2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
BJB SIAPKAN KREDIT JALAN TOL RP 500 MILIAR. PT Bank Jabar Banten Tbk membidik penyaluran kredit sindikasi hingga Rp500 miliar untuk pembangunan ruas jalan tol Bandung-Cirebon bersama sejumlah bank BUMN. Perseroan juga menyiapkan rencana penawaran saham terbatas (rights issue) untuk membiayai ekspansi kredit dan pengembangan bisnis pada 2013. Menurut Direktur Utama Bank BJB Agus Ruswendi mengatakan perseroan harus mencari sumber dana baru pada 2013 mengingat dana yang ada saat ini diproyeksikan hanya cukup hingga akhir 2012 sesuai rencana korporasi perseroan. BJB masih mempunyai dana segar sekitar Rp2,28 triliun berupa sisa dana IPO Rp280 miliar dan hasil emisi obligasi sebesar Rp2 triliun. Dana IPO akan digunakan membangun jaringan kantor dan pengembangan teknologi. BJB mengalokasikan sekitar 15% dari rencana ekspansi kredit sebesar Rp7 triliun-Rp8 triliun pada tahun ini untuk segmen korporasi. Sektor korporasi yang diincar meliputi infrastruktur, pembiayaan dan jasa keuangan serta pembangkit konstruksi. BJB akan menaikkan porsi kredit produktif dari saat ini baru sekitar 30% menjadi 35% pada akhir 2011. Menurut rencana BJB akan membangun sembilan kantor cabang baru di Makassar, Denpasar, Balikpapan, Pekanbaru, Palembang, dan Lampung. Selain itu, kota-kota di Jawa, seperti Solo dan Jakarta Barat.

SAMPOERNA RESMI MILIKI DIPO. Kelompok Usaha Sampoerna mendapat restu dari Bank Indonesia untuk mengakuisisi PT Bank Dipo Internasional setelah menunggu selama 3 tahun. Pada 2008 Sampoerna menyampaikan minat membeli saham mayoritas Bank Dipo yang disertai dengan proses uji tuntas. Namun, pada pengujung 2008 rencana itu ditunda karena khawatir terhadap dampak krisis ekonomi global. Awal 2009 kembali konglomerat asal Surabaya itu menyatakan minat untuk kembali membeli Bank Dipo. Sampoerna masuk ke Bank Dipo melalui Orient Distributor Network Pte Ltd, perusahaan asal Singapura yang. dinakhodai Michael J. Sampoerna, anak Putera Sampoerna. Pada awal 2010 Sampoerna Group mencapai kata sepakat dengan pemegang saham Bank Dipo untuk membeli 85% saham bank tersebut. Kemudian kesepakatan bisnis itu diajukan kepada regulator untuk mendapatkan restu. Bank Dipo sebelum akuisisi adalah milik PT Pahalamas Sejahtera (42%) yang setara dengan 12,5 miliar saham. Suharni Poniman (48%), setara dengan 143 miliar saham dan Suhada Poniman (10%), setara dengan 3 miliar. Berdasarkan laporan keuangan per September 2010 Bank Dipo memiliki aset sebesar Rp 525,5 miliar dengan ditopang oleh kredit Rp 525,5 miliar dan dana pihak ketiga sebesar Rp 588.6 miliar. Adapun laba bersih Rp 13,04 miliar. Sampoerna berencana memfokuskan bisnis Bank Dipo pada segmen usaha mikro yang akan dimerger dengan anak usahanya, koperasi Sahabat, yang bergerak di pembiayaan usaha kecil. 

MEDCO GARAP SPBG TAHUN INI. PT Medco E&P Indonesia mengkaji bisnis hilir pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) tahun ini dengan alokasi 10% dari total produksi gas perusahaan atau hingga 18 MMscfd. Presiden Direktur Medco E&P Indonesia Budi Basuki mengatakan tahun ini feasibility studies akan segera dimulai dan Jakarta adalah lokasi prioritas pembangunan SPBG yang dianggap paling potensial. Produksi minyak Medco E&P Indonesia mencapai 29.414 bopd sedangkan produksi gasnya sebesar 160,74 MMscfd. Dari alokasi gas tersebut, sekitar 45 MMscfd dipasok untuk pupuk, listrik ke Sumsel sekitar 60 MMscfd dan 40 MMscfd untuk pasokan gas ke Jawa untuk PGN. Ke depannya, sebesar 10% dari produuksi gas akan dialokasikan untuk BBG.  Penggunaan BBG di Indonesia, lanjutnya, diyakini akan mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan tidak terpengaruh pada perubahan harga minyak dunia. Secara nasional, penggunaan CNG bisa terjadi penghematan nasional sekitar Rp63.triliun atau sekitar Rp19 triliun per tahun untuk wilayah Jabotabek.

PERUM PEGADAIAN MENGINCAR PENDANAAN SEKITAR RP 5 TRILIUN. Dana sebesar Rp 5 trilliun untuk mendukung ekspansi pembiayaan senilai Rp84,77 triliun pada tahun ini. Target pembiayaan tersebut meningkat sebesar 33,05% dari posisi pada 2010, yaitu Rp63,71 triliun. Menurut Direktur Keuangan Pegadaian Budiyanto mengatakan dana Rp 5 triliun tersebut akan diraih melalui pinjaman perbankan, penerbitan obligasi pada akhir semester 1/2011 dan surat utang jangka menengah (medium term nofes/MTN) pada akhir tahun. Pendanaan ekspansi Pegadaian sudah disetujui dalam RKP (Rencana Kerja Perusahaan) melalui pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, dan MTN. Target pendanaan dari pinjaman perbankan mencapai Rp2 triliun dan berasal dari empat bank papan atas, yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. Bank yang merupakan kreditur lama dari Pegadaian tersebut telah menyiapkan fasilitas kredit dengan plafon masing-masing Rp500 miliar dengan tenor 1 tahun dan dapat diperpanjang. Tingkat bunga dari pinjaman tersebut bervariasi dengan kisaran 8,5% hingga 10,5%. Penerbitan obligasi dipatok berkisar Rp2 triliun. Perseroan akan menggunakan laporan keuangan per 31 Desember 2010 dalam emisi obligasi tersebut, sehingga surat utang itu akan dikeluarkan paling lambat pada awal Juli mendatang.

GRUP ASTRA KUASAI 57% PASAR MOBIL. Penjualan mobil low MPV diprediksi masih akan tetap tinggi karena produksi dan pasokan komponen mayoritas disokong dari sumber lokal dan dari pemasok komponen non-Jepang. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil segmen low MPV mencapai 70.202 unit per Maret 2011 atau menyumbang hingga 58,03% dari total penjualan kendaraan nonsedan sebanyak 120.981 unit. Menurut Sekretaris Gaikindo Juwono Andrianto menuturkan untuk kendaraan kelompok low MPV tingkat gangguan produksi dan pasokan komponen cenderung lebih rendah karena hampir 70% suku cadang sudah memanfaatkan pemasok dari industri komponen otomotif lokal dan sisanya menggunakan sumber pasokan dari non-Jepang. Kalau untuk low MPV sebagian besar suku cadang sudah diproduksi di Indonesia dan sisanya dari Thailand, Malaysia dan Filipina termasuk untuk merek Korea juga tingkat gangguannya tidak besar. Tren pasar penjualan mobil low MPV itu sangat tinggi dan peningkatannya sangat cepat baik untuk permintaan ritel maupun korporasi. Kondisi ekonomi yang baik, inflasi yang terkendali, dapat meningkatnya rata-rata pendapatan masyarakat dan harga bahan bakar minyak yang dipertahankan serta tingkat suku bunga masih relatif rendah membuat permintaan di pasar low MPV tetap tinggi. Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra mengatakan penjualan kendaraan tertinggi masih untuk kendaraan low MPV yaitu Xenia yang mencapai 16.318 unit karena permintaannya yang terus meningkat dan gangguan pasokan relatif kecil. Untuk itu, katanya, penjualan low MPV akan tetap tumbuh baik meskipun secara keseluruhan volume stok mobil pada April 2011 menurun sekitar 2.000 unit dari kondisi normal sebanyak 10.000 unit menjadi 8.000 unit akibat tidak adanya lembur dalam produksi. Sementara itu, pasar penjualan mobil keseluruhan masih didominasi hampir 57% oleh kelompok Astra dengan jumlah penjualan mencapai 125.422 unit dari total penjualan pada kuartal 1/2011 sebanyak 225.413 unit.

BW PLANTATION AKAN INVESTASI RP 522 MILIAR. PT BW Plantation Tbk akan membangun 10 - 11 pabrik baru hingga 2016 dengan perkiraan nilai investasi US$ 60 juta atau sekitar Rp 522 miliar. Direktur BW plantation Abdul Halim Ashari mengatakan pembangunan pabrik tersebut untuk memenuhi kapasitas produksi perseroan yang saat ini masih 105 ton per jam. Dengan lahan perseroan seluas 94.669 hektare, idealnya kapasitas produksi yang dimiliki mencapai 450 ton - 500 ton per jam. Sedangkan sumber pendanaan pembangunan tersebut adalah kombinasi dari sisa hasil penerbitan obligasi tahun lalu, kas internal perseroan, dan pinjaman dari bank. Selain itu, Direktur Keuangan BW Plantation Iman Faturachman menyebutkan perseroan tentah dalam tahap akuisisi lahan baru seluas 50.000 hektare hingga 100.000 hektare yang sebagian besar ada di Kalimantan Timur.

SBI BELI 25% SAHAM BNI SECURITIES. PT Bank Negara Indonesia Tbk melepas 25% saham di PT BNI Sekurities kepada SBI Securities Co Ltd, perusahaan sekuritas asal Jepang untuk mengembangkan usaha. Sebagai kompensasi, SBI Securities akan menyuntikan dana sebesar Rp 114 miliar kepada BNI Securities sebagai imbalan pengambilalihan saham itu dan penyuntikan dana itu akan dilakukan dalam aksi korporasi penawaran saham terbatas. Menurut Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo mengatakan alasan perseroan memilih SBI Securities karena perusahaan sekuritas asal Jepang itu memiliki teknologi online yang cukup besar untuk mengembangkan usaha secara ritel. Pasalnya, BNI Securities ke depan akan difokuskan pada investor ritel. SBI Securities adalah anak usaha dari SBI Holding Co Ltd yang saat ini merupakan perusahaan perdagangan saham online di Jepang dengan fasilitas layanan teknologi maju.

NALCO BANGUN PABRIK ALUMINIUM DI KALTIM. National Aluminium Company Ltd (Nalco) akhirnya menetapkan Kutai Timur, sebagai lokasi pabrik peleburan aluminium dan pembangkit listrik senilai US$ 4 miliar. Produsen aluminium milik Pemerintah India itu, sebelumnya berencana membangun proyek di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Bahkan, Nalco sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemprov Sumatra Selatan pada 2008. Namun, akibat kesulitan memperoleh pasokan batu bara, lokasi proyek dipindah ke Kutai Timur. Selain mengubah lokasi proyek, Nalco juga menaikkan nilai investasi proyek dari US$3,38 miliar menjadi US$ 4,067 miliar. Persetujuan atas perubahan lokasi dan nilai investasi tersebut telah dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 31 Desember 2009. Untuk merealisasikan rencana tersebut, Nalco membentuk perusahaan tentatif yakni PT Nalco International. Sementara itu, dalam dokumen persetujuan perubahan rencana lokasi proyek dan perubahan permodalan oleh BKPM, investasi Nalco meliputi industri aluminium smelter dengan investasi US$ 2,24 miliar dan pembangkit listrik senilai US$ 1,83 miliar. Semula, rencana penanaman modal itu masing-masing US$ 1,83 miliar dan US$ 1,52 miliar.


MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Mei 2011
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan