2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
SANYO DAN HINO TAMBAH INVESTASI. Dua perusahaan Jepang yang bergerak di sektor elektronik dan otomotif akan menginvestasikan dana sebesar US$ 100 juta, untuk mendukung ekspansi bisnis di tanah air. Tambahan investasi tersebut direncanakan direalisasikan pada tahun ini, seiring iklim usaha di dalam negeri yang kian kondusif. Menurut Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan dua pabrikan dari Jepang telah menyatakan komitmennya untuk melakukan ekspansi pabrik adalah Hino dan Sanyo. Sebelumnya, Direktur Alat Transportasi Darat dan Kedirgantaraan Depperin Panggah Susanto mengatakan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) berniat menambah kapasitas produksi dengan nilai investasi sekitar US$ 17 juta. Dengan tambahan kucuran dana tersebut, kapasitas produksi Hino diperkirakan naik dari 10.000 unit menjadi 30.000 unit per tahun dan ekspansi ini dilakukan pada pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat yang memproduksi truk dan komponenya.

NATRINDO DAN XL BEREBUT LISENSI SLI. PT Natrindo Telepon Seluler (Axis) dan PT Excelcomindo Pratama (XL) bersaing untuk memperoleh lisensi sambungan langsung internasional (SLI) yang ke-4. Axis merupakan anak perusahaan Maxis, operator telekomunikasi asal Malaysia, selain pemegang saham minoritas Saudi Telecom. Menurut Direktur Marketing PT Natrindo Telepon Seluler Johan Buse mengatakan Axis optimistis dalam persaingan memperebutkan lisensi layanan SLI karena secara infrastruktur global perusahaan ini sangat siap. Selain itu, Axis siap melakukan investasi sesuai dengan persyaratan yang diinginkan pemerintah. Menurutnya, jika Axis memperoleh lisensi SLI, pada tahap awal pihaknya akan membangun sentra gerbang internasional (SGI) di Singapura dan tanpa menutup rencana pembangunan koneksi jaringan melalui negara lain. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan tiga lisensi layanan SLI untuk tiga operator, yaitu PT Telkom, PT Indosat, dan PT Bakrie Telecom. Sementara itu, Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) Hasnul Suhaimi menyatakan XL siap membangun sentra gerbang internasional di luar jalur Batam-Singapura yang dinilai pemerintah sudah cukup jenuh dan XL siap membangun di jalur lain seperti Surabaya-Hongkong atau Kupang-Darwin. Namun, jika XL memenangi lisensi ini, layanan SLI akan dipergunakan untuk pelanggannya sendiri.

HOLCIM DAN RMI BANGUN PABRIK KARBON CAIR. PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (RMI) berencana membangun fasilitas pengolahan gas karbon dioksida (CO2) dengan nilai investasi US$ 11,3 juta pada pabrik semen yang berlokasi di Narogong, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Kedua perusahaan tersebut sepakat mendesain fasilitas pengolahan dengan kapasitas produksi 2,5 ton per jam karbon cair dan RMI akan berperan mengolah seluruh emisi gas buang CO2 yang dihasilkan oleh pabrik semen milik PT Holcim Indonesia Tbk. Sementara itu, Holcim akan menyediakan bahan baku dan lokasi untuk pembangunan fasilitas pengolahan gas CO2. Direktur Utama PT Holcim Indonesia Tbk, Eamon Ginley mengatakan proyek investasi tersebut dijadwalkan selesai dibangun pada Mei 2010. Dengan dibangunnya fasilitas ini, Holcim merupakan pabrik semen pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas yang mampu mengolah gas buang CO2 menjadi karbon cair yang biasa digunakan oleh sejumlah industri seperti sektor makanan dan minuman dan tidak menutup kemungkinan Holcim juga akan membangun pabrik pengolahan gas CO2 untuk pabriknya yang akan dibangun di Tuban. Sementara terkait dengan proyek pembangunan pabrik semen di Tuban, Jawa Timur, Holcim menyiapkan dana investasi sekirat US$ 500 juta dan mendatangkan mesin khusus buatan Union Engineering Denmark untuk merealisasikan proyeknya.

PERTAMINA FINALISASI AKUISISI BLOK HANOI. PT Pertamina (Persero) sedang memfinalisasi akuisisi atas Blok Hanoi Trough, Vietnam yang dikuasai oleh Quad Energy S.A. dengan target penyelesaian pada akhir tahun ini. Blok di Vietnam tersebut merupakan blok terakhir dari tiga blok yang diincar Pertamina dengan proyeksi tambahan cadangan 60 juta barel setara minyak. Dua blok yang telah dikuasai sebelumnya adalah Ofshore North West Java, dan Basker Manta Gummy (BMG), Australia. Sebelumnya, Pertamina telah menetapkan tiga dari target akuisisi pada tahun ini, dan dua dari tiga target tersebut telah direalisasikan, yaitu 46% hak partisipasi di Blok ONWJ milik BP Indonesia dan 10% hak partisipasi Blok BMG milik ROC Oil Ltd. Direktur Pertamina Karen Agustiawan menjelaskan Hanoi Trough merupakan blok lepas pantai dengan kedalaman kurang dari 100 meter di perairan Vietnam. Blok tersebut kini dikuasai 100% oleh perusahaan asal Kanada, Quad Energy S.A. Menurutnya apabila akuisisi ini tuntas, Pertamina akan mendapatkan tambahan sekitar 60 juta barel setara minyak dari kegiatan akuisisi tahun ini, dan dua blok di antaranya merupakan blok produksi. Dari dua akuisisi sebelumnya, Pertamina mendapatkan tambahan produksi masing-masing 1.000 bph dari BMG dan sekitar 12.000 bph dari ONWJ. Untuk dua akuisisi ini Pertamina telah membelanjakan dana sekitar US$ 12,5 juta.

MUSTIKA RATU INVESTASI RP 65 MILIAR. PT Mustika Ratu Tbk akan mengalokasikan dana sebesar Rp 65 miliar pada 2010 untuk merenovasi total pabrik milik perseroan serta memperbaiki mesin produksi. Direktur Keuangan Mustika Ratu Fransiska Sestri mengatakan dana tersebut akan dialokasikan untuk renovasi pabrik sebesar Rp 40 miliar, pengadaan mesin produksi Rp 23 miliar, serta untuk pembelian komputer sebesar Rp 2 miliar. Dana tersebut sebagian besar dipenuhi dari kas internal perseroan dan sisanya dari pinjaman bank. Saat ini, kapasitas produksi perseroan telah mencapai titik maksimal dan melalui revitalisasi pabrik ini diharapkan dalam beberapa tahun ke depan produksinya bisa lebih optimal. Selain itu, perusahaan juga telah merambah di berbagai negara antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, serta Aljazair. Hingga akhir September, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp 242 miliar dan laba usaha mencatata sebesar RP 24,31 miliar serta laba bersih sebesar RP 13,02 miliar. Pendapatan terbesar perseroan disumbang dari penjualan kosmetik dan penjualan jamu serta lain-lain.

SUZUKI TAMBAH INVESTASI US$ 100 JUTA. PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) akan menginvestasikan dana sebesar US$ 100 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi mobil dan sepeda motor Suzuki di Tanah Air pada 2010 guna mendongkrak penjualan dan memperkuat posisi merek. Kucuran dana investasi tersebut akan dipergunakan sebesar US$ 50 juta untuk menambah kapasitas produksi dan model baru kendaraan roda empat, sedangkan sisanya sebesar US$ 50 juta untuk menaikkan kapasitas produksi motor sebesar 40%. Sementara peningkatan kapasitas produksi akan dilakukan di pusat perakitan mobil di Tambun, Bekasi, yang saat ini memiliki kapasitas terpasang sekitar 100.000 unit per tahun. Selain itu, untuk ekspansi di industri sepeda motor dengan melakukan investasi sebesar US$ 50 juta yang dipergunakan untuk menaikkan kapasitas produksi sebesar 40% menjadi 720.000 unit pada tahun depan. Sehingga total produksi  sepeda motor sampai akhir tahun ini diperkirakan menembus sekitar 500.000 unit hingga 600.000 unit.

DUA OPERATOR TELEKOMUNIKASI BERINVESTASI DI JARINGAN BACKBONE. PT Indosat Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menanamkan investasi sekitar US$ 373,5 juta dalam pembangunan backbone baru berupa sistem komunikasi kabel laut (SKKL) dan satelit untuk memperkuat bisnis layanan broadband tahun ini. Indosat secara resmi mengoperasikan SKKL Jakabare sepanjang 1.300 km yang akan menghubungkan Jawa, Kalimantan, Batam, dan Singapura. Anak perusahaan Qatar Telecom tersebut juga secara resmi mengoperasikan dan memberikan layanan komersial satelit Palapa D. Satelit Palapa D menelan investasi sebesar US$ 220 juta yang diambil dari belanja modal tahun lalu dan telah diluncurkan dari Xichang, China pada Agustus yang sudah diserahterimakan oleh kontraktor (PT Thales Alenia Space) kepada Indosat pada Oktober 2009. Sementara itu, Telkom menanamkan investasi hingga Rp 500 miliar atau sekitar US$ 53,3 juta untuk pembangunan tahap pertama Palapa Ring Mataram-Kupang Cable System (MKCS) yang mencakup rute Mataram-Kupang, Manado-Sorong, dan Fakfak-Makasar sepanjang 1.041 km.

BNI SIAPKAN KREDIT LISTRIK RP 2,2 TRILIUN. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) siap mengucurkan kredit lanjutan untuk proyek pembangunan pembangkit listrik di Sumatera Selatan dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. PLTU Lahat dimiliki PT Primanaya Energi dengan kapasitas pembangkit mencapai 2X125 MW. Sebelumnya BNI telah aktif memberikan fasilitas pembiayaan power plant, diantaranya PLTU Indramayu (RP 343,69 miliar), PLTU Rembang (Rp 465,13 miliar), PLTU Labuan (Rp 1,37 triliun), dan PLTU Tanjung Awar-Awar (Rp 635,44 miliar). Selain itu, ada pula paket pembiayaan untuk 4 proyek (PLTU Bangka Belitung, PLTU Kalimantan, PLTU Sulawesi Selatan, PLTU Papua) senilai RP 519,91 miliar. Saat ini, BNI juga memproses kredit untuk proyek induk Pembangkit Jaringan Luar Jawa - Bali (Rp 675,52 miliar), Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Jawa - Bali (Rp 700 milia), dan proyek Transmisi Gardu Induk Areva (Rp 73,84 miliar).

SIJIRO INTERNATIONAL INVESTASI US$ 200 JUTA DI PETERNAKAN. PT Sijiro International merealisasikan proyek pembibitan dan penggemukan sapi potong di Kabupaten Temanggung dengan investasi mencapai US$ 200 juta dalam kurun waktu 5 tahun. Pada tahap awal pelaksanaan proyek, investor asal Australia tersebut menyediakan dana sekitar US$ 5 juta sebagai bagian dari rencana pembangunan pabrik yang ditargetkan akan selesai pekerjannya sekitar 8 bulan  ke depan. Direktur PT Sijiro International Robert W Murdoch mengatakan segera menjalin komitmen proyek tersebut, setelah nota kesepakatan dengan Pemkab Temanggung serta mitra kerja lainnya ditandatangani. Menurutnya dengan target selama kurun waktu  5 tahun mendatang, pihak Sijiro akan mampu melakukan ekspor daging sapi hasil pengembangan proyek itu sebanyak 200.000 ekor per tahun ke sejumlah negara, termasuk ke Australia. Proyek pembibitan dan penggumkan sapi di Kabupaten Temanggung ini merupakan tindak lanjut penandatanganan letter of intent (LoI) dalam kegiatan Central Java Investment Business Forum (CJIBF) tahun sebelumnya.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
November 2009
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan