2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE :
November  2008

INTERNET SERVICE PROVIDER (ISP) DI INDONESIA


Halaman Berikut >>

Pendahuluan

Jasa penyedia internet (internet Service provider/ISP) memasuki babak baru  dalam tiga tahun terakhir semenjak PT Telkomunikasi Indonesia Tbk (Telkom)  menawarkan layanan akses intrenet peta lebar (broadband internet) pada tahun 2006  dengan tarif yang relatif murah. Semenjak itu pelanggan internet pita lebar terus meningkat,

Sebelumnya pertumbuhan pemakai internet di Indonesia tidak begitu berkembang pesat karena layanan akses yang tersedia melalui dial up menggunakan jaringan telepon milik Telkom tidak memenuhi harapan pengguna internet karena kecepatannya yang rendah. Sementara akses internet berkecepatan tinggi yang ditawarkan saat itu tarifnya relatif mahal sehingga hanya pelanggan korporat yang mampu menggunakan jasa akses internet seperti itu.

Pengguna internet semakin meningkat dengan  munculnya penyedia akses broadband  internet berbasis  Hybrid Fiber Coaxial (HFC) yang ditawarkan oleh FirstMedia yang lebih murah walaupun jangkauannya masih terbatas di wilayah Jakarta dan beberapa kota besar.

Hingga saat ini praktek penyediaan jasa internet di Indonesia masih dikuasai oleh perusahaan yang juga memiliki jaringan telekomunikasi, antara lain Telkom, Indosat dan Excelcomindo. Salah satu perusahaan ISP yang akan segera beroperasi dan diperkirakan akan cepat menjadi pesaing kuat dalam bisnis ISP, adalah PT Indonesia Comnets Plus ( Icon+). Perusahaan ini sudah memiliki jaringan yang sangat luas, yaitu melalui jaringan kabel listrik yang dapat dikembangkan untuk koneksi internet (Broadband over powerline). Sementara itu sebagian besar perusahaan ISP lainnya hanyalah penyedia jasa internet yang masih tergantung kepada perusahaan penyedia jaringan.

Perkembangan dalam pelayanan internet akan semakin pesat dengan mulai populernya akses mobile internet melalui jaringan cellular. Kecepatan yang lebih tinggi dan tarif yang mulai menurun akan menjadikan akses melalui mobile internet  akan menjadi pesaing potrensial bagi akses intenet lainnya.

Teknologi akses internet dial up mulai digeser oleh broadband internet

Teknologi internet sebenarnya bukan barang baru dalam perkembangan dunia komputer. Internet hanyalah perluasan jaringan antar komputer yang sudah lama digunakan pada berbagai institusi pemerintahan dan bisnis sejak tahun 1960-an.
Teknologi ini juga dikembangkan oleh dunia akademik sebagai sarana pendidikan di Amerika Serikat. Pada tahun 1983 Lembaga Sains Nasional /National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat membuka jaringan komputer antar universitas di negeri itu yakni NSFNet.

Selain NSFNet terdapat pula beberapa jaringan lain yang terpisah baik digunakan untuk kepentingan pemerintahan maupun bisnis. Pada tahun 1990 jaringan-jaringan ini disambungkan dengan teknologi TCP/IP sekaligus menjadi kemunculan istilah internet.

Di Indonesia tersedia beberapa produk koneksi internet seperti dial up, ADSL (broadband), cable, dedicated, wireless, dan mobile.

Dial up
Koneksi internet melalui dial up dilakukan dengan menyambungkan komputer dengan nomor tertentu melalui jaringan telepon tetap kabel  milik PT Telkom.

Produk ini memiliki kelemahan dari sisi kecepatan aksesnya yang maksimal hanya sebesar 56 kilo bit per second (Kbps) dan memakan jalur komunikasi telepon tersebut sehingga tidak bisa digunakan untuk komunikasi suara secara bersamaan. Konsumen juga harus membayar biaya telepon lokal kepada pemilik jaringan tersebut dalam hal ini PT. Telkom.

Produk dial up ini ditawarkan oleh sebagian besar perusahaan ISP di Indonesia. Pemain utamanya adalah PT. Telkom dengan produknya TelkomNet Instan yang diluncurkan pada tahun 2004.

Layanan Telkomnet Instan ini memiliki keunggulan atas kompetitornya karena penguasaannya atas jaringan telepon tetap kabel (fixed wireline) sehingga harga yang ditawarkan sangat kompetitif yakni Rp. 165 per menit untuk jaringan dan koneksi internet.

Koneksi yang dapat diakses dari nomor 080989999 ini tidak memerlukan registrasi pelangan terlebih dahulu dan tanpa biaya abonemen. Sementara itu, pemain lain seperti CBN memasang tarif berdasarkan waktu akses tergantung pada jenis paket yang dipilih.

Pelanggan ISP lainya juga harus melakukan registrasi yang dikenai biaya serta biaya bulanan. Selain kedua jenis biaya tersebut, pelanggan masih harus membayar pulsa telepon lokal kepada Telkom sebagai pemilik jaringan telepon tetap kabel.

Dengan semakin berkembangnya teknologi koneksi internet kecepatan tinggi membuat akses internet meningkat kecepatannya dan lebih cepat, akibatnya pemakai jasa koneksi dial up semakin menurun.

Hanya Telkom dengan Telkomnet Instan saja yang masih memiliki potensi untuk berkembang. Namun, potensi tersebut bukan merupakan pengguna internet yang besar melainkan insidentil saja.

Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL)
Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL) adalah pengembangan teknologi dari koneksi dial up yang menggunakan kabel tembaga, sehingga kemampuan yang terbatas dari koneksi Dial Up dapat ditingkatkan agar dapat mengalirkan data dengan volume yang lebih banyak (broadband).  

Teknologi ADSL tidak dapat dikembangkan pada  semua  jaringan kabel telepon tetap (fixed wireline) Telkom, karena layanan ini hanya dapat diakses melalui jaringan telepon tetap (tembaga) milik Telkom yang sudah dimodifikasi menjadi Multi Media Access (MMA).

Awalnya layanan broadband ini baru ada di Jakarta dan sekitarnya (Tangerang, Bekasi, dan Bogor), namun saat ini telah dapat diakses dari 27 kota-kota besar di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

ADSL mampu menerima data (downstream) sebesar 512 Kbps dan mengirim data (upstream) sebesar 64 Kbps. Selain itu, ADSL juga mampu memisahkan saluran internet dari saluran suara sehingga telepon tetap bisa digunakan pada saat jalurnya dipakai oleh internet.

Kemampuan ini didapatkan dengan dengan teknologi modem yang bekerja pada frekuensi antara 34 kHz sampai 1.104 kHz, sementara dial up menggunakan modem yang bekerja pada frekuensi di bawah 4 Khz yang hanya mampu mengalirkan data dengan kecepatan 56 Kbps.

Di Indonesia, koneksi ADSL ini dimonopoli oleh Telkom. ISP di luar Telkom seperti CBN, Biznet, dan Centrin juga menawarkan produk ADSL ini, namun sifatnya hanyalah reseller ADSL milik Telkom. Telkom sendiri menggelar layanan ADSL-nya dengan brand Speedy.

Kendala dalam pengembangan ADSL di Indonesia adalah sedikitnya jaringan yang memiliki kualitas yang dapat dikembangkan menjadi Multi Media Access, karena sebagian besar jaringan kabel tembaga milik Telkom telah berusia lanjut.

Dari seluruh pelanggan telepon tetap kabel Telkom di Indonesia, hanya 25 persen saja atau sekitar 2 juta sambungan yang mampu digunakan untuk jaringan ADSL. Telkom memang terus memperbaiki jalur-jalur yang sudah tua ini dengan menggantinya dengan yang baru, namun baru terlaksana di kota-kota besar saja.

Internet broadband cable
Akses internet kecepatan tinggi juga bisa diperoleh melalui serat optik dan melalui jaringan kabel Hybrid Fiber Coaxial (HFC) atau lebih dikenal dengan cable internet. Di Indonesia layanan internet ini menjadi satu dengan layanan televisi kabel.

Beberapa pemain yang menawarkan layanan ini adalah PT Indonusa Telemedia yang merupakan anak perusahaan PT. Telkom (Telkom Vision) serta Kabel Vision yang dikelola oleh PT Broadband  Multimedia.

Telkom Vision yang menggunakan jaringan HFC mampu mengalirkan data antara 64 Kpbs hingga 512 Kbps. Sementara itu, Kabel Vision mampu mengalirkan data hinga berkecepatan 2 Mbps.

Kabel Vision bekerjasama dengan 7 ISP yakni; MyNet, LinkNet, Indosat Net, CBN, UniNet, IndoNet, dan Centrin. Para pelanggan ke-7 ISP ini dapat menggunakan jalur Kabel Vision.

Dedicated
Akses internet secara kontinyu banyak diperlukan oleh korporasi yang membutuhkan akses yang berkecapatan tinggi, handal dan minim gangguan. Itu sebabnya mayoritas pengguna layanan dedicated ini adalah kalangan korporasi.

Layanan koneksi dedicated ini bisa dialirkan melalui beberapa jenis media seperti kabel tembaga, microwave, fiber optic, dan satelit.
       
Hampir semua ISP menyelenggarakan layanan ini, namun hanya sedikit saja yang memiliki jaringan sendiri. Kebanyakan ISP hanya menyediakan koneksinya saja sementara jaringan disiapkan oleh konsumen.

Beberapa pemain seperti CBN dan Biznet memiliki jaringan berupa tembaga (wiring) dan fiber optic di wilayah Jakarta dan sekitarnya. CBN menggelar jaringan tembaga di Kawasan Sudirman -Thamrin hingga Pondok Indah, Jakarta.

Sementara itu, Biznet mengembangkan jaringan fiber optic di Kawasan Kuningan - Sudirman - Gatot Soebroto - Slipi - TB Simatupang-Pondok Indah yang sering disebut Metro Ethernet. Hingga saat ini sudah 108 gedung di wilayah tersebut yang tersambung dengan Metro Ethernet.

WiFi

Berkembangnya teknologi nirkabel juga merambah koneksi internet. Sejak beberapa tahun terakhir teknologi wireless fidelity (WiFi) yang memungkinkan akses internet dilakukan secara nirkabel melalui kartu jaringan Wi-Fi 802.11 a/b/g telah diaplikasikan untuk koneksi internet.

Akses wireless melalui teknologi wireless fidelity (WiFi) yang biasa disebut hot spot umumnya ada di lokasi-lokasi strategis seperti mal besar, kafe-kafe, bandara dan fasilitas umum, hotel, apartemen di kota-kota di Indonesia. Hingga kini jumlah hot spot yang disediakan oleh ISP di Indonesia telah mencapai ratusan.

Kafe Starbucks yang tersebar di puluhan kota besar di Indonesia merupakan salah satu lokasi hot spot yang cukup berkembang. Di Starbucks, terdapat beberapa pemain yang menyediakan akses hot spot.

Lokasi-lokasi hotspot terus tumbuh terutama di kota-kota besar. Beberapa pemain seperti Telkom, Indosat, Biznet, CBN, dll menggelar layanan ini. Salah satu pemain yakni Indosat sampai dengan saat ini, Indosat telah menggelar layanan hot spot di 19 kota di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sementara itu, Biznet telah menggelar hot spot di 27 lokasi masing masing 4 buah di hotel, restoran dan gedung perkantoran, serta 23 buah di Kafe Starbucks.

Mobile
Sementara itu, produk mobile access dilakukan melalui jaringan telepon seluler baik GSM melalui teknologi Global Packet Radio Service (GPRS) dan Enhanced Data rate GSM Evolution (EDGE). Selain itu pelayanan mobile internet juga tersedia pada telepon seluler dengan teknologi CDMA.

Dalam menyelengarakan akses, perusahaan ISP bekerja sama dengan pemilik jaringan seluler ini. Salah satu pemain yakni Telkom, meluncurkan koneksi melalui Telkom Flexi (CDMA). Beberapa pemain bekerjasama dengan Fren (mobile 8) seperti CBN dan Radnet juga meluncurkan produk sejenis.

Dengan adanya teknologi 3G, para pemain seperti Telkomsel, Indosat M2 dan XL bisa melayani akses internet melalui telepon seluler berbasis teknologi GSM melalui teknologi high-speed downlink packet access (HSDPA).

Layanan koneksi internet

Layanan akses internet di Indonesia pada awalnya dilakukan lewat jaringan telepon atau dial up. Selama hampir 10 tahun semenjak diluncurkan akses internet komersial,  akses internet di Indonesia didominasi oleh koneksi menggunakan kabel tembaga yang digunakan untuk internet berbasis  Dial Up.

Baru dalam tiga tahun terakhir akses internet kecepatan tinggi atau internet pita lebar (broadband) mulai populer setelah PT Telkom menawarkan akses internet berbasis  teknologi Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL) dengan nama dagang Speedy. Koneksi internet  berbasis Dial Up dan ADSL ini  didominasi oleh PT Telkom sebagai pemilik jaringan telelpon tetap  berbasis kabel (fixed wireline).

Semenjak tahun 2007, layanan internet  broadband mulai mendapat pesaing yang kuat dengan semakin meningkatnya pelanggan yang menggunakan jasa ISP yang menggunakan kabel modem atau  HFC (Hybrid Fiber Coaxia).

Jasa yang ditawarkan oleh ISP tersebut lebih menarik, karena  tergabung dengan layanan TV Kabel dengan harga berlangganan yang cukup bersaing dengan ISP yang hanya menjual jasa internet.

ISP yang menggunakan HFC antara lain Kabel Vision dari PT Broadband multimedia (kini berganti nama menjadi PT First Media Tbk.) dan  Telkom Vision dari PT Indonusa Telemedia yang merupakan anak perusahaan PT Telkom.. 

Selain itu ISP dengan koneksi berbasis fiber optik juga semakin mengembangkan jaringannya ke pengguna perorangan atau rumah tangga, dari sebelumnya hanya menangani pasar korporat di gedung-gedung bertingkat. Beberapa ISP yang gencar mempromosikan jasanya ke pasar perorangan dan rumah tangga tersebut antara lain Biznet dan CBN.   

Penyedia  jaringan dan jasa provider Internet

Berdasarkan lisensi yang terdaftar pada Dirjen Postel, jumlah ISP yang terdaftar pada tahun 2007 adalah sebanyak 298 perusahaan, sementara perusahaan penyedia jaringan adalah sebanyak 44 perusahaan. Jumlah ISP secara bertahap terus mengalami peningkatan jumlahnya dari tahun 2002 hingga 2007, meskipun cukup banyak perusahaan yang belum beroperasi, walaupun telah mendapatkan lisensi ISP.

Berdasarkan data APJII dari 298 perusahaan pemegang lisensi ISP pada tahun 2007, hanya sebanyak 169 perusahaan yang telah beroperasi, demikian pula dengan tahun -tahun sebelumnya banyak perusahaan pemegang lisensi belum mengoperasikan perusahaan ISP nya.

Pemerintah cabut izin ISP yang tidak aktif

Pada bulan Juni 2007 Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi mencabut izin 11 perusahaan ISP dan 1 perusahaan Network Access Provider (NAP).

Pencabutan ini disebabkan oleh beberapa alasan antara lain; belum melakukan penyesuaian modern licensing, belum membayar BHP telekomunikasi, tidak mengirimkan laporan tahunan kinerja operasinya.

Pemain utama ISP

Halaman Berikut >>
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
MONTHLY REPORT
 
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
ICN - November 2008

DAFTAR ISI

FOKUS: APAKAH SEKTOR RIIL INDONESIA BISA BERTAHAN DARI KRISIS FINANSIAL GLOBAL

PROFIL INDUSTRI:

INDUSTRI INTERNET SERVICE PROVIDER (ISP)
  • Pendahuluan
  • Teknologi akses internet dial up mulai digeser oleh broadband internet
  • Layanan koneksi internet
  • Penyedia  jaringan dan jasa provider Internet
  • Pemerintah cabut izin ISP yang tidak aktif
  • Pemain utama ISP
  • ISP berlomba menambah kapasitas untuk meningkatkan pelanggan
  • Trafik internet
  • Tarif  sewa jaringan
  • Turunnya tarif sewa jaringan belum menarik perhatian ISP
  • Pendapatan
  • Persaingan semakin ketat
  • Perkembangan 3G untuk internet terancam 3,5G dan Wimax        
  • Prospek dan Kesimpulan

PERKEMBANGAN INDUSTRI TV BERBAYAR DITENGAH PERSAINGAN KETAT                
  • Latar belakang
  • Teknologi yang digunakan
  • Teknologi dan fasilitas operator TV berbayar di Indonesia
  • Perkembangan bisnis penyiaran televisi di Indonesia
  • Perkembangan operator TV berbayar
  • Investasi baru
  • Pertumbuhan pelanggan
  • Penetrasi  pasar TV berbayar
  • Profile Pemain utama
  • Indovision menguasai sekitar 51,2% pangsa pasar layanan TV berbayar
  • Tarif berlangganan cenderung turun
  • Persaingan dan strategi pemasaran
  • Persaingan Teknologi
  • Persaingan konten unggulan
  • Persaingan harga
  • Strategi pemasaran
  • Kebijakan pemerintah
  • Kesimpulan dan prospek