2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
ASTRA AGRO BANGUN PABRIK MINYAK SAWIT. PT Astra Agro Lestari Tbk mengalokasikan belanja modal Rp 1,2 triliun pada tahun ini. Dana tersebut akan dipakai untuk ekspansi bisnis antara lain penanaman lahan baru dan pembangunan dua unit pabrik. Presiden Direktur Astra Agro Lestari Widya Wiryawan mengatakan pembangunan dua unit pabrik itu diputuskan sejalan dengan berkurangnya luas penanaman baru tahun ini yang diprediksi hanya 4.00 ha. Widya menjelaskan perseroanakan menggunakan dana dari kas internal untuk membiayai belanja modal. Pertimbangannya, perseroan membagikan dividen sebesar 65% senilai Rp 1,07 triliun dari laba bersih 2009 sebesar Rp 1,66 triliun. Sementara itu, terkait dengan rencana pembangunan pabrik tersebut, rencananya akan dibangun di dekat lokasi kebun perseroan di Kalimantan Timur dan Sulawesi dengan total kapasitas 75 ton per jam. Dan satu pabrik yang di Kalimantan Timur telah selesai dibangun dan siap beroperasi dengan kapasitas 45 ton per jam. Selain membangun dua pabrik ini, perseroan juga akan membangun tiga pabrik sampai empat tangki penimbun minyak sawit mentah di areal dekat pelabuhan  dan investasi yang disiapkan senilai Rp 8 miliar per tangki atau senilai total Rp 24 miliar sampai Rp 32 miliar.

DIVERSIFIKASI BISNIS PUPUK KALTIM US$ 1,4 MILIAR. Proyek pengembangan pabrik PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dalam rangka diversifikasi usaha sejak 2009 menelan investasi hingga US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 15,65 triliun. Berdasarkan matriks 2010 uang disusun perseroan, PKT akan membangun fasilitas pendukung pabrik Kaltim V berupa boiler batu bara senilai US$ 110 juta. Boiler itu sebagai penghasil uap dari batu bara yang dapat mengonversi gas sekitar 27 juta Btu (British thermal unit). Boiler tersebut dapat menghasilkan 440 ton per jam uap panas (superheated steam) yang berfungsi menggerakkan turbin untuk proses produksi amoniak dan urea. Saat ini, empat pabrik urea PKT masih digerakkan dengan menggunakan gas alam rata-rata 30 juta Btu per ton urea. Selain itu, diversifikasi usaha PKT akan dilakukan untuk membangun perkebunan kelapa sawit yang terintegrasi ke industri oleokimia dalam jangka panjang. Sedangkan proyeksi modal yang ditanam untuk kegiatan ini mencapai Rp 3 triliun. Untuk memuluskan rencana tersebut, PKT menggandeng PT Perkebunan Nusantara XIII (Persero) dan membentuk perusahaan patungan bernama PT Kalimantan Agro Nusantara (Kalianusa). Perusahaan ini akan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan bisnis di industri hulu dan hilir CPO. PKT juga akan merealisasikan pembangunan lima unit pabrik pupuk NPK (nitrogen-phosphate-kalium) berkapasitas hingga 1 juta ton per tahun. Dan proyek yang ditaksir senilai US$ 350 juta atau Rp 3,8 triliun ini ditargetkan akan selesai seluruhnya pada 2014.

LENZING AG EKSPANSI US$ 150 JUTA. Group Lenzing AG Austria menjadikan Indonesia sebagai basis produksi serat rayon terbesar di dunia, di luar Asutria menyusul pengoperasian lini keempat pabriknya di Purwakarta, Jawa Barat. Lenzing menanamkan modal sebesar US$ 150 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun di PT South Pacific Viscose Indonesia (SPV), anak perusahaannya yang beroperasi sejak 1982 di Indonesia. Sedangkan ekspansi ini merupakan investasi Lenzing terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Pabrik serat rayon (viscose fibre) untuk tekstil dan bukan tenunan (nonwoven) itu dilengkapi dengan pasilitas pendukung yakni pembangkit listrik 12 megawatt (MW), pabrik asam sulfat berkapasitas 300 ton perhari, dan pabrik karbon disulfida (CS2) berbahan baku gas alam ramah lingkungan. Selain itu, tambahan lini produksi ini mampu memproduksi 60.000 ton serat rayon per tahun sehingga total kapasitas SPV menjadi 220.000 ton per tahun. Ekspansi ini menjadikan SPV sebagai produsen serat rayon terbesar di Asia dan terbesar kedua di dunia, setelah perusahaan induk di Lenzing, Austria yang berkapasitas 255.000 ton per tahun.

ENERGI MEGA BELANJAKAN US$ 81 JUTA UNTUK KAPAL TANKER. PT Energi Mega Persada Tbk, produsen minyak dan gas bumi membelanjakan US$ 81 juta untuk menyewa tanker floating, production, storage, dan offloading (FPSO) dari PT Berlian Laju Tanker Tbk selama 4 tahun. Direktur Utama Energi Imam P. Agustino mengatakan seumber pendanaan penyewaan FPSO yang setara dengan dengan Rp 739,15 miliar berasal dari alokasi belanja operasional, sedangkan biaya sewanya akan dihitung secara harian. Penyewaan FPSO ini bertujuan untuk memfasilitasi produksi minyak dari lapangan miga Pagerungan Utara di Blok Kangean PSC di Jawa Timur yang menurut rencana mulai berproduksi pada Oktober 2010. Dalam Blok Kangean, Energi Mega Persada memiliki 50% saham di blok ini. Sedangkan pemegang saham lainnya adalah Mitsubishi Corporation dan Japan Petroleum Exploration CO. Ltd, dengan kepemilikan masing-masing 25%. Selain itu, Pagerungan Utara diharapkan bisa memproduksi minyak dengan rata-rata produksi sebesar 5.000 barel per hari (bph) - 7.000 bpd.

CAPEX INDOCEMENT MEMBENGKAK. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, emiten produsen semen kedua terbesar akan meningkatkan dan belanja modal (capital expenditure) sebesar US$ 100 juta tahun ini, naik dari proyeksi awal sekitar US$ 70 juta. Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya mengatakan sejumlah dana tersebut akan digunakan untuk membangun semen mills di Cirebon untuk meningkatkan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton yang rencananya beroperasi pada Mei 2010. Mills ini adalah bagian dari kompleks pabrik yang akan mengolah bahan baku semen menjadi semen siap pakai. Selain itu, Indocement juga akan mulai membangun dua semen mills baru di Citeureup dengan tambahan kapasitas 2 juta ton yang rencananya akan beroperasi penuh pada 2012. Dengan adanya penambahan kapasitas tersebut, Christian memprediksi perseroan dapat memiliki kapasitas produksi dari sebesar 17,1 juta ton menjadi 18,6 juta ton pada 2012. Saat ini utilisasi pabrik perseroan juga baru difungsikan sebesar 75%. Christian mengatakan, perseroan menjajaki segala kemungkinan untuk mencari dana eksternal dan dana kas perseroan yang berasal dari laba bersih ditahan. Sementara itu berdasarkan laporan keuangan 2009, perseroan telah mendapatkan komitmen peminjaman kembali dari fasilitas pinjaman (revolving) pada 29 Januari dan 25 Februari senilai total US$ 50 juta. Masing-masing pinjaman itu bernilai US$ 25 juta dan berbunga 1,13% per tahun. Sebelumnya, perseroan telah menyiapkan dana senilai Total US$ 275 juta untuk 3 tahun ke depan guna membangun pengolahan semen, mendirikan pabrik baru, dan membangun pembangkit listrik.

RELOKASI PANASONIC US$ 300 JUTA. Relokasi pabrik baterai koin lithium (total primary micro battery) Panasonic dari Jepang ke Indonesia secara bertahap dari 1987 sampai 2010 menelan investasi hingga US$ 300 juta. Presiden Direktur PT Panasonic Gobel Energy Indonesia (PECGI) Mitsutoshi Shigeta menerangkan relokasi itu dilakukan dalam upaya Panasonic Group menjadikan Indonesia sebagai basis produksi baterai terbesar di dunia. Dari lima lini produksi baterai Panasonic di Jepang, empat lini di antaranya sudah dipindahkan ke Indonesia. Selain itu, produsen baterai yang terafiliasi dengan Panasonic Energy Corporation (PEC) Jepang tersebut telah memperluas kapasitas produksi baterai koin lithium tahap IV dengan investasi senilai US$ 60 juta pada 1 Mei 2010. Proyek yang diproyeksi rampung pada November 2010 ini akan menambah kapasitas produksi sebanyak 350 juta pieces per tahun menjadi 2 miliar pieces untuk baterai koin lithium dan baterai kering berbasis mangan (manganese dry baterry).

DBS & HSBC KUCURKAN PINJAMAN US$ 110 JUTA KE BUMITAMA. PT Bank DBS dan Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Indonesia mengucurkan pinjaman sindikasi sebesar US$ 110 juta kepada PT Bumitama Gunajaya Agro. Direktur Utama DBS Indonesia Hendra Gunawan mengatakan tenor pinjaman itu selama 5 tahun. Menurutnya, perseroan fokus menyalurkan pembiayaan ke sektor komoditas karena menilai pertumbuhan industri di Indonesia berjalan stabil. Jumlah pinjaman yang diberikan oleh DBS ke Bumitama Gunajaya sebesar US$ 55 juta dan sisanya sebesar US$ 55 juta disiapkan oleh HSBC. Presiden Direktur PT Bumitama Gunajaya Gunawan Lim mengatakan pinjaman tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan ekspansi perseroan. Sementara itu, Manajer Keuangan Bumitama Gunajaya Inderajati Susilo mengatakan dana yang terkumpul dari DBS dan HSBC akan dialokasikan untuk pengembangan usaha tiga anak perusahaan yaitu PT Windu Nabatindo Lestari, PT Rohul Sawit Industri, dan PT Masuba Citra Mandiri. Saat ini, Grup Bumitama Gunajaya memiliki areal tanam seluas 94.000 ha dengan kapasitas produksi perseroan selama setahun 1 juta metrik ton tandan buah segar dan 250.000 metrik ton minyak sawit mentah dan pada 2015, perseroan menargetkan memiliki areal tanam mencapai 200.000 ha.

BARITO PACIFIC AKUSISI 2 PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS. PT Barito Pacific Tbk masuk ke bisnis minyak dan gas bumi dengan membeli 40% saham di PT Petrogas Pantai Madura yang memiliki investasi sebesar 10% di Madura Offshore PSC. Masuknya Barito ke bisnis migas ditandai dengan kerja sama antara Barito dan Badan Usaha Milik Daerah Jatim  dan Madura di bidang migas pada Madura offshore. Menurut senior VP Investor Relations Agustino Sudjono, Perseroan akan memberikan fasilitas modal kerja kepada Petrogas Pantai Madura maksimal US$ 8,5 juta yang dicairkan pada Juni 2010 dan bertenor 3 tahun. Investasi ini merupakan bagian dari rencana Barito Pacific menjadi perusahaan berbasis sumber daya yang terdiversifikasi. Selain itu, Barito juga tengan memproses akuisisi 100% saham perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Royal Indo Mandiri (RIM) senilai US$ 25 juta. Saat ini RIM memiliki lahan seluas 29.000 ha di Kalimantan Barat dan ditargetkan pada 2010 memiliki 41.000 ha dengan 14.000 ha tertanam.

UNITED TRACTORS CATAT LONJAKAN PENJUALAN ALAT BERAT.  PT United Tractors Tbk sepanjang kuartal 1/2010 mencetak kenaikan penjualan alat berat Komatsu setinggi 93,9% menjadi 1.218 unit dibandingkan dengan periode yang sama 2009, terdongkrak oleh penguatan permintaan di sektor pertambangan dan perkebunan. Pada 3 bulan pertama 2009, penjualan alat berat Komatsu hanya 628 unit, melemah seiring permintaan pasar yang lesu akibat krisis finansial global. Sepanjang tahun lalu, UT membukukan penjualan 3.111 unit, terpangkas 28% dibandingkan dengan realisasi 2008. Sara K.Loebis, Corporate Secretary United Tractors, mengatakan kenaikan penjualan alat berat Komatsu sepanjang kuartal pertama tahun ini sesuai dengan kondisi pasar alat berat nasional yang kembali bergairah. Seiring permintaan yang bertumbuh, perusahaan yang memiliki 17 kantor cabang di seluruh Indonesia ini membidik penjualan alat berat sebanyak 3.500- 3.800 unit sepanjang tahun ini. Presiden Direktur United Tractors Joko Pranoto mengatakan seiring dengan kondisi ekonomi yang membaik permintaan alat-alat berat di Indonesia diperkirakan naik 15%-20% menjadi 7.500 - 8.000 unit. Sebagai distributor Komatsu, United Tractors berambisi mempertahankan dominasinya di pasar alat berat nasional dengan membidik kenaikan penjualan 20% atau meraup 47% pangsa pasar pada tahun ini. System).

PERTAMINA JAJAKI IMPOR CRUDE 200.000 BPH DARI ARAB.  PT Pertamina (Persero) menjajaki kontrak impor minyak mentah jangka panjanq sebanyak 200.000 barel per hari (bph) dari Saudi Aramco, perusahaan BUMN minyak Arab Saudi, dan diharapkan kesepakatan terjadi pada tahun ini. Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan perusahaan sebelumnya telah mendapatkan minyak mentah dari perusahaan yang sama sebanyak 125.000 bph. Dengan tambahan kontrak baru tersebut, Pertamina berharap bisa mengimpor sebanyak 325.000 bph dari Saudi Aramco.

Pertamina mengimpor minyak mentah sekitar 35% dari total kebutuhan minyak mentah yang akan diolah kilang-kilang yang beroperasi di Tanah Air. Dari total impor tersebut, Sekretaris Perusahaan Pertamina Toharso mengatakan 70% impor berupa kontrak jangka panjang dan sisanya diperoleh dari pasar spot. Berdasarkan data Ditjen Migas, bagian terbesar impor minyak mentah Indonesia adalah ALC (Arabian light crude), yang dinilai murah. Pada 2007, total realisasi impor ALC sekitar 37,48 juta barel dari 116,40 juta barel Namun sejak 1980-an ALC tak lagi diperdagangkan di pasar spot.



MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
 
BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
Mei 2010
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan