2008-2009 ãDATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE
PERKEMBANGAN  INDUSTRI BAJA LEMBARAN DI INDONESIA
Juni 2008

Latar belakang

Saat ini kondisi pasar baja dunia bergairah yang dipicu oleh permintaan pasar yang besar terutama dari negara besar seperti China dan India yang memicu semakin tingginya harga baja di pasar dunia. Sementara itu, di dalam negeri  beberapa  industri baja hilir menghadapi tekanan akibat tingginya harga baja dunia tersebut

Secara umum kondisi industri baja di dalam negeri masih belum seimbang antara industri hulu dan hilir. Akibat keterbatasan industri baja hulu maka industri baja hilir dalam negeri masih sangat tergantung kepada bahan baku impor. Hal ini disebabkan tidak berkembangnya industri bahan baku baja lembaran yang kapasitas produksinya hampir tidak mengalami perubahan sejak 2004.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Depperin, selama 2006 total produksi baja hulu nasional (iron making) hanya tercatat 2,5 juta ton dibandingkan kebutuhan ideal yang mencapai 6 juta ton. Sementara itu, total kapasitas produksi baja hilir pada tahun yang sama mencapai 24,4 juta. Saat ini industri  yang memanfaatkan produk baja hilir semakin banyak a.l. sektor otomotif, galangan kapal, elektronik dan konstruksi. Namun akibat keterbatasan kapasitas produksi  dan juga   keterbatasan di bidang teknologi yang dimiliki produsen baja dalam negeri, maka kalangan konsumen industri seperti otomotif dan elektronik lebih memilih mengimpor bahan baku untuk kebutuhan produksinya.

Selain masalah kurangnya pasokan dari industri hulu, masalah tingginya harga baja di pasar dunia juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri baja di dalam negeri. Seperti diketahui saat ini harga HRC di pasar dunia sudah mencapai US$ 1.050 per ton per April dari sebelumnya pada Januari masih sekitar US$ 710 per ton. Tingginya harga baja dunia ini disebabkan oleh mahalnya harga bahan baku berupa bijih besi dan kenaikan harga minyak dunia.

Melonjaknya harga baja dunia mempengaruhi sejumlah industri hilir baja domestik seperti pabrik seng baja (baja lapis seng) yang terpaksa mengurangi produksi hingga 50% dan pipa baja yang tidak mampu mengimbangi kenaikan harga bahan baku dengan harga jual produk akhir.

Padahal  konsumen yang  menggunakan baja, seperti sektor konstruksi, industri otomotif dan elektronik masih terus berkembang. Saat ini terlihat kecenderungan pemakaian besi baja yang lebih besar pada pembangunan properti termasuk apartemen, bangunan komersial dan perumahan karena makin mahalnya harga kayu yang pasokannya semakin langka. Permintaan dari sektor otomotif juga meningkat. Produksi mobil meningkat menjadi 325 ribu unit pada 2007 dari tahun sebelumnya 296 ribu unit.

Kegairahan dari industri baja dunia ternyata membawa issue lain yaitu kecenderungan investor asing mengincar pabrik baja di dalam negeri dengan cara akuisisi. Potensi pasar dunia yang saat ini bergairah menyebabkan nilai industri baja semakin tinggi terutama bagi pemain baja dunia yang terintegrasi sehingga bagi mereka tidak ada masalah pasokan bahan baku baja karena dapat dipenuhi dari lingkungan mereka sendiri.

Baru-baru ini 3 perusahaan baja milik Gunung Garuda Group diakuisisi oleh tiga investor asal Singapura, dengan total nilai akuisisi mencapai Rp 712,78 miliar. Selain itu, Arcelor Mittal, konglomerat baja terbesar di dunia juga sangat berminat terhadap privatisasi Krakatau Steel melalui pola strategic sale. Mittal menawarkan investasi hingga US$ 3 miliar untuk kerjasama ini. Namun minat Mittal tampaknya tidak mulus, sebab manajemen Krakatau Steel memilih melakukan Initial Public Offering (IPO) untuk privatisasi.

Mittal yang juga sebagai pemilik pabrik baja PT. Ispat Indo (produsen billet dan wire rods), justru ingin membeli saham Krakatau Steel, daripada harus mengembangkan Ispat Indo. Sebab menurut Lakshmi Mittal dalam wawancara dengan media massa di Indonesia beberapa waktu lalu, pabrik Ispat Indo di Sidoarjo sudah sulit dikembangkan karena masalah keterbatasan lahan.

Perusahaan yang menjadi incaran akuisisi lainnya adalah PT Jaya Pari Steel yang memproduksi baja lembaran HR plate. Perusahaan ini telah go public dan sebagian sahamnya dimiliki asing.

Para investor umumnya lebih memilih pabrik baja yang sudah beroperasi karena lebih menguntungkan, daripada menanamkan investasi untuk membangun pabrik baru. Mereka juga akan dengan mudah mengalihkan pasar ke luar negeri, jika di dalam negeri kondisi pasar baja tidak menguntungkan. 

Karakteristik produk

Steel Making (Slab)

Produk hulu baja lembaran adalah slab yang  digunakan sebagai bahan baku pembuatan baja lembaran canai panas dalam bentuk gulungan (Hot Rolled Coil/) dan plat baja (steel plate).

Slab baja merupakan proses peleburan sponge iron (80%) dan skrap besi baja (20%) dalam electric arc furnance (EAF) yang menghasilkan baja dalam bentuk cair (liquid steel) yang kemudian dituang ke dalam continuos casting machine (CCM) untuk menghasilkan baja kasar.

Slab baja memiliki dimensi lebar 1.000 mm, tebal 200 mm, dan panjang 6.000 mm. Beratnya dapat mencapai 30 ton per buah jenis yang diproduksi oleh Krkakatau Steel adalah karbon rendah (low carbon).

HRC/P  (hot rolled coil/plate)

Baja lembaran canai panas dalam gulungan (hot rolled coil) atau plate dibuat dengan menggunakan bahan baku berupa slab baja. Untuk mendapatkan ketebalan HRC yang diinginkan maka slab ditipiskan   dalam proses penipisan yang dilakukan pada hot strip mill (HSM).

Krakatau Steel(KS) sebagai produsen utama HRC saat ini sedang melakukan revitalisasi fasilitas HSM nya yang akan selesai pada pertengahan 2010. Untuk proyek tersebut  KS menggunakan teknologi baru dari  SMS Demag dari Jerman. HSM ini akan memproduksi pelat baja  berketebalan 60 mm dan lebar sekitar 3,5 meter dengan kapasitas 500.000 ton per tahun. Saat ini KS baru mampu memproduksi HRC/Plate ketebalan 20 mm dan lebar maksimal 2 meter.

Cold Rolled Coil/Sheet (CRC/S)

Baja canai dingin dalam gulungan dan lembaran (Cold Rolled Coil/CRC dan Sheet) dibuat melalui Cold Rolled Mill (CRM) menggunakan HRC sebagai bahan baku dengan ketebalan 2mm hingga 8 mm. HRC dibersihkan melalui pickling line, kemudian dimasukkan kedalam CRM, yang bekerja secara tandem sebagai cold mill atau reversing mill untuk mengurangi ketabalan hingga 0,14 mm. Selanjutnya dibersihkan di dalam electrolytic clening line dan dibuat normal kembali dalam continuous annealing line atau batch annealing furnace.

Proses pembuatan CRC/S yang dilakukan PT Krakatau Steel dan PT Essar memiliki cara kerja yang sama.  Selain itu, CRC juga diproduksi dengan proses revershing mill seperti yang dilakukan oleh PT  Industri Baja Garuda, PT Little Giant  dan PT Intan Nasional Steel. Dalam proses revershing mill bahan baku yang digunakan biasanya lebih tipis dibandingkan dengan proses menggunakan cold mill tandem.


Produsen dan kapasitas produksi

Hingga saat ini kapasitas produksi industri hulu  baja lembaran ( flat product) yang terdiri dari slab tidak mengalami perkembangan  sejak 2004. Sebab KS satu-satunya produsen slab belum meningkatkan kapasitas produksi serta tidak adanya investasi baru di sektor ini.

Namun untuk industri HRC/Plate dan CRC/Sheet mengalami peningkatan sejak 2007. Kapasitas produksi HRC/Plate nasional meningkat menjadi 2.300.000 ton per tahun dari sebelumnya 2.200.000 ton. Ini merupakan kontribusi dari KS dan Gunung Raja Paksi yang meningkatkan kapsitas produksinya.

Industri CRC/Sheet juga mengalami pertumbuhan, saat ini kapasitas produksi meningkat menjadi 1.680.000 ton per tahun, dari sebelumnya 1.610.000 ton per tahun. Artinya terdapat penambahan kapasitas sekitar 70.000 ton. 
Industri Slab

Saat ini satu-satunya produsen slab di Indonesia adalah Krakatau Steel. Pabrik yang memproduksi slab terdiri dari 2 unit masing-masing SSP-1 yang menggunakan teknologi MAN GHH dari Jerman. Sedangkan SSP-2 menggunakan teknologi dari Voest Alpine dari Austria.  

HRC/P (Hot Rolled Coil/Plate)

Produsen HR  coil di Indonesia hanya ada dua perusahaan yaitu PT Krakatau Steel dan PT Gunung Raja Paksi. Sedangkan HR plate di Indonesia hanya ada tiga perusahaan yang memproduksinya yaitu, PT Krakatau Steel, PT Gunung Raja Paksi, Jayapari Steel dan Gunawan Dianjaya Steel di Surabaya.

Krakatau Steel

Pabrik HRC/plate terbesar adalah PT Krakatau Steel dengan kapasitas produksi HRC 1.950.000 ton per tahun, meningkat dari sebelumnya 1.850.000 ton. Sedangkan HR Plate sebesar 150.000 ton per tahun.

HR Plate yang diproduksi KS terutama digunakan untuk galangan kapal, struktur baja dan industri pabrik pipa, yang telah memiliki standar internasional seperti American Petroleum Institute (API) khusus untuk industri minyak dan gasespecially dan American Society Testing Material (ASTM), British Standard (BS), British Standard Europe Norm (BSEN) dan Japan Industrial Standard (JIS).

Gunung Garuda Group

PT Gunung Raja Paksi (GRP) dari Gunung Garuda Group merupakan pendatang baru dalam memproduksi pelat baja. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1998 ini mulai berproduksi tahun 2000. Mesin yang digunakan adalah mesin bekas dari Swedia. Pada 2007 GRP meningkatkan kapasitas produksi HR Plate  menjadi 450.000 ton per tahun dari sebelumnya 350.000 ton. Sedangkan  kapasitas HRC 150,000 ton per tahun. Produksi HRC dari PT GRP kebanyakan dipakai untuk kepentingan grupnya sendiri yang memproduksi berbagai paroduk baja untuk konstruksi.

Baru-baru ini tiga anak perusahaan Gunung Garuda Group yang dikuasai oleh keluarga Taniwan dan Tanoto diakuisisi oleh tiga investor asal Singapura, yaitu Metal Asia Group, Austin Investment Group dan Orienstar Pte Ltd dengan total nilai mencapai Rp712,78 miliar.

Metal Asia Group akan mengambil alih 100% saham pabrik pengolahan baja dan ekstrusi logam bukan besi yang berlokasi di Medan, Sumatra Utara milik PT Gunung Gahapi Sakti (GCS), senilai Rp 221,75 miliar.

Austin Investment Group akan mengakuisisi 100% saham perusahaan pengolahan baja (steel rolling) yang berada di Bekasi, Jabar milik PT Gunung Gahapi Bahara. Nilai akuisisinya senilai Rp150 miliar dengan total pekerja saat ini sebanyak 659 orang karyawan.
Sedangkan Orientstar Pte Ltd juga mengakuisisi 100% saham perusahaan pengolahan baja yang terletak di Bekasi, Jabar milik PT Gunung Rajapaksi. Nilai akuisisi senilai Rp341,03 miliar.

Menurut rencana, dalam waktu dekat dua anak perusahaan Gunung Garuda Group yang tersisa juga akan diakuisisi, yaitu PT Bukit Terang Paksi Galvanizing (sektor jasa pelapisan/coating) dan PT Gunung Garuda (sektor billet dan profil). Dengan demikian, nilai akuisisi kelima anak usaha Gunung Garuda Group akan mencapai Rp1 triliun.

Sementara itu, Gunung Garuda melalui anak perusahaan PT. Semeru Surya Steel saat ini sedang melakukan pembangunan pabrik baja kasar (pig iron) berkapasitas 120.000 ton per tahun. Pabrik yang berlokasi di Tanah Laut, Kalimantan Selatan menyerap investasi Rp 100 miliar dan direncanakan berproduksi pada 2009.

Gunawan Group

Gunawan Group with its two HR plate factories ie. PT Gunawan Dianjaya Steel and PT Jaya Pari Steel  is the largest HR plate producer in term of production capacity. PT Gunawan Dian Jaya , which has an annual capacity of 350,000 tons, is located on a 15 hectare plot of land in Surabaya using U.S. technology.  The company uses basic material entirely imported. Around 80% of its production are exported to Europe.

PT Jaya Pari Steel (JPS) which is also a sister company of GDS has been publicly listed in 1989. The integrated steel factory has an annual capacity of 100,000 tons.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan plat baja di pasar domestic, pada 2007 JPS mampu meningkatkan realisasi produksi plat baja sebesar 70.000 metrik ton. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku berupa slab, JPS rata-rata menggunakan bahan baku slab baja sekitar 80.000 ton per tahun.

JPS memanfaatkan bahan baku slab yang diimpor dari Ukraina. Untuk mempertahankan kegiatan pabrik pada kondisi seperti saat ini, JPS juga mengimpor bahan baku slab dari negara lain terutama China dan Brasil, agar JPS tidak mengalami ketergantungan terhadap pasokan slab asal Eropa Timur

Pada 2007 JPS memperoleh kenaikan penjualan menjadi Rp 432,8 miliar dengan laba bersih Rp 41,5 miliar dibanding 2006 senilai Rp 340,2 miliar dengan laba bersih Rp 26,7 miliar. Penjualan tersebut antara lain dilakukan melalui penetrasi ke pasar Asia Tenggara terutama ke Singapura, meskipun 90% dari total penjualan ditujukan untuk pasar domestik terutama sektor konstruksi.

CRC/S (Cold Rolled Coil/Sheet)
Until now Indonesia has 5 companies producing CRC/S. The five companies are PT Krakatau Steel, PT Essar Dhanajaya, PT Little Giants, PT Baja Berlian Utama, and PT Intan Nasional Steel all with a total capacity of 1.61 million tons a year. CR mills are located in a number of areas in Banten, West Java, Central Java and North Sumatra.

Krakatau Steel produsen CRC terbesar

PT Krakatau Steel started producing CRC/S with an annual capacity of 850,000 tons, but the capacity was later reduced to 650,000 tons to suit its machines and production range.

From September 2002 to January 2003, PT Krakatau Steel has revamped its CR mill to reach original capacity of 850,000 tons per annum. Kemudian pada 2007 KS meningkatkan kapasitas produksinya 100.000 ton, sehingga sat ini kapasitasnya menjadi 950.000 ton per tahun.

PT KS is the largest producer of CRC/S in the country. PT KS has an integrated facility. The state steel maker could provide feedstock for its own CR mill.  The main basic material for CRC/S is HRC. In fact PT KS is the only producer of HRC in the country. Other producers of CRC/S are either buying from PT KS or importing basic materials from various countries.

Essar Dhananjaya
PT Essar Dhanajaya (ED) was established in 1996 as a joint venture between PT Garama Adipratama and Essar Group from India with an initial capacity of 200,000 MT. This company  increased its capacity by 200,000 tons to 400,000 tons by mid 2003. Majority of HRC feed to PT ED is supplied by it's mother group company namely Essar Steels Limited, which is a large steel integrated plant in India.

Essar group cukup aktif dalam melakukan investasi di sektor industri baja. Perushaan ini juga memiliki pabrik GI sheet dan sedang meningkatkan kapasitas produksinya. PT Essar Indonesia, berminat membangun pabrik bahan baku baja, pellet, di Kalimantan, dengan kapasitas sekitar dua juta ton per tahun, dengan investasi sekitar US$500 juta..............................................................



 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama           Fokus           Daftar Isi          Berlangganan