mengalami pertumbuhan rata-rata 6,28% per tahun dalam periode lima tahun terakhir ini.

Pada 2006 produksi listrik tercatat sebesar 133,109,00 GWh, kemudian produksi meningkat mencapai 169,786,21 GWh pada 2010. Produksi listrik mengalami pertumbuhan terbesar pada 2010 yaitu 8,28% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi dari produksi tenaga listrik berasal dari sewa diesel, hal ini untuk mengatasi pemadaman bergilir pada daerah krisis yang kurang pasokan daya.  

Program sewa pembangkit merupakan strategi jangka pendek PLN untuk memenuhi kebutuhan daya dan mengantisipasi pertumbuhan konsumsi listrik yang cepat di masyarakat. Selain itu juga untuk menekan penggunaan bahan bakar minyak dan menggantinya dengan pembangkit berbahan bakar batubara, serta  untuk mengantisipasi keterlambatan pembangunan dan pengoperasian sejumlah proyek IPP.

Pada 2011 ini ada beberapa program sewa pembangkit yang dilakukan PLN khususnya  menyewa pembangkit PLTU dari investor swasta untuk melistriki beberapa daerah di luar Jawa. Dalam hal sewa PLTU ini, investor menyediakan mesin pembangkit dan kemudian mengoperasikan PLTU tersebut, sedangkan PLN  akan menyediakan lahan termasuk persiapan operasional pembangkit, memasok bahan bakar batubara, menyiapkan transmisi serta membeli energi listrik yang dihasilkan.

Sementara itu jangka waktu kerja sama selama 9 tahun dan waktu pembangunan PLTU sekitar 20 bulan. Beberapa proyek yang sudah dimulai proses lelang ada 7 proyek, sedangkan 3 proyek lagi belum dimulai proses lelang.

Penjualan Tenaga Listrik meningkat 6,96% per tahun

Seiring dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia,  menyebabkan pertumbuhan penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir (2006-2010) mengalami pertumbuhan rata-rata 6,96% per tahun.

Pada 2006 energi terjual tercatat sebesar 121.609,84 Giga Watt hour , kemudian meningkat menjadi 147.297,00 GWh pada 2010. Meningkatnya penjualan  tenaga listrik tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pelanggan yang pada 2010 bertambah 2.317.702 pelanggan hingga total jumlah pelanggan mencapai 42,4 juta. Selain itu, meningkatnya penjualan tenaga listrik juga didukung oleh semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu PLN mentargetkan penjualan listrik pada semester I 2011 sekitar  76.867,53 GWh. .......

Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan