2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
PRODUKSI BLOK CEPU TERANCAM MUNDUR. Produksi gas dari Lapangan Jambaran Blok Cepu terancam molor apabila tidak ada insentif dari pemerintah terkait dengan keekonomian proyek yang disebabkan biaya yang tinggi akibat kandungan CO2 yang mencapai 30%. Selain insentif, pengelola Blok Cepu juga meminta kesiapan konsumen domestik untuk membeli gas yang mempertimbangkan biaya lifting yang lebih tinggi pada gas tanpa CO2. Sementara itu, Direktur Pertamina EP Cepu Kunto Wibisono mengatakan produksi gas dari Jambaran memang diminta dipercepat oleh pemerintah hingga 2012 terkait denganupaya pengurangan defisit gas terutama di pulau Jawa. Namun berdasarkan perhitungan perusahaan dan operator Blok Cepu, Mobil Cepu Limited, produksi gas paling cepat baru bisa dilakukan pada 2015 itupun dengan catatan persoalan CO2 dituntaskan pada 2010. Menurut Kunto kelambanan pengembangan Jambaran disebabkan oleh kandungan CO2 yang cukup tinggi yaitu sekitar 30%. Sehingga Mobil Cepu dan Pertamina saat ini tengah melakukan studi terkait teknologi penanganan CO2 paling efisien yang bisa digunakan pada Lapangan Jambaran Blok Cepu.

RECAPITAL TUNTASKAN AKUISISI BERAU COAL. PT Recapital Advisors menuntaskan transaksi pembelian 90% saham perusahaan induk PT Berau Coal senilai US$ 1,52 miliar atau setara dengan Rp 14,29 triliun. CEO Recapital Rosan Perkasa Roeslani mengatakan semua pembayaran obligasi yang terkait dengan pengalihan saham Berau Coal dari krediturnya dituntaskan. Seiring dengan akuisisi ini, PT Recapital Advisors melakukan pergantian direksi dan komisari pada rapat umum pemegang saham yang dilaksanakan 30 Desember tahun lalu. Selain menempatkan wakil dari Recapital, RUPS juga menyetujui pengalihan 90% saham induk Berau melalui PT Bukit Mutiara dan pengalihan saham tersebut berlaku efektif bulan ini. Saat ini sebanyak 51% saham Berau dimiliki oleh PT Armadian Tritunggal, perusahaan yang hampir seluruhnya dikuasai oleh Rizal melalui PT Risco, sedangkan Rognar Holding B.V. memiliki 39% saham Berau. Selain itu, PT Armadian juga memiliki 12,8% saham Rognar secara langsung dan nantinya PT Risco membeli 87,2% saham Rognar melalui Winchester (Seychelles) dan Aries (Malta). Seiring dengan akuisisi Berau Coal, Recapital mengkaji kembali rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) Armadia.

PETROGES INVESTASI US$ 760 JUTA. Produsen pupuk PT Petrokimia Gresik (Petroges) akan merealisasikan sejumlah investasi besar senilai total sekitar US$ 760 juta mulai tahun ini. Proyek investasi ini akan direalisasikan secara bertahap dengan meningkatkan kapasitas dan optimalisasi produksi pupuk urea dan nonurea. Direktur Utama PT Petroges Arifin Tasri mengatakan pada Mei 2010 Petroges akan menyelesaikan proyek konversi energi ke batu bara dengan nilai investasi US$ 60 juta dan secara bertahap proyek lain akan menyusul realisasinya hingga 2011. Menurutnya proyek konversi energi ini akan menghasilkan pasokan listrik 25 MW, sehingga Petroges dalam operasionalnya mampu menghemat biaya hingga Rp 200 miliar per tahun. Selain proyek konversi, Petroges juga akan menambah fasilitas tangki amoniak untuk mendukung pengadaan bahan baku produksi pupuk urea dan NPK yang cenderung meningkat. Selain itu, sejalan dengan program revitalisasi industri pupuk nasional yang dicanangkan pemerintah, Petroges akan membangun pabrik urea dan amoniak dengan proyeksi investasi sekitar US$ 500 juta dan proyek ini dijadwalkan akan direalisasikan pada 2011 sambil menunggu kepastian jaminan ketersediaan pasokan gas. Sementara itu, untuk menjamin pasokan bahan baku pupuk nonurea, terutama NPK, Petroges akan mendirikan pabrik Phosphoric Acid secara patungan dengan satu BUMN dari Yordania.

PLN CARI DANA RP 21 TRILIUN. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) bersiap mencari pendanaan sebesar RP 21 triliun untuk memenuhi kebutuhan investasi dan memperkuat sistem kelistrikan nasional, seiring dengan persetujuan pemerintah menaikkan margin usaha dari 5% menjadi 8% pada tahun 2010. Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo mengatakan besaran margin usaha 8% tersebut akan menambah kemampuan investasi BUMN listrik itu karena kepercayaan pemilik dana juga semakin tinggi kepada PLN. PLN akan mengupayakan dana sebesar Rp 21 triliun ini melalui pasar modal, baik dalam maupun luar negeri dan juga berharap mendapatkan pinjaman pendanaan dari perbankan. Selain itu, BUMN itu juga bisa mengurangi gap antara total kas pemasukan dan pengeluaran dengan pemberian margin 8%. Menurut Setio dengan penerimaan pendapatan dari pelanggan yang diperkirakan Rp 103 triliun dan subsidi pemerintah Rp 37,8 triliun pada 2010, masih terdapat selisih antara pemasukan dan pengeluaran perseroan itu. Namun disisi lain, Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang mengatakan perseroan telah mendapatkan komitmen pendanaan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar US$ 230 juta untuk pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Asahan unit 3 berkapasitas 2x90 MW yang berlokasi di Sumatera Utara dan proses konstruksi PLTA Asahan unit 3 diharapkan bisa dilaksanakan pada awal 2011 sehingga beroperasi pada 2014 dan pembangunannya akan dilaksanakan sepenuhnya oleh PLN.

INVESTASI 2 PABRIK BAJA DI KALSEL DIPERCEPAT. Realisasi pembangunan dua pabrik baja di Kalimantan Selatan dengan total investasi US$ 315 juta dipercepat dari jadwal semula pada 2014 menjadi 2012. Kedua  pabrik baja itu adalah milik PT Mandan Steel dan PT Meratus Jaya Iron & Steel. Mandan Steel merupakan produsen baja asal China yakni China Nickel Resources Holding Co yang akan merealisasikan pembangunan pbarik baja hulu di Kalimantan Selatan senilai US$ 250 juta. Sedangkan Meratus merupakan usaha patungan (joint venture) PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk. Investasi Meratus di Kalimantan Selatan ditujukan untuk membangun pabrik baja hulu senilai US$ 65 juta. Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengatakan Mandan Steel akan mulai membangun pabrik baja hulu di Kalimantan Selatan pada April 2010. Sedangkan Meratus tinggal menunggu operational schedule pada 2011. Menurutnya, Mandan Steel akan membangun pabrik berkapasitas 500.000 ton pada tahap pertama pada April 2010. Pabrik baru ini akan memproduksi baja special alloy dan Mandan Steel juga telah menjalin kontrak pengadaan bahan baku berupa bijih besi dengan PT Yiwan Mining dan PT Sebuku Iron Lateritic Ore (Silo) di Kalimantan Selatan. Dalam mempercepat pembangunan pabrik baja hulu, Mandan Steel berencana membangun pabrik barunya di Kalimantan Selatan dalam tiga tahap hingga 2012. Total produksi pabrik baru Mandan Steel didesain berkapasitas 3 juta ton pada 2012 dan investasi yang akan ditanamkan berkisar US$ 1 miliar yang dikucurkan secara bertahap.

RMI AKAN INVESTASI US$ 43,8 JUTA. PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (RMI) akan merealisasikan dua proyek purifikasi karbondioksida dengan nilai investasi US$ 43,8 juta. Proyek yang dalam realisasinya akan menggunakan teknologi Union Engineering tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Denmark yang berjanji akan memberikan kredit senilai 10 juta Eruo (setara dengan Rp 140 milliar) melalui Eksport Kredit Fonden (EKF). Chief Executive Officer Union Engineering Peter Kriklywi mengatakan proyek pertama yang akan dibangun adalah pendirian pabrik patungan PT RMI dan PT Krakatau Steel dengan nama PT RMI Krakatau Karbonindo di Cilegon, Banten dengan investasi senilai US$ 31,8 juta untuk memproduksi karbondioksida murni sebanyak 72.000 ton per tahun (9 ton per jam). Pendirian pabrik karbondioksida murni tersebut terbagi dalam tiga tahap dengan investasi US$ 10,6 juta. Sementara itu, proyek kedua adalah pembangunan sistem Dry Ice Expanded Tobacco (DIET), teknologi pengembang tembakau dengan menggunakan es kering. Proyek ini akan dibangun di Cilegon, Banten dengan nilai investasi US$ 12 juta. Teknologi DIET dikembangkan Union Engineering bersama Philip Morris International sejak sekitar 1970 untuk mengurangi kadar tar dan nikotin dalam tembakau sebagai bahan baku rokok putih (mild).

BANK MANDIRI INVESTASI TI SENILAI US$ 75 JUTA. PT Bank Mandiri akan menginvestasikan US$ 75 juta untuk membangun infrastruktur teknologi informasi (TI), naik 25% dari nilai tahun lalu sebesar US$ 60 juta. Menurut Diretur Teknologi dan Operasi Sasmita mengatakan sistem teknologi informasi sangat mendukung operasional industri perbankan seperti bank Mandiri. Menurutnya penggunaan transaksi elektronik pada tahun lalu sudah mencapai 82% dari total transaksi yang ada, padahal pada 2008 transaksi elektroniknya baru 67%. Selain itu, Bank Mandiri juga mencatat jumlah pengguna Internet Banking yang sudah mencapai 1,2 juta orang akhir tahun lalu dari target 100.000 pada awal 2009. Investasi senilai US$ 75 yang dilakukan Bank Mandiri akan digunakan untuk memperkuat sistem TI yang telah dibangun Bank Mandiri dan mayoritas akan dibelanjakan untuk upgrade hardware dan software. Pengembangan infrastruktur TI tersebut akan mendukung pengembangan bisnis Bank Mandiri, antara lain bisnis pembayaran ritel, pengembangan high yield business, peningkatan jasa pelayanan nasabah korporasi, membangun sinergi antar unit bisnis termasuk kantor wilayah dan unit pendukung secara menyeluruh, serta optimalisasi sinergi dengan anak perusahaan. Bank Mandiri juga akan menambah 1.000 unit ATM tunai dan 500 ATM nontunai sepanjang 2010. Selain itu, perseroan juga akan menambah 60.000 unit Electronic Data Capture (EDC) guna meningkatkan bisnis retali payment dan diharapkan pada akhir 2010 akan menjadi 6.000 ATM dan 90.000 EDC.

CHANDRA ASRI DAN TRI POLYTA GENJOT INVESTASI. Industri petrokimia di dalam negeri melalui PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Tbk akan menambah investasi mulai tahun ini dengan total nilai hingga US$ 2,3 miliar. Upaya ini ditempuh untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan struktur industri hulu petrokimia sekaligus memanfaatkan peluang pasar regional, di tengah implementasi liberalisasi pasar Asean dalam Asean Free Trade Agreement (AFTA) dan Asean - China FTA (ACFTA) pada 2010. PT Chandra Asri berencana akan menambah investasi hingga US$ 2,27 miliar yang ditujukan untuk membangun lima megaproyek yang meliputi tiga pabrik petrokimia, tangki penimbunan LPG, serta satu kilang minyak mendah. Menurut Presiden Direktur PT Chandra Asri Erwin Ciputra, dalam jangka panjang Chandra Asri akan membangun pabrik pengolahan (cracker) nafta senilai US$ 1 miliar. Pada sisi lain, untuk mewujudkan integrasi ke hulu, Chandra Asri akan membangun kilang minyak dengan perkiraan investasi lebih dari US$ 1 miliar dan melalui pembangunan kilang minyak ini, seluruh naptha dapat digunakan untuk dikonversi menjadi produk petrokimia. Sedangkan PT Tri Polyta akan memperluas fasilitas bahan baku plastik berupa polipropilena (PP) senilai Rp 300 miliar. Perluasan fasilitas Tri Polyta ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikkan permintaan PP sekitar 5% pada 2010 - 2012. Saat ini produksi PP nasional mencapai 650.000 ton per tahun sedangkan konsumsi domestik 850.000 ton.

TOYOTA DAN HONDA BERSAING DI SEDAN. Dua pabrikan asal Jepang yaitu Toyota dan Honda bersaing ketat dalam memperebutkan pasar sedan di Indonesia sepanjang 2009. Total pasar sedang sendiri selama tahun lalu mencapai 22.234 unit. Berdasarkan laporan penjualan mobil dari Gaikindo, sepanjang tahun lalu Toyota memimpin pasar sedan dengan membukukan penjualan sebsear 5.201 unit. Dengan angka tersebut Toyota berhasil menguasau 30,57% pangsa sedan di Tanah Air. Sementara itu Honda berada di posisi kedua pada periode sama membukukan penjualan sebesar 4.845 unit atau menguasai pangsa pasar 28,47%. Selain itu, di kelas small sedan, Honda dan Toyota bersaing ketat. Honda melalui varial All New City membukukan penjualan sebesar 2.525 unit, sementara Toyota Vios membukukan penjualan sebesar 2.722 unit. Di segmen atas, Honda dan Toyota juga bersaing ketat masing-masing melalui Honda Civic dan Toyota New Altis sepanjang 2009 membukukan penjualan sebesar 1.651 unit, sedangkan New Altis mencapai 1.203 unit. Namun, Toyota memimpin pada segmen sedan premium, dimana penjualan Toyota Camry mencapai 1.175 unit, sedangkan Honda Accord hanya sebanyak 666 unit.

ICE BANGUN PABRIK BIOETANOL US$ 37 JUTA. PT Indonesia Clean Energy (ICE) melakukan investasi US$ 37 juta untuk membangun pabrik bioetanol berkapasitas 100 kiloliter per hari dan direncanakan berproduksi secara komersial pada 2012. Komisaris Utama PT Indonesia Clean Energy (ICE) Taufan EN Rotorasiko mengatakan pabrik yang akan berproduksi secara komersial pada 2012 dengan produk fuel grade ethanol (FGE) dan hydrous ethanol (HE) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Dalam rangka pembangunan pabrik ini, ICE bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk mendapat kepastian pasokan bahan baku, dan ICE telah menandatangani kesepaham tersebut dengan pihak pemkab Pacitan. Dalam nota kesepaham itu disebutkan pemkab Pacitan dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) singkong akan memberikan jaminan penyediaan bahan baku singkong segar. Singkong segar ini akan diolah menjadi gaplek sebagai bahan baku pabrik bioetanol, agar bisa memproduksi 100 kiloliter bioetanol per hari atau 33.000 kiloliter per tahun, ICE membutuhkan bahan baku setara singkong segar mencapai 230.000 ton per tahun.

PERTAMINA INCAR ASET CONOCO PHILIPS. PT Pertamina (persero) siap mengakuisisi seluruh aset Conoco Philips Indonesia setelah perusahaan yang bermarkas di Houston, Texas, Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menjual asetnya bernilai US$ 10 miliar yang ada di luar negeri. Dalam rangka itu, BUMN minyak dan gas telah menyediakan dana untuk kepentingan merger dan akuisisi senilai US$ 1 miliar, sementara untuk rencana akuisisi aset Conoco Philips diperkirakan membutuhkan dana US$ 600 juta - US$ 700 juta. Menurut Vice President Merger dan Akuisisi Pertamina Bayu Kristanto mengatakan persero kini akan lebih gencar meningkatkan nilai perusahaan dengan mencari peluang, baik merger maupun akuisisi dengan menggunakan strategi pendekatan aset level, induk perusahaan dan government to government. Saat ini, persero gencar mengincar beberapa peluang, baik di dalam negeri maupun luar negeri, salah satunya adalah aset Conoco Philips di Indonesia. Khusus di Indonesia, Conoco Philips memiliki aset berupa blok antara lain Arafura Sea, South Natuna Sea Blok B, Sout Jambi. Dalam rangka kepentingan tersebut, Pertamina telah mengajukan ketertarikan itu ke Houston, markas Conoco Philips.

SANYO EKSPANSI PABRIK OPTIK US$ 80 JUTA. Sanyo Electric Co Ltd produsen elektronik asal Jepang melalui PT Sanyo Jaya Component Indonesia (SJC) Indonesia) akan memperluas pabrik optical pick up di Bekasi dengan total investasi hingga US$ 80 juta pada 2011. Optical pick up merupakan komponen utama dari optical disc drive seperti blue-ray disc recorder, DVD players, dan komputer CD/DVD drive. Menurut Direktur Industri Elektronika Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Syarif Hidayat menjelaskan investasi Sanyo untuk optical pick up telah dimulai sejak 2008. Hingga 2009, Sanyo telah melakukan investasi sebesar US$ 38 juta di sektor tersebut, kemudian pada 2010 investasinya ditingkatkan lagi menjadi US$ 60 juta yang selanjutnya pada 2011 investasi ini ditingkatkan lagi menjadi US$ 80 juta. Senior Vice President Sanyo Electric Corporation Ltd Takeda Kazuhiro mengatakan sejauh ini SJC Indonesia memiliki tiga produksi utama yakni Poscap (polymerized organic semiconductor capacitor), Optical pick up dan kamera digital (digital still camera/DSC).

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Januari 2010
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan