2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
BRI SIAP RP 1 TRILIUN UNTUK AKUISISI. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk menyiapkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk mengakuisisi bank untuk membeli PT Bank Bukopin Tbk. Direktur Utama bank BRI Sofyan Basyir mengatakan rencana untuk mengakuisisi bank tidak harus menunggu penerbitan obligasi (subdebt) karena saat ini perseroan memiliki kas internal sebesar Rp 1 triliun sedangkan BRI berencana akan menerbitkan subdebt Rp 2 triliun. Sebelumnya, BRI berencana membeli sebagian saham Bank Bukopin, karena bank ini dinilai memiliki visi dan misi yang sama dengan bank pelat merah itu. Namun, rencana pembeliannya masih belum menemukan titik terang. Sementara itu, pada pertengahan tahun lalu diketahui tiga investor asing telah melakukan uji tuntas untuk membeli 20% sampai 25% saham Bank Bukopin. Ketiga investor tersebut adalah Actis International, perusahaan investasi dari Korea Selatan, Rabobank Group dari Belanda, dan satu perusahaan investasi yang berasal dari Eropa, namun rencananya tertunda akibat krisis ekonomi global.

BAKRIE PLANTATIONS INVESTASI US$ 10 JUTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tk menyiapkan US$10 juta untuk investasi di negara Liberia melalui anak perusahannya Bakrie Liberia Plantations BV. Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto mengatakan perseroan sedang mengincar lahan seluas 200.000 acre di negara tersebut dengan konsensi 100 tahun dan untuk tahap awal, investasi yang diperlukan sebesar US$10 juta yang akan digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas di lahan yang sudah tertanam. Saat ini, perseroan sedang menegoisasikan rencana akuisisi lahan tersebut dengan pemerintah Liberia karena lahan tersebut dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah Liberia dan sebanyak 4.000 acre sudah ditanami dengan karet. Sedangkan lahan seluas 6.000 akre sudah ditanam dengan kelapa sawit. Menurutnya, apabila akuisisi lahan sudah disetujui, perseroan akan mengucurkan dana senilai US$10 juta untuk membangun pabrik pengolahan ataupun prasarana lain di lahan tersebut. Sedangkan opsi pembiayaannya, perseroan akan melakukan opsi pencairan dana yang berupa hybird capital, obligasi ataupun pinjaman dari lembaga keuangan.

INDOFOOD PISAH DIVISI MIE. PT Indofood Sukses Makmur Tbk akan memisahkan (spin off) divisi mi instan dan bumbu penyedap menjadi unit usaha tersendiri agar lebih efisien dan memperluas akses pembiayaan. Indofood, perusahaan induk Indofood Agri Resources Ltd, penghasil CPO akan merestrukturisasi secara internal denganmemindahkan aset dari dua divisi beserta karyawan dan mesin ke PT Indofood Consumer Branded Product Sukses Makmur (Indofood CBP), perusahaan yang dibentuk pada 2 September. Selain itu, Indofood CBP akan menerbitkan saham baru yang nilainya setara dengan nilai aktiva bersih dari aset dan kewajiban itu, sehingga Indofood dapat menguasai 99,99% saham Indofood CBP, sedangkan selebihnya oleh PT Prima Intipangan Sejati. Menurut Wakil Direktur Indofood Fransiscus Welirang, spin-off itu dilakukan agar unit baru bisa fokus di bisnis mi instan, lebih transparan, dan lebih terkendali sehingga dapat menarik pemodal. Menurutnya dari grup produk konsumen bermerek, produk mengandung susu (dairy), dan makanan khusus mempunyai entitas perusahaan sendiri, sehingga pembentukan unit baru untuk mi instan dan bumbu penyedap ini mengikuti yang ada.

INDIKA KUASAI 98,55% PETROSEA. PT Indika Energy Tbk telah merampungkan penawaran tender (tender offer) terhadap saham PT Petrosea Tbk, sehingga perusahaan yang didirikan oleh keluarga Sudwikatmono tersebut berhasil menguasai 98,55% saham Petrosea. Indika menyediakan dana sebesar US$18 juta untuk tender offer. Sementara itu, jumlah saham Petrosea yang terserap melalui aksi korporasi tersebut mencapai 16,6%. Tender offer tersebut merupakan kelanjutan dari akuisisi 81,95% saham Petrosea dari Clough International Singapore yang dirampungkan pada 6 Juli 2009 senilai US$83,3 juta. Selain itu, Indika juga memperkirakan pendapatan Petrosea bisa mencapai US$250 juta hingga akhir tahun ini dan akan dikonsolidasikan ke pendapatan perseroan. Petrosea sendiri belum lama ini telah meneken kontrak senilai US$200 juta atau sekitar Rp 2 triliun untuk pengerjaan pertambangan batu bara di Sanga Sanga, Kalimantan Timur. Dan dalam kontrak itu, Petrosea menawarkan investasi sebesar US$44 juta atau sekitar Rp 400 miliar melalui bantuan peralatan dari berbagai proyek.

HOLCIM INDONESIA TUNTASKAN AKUISISI OKTOBER. PT Holcim Indonesia Tbk menjadwalkan akuisisi terhadap Holcim Sdn Bhd dapat selesai pada awal Oktober 2009 sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi perseroan dari 86 juta ton menjadi 9,6 juta ton. Saat ini, Holcim mengoperasikan dua pabrik semen di Narogong, Jawa Barat dan Cilacap, Jawa Tengah serta Pabrik grinding mill semen di Ciwandan, Banten. Selain itu, sebanyak 77,33% saham Holcim Indonesia dimiliki oleh Holderfin BV Ltd, anak perusahaan Holcim Ltd yang berbasis di Swiss dan sisanya dimiliki oleh publik. Sementara itu, laba bersih Holcim pada semester I/2009 mencapai Rp 280 miliar atau turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 341 miliar disebabkan tingginya bunga pinjaman perseroan. Volume penjualan 6 bulan pertama Holcim menurun, karena lesunya proyek pembangunan perumahanan komersial. Namun, Holcim Indonesia berhasil membukukan peningkatan penjualan sebesar 15% menjadi Rp 2,35 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

ADARO DAN SHELL INVESTASI US$40 JUTA. PT Adaro Energy Tbk IBT melalui anak perusahannya, PT Indonesia Bulk Terminal (IBT) akan membangun fasilitas penyimpanan bahan bakar bekerja sama dengan PT Shell Indonesia senilai US$40 juta. Presiden Direktor Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan perjanjian antara kedua belah pihak tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi dari rantai pasokan batu bara. Adapun, IBT secara tidak langsung dimiliki 100% oleh Adaro Energy dan merupakan operator terminal batu bara di Pulau Laut yang lokasinya di sebelah selatan pulau tersebut. Selain itu, pelabuhan IBT memiliki kapasitas yang dapat memuat 12 juta ton batu bara dan dapat mengakomodasi kapal dengan ukuran sampai dengan 80.000 DWT (dead weight tonnes).

ANTAM KAJI ULANG 4 PROYEK SKALA BESAR. Empat proyek skala besar PT Aneka Tambang (Antam) Tbk terpaksa harus dikaji ulang sebagai dampak dari anjloknya harga dan turunnya permintaan komoditas tambang sehingga menggerus pendapatan perseroan sepanjang tahun ini. Beberapa megaproyek itu adalah pembangunan pabrik chemical grade alumina di Tayan, Kalimantan Barat. Investasi proyek itu semula US$ 250 juta, tetapi membengkak menjadi US$ 400 juta, proyek PLTU Pomalaa berkapasitas 2x75 megawatt (MW) di Sulawesi Tenggara senilai US$ 300 juta, Tambang Bauiksit Kijang di Tanjung Pinang, dan Proyek kerja sama dengan OAO Russian Aluminium (RusAl) milik konglomerat Rusia Oleg Deripaska.

TOTAL E&P INVESTASI US$22 MILIAR. Total E&P Indonesia berkomitmen untuk melakukan investasi senilai US$22 milar dari 2009 hingga 2032, menyusul akan dilakukannya pengembangan proyek baru di Blok Mahakam. Hingga 2008, Total telah menginvestasikan dananya di Blok Mahakam sebanyak US$13 miliar. Pada fase berikutnya 2009 - 2032, perusahaan akan berencana investasi senilai US$22 miliar. Menurut Presiden Direktur Total E&P Indonesia Elizabeth Proust, Total akan bekerja sama dengan Inpex telah memproduksi 50% dari total cadangan yang ada, dan menyisakan 12,4 triliun kaki kubik dari 23 triliun kaki kubik (Tcf) cadangan. Dari produksi tersebut, Total telah memberikan penerimaan bagi negara sebesar US$ 56 miliar hingga 2008.

BAKRIE TELECOM JAKAKI MERGER DAN AKUISISI. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengkaji kemungkinan untuk merger dan akuisisi dengan investor asing. Kajian tersebut akan diselesaikan pada triwulan I/2009. Menurut Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Danny Buldansjah Kemungkinan Bakrie Telecom untuk melakukan merger dan akuisisi dengan investor asing sangat terbuka seperti halnya dengan operator-operator telekomunikasi lain yang juga terbuka bagi investasi asing. Kemungkinan tersebut dapat berupa pembelian sebagian saham BTEL dan menjadi mitra strategis operator code division multiple acces (CDMA) atau melakukan akuisisi terhadap perseroan. Sementara itu, laba bersih Bakrie Telecom pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp 72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008 yaitu Rp 62,4 miliar. Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih pada semster I/2009 yang mencapai Rp 1,33 triliun, naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 938 miliar. Sedangkan jumlah pelanggan Bakrie Telecom pada semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
September 2009
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan